Dua Sayap Peradaban Islam: Iqra’ dan Qalam
Oleh: Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I
Anggota Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI/Dosen STIS Hidayatullah
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Di Baghdad pada abad ke-9, di sebuah koridor luas bernama Baitul Hikmah, wangi perkamen kuno bercampur dengan aroma tinta segar yang tajam. Di satu sudut, seorang penerjemah sedang tekun membaca naskah Yunani, Sansekerta, dan Persia.
Inilah wujud
nyata dari aktivitas “iqra’”. Namun, ia tidak berhenti di sana;
aktivitas membaca tersebut segera diikuti dengan aktivitas menulis berupa
analisis, kritik, dan pengembangan teori-teori baru.
Inilah ekosistem
ilmiah paling inklusif yang pernah dikenal manusia, di mana integrasi antara
membaca dan menulis melahirkan keajaiban peradaban. Mereka memahami satu
rahasia besar; iqra’ dan qalam adalah fondasi utama dalam
membangun peradaban Islam.
Perjalanan agung ini dimulai dari lima ayat pertama surat Al-‘Alaq. Di sana, termaktub kata kunci “iqra’” yang memerintahkan kita untuk membaca, yang terulang dua kali di ayat pertama dan ketiga. Namun, konteks membaca ini tidaklah sempit; ia mencakup spektrum yang luas, mulai dari pembacaan teks wahyu atau ayat qauliyah hingga pengamatan terhadap fenomena alam semesta yang kita sebut ayat kauniyah.
Baca juga: Urgensi Membaca bagi Seorang Pemimpin
Lalu, pada ayat
keempat surat Al-‘Alaq, muncul kata kunci “qalam” sebagai dasar untuk
menulis. Penggabungan kedua aktivitas ini bukanlah sekadar perintah teknis,
melainkan sebuah metodologi fundamental dalam pembangunan peradaban manusia.
Islam, sejak
awal, tidak pernah memisahkan antara penguasaan materi hasil membaca dengan
metodologi pelestarian melalui proses menulis.
Membaca tanpa
menulis, jejak sejarah akan terkikis. Menulis tanpa membaca, gagasan tak punya
cahaya. Sebab, dalam membangun peradaban, membaca tanpa menulis hanya akan
menyebabkan stagnasi hingga hilangnya jejak pemikiran. Sebaliknya, menulis
tanpa dasar membaca yang kuat membuat seseorang kekurangan bahan baku untuk
memproses sebuah gagasan.
Rahasia
Generasi Terbaik
Prof Quraish
Shihab mengungkapkan betapa eratnya kaitan ini. Setelah menurunkan lima ayat
awal Al-‘Alaq, Allah kemudian menurunkan ayat, “Nun, demi pena dan apa yang
mereka tulis” dalam QS. Al-Qalam. Meski urutannya tidak berdampingan dalam
mushaf, kedua ayat ini turun beriringan untuk menunjukkan betapa pentingnya
menulis di samping membaca.
Ketajaman pena inilah yang dipraktikkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat. Mereka mengintegrasikan wahyu dan akal, hingga berhasil mengubah masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat pembelajar yang haus akan kebenaran.
Baca juga: Menemukan Jati Diri Manusia Melalui Surat Al-‘Alaq
Praktik inilah
yang melahirkan “khairul qurun” atau generasi terbaik. Sebuah tatanan
peradaban yang tidak hanya unggul secara spiritual, tetapi juga memimpin secara
intelektual, moral, dan mental dengan kualitas yang tak tertandingi.
Menulis:
Mandat Ilahi dan Tali Pengikat Ilmu
Allah SWT
menurunkan ilmu-Nya tidak hanya melalui wahyu yang turun tiba-tiba ke dalam
hati, tetapi juga melalui jalur ilmu “kasbi”, yaitu ilmu yang diupayakan
dengan kesungguhan. Di sinilah “qalam” atau pena menjadi simbol
kedaulatan intelektual manusia.
Hal ini sebagaimana wasiat para salafusshalih (para orang saleh terdahulu) yang sangat masyhur: “Ilmu adalah binatang buruan, dan tulisan adalah tali pengikatnya. Maka ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat.”
Baca juga: Epistemologi Al-‘Alaq sebagai Fondasi Peradaban
Setiap upaya saintifik
(ilmiah) yang terdokumentasi adalah bentuk nyata dari pengamalan ayat tentang qalam.
Tanpanya, ilmu yang tersimpan dalam ingatan hanya bersifat temporal dan sangat
rentan terhadap distorsi lupa.
Menulis adalah
cara paling otentik untuk mensyukuri fungsi kognitif akal kita. Setiap karya
pena yang sistematis adalah bentuk ibadah intelektual yang kedudukannya sangat
tinggi dalam hierarki Islam.
Menjaga Kemurnian
Masa Depan
Tanpa pena,
kebenaran hanya akan menjadi pengalaman pribadi. Namun, dengan pena, kebenaran
menjadi warisan dan wawasan peradaban yang abadi.
Bayangkan jika
wahyu Alquran dan hadis tidak terkodifikasi. Tentu hukum syariat dan sirah akan
terdistorsi oleh subjektivitas pemahaman manusia.
Imam Ibnu al-Qayyim
rahimahullah menekankan bahwa mengajar dengan pena adalah anugerah
terbesar. Dengan penalah berita masa lalu dicatat, hak-hak ditetapkan, dan
sunnah dijaga agar tidak terlupakan.
Menulis adalah
aktivitas menjaga kemurnian tauhid dan syariat agar tetap kokoh melampaui usia
para pembawanya.
Pena menulis dengan teliti, peradaban takkan mati. Amanah ilmu tetap terjaga, dari generasi ke generasi manusia.
Baca juga: Sistematika Wahyu sebagai “Manhaj” Membangun Peradaban Islam
Masa depan
peradaban umat Islam tidak terletak pada penemuan metode baru yang asing,
melainkan pada revitalisasi dua prasyarat fundamental yang telah digariskan
dalam sistematika turunnya wahyu, yakni integrasi iqra’ (budaya riset
dan observasi) dan qalam (tradisi dokumentasi, kodifikasi dan karya).
Jika kedua pilar tersebut
dihidupkan kembali secara masif dan terstruktur, maka rekonstruksi peradaban
manusia yang berbasis Alquran bukanlah sebuah utopia, melainkan kepastian
sejarah.
Lalu bagaimana pendapat Anda mengenai integrasi dua sayap peradaban ini? Apakah Anda sudah mulai mengikat “binatang buruan” intelektual Anda hari ini dengan goresan pena?
Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.