Belajar dari Nabi Ibrahim dalam Menghadapi Gelombang Krisis Global
Oleh: KH Ahmad Jamil, M.A, Ph.D
Pengurus KPK MUI/Pimpinan Pondok Pesantren Tahfizh Daarul Quran (DaQu)
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Pada satu titik dalam sejarah modern, manusia menjadi sangat percaya kepada angka. Pertumbuhan ekonomi, indeks pembangunan manusia, nilai tukar, inflasi, angka kemiskinan, statistik kriminalitas, peringkat korupsi, hingga survei kebahagiaan disusun rapi, dibaca, dianalisis, lalu dijadikan dasar kebijakan.
Kita hidup dalam dunia
yang semakin terukur. Namun, justru di tengah dunia yang serba terukur itu, ada
satu kenyataan yang semakin sulit diukur: kegelisahan manusia.
Indonesia hari ini
memperlihatkan sebuah paradoks yang tidak sederhana. Di satu sisi, pembangunan
terus bergerak. Infrastruktur tumbuh, teknologi berkembang, pendidikan meluas,
dan akses informasi terbuka hampir tanpa batas.
Di sisi lain, kegelisahan sosial terasa makin nyata. Tekanan nilai tukar rupiah bukan hanya urusan pasar uang, tetapi juga menyentuh rasa aman masyarakat.
Baca juga: Doa yang Terlupakan di Tengah Krisis
Bank Indonesia sendiri
beberapa kali menegaskan bahwa rupiah menghadapi tekanan akibat ketidakpastian
global, tensi geopolitik, dan dinamika ekonomi dunia yang belum stabil.
Dampaknya tidak
berhenti pada angka-angka makroekonomi, tetapi masuk ke ruang hidup masyarakat:
harga yang bergerak, daya beli yang tertekan, pekerjaan yang tidak selalu
pasti, serta beban hidup keluarga kecil di banyak tempat.
Di saat yang sama,
fenomena judi online, pinjaman online ilegal, penipuan digital, korupsi, dan
krisis etika publik menunjukkan bahwa masalah bangsa tidak hanya terletak pada
lemahnya sistem, tetapi juga pada melemahnya orientasi moral.
Pusat Pelaporan dan
Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) bahkan mencatat bahwa perjudian mendominasi
47,49% Laporan Transaksi Keuangan Mencurigakan (LTKM) tahun 2025. Angka ini
bukan sekadar statistik kriminal, tetapi alarm sosial tentang rusaknya cara pandang
sebagian masyarakat terhadap kerja, rezeki, dan makna keberhasilan.
Judi online bukan
sekadar pelanggaran hukum. Ia adalah gejala perubahan mentalitas: dari kerja
keras menuju jalan pintas; dari sabar menuju instan; dari ikhtiar menuju ilusi
keberuntungan.
Sementara itu,
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Satgas PASTI terus menindak praktik
pinjaman online ilegal yang menjerat masyarakat dengan bunga mencekik,
intimidasi, dan eksploitasi data pribadi.
Fenomena ini
memperlihatkan rapuhnya literasi finansial sekaligus besarnya tekanan ekonomi
yang dirasakan sebagian masyarakat.
Di sisi lain, tantangan korupsi juga belum selesai. Indeks Persepsi Korupsi (Corruption Perceptions Index/CPI) Indonesia tahun 2025 masih menunjukkan bahwa bangsa ini menghadapi persoalan serius dalam integritas, tata kelola, dan budaya amanah.
Baca juga: Bahan Bakar Iman di Tengah Ancaman Krisis Dunia
Korupsi bukan semata-mata
penyimpangan individu, melainkan tanda rapuhnya rasa malu, lemahnya tanggung
jawab moral, dan kaburnya orientasi pengabdian kepada kepentingan publik.
Dalam sosiologi
klasik, Émile Durkheim menyebut keadaan semacam ini sebagai anomie:
keterputusan antara nilai dan perilaku, antara norma yang diakui dan kenyataan
yang dijalani.
