Al-Muzzammil: Misteri di Balik Sapaan “Orang Berselimut” pada Nabi
Oleh: Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I
Anggota Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI/Dosen STIS Hidayatullah
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Melalui turunnya dua wahyu pertama, yakni lima ayat awal surat Al-‘Alaq dan tujuh ayat awal surat Al-Qalam, Allah sebenarnya telah meletakkan fondasi kehidupan yang amat kukuh bagi Rasulullah SAW dan umatnya.
Di dalam kedua
surat tersebut, Allah tidak hanya menggariskan arah dan tujuan hidup manusia,
tetapi juga menanamkan nilai-nilai dasar serta visi keimanan yang visioner.
Lebih dari itu,
wahyu-wahyu awal itu menjadi penegasan dari Allah bahwa Nabi Muhammad SAW
adalah pribadi dengan akhlak yang teramat agung. Dan melalui jaminan nubuat
ini, Allah meyakinkan Nabi SAW bahwa jalan dakwah yang penuh liku ini kelak
akan berakhir pada kemenangan besar bagi beliau dan para sahabat di masa depan.
Berbekal orientasi dasar, nilai-nilai luhur, dan visi keimanan yang kokoh, Rasulullah SAW beserta para sahabat sejatinya telah menggenggam sebuah “kepastian hidup”. Keraguan tidak lagi memiliki ruang di dalam dada mereka.
Baca juga: Nabi Ibrahim dan Keabadian Nama di Tengah Budaya Viral
Berhadapan
dengan Realitas Sosial
Keteguhan iman itu
ternyata langsung diuji oleh kenyataan yang sangat berat. Rasulullah
ditampilkan pada tantangan besar peradaban: mengalirkan cahaya Islam ke dalam
jantung masyarakat Makkah yang saat itu masih diselimuti pekatnya kemusyrikan.
Jika dibedah
dalam perspektif fenomenologis, orientasi dan nilai-nilai wahyu yang telah
menyatu (terinternalisasi ) dalam jiwa manusia, secara otomatis akan
membentuk ulang seluruh instrumen dirinya. Ia membangun cara berpikir baru,
menata ulang pola kesadaran, serta melahirkan standar etika dan perilaku yang
sama sekali berbeda dari masa lalu.
Oleh karena itu, mereka yang telah menyerap dan mengamalkan nilai-nilai universal ini sesungguhnya telah mengalami transformasi total. Mereka menjelma menjadi manusia-manusia baru.
Baca juga: Jaminan Petunjuk Allah bagi Pendakwah
Dalam konteks
ideologi, mereka adalah para ideolog yang memiliki prinsip perjuangan hidup
yang matang. Sedangkan dalam konteks teologis, mereka adalah orang-orang
beriman (mukmin) sejati yang menggerakkan roda sejarah.
Pada tahap
berikutnya, pribadi-pribadi baru ini akan mengamati setiap fenomena, realitas
sosial, serta berbagai aspek kehidupan manusia melalui lensa (frame) dan
standar verifikasi wahyu yang telah mereka yakini.
Di titik inilah
mereka mulai menyadari adanya kesenjangan yang lebar antara idealisme ajaran agama
(gagasan) dengan kenyataan pahit di masyarakat (realitas sosial).
Bagi setiap orang, kesenjangan ini bukanlah untuk diratapi, melainkan sebuah
panggilan jiwa untuk melakukan perubahan dan perbaikan.
Gairah untuk
mengubah keadaan ini sejalan dengan hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh
Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, yang artinya: “Aku
mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Barang siapa di antara kalian melihat
kemungkaran, maka ubahlah dengan tangan (kekuasaan/tindakan nyata). Jika ia
tidak mampu, maka ubahlah dengan lisannya (ucapan/edukasi). Dan jika ia tidak
mampu juga, maka ingkarilah dengan hati, dan yang demikian ini adalah selemah-lemahnya
iman.’” (HR Muslim)
Melalui tuntunan ini, syahadat tidak lagi sekadar menjadi keyakinan pasif di dalam hati, melainkan bertransformasi menjadi sebuah gerakan aktif untuk membenahi kerusakan zaman.
Baca juga: Pesan Tersirat Surat Al-Qalam Menyembuhkan Lelah Mental dalam Dakwah
Lalu, satu masalah
besar yang segera mengadang adalah ketika realitas sosial yang ingin diubah ternyata
menunjukkan sikap yang sangat agresif, reaktif, resisten, bahkan konfrontatif.
Di sisi lain, kekuatan riil dari barisan pembawa perubahan ini masih jauh dari
kata mampu.
Demikianlah potret sosio-religius yang nyata ketika Rasulullah SAW dan para sahabat bergerak menyebarkan Islam. Dan inilah ajaran tauhid yang dipersembahkan oleh Rasulullah secara diametral. Artinya, semua itu bertolak belakang secara ekstrem, berbenturan langsung dengan urat nadi kemusyrikan yang telah mengakar di dalam masyarakat Makkah.
Risiko dari
benturan ideologi ini sudah dapat diprediksi. Rasulullah tidak hanya menghadapi
penolakan argumen dari masyarakat Arab Jahiliyah, melainkan juga harus bertahan
di tengah badai teror, intimidasi, perlawanan fisik dan nonfisik.
Ketimpangan
kekuatan pada fase ini terasa begitu mencolok: Barisan Islam awal didominasi
oleh kelas akar rumput (grassroots ), orang-orang lemah, dan bahkan para
budak yang tidak memiliki perlindungan sosial.
Kubu kemusyrikan
dibentengi kokoh oleh mayoritas kelas bangsawan (oligarki Quraisy) yang
memegang kendali penuh atas kekuatan finansial, pengaruh politik, hingga
otoritas militer.
