Lewati ke konten utama
Selasa, 7 Juli 2026 / 21 Muharam 1448 H
Jadwal memuat...
Berita

Iran Masih Miliki Kemampuan Militer di Tengah Negosiasi dengan AS

3 menit baca 406 dibaca
Rudal Iran
Rudal Iran- Photo by Moslem Daneshzadeh on Unsplash
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital – Iran dinilai masih memiliki kemampuan militer yang signifikan meski mengalami kerusakan besar akibat serangan udara Amerika Serikat (AS) dan Israel selama konflik beberapa bulan terakhir. 

Kemampuan tersebut dipandang menjadi salah satu faktor yang memperkuat posisi Teheran dalam proses diplomatik yang dimediasi Qatar.

Dikutip MUI Digital dari Aljazeera pada Selasa (7/7/2026). Delegasi Iran berada di Doha untuk melanjutkan pembicaraan yang dimediasi Qatar bersama Amerika Serikat, menyusul nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani pada 17 Juni guna mengakhiri konflik. Meski proses diplomatik terus berjalan, ketegangan di kawasan belum sepenuhnya mereda.

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan militer Israel telah menyiapkan target baru di Iran dan siap melanjutkan operasi apabila proses diplomatik dinilai gagal. 

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa setiap ancaman terhadap rakyat maupun kepemimpinan Iran akan mendapat respons yang tegas.

Baca juga: AS Kembali Serang Teheran, Iran Membalas: Perundingan Damai Runtuh?

Selama konflik, militer Amerika Serikat mengklaim telah menyerang lebih dari 13.000 target di Iran dalam waktu kurang dari 40 hari. Di sisi lain, militer Israel mengklaim telah melancarkan sekitar 10.800 serangan terhadap sekitar 4.000 sasaran.

Menurut klaim kedua negara, sasaran serangan meliputi fasilitas rudal balistik dan rudal jelajah, pangkalan drone, sistem pertahanan udara, pusat komando dan komunikasi, fasilitas nuklir, pangkalan angkatan laut, hingga industri pertahanan.

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) juga mengklaim lebih dari 85 persen industri pertahanan rudal balistik, drone, dan angkatan laut Iran mengalami kerusakan atau hancur. Hingga kini, pemerintah Iran tidak merilis data resmi mengenai tingkat kerusakan tersebut.

Selain fasilitas militer, berbagai infrastruktur sipil seperti fasilitas minyak dan gas, kompleks petrokimia, industri baja, pembangkit listrik, pelabuhan, serta jaringan transportasi juga dilaporkan menjadi sasaran serangan.

Meski demikian, sejumlah laporan intelijen Amerika Serikat dan analisis citra satelit menunjukkan bahwa sebagian besar jaringan pangkalan rudal bawah tanah milik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) tetap bertahan.

 Beberapa fasilitas yang sebelumnya mengalami kerusakan dilaporkan telah kembali beroperasi setelah dilakukan perbaikan.

Laporan sejumlah media internasional yang mengutip sumber intelijen juga menyebut Iran mulai memulihkan kapasitas produksi persenjataannya lebih cepat dari perkiraan.

Produksi drone disebut telah kembali berjalan, sementara pejabat militer Iran mengklaim kapasitas produksinya meningkat dibandingkan sebelum perang.


Iran juga masih mempertahankan kemampuan meluncurkan rudal balistik, rudal jelajah, dan pesawat nirawak, meskipun jumlah penggunaannya dilaporkan menurun dibandingkan pada fase awal konflik.

Di sektor pertahanan udara, Iran mengklaim telah mengembangkan sistem baru untuk menghadapi ancaman udara dan berhasil mencegat sejumlah drone selama perang. Klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

Baca juga: Kritik Muncul terhadap Tim Negosiasi AS dalam Pembicaraan dengan Iran

Sementara itu, di sektor maritim, meski sejumlah kapal perang mengalami kerusakan, Iran masih mengandalkan kapal cepat milik IRGC untuk mempertahankan kehadirannya di kawasan Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa meskipun mengalami kerusakan signifikan akibat serangan udara, Iran masih memiliki kemampuan militer yang dinilai cukup untuk mempertahankan daya gentarnya.

Di sisi lain, ancaman eskalasi konflik tetap membayangi apabila proses diplomatik yang sedang berlangsung tidak mencapai kesepakatan.