Ketika masyarakat
kehilangan pegangan moral yang kokoh, maka hukum menjadi lemah, keluarga
menjadi rapuh, pendidikan kehilangan ruh, dan manusia mudah terseret oleh arus
yang lebih kuat daripada nuraninya.
Islam membaca realitas
ini dengan cara yang lebih dalam. Krisis tidak hanya dipahami sebagai fenomena
ekonomi, sosial, atau politik, tetapi juga sebagai krisis ruhani.
Manusia bisa saja maju
secara teknologi, tetapi mundur secara makna. Sebuah negeri bisa tumbuh secara
fisik, tetapi rapuh secara batin.
Di sinilah Alquran
menghadirkan kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam bukan sekadar sebagai
sejarah, melainkan sebagai panduan abadi tentang bagaimana membangun negeri,
menjaga generasi, dan memohon keberkahan dari Allah.
Awal Sebuah
Peradaban
Bayangkan sebuah
lembah yang sunyi. Tidak ada sungai yang mengalir. Tidak ada tanaman yang
tumbuh. Tidak ada keramaian manusia. Secara logika, tempat itu tidak
menjanjikan kehidupan. Namun di sanalah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam
berdiri.
Beliau tidak membawa
pasukan, tidak membawa logistik besar, tidak membawa peta pembangunan modern,
dan tidak membawa sistem ekonomi yang canggih. Yang beliau bawa adalah iman,
kepatuhan, visi kenabian, dan doa.
Alquran mengabadikan
doa beliau:
وَإِذْ
قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ
الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ قَالَ وَمَنْ
كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلًا ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَىٰ عَذَابِ النَّارِ ۖ
وَبِئْسَ الْمَصِيرُ
“Dan ingatlah
ketika Ibrahim berdoa, ‘Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman dan
berilah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya, yaitu siapa di antara
mereka yang beriman kepada Allah dan hari kemudian.’ Allah berfirman, ‘Dan
kepada orang yang kafir pun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa
ia menjalani azab neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.’”
(QS. Al-Baqarah: 126)
Doa ini bukan sekadar permohonan pribadi. Ia adalah visi peradaban. Ia menunjukkan bahwa pembangunan negeri dalam pandangan para nabi tidak dimulai dari ambisi kekuasaan, tetapi dari rasa takut kepada Allah, cinta kepada manusia, dan tanggung jawab terhadap masa depan generasi.
Baca juga: Optimis, Doa dan Tawakkal Menghadapi Musibah
Nabi Ibrahim memohon
dua hal utama: keamanan dan rezeki. Urutannya sangat penting. Beliau memohon
keamanan terlebih dahulu, baru kemudian rezeki.
Para mufassir membaca
urutan ini dengan kedalaman yang luar biasa. Imam at-Thabari dalam Jami‘
al-Bayan menjelaskan bahwa makna “negeri yang aman” adalah negeri yang
penduduknya dijauhkan dari rasa takut.
Keamanan bukan hanya
bebas dari serangan fisik, tetapi juga rasa tenteram yang memungkinkan manusia
beribadah, bekerja, belajar, membangun keluarga, dan hidup secara bermartabat.
Begitu juga Ibnu
Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Adhim menegaskan bahwa Nabi Ibrahim
mendahulukan keamanan sebelum rezeki karena rezeki tidak akan terasa nikmat
bila manusia hidup dalam ketakutan. Kekayaan tidak menenangkan jika masyarakat
diliputi ancaman, konflik, kriminalitas, dan kegelisahan.
Senada dengan para mufassir
lainnya, Imam Fakhruddin ar-Razi dalam Mafatih al-Ghaib juga menegaskan:
فَلَوْلَا الْأَمْنُ لَمْ يُجْلَبْ إِلَيْهَا مِنَ النَّوَاحِي وَتَعَذَّرَ
الْعَيْشُ فِيهَا
“Maka seandainya tidak ada keamanan,
niscaya tidak akan didatangkan kepadanya (negeri itu) berbagai kebutuhan dari
berbagai penjuru, dan kehidupan di dalamnya pun akan menjadi sulit.” (Mafatih al-Ghaib [Beirut: Dar Ihya’ at-Turots al-‘Arabi], juz 4,
h. 48)
Inilah pelajaran besar
dari Nabi Ibrahim: negeri yang baik tidak cukup hanya makmur. Ia harus aman.
