Doa saat Mabit di Muzdalifah
Abd. Hakim Abidin
Penulis
Admin
Editor
Jakarta, MUI Digital — Setelah wukuf di Arafah jamaah haji bergeser ke Muzdalifah untuk bermalam (mabit) dan mengambil kerikil yang dipersiapkan untuk pelaksanaan melempar jumrah serta mabit di Mina. Sebagian ulama menyebutkan bahwa mabit di Muzdalifah diperbolehkan meski hanya sebentar, yakni dengan skema murur, atau sekadar melewatinya.
Kawasan Muzdalifah
termasuk bagian dari Masy‘aril Haram (pelataran yang dimuliakan sebab termasuk Tanah
Suci), sebagaimana disebutkan
dalam Alquran:
فَإِذَآ
أَفَضْتُم مِّنْ عَرَفَٰتٍ فَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ عِندَ ٱلْمَشْعَرِ ٱلْحَرَامِ
Artinya: “Maka
apabila kamu telah bertolak dari ‘Arafah, berdzikirlah kepada Allah di
Masy‘aril Haram.” (QS. Al-Baqarah: 198)
Ayat ini menunjukkan bahwa Muzdalifah bukan sekadar tempat singgah setelah Arafah. Tempat ini adalah tempat dzikir dan bermunajat kepada Allah, sebagaimana diperintahkan dalam ayat tersebut.
Baca juga: Doa dan Dzikir Terbaik Jamaah Haji saat di Arafah
Secara bahasa, kata Muzdalifah
berasal dari makna al-izdilaf yang berarti al-ijtima‘; berkumpul.
Karena itu, Muzdalifah dimaknai sebagai tempat pertemuan dan tempat berkumpul.
Bahkan, konon, disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa tempat ini dinamakan
Muzdalifah karena di sanalah Nabi Adam dan Sayyidatuna Hawa ‘Alaihimassalam dipertemukan
kembali setelah diturunkan ke bumi.
Terlepas dari penafsiran filosofis soal tempat yang bernama Muzdalifah ini, para ulama menjelaskan bahwa mabit atau bermalam di Muzdalifah, yakni malam tanggal 10 Dzulhijjah, adalah momentum memperbanyak doa dan mengingat Allah, setelah seorang jamaah melewati puncak ibadah haji di Padang Arafah.
Baca juga: Bacaan Doa saat Melempar Jumroh
Disebutkan dalam
sebuah riwayat, bahwa di tempat inilah dahulu orang-orang Arab Jahiliyyah juga
berdoa. Namun, doa mereka hanya berkisar pada kepentingan duniawi semata:
meminta unta, kambing, harta, dan kemewahan hidup.
Allah kemudian
menurunkan ayat yang mengoreksi cara pandang tersebut, agar seorang mukmin
tidak hanya mengejar dunia, tetapi juga keselamatan akhirat.
Hal ini sebagaimana
disebutkan dalam riwayat yang dibawakan oleh Imam Thabrani dalam kitab Ad-Du’a:
وَكَانَ
النَّاسُ فِي الْجَاهِلِيَّةِ إِذَا وَقَفُوا عِنْدَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ
دَعَوْا، فَقَالَ أَحَدُهُمُ: اللَّهُمَّ ارْزُقْنِي إِبِلًا، اللَّهُمَّ
ارْزُقْنِي غَنَمًا، فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: فَمِنَ
النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ
مِنْ خَلَاقٍ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً
وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Artinya: “Dahulu
manusia pada masa Jahiliyyah apabila berdiri di Masy‘aril Haram mereka berdoa. Salah seorang dari mereka berkata: ‘Ya Allah, berilah aku unta, ya Allah, berilah aku kambing.’ Maka Allah menurunkan ayat: ‘Di antara manusia ada yang berdoa:
Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia,’ dan dia tidak memperoleh bagian
di akhirat. Dan di antara mereka ada yang berdoa: ‘Ya Tuhan kami, berilah kami
kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari siksa
neraka.’” (Ad-Du‘a [Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah], h. 275)
Dari sinilah para ulama kemudian menyinggung bahwa doa yang sangat dianjurkan dibaca ketika berada di Muzdalifah adalah doa agung yang termaktub dalam ayat tersebut. Doa ini menghimpunkan seluruh kebaikan dunia dan akhirat dalam lafaz yang ringkas, namun maknanya sangat luas.
Baca juga: Doa dan Dzikir yang Dibaca saat Thawaf
Berikut lafaz doa yang
dimaksud:
رَبَّنَا
آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ
النَّارِ
Artinya: “Ya Tuhan
kami, berilah kami kebaikan di dunia, kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami
dari azab neraka.”
Doa ini bukan hanya permintaan tentang rezeki atau kenikmatan hidup. Para mufassir menjelaskan bahwa hasanah fid-dunya mencakup ilmu yang bermanfaat, ibadah yang diterima, keluarga yang saleh, kesehatan, rezeki halal, dan kehidupan yang penuh keberkahan. Sedangkan hasanah fil-akhirah meliputi ampunan Allah, kemudahan hisab, serta surga-Nya yang abadi.
Selain doa tersebut,
terdapat pula riwayat lain yang berkaitan dengan dzikir dan doa Nabi SAW pada rangkaian
ibadah haji, tepatnya pada Hari Nahr atau Hari Raya Idul Adha. Sebagaimana
disebutkan Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah membaca dzikir atau doa berikut:
يَا حَيُّ يَا
قَيُّومُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ فَاكْفِنِي شَأْنِي
كُلَّهُ، وَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ
Artinya: “Wahai Dzat Yang Maha Hidup dan Maha Mengurus seluruh makhluk, tiada Tuhan selain Engkau. Dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan. Maka cukupilah seluruh urusanku dan jangan Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri walau sekejap mata.’” (HR Thabrani)
Baca juga: Doa saat Sa’i di Antara Shafa dan Marwa
Dalam riwayat lengkapnya, sebenarnya doa ini dibaca oleh Nabi ketika beliau berada di al-Qarn ats-Tsa’alib, suatu tempat di luar Muzdalifah. Tetapi jika dilihat menyangkut momentumnya, maka tidak mengapa doa ini juga dibaca ketika di Muzdalifah, sebab mabit di Muzdalifah juga masih masuk pada momentum Hari Nahr atau Hari Raya Idul Adha.
Doa ini menunjukkan
puncak ketundukan seorang hamba di hadapan Allah. Bahkan Rasulullah SAW yang ma’shum
(terjaga dari dosa) tetap memohon kepada Allah agar urusan dirinya tidak
diserahkan kepada dirinya sendiri walau hanya sesaat.
Lalu bagaimana dengan kita? Tentunya kita lebih membutuhkan doa tersebut untuk kebaikan diri kita sendiri. Demikian pula kita butuh doa yang disebutkan sebelumnya, yang mengandung permohonan kebaikan di dunia dan di akhirat.