Jaminan Petunjuk Allah bagi Pendakwah
Oleh: Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I
Anggota Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI/Dosen STIS Hidayatullah
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Ayat ke-7 dari surat Al-Qalam merupakan penegasan terakhir yang menjadi jawaban dan bantahan terhadap berbagai tuduhan miring dan ancaman dari orang-orang musyrik.
Sejak awal hingga
akhir zaman, Allah tidak tinggal diam untuk memberikan pertolongan dan
penguatan kepada Nabi Muhammad SAW dan para pengikutnya yang istiqamah di jalan
dakwah.
Allah berfirman, yang artinya berbunyi: “Sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan Dia-lah Yang Paling Mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Qalam: 7)
Baca juga: Retorika Alquran Menolak Tuduhan Gila
Dalam ayat ini,
Allah menegaskan bahwa Dia-lah yang paling mengetahui siapa yang sesat dari
jalan-Nya, yaitu orang-orang yang menolak dan menentang Alquran yang diturunkan
kepada Nabi Muhammad SAW. Tidak lain, yang dimaksud adalah Abu Jahal, Abu Lahab,
dan teman-temannya serta orang-orang yang menentang ajaran Alquran hingga akhir
zaman.
Ayat ini semakin
menguatkan keyakinan Nabi Muhammad SAW dan para sahabat terhadap jalan petunjuk,
yaitu Islam. Karena Allah SWT memberikan jaminan bahwa Dia-lah yang paling
mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. Dan tentu Rasulullah dan para
sahabat termasuk orang-orang yang diberikan petunjuk dengan bukti diturunkannya
surat Al-’Alaq dan Al-Qalam.
Ketika seseorang dalam bimbingan petunjuk dan berpegang teguh kepada petunjuk Allah (Alquran) maka dijamin tidak akan tersesat. Inilah yang membuat Nabi Muhammad SAW dan sahabat juga semakin tenang dan yakin.
Baca juga: Pembelaan Allah Itu Pasti
Meski mayoritas
orang di Makkah menghujat, menolak dan menentang Nabi. Tapi ini semua tidak berpengaruh dan tidak mengurangi sedikit pun penilaian dari Allah dengan petunjuk-Nya. Bahkan Allah membelanya dengan diturunkannya surat Al-Qalam 1-7.
Dalam hal ini,
Allah SWT yang paling mengetahui, siapa di antara hamba-Nya yang memilih jalan
sesat, dan yang memilih jalan petunjuk. Keduanya sesuai dengan pilihan jalan
yang ditempuhnya, akan mendapat balasan yang setimpal.
Allah berfirman, yang artinya: “Siapa saja yang mendapat petunjuk maka (petunjuk itu) untuk dirinya sendiri, dan siapa sesat maka sesungguhnya kesesatan itu untuk dirinya sendiri.” (Az-Zumar: 41)
Baca juga: Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah yang Istimewa
Sementara Syekh As-Sa’di mengartikulasikan bahwa surat Al-Qalam ayat 7 tidak hanya berfungsi sebagai teks informatif, melainkan sebagai instrumen keyakinan yang memuat dua dimensi, yaitu sistem peringatan bagi entitas kelompok yang suka berbuat zalim, sekaligus jaminan ilahiah bagi para aktor dakwah yang konsisten.
Sekali lagi, ayat
ke-7 dalam surat Al-Qalam ini menegaskan eksistensi hikmah ilahiah dalam
distribusi petunjuk. Jadi, hidayah adalah hak prerogatif Allah dan sebuah
ketetapan proporsional kepada subjek yang memiliki kesiapan spiritual dan
kelayakan eksistensial.
Dinamika
Dakwah Sepanjang Zaman
Dalam tinjauan sejarah peradaban Islam, resistensi terhadap gerakan dinamisasi tauhid merupakan sebuah sunnatullah (hukum sosiologis-historis yang konstan). Sejak era para nabi terdahulu hingga mencapai puncaknya pada risalah profetik Nabi Muhammad SAW, roda dakwah selalu berkonfrontasi dengan struktur penentang.
