Lewati ke konten utama
Selasa, 30 Juni 2026 / 14 Muharam 1448 H
Jadwal memuat...
Opini

Pembelaan Allah Itu Pasti

6 menit baca 1.217 dibaca
Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I

Oleh: Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I

Anggota Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI/Dosen STIS Hidayatullah

Diunggah: Admin Admin Editor: Admin
Pembelaan Allah Itu Pasti
Foto: Pinterest
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital — Terbayang betapa dahsyatnya dampak dari pasca diturunkannya surat Al-‘Alaq 1-5 atau setelah dilantiknya Muhammad menjadi nabi dan rasul, ada pertentangan yang luar biasa dari kaum kafir Quraisy. Berbagai bentuk tuduhan, fitnah, dan cacian datang bertubi-tubi kepada Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya yang masih bisa dihitung jari jumlahnya.

Kalau pertentangan tersebut ringan atau biasa-biasa saja, tentu Allah tidak perlu memberikan pembelaan. Ini saking beratnya beban Rasululllah SAW menghadapi eskalasi konspirasi dengan berbagai bentuk pertentangan, sehingga Allah memberikan pembelaan yang komprehensif melalui surat Al-Qalam ayat 2-4. Tiga argumentasi fundamental untuk mematahkan seluruh tuduhan kaum musyrikin.

Baca juga: Urgensi Akhlak Mulia dalam Kepemimpinan

Pertama, melalui ayat kedua surat Al-Qalam, Allah melakukan negasi dengan menyandarkan kondisi mental Nabi pada “ni’mat Rabbik” (nikmat Tuhanmu). Hal ini menegaskan bahwa nikmat Alquran, iman, dan kenabian adalah anugerah ilahiah yang terjaga, sehingga tidak mungkin bercampur dengan kegilaan.

Kedua, pada ayat ketiga surat Al-Qalam, Allah memberikan jaminan berupa “ajrun ghairu mamnun”, yakni kesempurnaan pahala yang terus-menerus dan tidak terputus. Pernyataan ini berfungsi sebagai penguatan mental dan keyakinan bagi Rasulullah bahwa setiap resistensi sosial yang beliau hadapi merupakan investasi ukhrawi yang bersifat kekal.

Terakhir, ketiga, pada ayat keempat, Allah memuncaki pembelaan-Nya dengan memuji akhlak tertinggi melalui kalimat “wa innaka la’ala khuluqin ’adhim”. Secara semantik, penggunaan huruf “lam taukid” dan struktur kalimat “inna” dalam ayat ini memberikan penegasan absolut bahwa Nabi Muhammad SAW tidak hanya sekadar akhlak baik, melainkan berada di atas puncak keagungan akhlak.

Baca juga: Urgensi Membaca bagi Seorang Pemimpin

Secara akademis, ayat ini menegaskan sebuah tesis bahwa kemuliaan akhlak adalah bukti empiris paling kuat untuk menggugurkan segala bentuk fitnah.

Dengan demikian, rangkaian ayat ini tidak hanya berfungsi sebagai pembelaan bagi pribadi Nabi Muhammad SAW, tetapi juga menjadi “prototipe” etika bagi para pendakwah dalam menghadapi tantangan sosial dan distorsi informasi di setiap zaman.

Ayat yang Menghibur dan yang Mengancaman

Melanjutkan pembelaan pada ayat-ayat 2-4, Allah SWT menutup pembelaan-Nya dengan sebuah ayat visioner dalam ayat ke-5: “Fasatubshiru wa yubshirun” (Maka kelak engkau akan melihat dan mereka juga akan melihat).

Ayat ini berfungsi ganda dalam dimensi psikososial. Pertama, sebagai instrumen penghibur hati bagi Rasulullah SAW agar tetap tegar dalam ketenangan batin. Kedua, sekaligus sebagai ancaman keras bagi para penentang dakwah.

Dalam kondisi minoritas, lemah, tertekan, maka ayat ini sangat krusial sebagai penghibur hati bagi Rasulullah SAW dan para sahabat. Tidak lain karena memberikan ketenangan batin dan keyakinan bahwa tuduhan-tuduhan miring kafir Quraisy tidak benar. Mereka membenci Islam hanyalah distorsi realitas yang tidak akan pernah mampu mereduksi kemuliaan di sisi Allah.

Baca juga: Pesan Tersirat Surat Al-Qalam Menyembuhkan Lelah Mental dalam Dakwah

Ketika dunia luar begitu bising dengan narasi kebencian, “penghiburan” ilahiah ini hadir untuk memastikan bahwa fokus utama seorang pendakwah adalah tetap pada integritas akhlak (khuluqun ’adhim) dan konsistensi dalam menyampaikan kebenaran karena ada “ajrun ghaira mamnum yang Allah janjikan.

Ayat ini memberikan optimisme dan berjiwa besar kepada Rasulullah dan kaum muslimin untuk yakin dan konsisten di jalan dakwah. Ada jaminan yang Allah berikan di balik berbagai halangan, hambatan, dan tantangan dalam dakwah, bahwa Allah pasti akan memberikan pembelaan dan kepastian kemenangan, cepat ataupun lambat.

