Aktivitas Fisik Terbukti Optimalkan Kerja Otak, Mahasiswa PGMI UIN Batusangkar Terapkan Outbound Edukatif
Latifahtul Jannah
Penulis
Muhammad Fakhruddin
Editor
Batusangkar, MUI Digital – Selama ini banyak orang menganggap aktivitas fisik hanya bermanfaat untuk menjaga kebugaran tubuh. Padahal, berbagai kajian pendidikan dan ilmu motorik menunjukkan bahwa gerakan tubuh memiliki hubungan erat dengan cara otak memproses informasi, membangun memori, hingga membentuk keterampilan belajar.
Pemahaman inilah yang menjadi landasan pelaksanaan kegiatan rekreasi edukatif dan outbound yang digelar oleh 200 mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) UIN Mahmud Yunus Batusangkar pada 5–6 Juni 2026.
Melalui berbagai permainan edukatif dan aktivitas luar ruangan, mahasiswa berupaya menghadirkan pengalaman belajar yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga mampu mengembangkan kemampuan berpikir, karakter, serta keterampilan motorik peserta didik secara terpadu.
Baca juga: PP Tunas Berlaku, Kemenag Perkuat Literasi Digital Bagi Siswa dan Santri
Berbeda dengan pembelajaran konvensional yang berpusat di dalam kelas, kegiatan ini menempatkan siswa sebagai subjek yang aktif belajar melalui pengalaman langsung. Berbagai permainan kerja sama tim, estafet, tantangan pemecahan masalah, dan latihan konsentrasi dirancang untuk melatih komunikasi, kepemimpinan, kreativitas, kemampuan mengambil keputusan, serta kerja sama antarpeserta.
Di balik aktivitas yang tampak sederhana tersebut, terdapat proses belajar yang kompleks. Setiap gerakan yang dilakukan siswa sesungguhnya melibatkan koordinasi antara tubuh dan otak dalam menerima, mengolah, serta merespons berbagai informasi yang diperoleh selama kegiatan berlangsung.
Pakar motorik dari Universitas Negeri Padang, Prof. Dr. Anton Komaini, M.Pd., menjelaskan bahwa aktivitas motorik merupakan hasil integrasi antara aspek kognitif, afektif, dan psikomotor yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain.
Menurutnya, teori yang dikemukakan oleh Robert Gagne menempatkan keterampilan motorik sebagai salah satu dari lima hasil belajar manusia yang esensial. Sementara itu, Benjamin Bloom menegaskan bahwa domain psikomotor tidak dapat berdiri sendiri tanpa keterlibatan proses mental.
Baca juga: MUI Siapkan Beasiswa dan Rehabilitasi 800 Rumah bagi Korban Bencana di Sumatera
"Apa yang selama ini kita anggap sebagai kegagalan otot, sebenarnya adalah tantangan pengolahan informasi di otak," ujarnya.
Prof Anton menambahkan bahwa aktivitas rekreasi edukatif dan outbound mampu mengoptimalkan domain kognitif, afektif, sosial, dan psikomotor melalui kegiatan yang seru dan menyenangkan.
Menurut Prof Anton, tujuan akhir dari setiap latihan motorik adalah mencapai tahap otomatisasi.
"Tujuan akhir dari setiap latihan motorik adalah mencapai jalan panjang menuju otomatisasi," katanya.
Prof menjelaskan bahwa proses tersebut melibatkan transisi dari tahap kognitif, yaitu memahami apa yang dilakukan, menuju tahap asosiatif yang berfokus pada bagaimana melakukannya, hingga akhirnya mencapai tahap otomatisasi.
Penjelasan tersebut sejalan dengan Teori Skema yang dikembangkan Richard Schmidt. Dalam teori tersebut dijelaskan bahwa proses belajar gerak melibatkan dua sistem memori yang saling melengkapi, yakni recall memory yang berfungsi menghasilkan gerakan dan recognition memory yang berfungsi mengevaluasi hasil gerakan secara langsung.
Menurut Prof Anton, aktivitas yang dipilih mahasiswa PGMI UIN Mahmud Yunus Batusangkar merupakan aktivitas yang tepat untuk meningkatkan pembelajaran yang menyenangkan sekaligus membantu siswa mengoptimalkan memori ingatan dan memori pengenalan dalam mencapai kemampuan psikomotor yang baik.
