Lewati ke konten utama
Selasa, 30 Juni 2026 / 14 Muharam 1448 H
Jadwal memuat...
Opini

Dua Sayap Peradaban Islam: Iqra’ dan Qalam

4 menit baca 1.474 dibaca
Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I

Oleh: Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I

Anggota Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI/Dosen STIS Hidayatullah

Diunggah: Admin Admin Editor: Admin
Dua Sayap Peradaban Islam: Iqra’ dan Qalam
Foto: Pinterest
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital — Di Baghdad pada abad ke-9, di sebuah koridor luas bernama Baitul Hikmah, wangi perkamen kuno bercampur dengan aroma tinta segar yang tajam. Di satu sudut, seorang penerjemah sedang tekun membaca naskah Yunani, Sansekerta, dan Persia.

Inilah wujud nyata dari aktivitas “iqra’”. Namun, ia tidak berhenti di sana; aktivitas membaca tersebut segera diikuti dengan aktivitas menulis berupa analisis, kritik, dan pengembangan teori-teori baru.

Inilah ekosistem ilmiah paling inklusif yang pernah dikenal manusia, di mana integrasi antara membaca dan menulis melahirkan keajaiban peradaban. Mereka memahami satu rahasia besar; iqra’ dan qalam adalah fondasi utama dalam membangun peradaban Islam.

Perjalanan agung ini dimulai dari lima ayat pertama surat Al-‘Alaq. Di sana, termaktub kata kunci “iqra’” yang memerintahkan kita untuk membaca, yang terulang dua kali di ayat pertama dan ketiga. Namun, konteks membaca ini tidaklah sempit; ia mencakup spektrum yang luas, mulai dari pembacaan teks wahyu atau ayat qauliyah hingga pengamatan terhadap fenomena alam semesta yang kita sebut ayat kauniyah.

Baca juga: Urgensi Membaca bagi Seorang Pemimpin

Lalu, pada ayat keempat surat Al-‘Alaq, muncul kata kunci “qalam” sebagai dasar untuk menulis. Penggabungan kedua aktivitas ini bukanlah sekadar perintah teknis, melainkan sebuah metodologi fundamental dalam pembangunan peradaban manusia.

Islam, sejak awal, tidak pernah memisahkan antara penguasaan materi hasil membaca dengan metodologi pelestarian melalui proses menulis.

Membaca tanpa menulis, jejak sejarah akan terkikis. Menulis tanpa membaca, gagasan tak punya cahaya. Sebab, dalam membangun peradaban, membaca tanpa menulis hanya akan menyebabkan stagnasi hingga hilangnya jejak pemikiran. Sebaliknya, menulis tanpa dasar membaca yang kuat membuat seseorang kekurangan bahan baku untuk memproses sebuah gagasan.

Rahasia Generasi Terbaik

Prof Quraish Shihab mengungkapkan betapa eratnya kaitan ini. Setelah menurunkan lima ayat awal Al-‘Alaq, Allah kemudian menurunkan ayat, “Nun, demi pena dan apa yang mereka tulis” dalam QS. Al-Qalam. Meski urutannya tidak berdampingan dalam mushaf, kedua ayat ini turun beriringan untuk menunjukkan betapa pentingnya menulis di samping membaca.

Ketajaman pena inilah yang dipraktikkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat. Mereka mengintegrasikan wahyu dan akal, hingga berhasil mengubah masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat pembelajar yang haus akan kebenaran.

Baca juga: Menemukan Jati Diri Manusia Melalui Surat Al-‘Alaq

Praktik inilah yang melahirkan “khairul qurun” atau generasi terbaik. Sebuah tatanan peradaban yang tidak hanya unggul secara spiritual, tetapi juga memimpin secara intelektual, moral, dan mental dengan kualitas yang tak tertandingi.

Menulis: Mandat Ilahi dan Tali Pengikat Ilmu

Allah SWT menurunkan ilmu-Nya tidak hanya melalui wahyu yang turun tiba-tiba ke dalam hati, tetapi juga melalui jalur ilmu “kasbi”, yaitu ilmu yang diupayakan dengan kesungguhan. Di sinilah “qalam” atau pena menjadi simbol kedaulatan intelektual manusia.

Hal ini sebagaimana wasiat para salafusshalih (para orang saleh terdahulu) yang sangat masyhur: “Ilmu adalah binatang buruan, dan tulisan adalah tali pengikatnya. Maka ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat.”

Baca juga: Epistemologi Al-‘Alaq sebagai Fondasi Peradaban

Setiap upaya saintifik (ilmiah) yang terdokumentasi adalah bentuk nyata dari pengamalan ayat tentang qalam. Tanpanya, ilmu yang tersimpan dalam ingatan hanya bersifat temporal dan sangat rentan terhadap distorsi lupa.

Menulis adalah cara paling otentik untuk mensyukuri fungsi kognitif akal kita. Setiap karya pena yang sistematis adalah bentuk ibadah intelektual yang kedudukannya sangat tinggi dalam hierarki Islam.

Menjaga Kemurnian Masa Depan

Tanpa pena, kebenaran hanya akan menjadi pengalaman pribadi. Namun, dengan pena, kebenaran menjadi warisan dan wawasan peradaban yang abadi.

Bayangkan jika wahyu Alquran dan hadis tidak terkodifikasi. Tentu hukum syariat dan sirah akan terdistorsi oleh subjektivitas pemahaman manusia.

Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah menekankan bahwa mengajar dengan pena adalah anugerah terbesar. Dengan penalah berita masa lalu dicatat, hak-hak ditetapkan, dan sunnah dijaga agar tidak terlupakan.

Menulis adalah aktivitas menjaga kemurnian tauhid dan syariat agar tetap kokoh melampaui usia para pembawanya.

Pena menulis dengan teliti, peradaban takkan mati. Amanah ilmu tetap terjaga, dari generasi ke generasi manusia.

Baca juga: Sistematika Wahyu sebagai “Manhaj” Membangun Peradaban Islam

Masa depan peradaban umat Islam tidak terletak pada penemuan metode baru yang asing, melainkan pada revitalisasi dua prasyarat fundamental yang telah digariskan dalam sistematika turunnya wahyu, yakni integrasi iqra’ (budaya riset dan observasi) dan qalam (tradisi dokumentasi, kodifikasi dan karya).

Jika kedua pilar tersebut dihidupkan kembali secara masif dan terstruktur, maka rekonstruksi peradaban manusia yang berbasis Alquran bukanlah sebuah utopia, melainkan kepastian sejarah.

Lalu bagaimana pendapat Anda mengenai integrasi dua sayap peradaban ini? Apakah Anda sudah mulai mengikat “binatang buruan” intelektual Anda hari ini dengan goresan pena?

Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.