Waketum MUI KH Cholil Nafis Usul Program MBG Gandeng Dapur Mandiri Pesantren
Sadam Al Ghifari
Penulis
Muhammad Fakhruddin
Editor
Jakarta, MUI Digital--Wakil Ketua Umum MUI, KH M Cholil Nafis menyarankan pemerintah untuk mengubah strategi eksekusi lapangan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dibandingkan memaksakan proyek pengadaan terpusat yang rawan dimanipulasi, pemerintah didorong untuk memanfaatkan ekosistem yang sudah berjalan, seperti dapur mandiri di pondok pesantren.
Usulan ini disampaikan menyusul langkah Kejaksaan Agung yang menetapkan dan menahan tiga mantan pejabat Badan Gizi Nasional (BGN) terkait dugaan kasus korupsi tata kelola program tersebut.
Menurut Kiai Cholil, pelibatan institusi lokal yang sudah mapan seperti pesantren akan membuat anggaran besar program ini lebih tepat sasaran dan terhindar dari praktik korupsi.
"Kita harus bisa membaca kearifan lokal masing-masing tempat untuk pemenuhan gizinya. Jadi yang menjadi patokan bukan membangunnya (proyek fisik), tapi terpenuhi gizinya dari masyarakat kita," ujar Kiai Cholil di Kantor MUI Pusat, Jakarta, Selasa (9/6/2026).
Baca juga: Sekjen MUI Dorong Perbaikan Tata Kelola di BGN, Cegah Penyimpangan MBG
Ia mencontohkan, lingkungan pondok pesantren atau institusi pendidikan keagamaan pada umumnya sudah memiliki sistem dapur mandiri dan kantin yang berjalan dengan baik. Dengan menggandeng ekosistem yang sudah ada, pemerintah tidak perlu lagi terjebak dalam egoisme proyek pengadaan fisik yang rawan menjadi ladang pemburuan keuntungan pribadi.
Kritik tajam dan solusi ini mencuat setelah Kejaksaan Agung menahan mantan kepala BGN Dadan Hindayana, serta dua mantan pejabat lainnya, Sony Sonjaya dan Lodewyk Pusung. Kiai Cholil sangat menyayangkan adanya oknum pejabat yang tega merugikan masyarakat di tengah program yang dirancang untuk meningkatkan kualitas gizi generasi bangsa.
“Ini menjadi pelajaran kepada pemerintah bahwa dalam segala urusan diserahkan kepada orang yang mampu dan kompeten di bidangnya itu. Selain dia kompeten, dia punya karakter bersih, karakter berjuang. Bukan karakter hanya mengambil untung, merugikan pada masyarakat. Apalagi ini berkenaan dengan uang besar,” tegas ulama kelahiran Sampang, Madura, pada 1 Juni 1975 ini.
Baca juga: Kiai Said Soal MBG: Buka Lapangan Kerja, Tapi Awas Rakyat Kecil Jadi Korban
Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat ini mengapresiasi ketegasan Presiden RI Prabowo Subianto dalam mendukung penegakan hukum ini, sekaligus mendesak Kejaksaan Agung untuk mengusut tuntas seluruh jaringan yang terlibat hingga ke akarnya.
Melalui restrukturisasi strategi yang melibatkan dapur-dapur mandiri di pesantren, Kiai Cholil berharap Program MBG dapat dipulihkan citranya di mata publik dan benar-benar memberikan dampak nyata bagi nutrisi anak-anak bangsa tanpa dicoreng oleh tata kelola yang korup.