Sebab kemakmuran tanpa keamanan akan melahirkan kecemasan.
Sebaliknya, keamanan tanpa keberkahan juga akan kehilangan arah. Maka doa Nabi Ibrahim menyatukan dua kebutuhan dasar manusia, yakni rasa aman dan kecukupan hidup.
Baca juga: Perang Kawasan Teluk dan Ancaman Ekonomi Syariah–Halal
Pentingnya Sebuah Keamanan
Keamanan sering tidak
kita sadari ketika ia hadir. Ia baru terasa sangat mahal ketika hilang. Ketika
rumah tidak lagi memberi rasa tenang, jalan tidak lagi terasa aman, ruang
digital penuh penipuan, ekonomi tidak pasti, dan masyarakat saling curiga,
barulah manusia sadar bahwa keamanan adalah nikmat besar yang tidak bisa digantikan
oleh apa pun.
Pada dasarnya kemaslahatan hidup bertumpu pada keamanan.
Ibadah membutuhkan ketenangan. Pendidikan membutuhkan stabilitas. Ekonomi
membutuhkan kepastian. Keluarga membutuhkan rasa aman. Dakwah membutuhkan ruang
sosial yang tertib. Bahkan kebebasan berpikir dan kreativitas tidak akan tumbuh
dalam masyarakat yang diliputi rasa takut.
Rasulullah SAW pun
mengingatkan betapa besar nilai keamanan dalam kehidupan manusia:
مَنْ
أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، عِنْدَهُ قُوتُ
يَوْمِهِ، فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا
“Barang siapa di antara kalian memasuki pagi
dalam keadaan aman di tempat tinggalnya, sehat badannya, dan memiliki makanan
untuk hari itu, maka seakan-akan dunia telah dikumpulkan untuknya.” (HR Tirmidzi)
Hadis ini mengajarkan ukuran kebahagiaan yang sangat sederhana, tetapi sering dilupakan oleh manusia modern: aman, sehat, dan cukup.
Baca juga: Menjaga Nalar Bangsa di Tengah Arus Perang Pemikiran
Banyak orang hari ini
memiliki lebih dari cukup, tetapi tidak merasa tenang. Banyak yang memiliki
fasilitas, tetapi kehilangan ketenteraman. Banyak yang tampak berhasil, tetapi
batinnya gelisah.
Karena itu, keamanan
dalam Islam bukan hanya keadaan politik, tetapi juga suasana jiwa dan kualitas
hidup yang membuat manusia mampu beribadah dan menjalani kehidupan dengan
benar.
Dalam konteks
Indonesia, keamanan tetap harus disyukuri dan dijaga. Negeri ini, dengan segala
kekurangannya, masih diberi ruang untuk beribadah, berdakwah, belajar, bekerja,
dan membangun kehidupan bersama.
Namun demikian, tanda-tanda
kegelisahan tidak boleh diabaikan. Kejahatan digital, judi online, penipuan,
pinjaman ilegal, krisis etika publik, konflik sosial, dan rapuhnya adab dalam
ruang publik adalah peringatan bahwa keamanan bukan hanya tugas aparat, tetapi
tanggung jawab moral seluruh masyarakat.
Arti Keberkahan Rezeki
Setelah memohon
keamanan, Nabi Ibrahim memohon rezeki:
وَارْزُقْ
أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ
“Dan berilah rezeki
kepada penduduknya berupa buah-buahan.”
Dalam Tafsir
al-Qurthubi, kata “ats-tsamarāt” tidak hanya menunjuk pada
buah-buahan secara harfiah, tetapi juga melambangkan kecukupan hidup,
ketersediaan kebutuhan, dan kelapangan rezeki.
