Uang adalah Energi, Perlu Cara dalam Mengalirkannya
Oleh: KH Khariri Makmun, Lc, DPL, M.A
Wakil Ketua Komisi Dakwah MUI/Pengasuh Pesantren Algebra, Bogor
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Uang mengikuti energi hati kita, pikiran menciptakan arah, perasaan menciptakan getaran, keyakinan menciptakan kekuatan, tindakan menciptakan hasil, dan doa menghubungkan kita dengan Allah.
Di tengah tekanan ekonomi modern, banyak
orang hidup dengan keyakinan bahwa uang hanya bisa didapat dengan satu cara:
kerja keras tanpa henti. Semakin lelah, semakin dianggap pantas kaya.
Akibatnya, hidup berubah seperti mesin. Pagi sampai malam mengejar angka, tetapi hati tetap kosong dan rasa takut miskin tidak pernah benar-benar pergi. Ironisnya, semakin dikejar, uang justru terasa makin menjauh.
Baca juga: Isyarat Alquran dan Penjelasan Neurosains Modern tentang Ubun-Ubun sebagai Pusat Kebohongan
Dalam perspektif spiritual Islam, rezeki
tidak semata-mata persoalan otot dan logika material. Ada dimensi batin yang sering
dilupakan manusia modern: energi keyakinan, syukur, ketenangan hati, dan
hubungan dengan Allah SWT sebagai sumber segala rezeki. Dunia fisik yang kita
lihat hari ini sejatinya hanya hasil akhir dari proses yang lebih dalam dan
tidak terlihat.
Alquran berkali-kali mengingatkan bahwa
kehidupan manusia tidak berdiri sendiri. Ada campur tangan Allah dalam aliran
rezeki, kesempatan, bahkan pertemuan-pertemuan yang mengubah nasib seseorang. Allah
berfirman:
وَمَنۡ يَّـتَّـقِ اللّٰهَ يَجۡعَلْ
لَّهٗ مَخۡرَجًا. وَّيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُ ؕ وَمَنۡ
يَّتَوَكَّلۡ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسۡبُهٗ ؕ
“Barang siapa bertakwa kepada Allah,
niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya. Dan Dia memberinya rezeki
dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS.
At-Thalaq: 2-3)
Ayat ini menarik. Rezeki tidak selalu datang dari jalur yang bisa diprediksi manusia. Ada unsur “min haitsu la yahtasib”, dari arah yang tidak disangka-sangka. Artinya, logika rezeki dalam Islam tidak sepenuhnya linier. Tidak selalu identik dengan kerja fisik yang brutal. Ada faktor spiritual yang ikut bekerja.
Baca juga: Menjawab Tekanan Ekonomi Lewat Kekuatan Pesantren
Dalam ilmu psikologi modern, kondisi batin
manusia memang memengaruhi perilaku ekonomi. Orang yang hidup dalam rasa takut
cenderung mengambil keputusan sempit, defensif, dan penuh kecemasan.
Sebaliknya, orang yang memiliki rasa aman
dan optimisme biasanya lebih kreatif, berani mengambil peluang, serta mampu
membangun relasi sosial yang sehat. Di sinilah menariknya konsep syukur dalam
Islam. Allah berfirman:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن
شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti
Aku akan menambah nikmat kepadamu.”(QS. Ibrahim: 7)
Kebanyakan orang memahami syukur hanya sebatas ucapan “Alhamdulillah”. Padahal syukur adalah kondisi jiwa. Perasaan cukup di tengah keterbatasan. Keyakinan bahwa Allah tidak mungkin menelantarkan hambanya.
Baca juga: Arsitektur Baru Ekonomi Syariah: Industri Keuangan, Teknologi, dan Daya Saing
Orang yang bersyukur memancarkan energi
kelapangan. Ia tidak mudah panik. Tidak hidup dalam mental kekurangan. Dan
ketenangan seperti itu justru membuat pikirannya lebih jernih dalam membaca
peluang hidup.
Sebaliknya, keluhan terus-menerus
menciptakan energi sempit. Mulutnya berdoa minta kaya, tetapi hatinya dipenuhi
rasa takut miskin. Bibirnya meminta rezeki, tetapi batinnya curiga kepada
Allah.
Dalam tasawuf, keadaan seperti itu disebut
sebagai hijab hati. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menjelaskan
bahwa hati manusia sangat menentukan kualitas hubungan dengan Allah. Amal
lahiriah bisa tampak baik, tetapi jika hati penuh ketakutan duniawi, maka hidup
menjadi gelisah dan kehilangan keberkahan.
