Bantah Isu Perpecahan Elite, Iran Tegaskan Negosiasi dengan AS Berjalan dalam Satu Komando
A Fahrur Rozi
Penulis
Muhammad Fakhruddin
Editor
Jakarta, MUI Digital – Pemerintah Republik Islam Iran menegaskan bahwa seluruh pejabat tinggi negara berada dalam satu barisan dan menjalankan strategi yang sama dalam menghadapi proses negosiasi dengan Amerika Serikat.
Pernyataan tersebut disampaikan Wakil Presiden Pertama Iran, Mohammad Reza Aref, saat mengunjungi Administrasi Bea Cukai Republik Islam Iran (IRICA), Sabtu (7/6/2026).
Ia menepis berbagai spekulasi yang menyebut adanya perbedaan pandangan di kalangan elite pemerintahan terkait jalannya perundingan.
“Republik Islam Iran memiliki strategi khusus dalam negosiasi, dan seluruh pejabat melaksanakannya dengan koordinasi penuh. Tidak ada perbedaan pandangan mengenai teks maupun usulan yang diajukan dalam proses negosiasi,” tegas Aref sebagaimana dikutip langsung oleh Mehr News, Iran.
Baca juga: DPR AS Setujui Resolusi Pembatasan Perang Iran, Mampukah Menghentikan Trump?
Menurutnya, Iran tetap berpegang pada pendekatan yang jelas, terukur, dan terkoordinasi dalam setiap tahapan perundingan. Karena itu, berbagai isu yang beredar mengenai adanya perpecahan internal dinilai tidak berdasar.
Pernyataan tersebut muncul di tengah pembicaraan tidak langsung antara Iran dan Amerika Serikat yang bertujuan mengakhiri secara permanen konflik yang dipicu oleh agresi gabungan AS dan Israel terhadap Iran.
Aref menilai pengalaman panjang bangsa Iran menghadapi tekanan eksternal telah membentuk ketangguhan nasional dalam menghadapi berbagai krisis.
Ia menyebut Iran telah memperoleh pelajaran berharga dari berbagai perang dan tekanan yang pernah dipaksakan kepada negara tersebut.
Baca juga: DPR AS Setujui Resolusi Pembatasan Perang Iran, Mampukah Menghentikan Trump?
“Pengalaman menghadapi perang dan krisis membuat Iran mampu mengembangkan mekanisme baru yang lebih efektif dalam mengelola berbagai sektor strategis negara,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Aref juga menyoroti keberhasilan pemerintah mempercepat proses impor, distribusi barang, dan pelayanan kepabeanan melalui penyederhanaan prosedur birokrasi selama masa konflik. Langkah tersebut dinilai mampu menjaga stabilitas pasokan kebutuhan nasional meskipun berada dalam situasi tekanan.
Lebih lanjut, ia mendorong penguatan infrastruktur logistik nasional melalui perluasan kapasitas pelabuhan dan kantor-kantor bea cukai di seluruh wilayah Iran.
Selain itu, penyelesaian koridor transportasi internasional Utara-Selatan dan Timur-Barat disebut sebagai prioritas strategis yang akan memperkuat posisi Iran sebagai pusat konektivitas kawasan.