"Belajar motorik adalah suatu proses perubahan perilaku yang relatif permanen sebagai akibat dari latihan dan pengalaman di masa lalu," ujarnya.
Prof Anton menambahkan bahwa semakin sering siswa memperoleh pengalaman gerak melalui kegiatan rekreasi edukatif dan outbound, semakin besar peluang keberhasilan perkembangan keterampilan gerak mereka.
Dukungan terhadap kegiatan tersebut juga datang dari Ketua Umum Asosiasi Experiential Learning Indonesia (AELI), Gigih Gesang, S.Psi. Ia menilai kegiatan yang diinisiasi mahasiswa PGMI UIN Mahmud Yunus Batusangkar merupakan langkah yang patut diapresiasi.
"Saya sangat mendukung kegiatan ini. Ini merupakan langkah yang revolusioner. Saya berharap kampus lain dapat mengikuti langkah yang dilakukan mahasiswa PGMI UIN Mahmud Yunus Batusangkar," ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan oleh anggota AELI Sumatera Barat sekaligus praktisi experiential learning, Dede Hakim, S.Pd., C.ELP. Menurutnya, outbound bukan sekadar aktivitas bermain atau bersenang-senang, melainkan sarana pembelajaran berbasis pengalaman yang efektif.
"Saya sangat mendukung inisiatif ini. Di dunia experiential learning atau pembelajaran berbasis pengalaman, metode seperti outbound bukan sekadar main-main atau bersenang-senang saja. Ini adalah jembatan emas bagi siswa untuk memahami pelajaran dengan cara yang jauh lebih melekat di ingatan," katanya.
Dede menilai kegiatan yang dilakukan mahasiswa PGMI menjadi bukti bahwa pembelajaran dapat dikemas secara kreatif tanpa kehilangan nilai edukatifnya.
"Apa yang dilakukan oleh mahasiswa PGMI ini adalah bukti nyata bahwa belajar itu bisa dibuat sangat menyenangkan tanpa kehilangan bobot edukasinya. Selamat dan sukses untuk para mahasiswa PGMI, teruslah menginspirasi dunia pendidikan kita," tambahnya.
Sementara itu, dosen PGMI UIN Mahmud Yunus Batusangkar, Rio Afriadi, S.Si., M.Pd., mengatakan kegiatan tersebut menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam mengintegrasikan konsep pembelajaran dengan aktivitas fisik yang menyenangkan dan bermakna bagi peserta didik.
"Kegiatan ini menunjukkan bahwa mahasiswa mampu mengintegrasikan konsep pembelajaran dengan aktivitas fisik yang menyenangkan dan bermakna bagi peserta didik. Melalui berbagai permainan dan aktivitas outbound, siswa tidak hanya memperoleh pengalaman belajar yang menarik, tetapi juga dapat mengembangkan kemampuan motorik, kerja sama, komunikasi, kepemimpinan, serta rasa percaya diri," ujarnya.
Menurutnya, kegiatan tersebut sejalan dengan tujuan pendidikan modern yang menekankan pengembangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor secara seimbang.
Rio berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan dengan perencanaan yang lebih matang, inovatif, serta tetap memperhatikan aspek keselamatan peserta. Selain memberikan manfaat bagi siswa, kegiatan ini juga menjadi sarana bagi mahasiswa untuk meningkatkan kompetensi profesional sebagai calon pendidik yang kreatif dan adaptif terhadap kebutuhan pembelajaran di lapangan.
Salah seorang mahasiswi PGMI angkatan 2025, Jihan Dwi Raudatul Jannah, mengaku memperoleh banyak pengalaman berharga selama mengikuti kegiatan tersebut.
"Melalui berbagai permainan dan tantangan, kami belajar tentang kerja sama tim, komunikasi, kepemimpinan, serta pentingnya saling menghargai antaranggota kelompok," tuturnya.
Jihan mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga meningkatkan rasa percaya diri, kekompakan, serta kemampuan dalam memecahkan masalah.
"Selain menambah wawasan, kegiatan ini juga meningkatkan rasa percaya diri, kekompakan, dan kemampuan dalam memecahkan masalah. Suasana yang interaktif dan penuh semangat membuat kami lebih mudah memahami nilai-nilai kebersamaan dan tanggung jawab," ujarnya.
Jihan berharap kegiatan outbound seperti ini dapat terus dilaksanakan karena mampu memberikan pengalaman belajar yang edukatif, rekreatif, dan berkesan bagi mahasiswa.