Doa ini sangat menarik
karena dipanjatkan di tempat yang secara geografis tidak subur. Nabi Ibrahim
seakan mengajarkan bahwa keberkahan tidak selalu tunduk kepada kalkulasi
manusia.
Tempat yang tampak
tandus bisa menjadi pusat kehidupan jika Allah berkehendak. Ruang yang tampak
mustahil bisa melahirkan peradaban jika Allah menurunkan keberkahan.
Namun, ada sisi lain
yang lebih dalam. Nabi Ibrahim mengaitkan permohonan rezeki dengan iman:
مَنْ
آمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ
“Yaitu siapa di
antara mereka yang beriman kepada Allah dan hari kemudian.”
Seakan beliau ingin
menegaskan bahwa kesejahteraan sejati bukan hanya soal kelimpahan materi,
melainkan soal arah hidup.
Rezeki yang tidak disertai iman bisa berubah menjadi fitnah. Kekayaan tanpa akhlak bisa menjadi alat kesombongan. Jabatan tanpa rasa takut kepada Allah bisa menjadi pintu kezaliman. Kemajuan ekonomi tanpa keadilan bisa melahirkan jurang sosial yang menyakitkan.
Baca juga: Hakikat di Balik Syariat Doa
Allah kemudian
memberikan perspektif yang lebih luas:
وَمَنْ
كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلًا
“Dan kepada orang
yang kafir pun Aku beri kesenangan sementara.”
Ayat ini menunjukkan
bahwa rezeki dunia bisa diberikan kepada siapa saja. Orang beriman bisa kaya,
orang tidak beriman pun bisa kaya. Bangsa yang taat bisa maju, bangsa yang jauh
dari iman pun bisa maju secara material.
Tetapi keberkahan
adalah perkara lain. Keberkahan bukan sekadar banyaknya harta, melainkan
kebaikan yang menetap, manfaat yang meluas, dan ketenangan yang menyertai.
Karena itu, dalam
Islam, pembangunan ekonomi tidak boleh dipisahkan dari moralitas. Pertumbuhan
harus disertai keadilan. Investasi harus dijaga dengan amanah. Kekuasaan
ekonomi tidak boleh berubah menjadi alat eksploitasi.
Negara tidak cukup
mengejar angka pertumbuhan, tetapi juga harus menjaga martabat manusia.
Masyarakat tidak cukup mengejar penghasilan, tetapi juga harus menjaga kehalalan,
adab, dan tanggung jawab sosial.
Di sinilah doa Nabi
Ibrahim sangat relevan bagi Indonesia. Negeri ini kaya sumber daya, besar
jumlah penduduknya, luas wilayahnya, kuat tradisi sosialnya, dan dalam banyak
hal memiliki modal peradaban yang luar biasa.
Namun demikian, semua
itu tidak otomatis menjadi keberkahan bila tidak dijaga oleh iman, keadilan,
ilmu, dan akhlak.
Sumber daya bisa menjadi berkah, tetapi juga bisa menjadi sumber konflik. Kekayaan alam bisa memakmurkan, tetapi juga bisa merusak bila dikelola tanpa amanah. Teknologi bisa mempercepat kebaikan, tetapi juga bisa mempercepat kerusakan bila tidak dikendalikan oleh nilai.
Baca juga: Menjawab Tekanan Ekonomi Lewat Kekuatan Pesantren
Dari Keamanan
Negeri Menuju Keamanan Aqidah
Doa Nabi Ibrahim tidak
berhenti pada keamanan fisik dan rezeki. Dalam ayat lain, beliau memohon
sesuatu yang lebih dalam: keselamatan tauhid.
وَإِذْ
قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ
أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ
“Dan ingatlah
ketika Ibrahim berkata, ‘Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman,
dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala.’”