Baca juga: Urgensi Akhlak Mulia dalam Kepemimpinan
Nabi Adam ‘Alaihissalam
berhadapan dengan Iblis sebagai simbol penentang. Nabi Ibrahim berhadapan
dengan Raja Namrud. Nabi Musa berhadapan dengan Firaun. Nabi Nuh berhadapan
dengan Kan’an (putranya) dan para pembesar kaumnya. Nabi Luth berhadapan dengan
masyarakat Sodom (dan istrinya). Nabi Musa berhadapan dengan Fira’un, Haman,
dan Qarun. Nabi Syuaib berhadapan dengan para pemilik modal dan pencurang
takaran kaum Madyan.
Tipologi
penentangan tersebut tidak bersifat pasif, melainkan terwujud dalam bentuk
agresi yang destruktif. Mulai dari pembunuhan karakter melalui delik tuduhan
palsu, subordinasi verbal berupa makian, hingga intimidasi sistemik yang
bertujuan mereduksi dan menekankan eksistensi gerakan dakwah dari ruang publik.
Konteks historis ini menempatkan surat Al-Qalam ayat 7 pada posisi aksiologis yang sangat krusial, yakni sebagai kerangka motivasi ilahiah sekaligus instrumen penguat psikologis bagi para aktivis dakwah kontemporer. Tanpa ada ayat-ayat penguat, maka berat perjalanan dakwah yang sarat dengan ujian, gangguan dan cobaan luar biasa.
Baca juga: “Nun” dan Rahasia Al-Qalam
Konteks
Kekinian
Para pendakwah
hari ini, pada dasarnya, adalah pewaris tugas para nabi dan rasul karena Nabi
Muhammad SAW adalah nabi terakhir. Rumus tantangannya tentu sama dengan yang
dihadapi oleh para nabi dan rasul. Ada penolakan, pencibir, dan penuduh yang ingin
memadamkan api dakwah melalui konspirasi mereka.
Para pendakwah
harus menguatkan tauhid, ma’rifatullah (mengenal Allah) dan ma’rifatulinsan
(memahami manusia) dengan membaca dan menulis seperti tertuang dalam surat Al-‘Alaq
1-5. Meneguhkan cita-cita, mempertebal keyakinan terhadap janji Allah dan
memperkokoh akhlak mulia sebagaimana dalam surat Al-Qolam ayat 1-7 ini agar
tidak mudah jatuh atau berhenti di jalan dakwah.
Fenomena futur (degradasi motivasi), keletihan mental (burnout), hingga keputusan untuk menarik diri dari aktivitas syiar atau turnover gerakan merupakan tantangan psikologis sekaligus sosisologis yang nyata bagi aktivisme dakwah hari ini.
Baca juga: Ketika Label “Gila” Menjadi Strategi Membunuh Karakter Para Nabi
Penting untuk direkonstruksi bahwa resistensi sosial, baik berupa penolakan, skeptisisme, maupun konfrontasi dari masyarakat awam bukanlah sebuah anomali, melainkan dinamika yang melekat (kondisi objektif) dalam dialektika dakwah.
Di era kontemporer yang sarat akan budaya digital, ayat ini memberikan edukasi protektif agar para pengemban dakwah tidak terjebak dalam kecanduan akan pujian serta kecemasan neurotik terhadap celaan sosial. Diperlukan perubahan paradigma dari orientasi horizontal (pengakuan publik) menuju orientasi vertikal (karena Allah) yang mutlak.
Baca juga: Mengapa Para Imam Hadis Tidak Anti-Mazhab?
Penilaian
transendental Allah bertindak sebagai tolok ukur mutlak yang berada jauh di
atas konstruksi algoritma penilaian duniawi yang bersifat artifisial, semu, dan
fluktuatif.
Ketika seorang aktivis dakwah telah mencapai kemantapan keyakinan di atas petunjuk-Nya, maka resistensi massal dari jutaan individu sekalipun tidak akan memiliki signifikansi korelatif terhadap reduksi keteguhan iman dan konsistensi pergerakan dakwah.
Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.