Di titik kritis inilah, saat beban dakwah terasa begitu menghimpit fisik dan psikologis sang Nabi, Allah menurunkan sepuluh ayat pertama dari surat Al-Muzzammil sebagai perisai spiritual dan strategi “konsolidasi jiwa”.
Baca juga: Mengapa Para Imam Hadis Tidak Anti-Mazhab?
Membaca Asbabun
Nuzul
Terdapat beberapa
versi mengenai asbabun nuzul (sebab turunnya) surat Al-Muzzammil. Salah
satunya tercantum dalam Tafsir Ibnu Katsir yang bersumber dari riwayat
sahabat Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu.
Dikisahkan, bahwa
suatu hari para pemuka Quraisy mengadakan pertemuan darurat di gedung Darun
Nadwah. Agenda mereka tunggal dan licik: merancang sebuah julukan buruk untuk
Nabi Muhammad SAW. Mereka membutuhkan satu label negatif yang sangat kuat agar
setiap orang yang datang ke Makkah langsung merasa ngeri dan menjauhinya.
Dalam rapat
tersebut, berbagai usulan mulai disampaikan. Ada yang mengusulkan agar dia
dijuluki sebagai kahin (dukun), sebagian berteriak majnun (orang
gila), dan yang lain menawarkan istilah sahir (penyihir).
Namun,
pengungkapan ini ternyata tidak berjalan mulus. Usulan-usulan ekstrem tersebut
justru didebatkan dan dibantah oleh kelompok mereka sendiri. Mengapa? Karena hati
kecil mereka tidak bisa berbohong. Mereka tahu, bahwa jejak-jejak Nabi Muhammad
sepanjang hidupnya sama sekali tidak cocok dengan ciri-ciri dukun, orang gila,
ataupun penyihir.
Akibat dari perdebatan
itu, maka internal kaum Quraisy justru pecah dan terkotak-kotak berdasarkan
nama julukan buruk yang mereka dukung.
Kendati rencana mereka buntu, kabar tentang pengkhianatan jahat ini akhirnya sampai ke telinga Rasulullah SAW. Hati beliau teriris seketika. Ada rasa sedih yang mendalam di batin sang Nabi melihat bagaimana kaumnya begitu gigih merancang fitnah untuk menolak kebenaran.
Baca juga: Belajar dari Nabi Ibrahim dalam Menghadapi Gelombang Krisis Global
Dalam kondisi
luka yang menahan batin dan kelelahan psikologis yang sangat, Nabi memilih menarik
diri, lalu membalut tubuhnya erat-erat dengan selembar kain selimut.
Kemudian di saat
beliau tengah berselimut dalam duka itulah, Malaikat Jibril turun membawa
dekapan wahyu yang agung, yaitu surat Al-Muzzammil (Orang yang berselimut) dan surat
Al-Muddatstsir (Orang yang berkemul).
Makna Al-Muzzammil
Terdapat penafsiran lain yang lebih mendalam secara maknawi. Riwayat di atas menyebutkan bahwa kondisi “berselimut” di sini bukanlah sekadar menyelamatkan tubuh dengan selembar kain karena kedinginan fisik. Lebih dari itu, hal itu merupakan representasi dari sangat beratnya tanggung jawab kenabian (nubuwwah) dan kerasulan (risalah) yang Allah amanahkan ke pundak beliau.
Baca juga: Urgensi Akhlak Mulia dalam Kepemimpinan
Beban spiritual
tersebut begitu dahsyat, hingga seakan-akan membuat raga sang Nabi mengalami
syok dan “panas-dingin”. Sebuah amanah suci yang wajib disampaikan kepada umat
manusia, terutama dimulai dari kaum kerabat terdekatnya yang pada saat itu
masih memegang erat tradisi jahat jahiliyah dan kemusyrikan.
Secara harfiah,
kata “Al-Muzzammil” memang berarti “orang yang berselimut”. Namun, dalam
konteks sejarah ini, istilah tersebut lebih mencerminkan kondisi psikologis Rasulullah
SAW yang sedang dihimpit oleh beratnya tantangan dan besarnya problema dakwah.
Dalam kajian
psikologis, hal itu merupakan sesuatu yang manusiawi jika seseorang dibayangi masalah
yang teramat besar. Sementara kapasitas dan instrumen nyata untuk
menyelesaikannya belum memadai.
Dalam kondisi yang demikian, seseorang cenderung melakukan mekanisme pertahanan diri berupa “menelungkupkan diri” (penarikan diri/isolasi diri). Tindakan ini seolah-olah menjadi ikhtiar bawah sadar untuk menghindari badai persoalan, meskipun ia tahu hal itu tidak mungkin dihindari.
Ada tekanan mental (psychological pressure) yang luar biasa hebat di dalam dada Rasulullah, karena pada fase awal tersebut, belum ada petunjuk teknis yang detail mengenai apa yang harus dia lakukan untuk mengurai benang kusut problematika sosial Makkah.
Baca juga: Pembelaan Allah Itu Pasti
Sejak fajar
kenabian menyingsing melalui lima ayat pertama surat Al-‘Alaq, beliau sudah
mengindra dengan sangat tajam bahwa misi ini bukanlah pekerjaan yang mudah.
Oleh karena itu,
ketika Allah menyapanya dengan panggilan“Ya ayyuhal muzzammil”,
panggilan itu sejatinya dapat diartikan sebagai: “Wahai manusia yang seluruh
jiwa dan raganya sedang diselimuti oleh tugas dakwah yang teramat berat.” Wallahu
a’lam bis shawab.
Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.