(QS. Ibrahim: 35)
Ayat ini bergerak dari keamanan negeri menuju keamanan hati. Yang memanjatkan doa ini bukan manusia biasa. Beliau adalah Nabi Ibrahim, kekasih Allah, bapak para nabi, penghancur berhala, dan simbol tauhid sepanjang sejarah.
Baca juga: Menafsir Ulang Makna Kepemimpinan Suami, Tanggung Jawab, dan Etika Kuasa dalam Rumah Tangga
Meski latar belakang Ibrahim
sedemikian mulia dan istimewa, namun beliau masih memohon agar dijauhkan dari
kesyirikan. Di sinilah pelajaran besarnya: semakin tinggi kedudukan seorang
hamba di sisi Allah, semakin besar rasa takutnya kehilangan hidayah.
Jika Nabi Ibrahim saja
takut kepada fitnah kesyirikan, padahal beliau yang menghancurkan berhala
dengan tangannya sendiri. Maka bagaimana dengan manusia hari ini yang hidup
dalam badai fitnah digital, ideologi tanpa batas, budaya konsumtif, hiburan bebas
tanpa henti, dan godaan dunia yang semakin halus?
Mewaspadai Berhala
Modern
Ketika Alquran
berbicara tentang berhala, tentu makna asalnya adalah patung atau benda yang
disembah selain Allah. Namun, hakikat penyimpangan tauhid tidak berhenti pada
bentuk fisik.
Intinya adalah ketika
hati menggantungkan harapan, ketakutan, cinta, dan kepasrahan secara berlebihan
kepada selain Allah. Berhala modern tidak selalu berbentuk batu. Ia bisa hadir
sebagai uang, jabatan, popularitas, citra diri, ideologi, teknologi, bahkan ego
pribadi.
Imam Fakhruddin ar-Razi
menjelaskan bahwa inti tauhid adalah keterikatan hati sepenuhnya kepada Allah.
Dari prinsip ini, para ulama memahami bahwa syirik tidak selalu dimulai dari
ritual penyembahan yang tampak, tetapi bisa berawal dari ketergantungan hati
yang keliru.
Ketika uang menjadi
ukuran tertinggi nilai manusia, ketika jabatan menjadi tujuan hidup yang
menghalalkan segala cara, ketika popularitas lebih dicintai daripada ridha
Allah, ketika algoritma lebih menentukan perilaku daripada wahyu, maka manusia
sedang menghadapi bentuk-bentuk perbudakan baru.
Teknologi bukan musuh. Media sosial bukan dosa bagi dirinya. Uang bukan keburukan. Jabatan juga bisa menjadi amanah. Namun, semuanya bisa berubah menjadi fitnah ketika mengambil posisi yang semestinya hanya milik Allah.
Ketika hati lebih takut kehilangan pengikut daripada kehilangan keikhlasan, lebih gelisah kehilangan jabatan daripada kehilangan shalat, lebih peduli kepada citra publik daripada pandangan Allah, maka manusia sedang mengalami krisis orientasi spiritual.
Baca juga: Dua Sayap Peradaban Islam: Iqra’ dan Qalam
Ibnu ‘Asyur dalam At-Tahrir
wa at-Tanwir menegaskan bahwa doa Nabi Ibrahim menunjukkan perhatian besar
terhadap kesinambungan tauhid pada generasi setelahnya.
Para nabi tidak hanya
membangun masyarakat yang hidup, tetapi juga menjaga agar generasi tidak
kehilangan arah. Sebab sebuah negeri bisa selamat dari krisis ekonomi, tetapi
belum tentu selamat dari kerusakan moral.
Sebuah bangsa bisa
maju secara teknologi, tetapi tetap kosong secara makna. Dan sejarah
menunjukkan bahwa banyak peradaban runtuh bukan karena miskin, melainkan karena
kehilangan nilai, keadilan, dan ruh.