Allah “menghibur” Nabi Muhammad untuk tidak sedih dan khawatir, sehingga sebanyak dan seberat apa pun tantangan dari para penentang dakwah, maka Allah menjadi jaminan kemenangan. Orang-orang beriman tidak perlu insecure atau merasa tidak aman, apalagi merasa khauf wa yahzanun (takut dan sedih).

Di sisi lain, ayat ini juga bekerja sebagai ancaman keras yang sangat serius bagi para penentang dakwah yang merasa berada di atas angin. Meskipun mereka tidak sadar bahwa kekuatan material atau vokalitas suara mereka hanya kekuatan semu.

Baca juga: Ketika Label “Gila” Menjadi Strategi Membunuh Karakter Para Nabi

Para penentang Islam mungkin merasa sedang memenangkan pertarungan narasi dan opini saat itu sebagai mayoritas, namun Allah memperingatkan bahwa mereka sebenarnya sedang terjebak dalam delusi intelektual dan terancam eksistensinya.

Allah akan memperingatkan dengan ayat ini kepada para penentang, pengolok, dan penolak risalah dakwah Nabi Muhammad. Bahwa mereka akan diperlihatkan fakta yang mengerikan dan mengenaskan atas ulah konspirasi menentang dakwah Islam.

Kepastian Janji Allah

Secara linguistik, penggunaan partikel “sin” (س) pada kata “fasatubshiru” mengandung signifikansi gramatikal yang sangat kuat. Dalam kaidah bahasa Arab, huruf sin berfungsi sebagai “harfu istiqbal” yang menunjukkan masa depan yang dekat (lil-qariib), berbeda dengan kata “saufa” yang merujuk pada masa depan yang jauh.

Penggunaan sin di sini memberikan penegasan akan kepastian; bahwa kemenangan kebenaran dan kehancuran kebatilan bukanlah angan-angan utopis yang jauh, melainkan sebuah keniscayaan sejarah yang segera terjadi. Hal ini merupakan manifestasi dari hukum Allah (sunnatullah) bahwa kebenaran secara inheren memiliki daya tahan yang lebih kuat dibandingkan kebatilan yang rapuh.

Baca juga: Surat Al-‘Alaq dan Konsep Syahadat

Kepastian janji Allah ini bersifat absolut dan merupakan rukun keyakinan bagi setiap mukmin. Janji-Nya tidak mungkin meleset, sebagaimana ditegaskan dalam surat Ar-Rum ayat 6, yang artinya: “Sebagai janji yang sebenarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.”

Konfirmasi serupa juga ditemukan dalam surat Ali ‘Imran ayat 9, yang menegaskan bahwa “Innallaha la yukhliful mi'ad” (Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji). Bagi seorang pendakwah, memahami dimensi ayat ini mengubah paradigma perjuangan: bahwa tantangan dan fitnah hanyalah dinamika sementara. Sedangkan kemenangan yang dijanjikan adalah realitas masa depan yang sudah diukur secara presisi dalam garis waktu ketetapan Allah.

Pembuktian Awal

Allah menjanjikan sebuah momentum pembuktian tujuan yang akan mengungkap tabir kebenaran, memisahkan secara kontras antara mereka yang mendapatkan hidayah dan mereka yang dalam kesesatan karena jeratan kesombongan. Di panggung sejarah dunia, Allah tidak membiarkan janji-Nya hanya menjadi narasi abstrak.

Allah mendemonstrasikan kebenaran tersebut melalui peristiwa-peristiwa monumental seperti Perang Badar dan Fathu Makkah (Penaklukan Makkah). Kemenangan-kemenangan ini bukan sekadar keberhasilan militer, melainkan sebuah verifikasi ilahiah yang menghancurkan narasi palsu kaum kafir Quraisy.

Namun, peningkatan kemenangan di dunia hanyalah mukadimah dari pembuktian yang jauh lebih besar di pengadilan akhirat kelak. Jika di dunia kebenaran masih bisa ditutupi dengan alibi, narasi dan argumentasi, maka di akhirat seluruh hakikat akan dipaparkan tanpa celah.

Di akhirat mereka pasti akan menyesali kesesatan, karena mereka akan mendapat siksa dan kehinaan yang pedih karena penolakannya terhadap dakwah Nabi Muhammad SAW.

Pada hari Kiamat, semua perbuatan manusia dihisab, ditimbang, dan diperlihatkan kepada masing-masing mereka.

Baca juga: Dua Sayap Peradaban Islam: Iqra’ dan Qalam

Hal ini memberikan pelajaran mendalam bagi umat Islam dalam setiap fase perjuangannya: bahwa tekanan dan cacian yang diterima di jalan dakwah adalah dinamika dan harus yakin memiliki “tanggal harapan” yang telah ditetapkan oleh Allah.

Keyakinan terhadap janji Allah yang pasti dan tidak akan pernah salah, menjadi energi yang mengubah sudut pandang seorang mukmin menjadi lebih yakin dan optimis dalam melihat pertentangan antara kebenaran dan kebatilan.

Jalan dakwah bukan untuk memuaskan penilaian manusia, melainkan untuk berdiri di barisan yang telah diridhai oleh Allah, sembari menanti saat di mana semesta alam akan menyaksikan siapa yang sejatinya berada dalam petunjuk. Janji Allah itu pasti dan benar.

Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.