Urgensi Akhlak Mulia dalam Kepemimpinan
Oleh: Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I
Anggota Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI/Dosen STIS Hidayatullah
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Di tengah badai tuduhan dan mesin propaganda Quraisy yang menyesakkan dada, Allah SWT tidak tinggal diam, menurunkan pembelaan yang tak terduga pada Nabi SAW. Saat itu, Makkah bukan hanya panas oleh suhu gurun, tetapi juga oleh atmosfer kebencian yang terstruktur.
Ketika para elite
dan “buzzer” Quraisy sibuk meneriakkan hoaks kegilaan Nabi Muhammad SAW untuk
meracuni pikiran penduduk, Allah justru mengalihkan pandangan dunia pada
sesuatu yang tak bisa dipalsukan dan tidak mungkin diingkari tentang keindahan akhlak
Nabi Muhammad SAW.
Surat Al-Qalam ayat 4, “Wa innaka la’alaa khuluqin adhim”, diturunkan bukan sekadar sebagai pelipur lara atau pujian puitis tanpa makna. Ayat ini adalah argumen lapis ketiga yang secara elegan meruntuhkan seluruh bangunan fitnah Quraisy.
Baca juga: Pesan Tersirat Surat Al-Qalam Menyembuhkan Lelah Mental dalam Dakwah
Allah sedang “menyodorkan”
logika yang tak terbantahkan kepada akal sehat manusia: bahwa kegilaan adalah
kekacauan mental, sedangkan akhlak mulia adalah puncak dari keteraturan jiwa
dan kejernihan pikiran.
Pujian Allah
kepada Nabi Muhammad SAW ini tidak pernah diberikan kepada hamba-hamba yang lain. Ini
pujian yang luar biasa dari Khaliq (Sang Pencipta) kepada makhluq
(ciptaan) terbaik. Ayat ini juga merupakan penegasan normatif bahwa akhlak mulia
merupakan fondasi utama misi kenabian dan tujuan Islam secara keseluruhan untuk
memperbaiki akhlak.
Rasulullah
bersabda, “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang
mulia.” (HR Bukhari). Ini adalah landasan utama misi dakwah Nabi
Muhammad SAW dalam memperbaiki perilaku manusia.
Bagaimana mungkin kegilaan bersemayam dalam diri Nabi Muhammad SAW yang diutus untuk memperbaiki akhlak manusia? Beliau terkenal tetap santun saat dihina, yang tetap jujur saat dikhianati, dan yang tetap penuh kasih saat disakiti.
Baca juga: Ketika Label “Gila” Menjadi Strategi Membunuh Karakter Para Nabi
Melalui pesan yang
disematkan pada Nabi SAW, “sungguh kamu berada di atas akhlak yang agung”,
Allah menegaskan bahwa integritas moral adalah antitesis absolut dari kegilaan.
Pembelaan ini
menjadi perisai mental sekaligus tamparan bagi para pencela. Bahwa sekeras apa
pun upaya pembunuhan karakter dilakukan, pasti akan selalu kandas ketika
berhadapan dengan cahaya akhlak yang kokoh.
Bagi setiap pendakwah
hari ini, ayat ini adalah pengingat bahwa ketika kata-kata dipelintir dan
pribadi diserang, biarlah integritas dan kemuliaan adab yang menjadi juru
bicara terbaik.
Tinjauan Tafsir
Dalam menafsirkan
ayat keempat surat Al-Qalam, Imam al-Qurthuby menjelaskan bahwa istilah “khuluq”
bukan sekadar perilaku biasa, melainkan budi pekerti yang sangat luhur dan
terpuji.
Struktur bahasa
dalam ayat ini dengan tambahan penegas untuk menunjukkan bahwa kemuliaan akhlak
Nabi Muhammad SAW telah mencapai level tertinggi yang mustahil terlampaui. Kata
“’adhim” (yang agung) yang melekat di sana menggambarkan bahwa keindahan
akhlak beliau benar-benar di luar bayangan manusia.
Secara lebih detail, Syekh Wahbah az-Zuhaili menguraikan bahwa “akhlak yang agung” ini mewujud dalam sifat-sifat nyata: Nabi Muhammad SAW adalah sosok yang sangat pemalu (santun), dermawan, lemah lembut, sekaligus pemberani.
Baca juga: “Nun” dan Rahasia Al-Qalam
Semua ini
merupakan rangkuman dari sifat wajib para nabi. Pertama, “shiddiq” yaitu
selalu jujur dalam kata dan perbuatan. Kedua, “amanah” yaitu sangat
terpercaya dalam memegang tanggung jawab. Ketiga, “tabligh” yaitu berani
menyampaikan kebenaran meski penuh risiko. Keempat, “fathanah” yaitu
memiliki kecerdasan luar biasa untuk memimpin umat.
Sederhananya,
bagaimana mungkin sosok dengan integritas selengkap dan secerdas ini dituduh
gila? Akhlak agung inilah bukti paling nyata bahwa tuduhan mereka adalah fitnah
yang tak berdasar.
Alquran sebagai
Akhlak
Pernyataan yang
berbunyi; “Nabi Muhammad merupakan Alquran yang hidup” bukan
sekedar kalimat yang tak berdasar. Ini berdasar pada riwayat Aisyah yang
ditanyai oleh seorang sahabat.
يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ
أَنْبِئِينِي عَنْ خُلُقِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَتْ:
أَلَسْتَ تَقْرَأُ الْقُرْآنَ؟ قُلْتُ: بَلَى، قَالَتْ: فَإِنَّ خُلُقَ نَبِيِّ اللهِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ الْقُرْآنَ
“Wahai Ummuul Mu’minin,
beritahukanlah kepadaku tentang akhlak Rasulullah SAW. Maka Aisyah menanyainya
kembali: ‘Apakah kamu tidak membaca Alquran?’ Maka aku menjawab: iya. Maka
Aisyah menjawab: ‘Sesunggunnya akhlak Rasaulullah SAW ialah Alquran.’” (HR Muslim)
Sebagaimana dijelaskan oleh Buya Hamka, pernyataan Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha mengenai hal ini mengandung makna bahwa seluruh perintah dan larangan dalam Alquran telah menyatu menjadi tabiat dan karakter dasar beliau.
Baca juga: Menemukan Jati Diri Manusia Melalui Surat Al-‘Alaq
Nabi Muhammad SAW tidak sekadar “membaca”, mengkaji dan menghafal Alquran, tetapi menginternalisasinya sedemikian rupa sehingga setiap tindakan beliau merupakan cerminan langsung dari Alquran itu sendiri. Dan setiap larangan ditinggalkan dengan kepatuhan yang mutlak tanpa keraguan sedikit pun.
Dimensi akhlak
ini tidak hanya tampak dalam urusan besar kenegaraan, tetapi juga dalam detail
kecil kehidupan domestik yang penuh tekanan. Imam ar-Razi dalam tafsirnya
mencatat sebuah peristiwa saat terjadi persaingan kecil antara Sayyidah Aisyah
dan Sayyidah Hafsah yang mengakibatkan tumpahnya piring makanan.
Di tengah situasi
yang memancing emosi tersebut, Rasulullah SAW menunjukkan stabilitas mental
yang luar biasa. Beliau tidak merespons dengan kemarahan, melainkan justru
tetap tenang mengumpulkan makanan tersebut dan meminta piring pengganti demi
menjaga harmoni dan perasaan kedua istrinya.
Fragmen-fragmen
keindahan perilaku tersebut memberikan gambaran nyata betapa luasnya samudra
akhlak yang dimiliki Sang Nabi SAW. Tidak mungkin dengan kemuliaan akhlak
tersebut, Muhammad “gila”.
Keteladanan Akhlak
Pemimpin
Dalam diskursus
kepemimpinan modern, integritas moral sering kali hanya dipandang sebagai nilai
tambah, namun dalam perspektif Islam yang tertuang dalam surat Al-Qalam ayat 4,
integritas adalah prasyarat mutlak.
Penegasan Allah
mengenai keagungan akhlak Rasulullah SAW bukan sekadar untaian pujian,
melainkan sebuah manifestasi standar kepemimpinan ideal yang memberikan pesan
otoritatif.
Otoritas kepemimpinan yang kokoh hanya dapat dibangun di atas fondasi karakter akhlak yang agung. Sebagai representasi puncak dari segala dimensi kebajikan, Rasulullah SAW berada pada titik kulminasi tertinggi dalam setiap jenis akhlak, sehingga Alquran memposisikan beliau sebagai uswatun hasanah bagi siapa pun yang mendambakan keagungan perilaku.
Baca juga: Urgensi Membaca bagi Seorang Pemimpin
Dalam
implementasi sosialnya, Rasulullah SAW mempraktikkan gaya kepemimpinan yang
aksesibel dan humanis tanpa membangun jarak kekuasaan (power distance),
melainkan tampil sebagai sosok yang lembut dan memiliki kedekatan emosional
dengan para sahabatnya.
Kepemimpinan Rasulullah
SAW berbasis pada pelayanan (servant leadership), di mana setiap
keperluan orang lain dipenuhi sebagai bentuk pelipur lara, serta mengedepankan
musyawarah dalam setiap keputusan strategis meskipun beliau memegang otoritas
tertinggi.
Stabilitas
emosional beliau, baik dalam ranah domestik maupun publik, tercermin dari sikap
pemaaf dan apresiatif yang jauh dari kata kasar maupun dendam. Bahkan,
kemampuan beliau membalas perlakuan buruk dengan kebaikan tulus menjadi sebuah
strategi diplomasi hati yang mampu mengubah lawan menjadi kawan.
Kesempurnaan
karakter ini kemudian diikat secara operasional melalui surat Al-Ahzab ayat 21,
yang artinya: “Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan
yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan)
hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah”.
Ayat ini memberikan penegasan bahwa kemuliaan akhlak yang terkandung dalam surat Al-Qalam ayat 4 bukanlah sekadar untuk dikagumi secara pasif, melainkan harus dijadikan cetak biru (blueprint) nyata dalam bertindak.
Baca juga: Dua Sayap Peradaban Islam: Iqra’ dan Qalam
Dengan demikian,
menjadikan akhlak Rasulullah sebagai teladan bukanlah sebuah pilihan opsional,
melainkan kebutuhan mendasar bagi setiap individu dan pemimpin dalam meraih
keselamatan di dunia maupun akhirat.
Setiap langkah
yang diambil untuk mendekati standar akhlak beliau, sesederhana apa pun itu,
merupakan sebuah proses yang memiliki nilai kebaikan yang amat tinggi.
Semoga shalawat dan salam senantiasa terlimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW.
Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.