Di sinilah doa Nabi
Ibrahim terasa sangat relevan bagi Indonesia hari ini. Ancaman terhadap aqidah
dan moral tidak selalu datang dalam bentuk pemaksaan keyakinan. Ia sering hadir
melalui gaya hidup: budaya konsumtif, normalisasi maksiat, candu hiburan, kekerasan
verbal di ruang digital, perjudian, pornografi, penyimpangan, korupsi kecil
yang dianggap biasa, kebohongan yang dibenarkan, dan hilangnya rasa malu. Semua
itu perlahan mengikis sensitivitas hati.
Fenomena judi online,
misalnya, bukan hanya masalah hukum. Ia juga masalah jiwa. Ia memperlihatkan
bagaimana manusia modern mudah tergoda oleh janji instan, padahal kehidupan
dibangun dengan ikhtiar, ilmu, kesabaran, dan tawakal.
Pinjaman online ilegal
bukan hanya perkara transaksi, tetapi sering menjadi gambaran rapuhnya
ketahanan ekonomi keluarga dan lemahnya literasi finansial.
Korupsi bukan hanya tindakan mengambil yang bukan haknya, tetapi tanda matinya rasa diawasi Allah. Maka doa “jauhkan aku dan anak keturunanku dari menyembah berhala” hari ini bisa dibaca sebagai doa agar hati kita tidak diperbudak dunia, generasi kita tidak kehilangan kiblat moral, dan bangsa ini tidak berjalan tanpa ruh.
Baca juga: Urgensi Membaca bagi Seorang Pemimpin
Doa sebagai Sumber
Kekuatan
Di tengah krisis yang
kompleks, doa sering dianggap sebagai sesuatu yang tidak praktis. Ia tidak
tampak seperti kebijakan. Ia tidak bisa ditampilkan dalam grafik. Ia tidak
langsung muncul dalam statistik.
Namun, dalam Islam, doa
bukan pelarian dari realitas. Doa adalah kekuatan ruhani untuk menghadapi
realitas. Ia bukan pengganti ikhtiar, tetapi ruh yang menghidupkan ikhtiar. Ia
bukan alasan untuk pasif, tetapi sumber keberanian untuk bergerak dengan benar.
Rasulullah SAW
bersabda:
الدُّعَاءُ
هُوَ الْعِبَادَةُ
“Doa adalah
ibadah.” (HR Abu Dawud)
Doa disebut ibadah
karena di dalamnya ada pengakuan paling jujur tentang hakikat manusia: bahwa
kita lemah, terbatas, dan membutuhkan Allah.
Orang yang berdoa
tidak sedang melarikan diri dari tanggung jawab. Justru ia sedang menempatkan
tanggung jawab pada fondasi yang benar: bekerja semampunya, berikhtiar
sebaik-baiknya, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Para nabi adalah
manusia yang paling banyak berdoa, tetapi mereka juga manusia yang paling kuat
ikhtiarnya.
Nabi Nuh berdakwah
siang dan malam. Nabi Musa menghadapi Fir’aun. Nabi Yusuf mengelola krisis
pangan. Nabi Muhammad SAW membangun masyarakat Madinah dengan wahyu, strategi,
akhlak, keberanian, dan kesabaran. Nabi Ibrahim membangun Makkah dengan
kepatuhan, pengorbanan, pendidikan keluarga, dan doa.
Maka, doa untuk negeri
bukan sikap pasif. Ia adalah bagian dari tanggung jawab iman. Seorang mukmin
tidak boleh melihat negerinya rusak lalu hanya mencaci.
Seorang mukmin tidak
boleh menyaksikan pemimpinnya keliru lalu hanya membenci. Ia tidak boleh
melihat masyarakatnya lemah lalu hanya mencela.
Idealnya, seorang mukmin harus menasihati dengan hikmah, memperbaiki sesuai kapasitas, menjaga akhlak, menegakkan amanah, dan tetap mendoakan.