Nabi Muhammad SAW bahkan mengingatkan bahwa
kekayaan sejati bukan banyaknya harta, melainkan kekayaan jiwa.
“Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya
harta benda, tetapi kekayaan sejati adalah kaya hati.” (HR Bukhari dan Muslim)
Kaya hati inilah energi spiritual yang sering hilang dalam kehidupan modern. Manusia sibuk mengejar uang, tetapi lupa membangun kesadaran batin. Akibatnya, ketika uang sedikit, ia stres; ketika uang banyak, ia tetap takut kehilangan.
Baca juga: Memperkuat Industri Keuangan Syariah
Dalam ilmu ekonomi modern sendiri, konsep “abundance
mindset” atau pola pikir kelimpahan mulai banyak dibahas. Para ekonom
perilaku menjelaskan bahwa rasa takut miskin berlebihan dapat membuat seseorang
sulit berkembang karena selalu mengambil keputusan jangka pendek. Sebaliknya,
mentalitas kelimpahan mendorong keberanian berbagi, membangun jejaring, dan
memperbesar peluang ekonomi.
Karena itu, salah satu cara paling unik
dalam Islam untuk memperlancar aliran rezeki adalah sedekah. Secara logika
material, sedekah terlihat mengurangi uang. Namun, dalam logika spiritual dan
sosial, sedekah justru memperluas pintu rezeki. Allah berfirman:
مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ
اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ
سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ
يَّشَاۤءُۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ
“Perumpamaan orang yang menginfakkan
hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai,
pada tiap tangkai ada seratus biji.” (QS.
Al-Baqarah: 261)
Ayat ini bukan sekadar simbol pahala
akhirat. Ini juga menggambarkan hukum pertumbuhan. Sedekah menciptakan efek
sosial, psikologis, dan spiritual sekaligus.
Orang yang gemar memberi biasanya memiliki hubungan sosial yang lebih luas, dipercaya banyak orang, dan hidupnya lebih tenang. Dari situlah sering muncul peluang-peluang yang sebelumnya tidak pernah diduga.
Baca juga: Memahami Hadis Nabi Berqurban Satu Ekor Domba untuk Satu Keluarga
Ada banyak kisah nyata tentang hal ini.
Salah satunya sering diceritakan para pengusaha muslim di Indonesia.
Seorang pedagang kecil di Jawa Barat pernah
mengalami kebangkrutan bertahun-tahun. Tokonya sepi, utangnya menumpuk. Dalam
kondisi tertekan, ia justru memutuskan menyisihkan sebagian kecil uangnya
setiap hari untuk sedekah makanan subuh kepada pekerja jalanan dan anak yatim.
Awalnya tampak mustahil. Penghasilannya sendiri pas-pasan.
Perlahan hidupnya berubah. Hatinya menjadi
lebih tenang. Ia tidak lagi terlalu panik memikirkan kekurangan.
Dari ketenangan itu, ia mulai lebih fokus
bekerja. Relasinya meluas. Ada pelanggan lama yang kembali membawa proyek
besar.
Usahanya berkembang hingga akhirnya
memiliki beberapa cabang toko. Ketika ditanya apa titik balik hidupnya, ia
menjawab sederhana: “Saat saya berhenti takut uang habis.”
Di situlah letak jebakan terbesar manusia
modern. Kita terlalu percaya bahwa sumber rezeki adalah dompet, jabatan, atau
rekening. Padahal semua itu hanya alat. Sumber utamanya tetap Allah SWT.
Ketika manusia menggantungkan hati sepenuhnya kepada benda, ia mudah cemas. Tetapi ketika hati tersambung kepada Allah, hidup terasa lebih ringan.
Baca juga: Menjaga Nalar Bangsa di Tengah Arus Perang Pemikiran
Namun demikian, bukan berarti Islam
mengajarkan pasif dan malas bekerja. Tidak. Islam tetap memerintahkan ikhtiar
maksimal.
Kerja keras tanpa ketenangan hati hanya
akan melahirkan kelelahan. Sedangkan kerja yang disertai tawakkal, syukur, dan
keyakinan kepada Allah akan melahirkan keberkahan.
Karena pada akhirnya, rezeki bukan hanya soal angka yang masuk ke rekening. Tetapi tentang rasa cukup, ketenangan hidup, kesehatan jiwa, dan keberlimpahan yang membuat manusia mampu berbagi kepada sesama.
Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.