Surat Al-‘Alaq dan Konsep Syahadat
Oleh: Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I
Anggota Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI/Dosen STIS Hidayatullah
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Intisari dari studi (dirasah) terhadap surat Al-‘Alaq ayat 1-5 terletak pada peletakan fondasi akidah yang “menempatkan posisi” Tuhan (Khaliq) dan kedudukan manusia (makhluq). Wahyu ini bukan sekadar perintah membaca secara kognitif, tetapi juga meletakkan fondasi ilmu dalam ber-Tuhan.
Membaca tanpa
menyandarkan diri pada nama Tuhan hanya akan melahirkan pengetahuan yang
destruktif. Membaca dengan “Bismi Rabbika” akan melahirkan peradaban
yang memanusiakan manusia.
Dalam konstruksi Al-‘Alaq ini, Allah “memposisikan” diri-Nya sebagai subjek tunggal yang memegang otoritas penuh atas ilmu dan eksistensi seluruh alam.
Baca juga: Sistematika Wahyu sebagai “Manhaj” Membangun Peradaban Islam
Atribut Al-Khaliq
(Maha Mencipta), Al-Akram (Maha Mulia), dan Al-’Alim (Maha
Mengetahui) menegaskan bahwa Allah adalah sumber dari segala sesuatu.
Pengetahuan
bukanlah entitas mandiri yang ditemukan manusia, melainkan rahmat yang
dianugerahkan oleh Allah kepada hamba-Nya melalui “qalam” dan pengajaran-Nya.
Al-‘Alaq
mendefinisikan manusia sebagai objek yang diciptakan dari “‘alaq”. Sebuah
simbol dari asal-usul biologis yang lemah dan rendah. Penekanan pada aspek ‘alaq
(segumpal darah/sesuatu yang menempel) berfungsi untuk meruntuhkan arogansi keangkuhan
manusia.
Hal ini menegaskan bahwa manusia tidak memiliki modal dasar apa pun kecuali apa yang diberikan oleh Sang Pencipta (Al-Khaliq).
Baca juga: Dua Sayap Peradaban Islam: Iqra’ dan Qalam
Penyebutan asal-usul
manusia dari ‘alaq (segumpal darah), berkait erat dengan penegasan
Alquran bahwa segala sesuatu selain Allah adalah makhluk. Entitas yang
keberadaannya bergantung sepenuhnya pada kehendak lain.
Sebaliknya, hanya
Allah yang “menempati posisi” Khaliq (Pencipta) yang mandiri dan absolut.
Konsep “Lahirnya”
Syahadat
Persaksian dan pengakuan
atas kemutlakan penciptaan ini secara otomatis mengantarkan manusia pada
persaksian bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah (Laa ilaha
illallah). Inilah syahadat tauhid yang menjadikan manusia sepenuhnya yakin
bahwa hanya Allah, Sang Pencipta dan Pengatur alam raya, yang di dalamnya
termasuk entitas manusia.
Mentadabburi surat
Al-‘Alaq secara sadar akan melakukan dua hal. Pertama, an-nafyu
(peniadaan) yaitu pada kalimat laailaha (tidak ada Tuhan) yang
membatalkan semua ketuhanan dengan segala bentuknya dan menyingkirkan terhadap
segala sesuatu yang disembah selain Allah SWT.
Kedua, melakukan al-itsbat (penetapan) yaitu pada kalimat illallah (kecuali Allah) yang menetapkan bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah SWT, yang tentunya mewajibkan adanya ketaatan dan pengamalan sesuai dengan konsekuensinya. Meski dalam surat Al-‘Alaq 1-5 belum disebutkan nama Tuhan yang wajib disembah adalah Allah.
Baca juga: Urgensi Membaca bagi Seorang Pemimpin
Turunnya surat
Al-‘Alaq kepada Muhammad di Gua Hira bukan sekadar peristiwa mistis, melainkan
sebuah “proklamasi” kenabian. Peristiwa ini berfungsi sebagai bukti empiris dan
spiritual bahwa Muhammad telah dipilih menjadi utusan Allah (Rasulullah).
Pengakuan ini
juga sebagai syahadat rasul, yaitu persaksian bahwa Muhammad adalah nabi dan
rasul yang diutus untuk “menyambung” kehendak Allah untuk umat manusia.
Syahadat rasul menuntut
kesediaan manusia menjadikan Rasulullah sebagai teladan, memiliki rasa cinta,
dan menerima dengan segala yang dicontohkan Rasul, baik dari segi amal,
perkataan, dan perbuatan.