Baca juga: 4 Waktu Penting Mustajabnya Doa, Jangan Diabaikan
Di sinilah para ulama
dahulu menaruh perhatian besar pada doa untuk pemimpin dan negeri. Imam
al-Barbahari dalam Syarh as-Sunnah berkata:
وإذا
رأيت الرجل يدعو على السلطان فاعلم أنه صاحب هوى، وإذا رأيت الرجل يدعو للسلطان
بالصلاح فاعلم أنه صاحب سنة إن شاء الله
“Apabila engkau melihat seseorang
mendoakan keburukan atas penguasa, maka ketahuilah bahwa ia adalah pengikut
hawa nafsu. Dan apabila engkau melihat seseorang mendoakan kebaikan bagi
penguasa, maka ketahuilah bahwa ia adalah pengikut sunnah—insya Allah.” (Syarh as-Sunnah [Riyadh: Dar as-Shuma’i], h. 113)
Perkataan ini tidak
berarti membenarkan kezaliman atau menutup pintu nasihat. Justru ia menunjukkan
kedalaman fiqh sosial para ulama.
Mereka memahami bahwa
rusaknya pemimpin akan berdampak luas kepada masyarakat, sementara baiknya
pemimpin akan membawa kemaslahatan besar.
Karena itu, mendoakan
pemimpin agar adil, takut kepada Allah, mencintai rakyat, dan berani berpihak
kepada kebenaran adalah bagian dari kepedulian terhadap umat.
Indonesia dalam Harapan
dan Doa
Indonesia adalah
negeri yang besar. Ia memiliki jumlah penduduk muslim yang sangat besar,
kekayaan alam yang luas, keragaman budaya yang indah, posisi geopolitik yang
strategis, dan modal sosial yang tidak kecil.
Namun, kebesaran itu
juga membawa tanggung jawab besar. Negeri ini tidak cukup dijaga oleh hukum,
tetapi juga oleh akhlak. Tidak cukup dibangun oleh anggaran, tetapi juga oleh
amanah. Tidak cukup digerakkan oleh teknologi, tetapi juga oleh nilai.
Kita membutuhkan
pembangunan yang kuat, tetapi juga hati yang kuat. Kita membutuhkan ekonomi
yang tumbuh, tetapi juga keadilan yang dirasakan. Kita membutuhkan
digitalisasi, tetapi juga adab digital. Kita membutuhkan lembaga yang efektif,
tetapi juga manusia yang takut kepada Allah.
Kita membutuhkan
pemimpin yang kompeten, tetapi juga pemimpin yang bersih, adil, dan rendah
hati. Kita membutuhkan rakyat yang kritis, tetapi juga rakyat yang beradab.
Doa Nabi Ibrahim mengajarkan tiga pilar besar: keamanan, rezeki, dan tauhid. Jika ketiganya dibaca dalam konteks kebangsaan, maka Indonesia membutuhkan stabilitas yang adil, kesejahteraan yang berkah, dan moralitas publik yang berakar pada iman.
Baca juga: Antara Syahadat dan Ketaatan
Stabilitas tanpa
keadilan bisa menjadi tekanan. Kesejahteraan tanpa moral bisa menjadi
keserakahan. Keberagamaan tanpa akhlak bisa berubah menjadi simbol kosong.
Maka doa untuk negeri
harus melahirkan kerja nyata: memberantas korupsi dari diri sendiri, mendidik
keluarga dengan iman, menjaga kejujuran dalam profesi, menolak judi dan riba
yang merusak, memperkuat literasi digital, membela yang lemah, menolong yang miskin,
serta menanamkan cinta tanah air yang berakar pada iman.
Cinta tanah air dalam
Islam bukan slogan kosong. Ia tampak dalam kepedulian terhadap keamanan
masyarakat, kejujuran dalam bekerja, kesungguhan mendidik generasi, keberanian
menolak kerusakan, dan kesediaan mendoakan kebaikan bagi seluruh bangsa.
Seorang mukmin
mencintai negerinya bukan karena negeri itu sempurna, tetapi karena di sanalah
ia diberi amanah untuk beribadah, berdakwah, membangun keluarga, mendidik umat,
dan menebar manfaat.