Hal ini otomatis
akan dilakukan oleh orang yang mempersaksikan Muhammad sebagai nabi dan rasul,
apalagi mempersaksikan akhlaknya yang mulia.
Syahadatnya
Para Sahabat
Dalam
historiografi Islam, transmisi lima ayat pertama surat Al-‘Alaq merupakan fase
tumbuhnya iman yang fundamental bagi kelompok “As-Sabiqunal Awwalun”
(orang-orang yang pertama masuk Islam).
Proses pendalaman
wahyu yang berlangsung di kediaman Arqam bin Abi Arqam berfungsi sebagai
mekanisme dekonstruksi kognitif terhadap tatanan nilai jahiliyah.
Internalisasi
pesan-pesan awal Al-‘Alaq secara efektif mereduksi otoritas kepercayaan
paganisme yang berbasis pada penyembahan berhala yang tidak bisa menciptakan
dan berbuat apa-apa.
Pemahaman ini
berfungsi meruntuhkan struktur pemikiran politeisme dan menggantikannya dengan
kesadaran akan keesaan Allah (tauhid).
Melalui wahyu ini, para sahabat mengalami proses pencarian makna hidup yang mendalam di tengah kehidupan jahiliyah.
Baca juga: Kesadaran Titik Nol untuk Sujud
Penjelasan mengenai asal-usul penciptaan dan posisi manusia di hadapan Sang Pencipta memberikan jawaban definitif atas kegelisahan eksistensial mereka.
Nilai-nilai Al-‘Alaq
juga memberikan reorientasi tujuan hidup dari sekadar materialisme menjadi
pengabdian transendental. Menumbuhkan kesadaran akan martabat manusia sebagai
makhluk yang berakal dan memiliki tanggung jawab moral.
Bersyahadat Melalui
Riset
Relevansi kandungan
makna surat Al-‘Alaq tetap terjaga dalam konteks kontemporer, terutama di dunia
Barat. Banyak ilmuwan dan intelektual menjadi muallaf bukan melalui jalur
emosional semata, melainkan melalui proses iqra’, persis yang disinggung
dalam ayat pertama surat Al-‘Alaq.
Dalam buku-buku
seperti Kisah Para Muallaf Paling Berpengaruh karya Muhammad Yusuf Anas dan Lukman Santoso AZ, dijelaskan perjalanan intelektual para pemikir Eropa
dan Amerika yang menemukan Islam melalui studi serius tentang kebenaran agama.
Para akademisi,
profesor, dan doktor, khususnya dari Jepang, masuk Islam setelah meneliti satu
ayat tertentu di dalam Alquran.
Terkadang mereka baru mengkaji satu ayat tentang kulit, saraf, otak, usus, tapi mereka menemukan dan mempersaksikan kekuasaan Allah dalam penelitiannya yang akhirnya mengantar mereka untuk bersyahadat.
Baca juga: Menemukan Jati Diri Manusia Melalui Surat Al-‘Alaq
Mereka mempraktikkan esensi iqra’ dengan melakukan riset mendalam, meneliti literatur Islam, dan terlibat dalam diskusi kritis, kemudian menemukan kekuasaan Allah lewat risetnya.
Surat Al-‘Alaq
memberikan legitimasi bagi akal untuk mencari kebenaran, yang pada akhirnya
membuktikan bahwa Islam adalah agama yang selaras dengan fitrah nalar manusia.
Tipologi
Proses Berislam
Dalam tipologi beragama,
proses berislam dan beriman melalui aktivitas iqra’ memiliki struktur
ketahanan yang lebih kokoh dibandingkan dengan keberagamaan yang bersifat herediter
(keturunan), sosiologis (lingkungan), atau sekadar imitasi
(ikut-ikutan). Hal ini disebabkan oleh keterlibatan seluruh perangkat kognitif
dan afektif manusia dalam menjemput hidayah.
Konsep iqra’ menuntut keterlibatan aktif subjek dalam melakukan observasi, dialektika, dan kontemplasi. Ini adalah sebuah perjalanan intelektual di mana setiap informasi tentang Islam tidak hanya diterima sebagai dogma atau doktrin, tetapi dibedah melalui nalar, diteliti akurasinya, dan dipahami signifikansinya.
Baca juga: Epistemologi Al-‘Alaq sebagai Fondasi Peradaban
Keimanan yang
lahir dari proses ini adalah hasil dari “kesepakatan” dan “kesadaran” antara
ketajaman rasio dan kejujuran nurani.
Konsep iqra’ berjalan menemukan kebenaran melalui proses penemuan mandiri yang autentik, yang pada akhirnya melahirkan syadahat untuk masuk Islam dengan segala bentuk kepasrahannya.
Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.