Doa yang Tulus
Kisah Nabi Ibrahim
mengajarkan bahwa peradaban tidak selalu dimulai dari sesuatu yang tampak
besar. Ia bisa dimulai dari sebuah doa di lembah yang tandus. Dari seorang ayah
yang taat. Dari seorang hamba yang yakin. Dari keluarga kecil yang dititipkan
kepada Allah. Dari ketulusan yang tidak disaksikan manusia, tetapi dicatat oleh
langit.
Hari ini, dunia tampak
rumit. Krisis ekonomi, konflik geopolitik, perang, ketimpangan sosial,
kerusakan lingkungan, disrupsi teknologi, dan krisis moral saling bertaut.
Kita mungkin tidak
mampu mengendalikan semuanya. Namun, kita masih bisa menjaga iman, memperbaiki
diri, mendidik keluarga, bekerja dengan amanah, menolong sesama, menyuarakan
kebenaran dengan hikmah, dan berdoa.
Doa bukan tanda
kelemahan. Doa adalah tanda bahwa manusia masih tahu ke mana harus kembali. Doa
bukan pengganti perjuangan. Doa adalah cahaya yang menjaga perjuangan agar
tidak kehilangan arah.
Doa juga bukan sekadar
kata-kata. Doa adalah pernyataan iman bahwa di atas segala kekuatan manusia,
ada Allah Yang Maha Mengatur.
Maka, di tengah dunia yang semakin bising, mari kita hidupkan kembali doa Nabi Ibrahim dalam kehidupan kebangsaan kita: memohon negeri yang aman, rezeki yang berkah, pemimpin yang adil, masyarakat yang berakhlak, generasi yang bertauhid, dan hati yang tidak diperbudak oleh berhala-berhala modern.
Baca juga: Ibam dan Masa Depan Inovasi Indonesia yang Sedang Dipertaruhkan
Semoga Indonesia
dijaga oleh Allah. Semoga negeri ini diberi keamanan yang menenteramkan, rezeki
yang memberkahi, persatuan yang menguatkan, pemimpin yang adil, ulama yang
ikhlas, rakyat yang sabar, generasi yang beriman, dan masa depan yang lebih
bermartabat.
Semoga Palestina dan
seluruh negeri kaum muslimin diberi pertolongan. Semoga dunia yang lelah oleh
konflik kembali disentuh oleh rahmat, keadilan, dan kemanusiaan.
Bismillah. Dari doa yang tulus, semoga Allah membuka jalan perubahan.
اللَّهُمَّ
احْفَظْ بِلَادَنَا إِنْدُونِيسِيَا، وَاجْعَلْهَا بَلَدًا آمِنًا مُطْمَئِنًّا،
وَارْزُقْ أَهْلَهَا مِنَ الثَّمَرَاتِ، وَوَفِّقْ قَادَتَهَا لِلْعَدْلِ
وَالصَّلَاحِ، وَاصْرِفْ عَنْهَا كُلَّ فِتْنَةٍ وَبَلَاءٍ، وَاحْفَظْ بِلَادَ
الْمُسْلِمِينَ أَجْمَعِينَ، وَانْصُرِ الْمُسْتَضْعَفِينَ فِي فِلَسْطِينَ وَفِي
كُلِّ مَكَانٍ، وَاجْعَلْ عَاقِبَةَ أُمُورِنَا رُشْدًا، يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ
“Ya Allah, jagalah negeri kami Indonesia. Jadikan ia negeri yang aman dan tenteram. Limpahkan rezeki yang berkah kepada penduduknya. Bimbing para pemimpinnya kepada keadilan dan kebaikan. Jauhkan negeri ini dari segala fitnah dan bencana. Jagalah seluruh negeri kaum muslimin. Tolonglah saudara-saudara kami yang tertindas di Palestina dan di mana pun mereka berada. Jadikan akhir seluruh urusan kami berada dalam petunjuk-Mu, wahai Tuhan semesta alam.”
Amin.
Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.