Lewati ke konten utama
Selasa, 30 Juni 2026 / 14 Muharam 1448 H
Jadwal memuat...
Opini

Magnet Baitullah dan Panggilan Haji

5 menit baca 997 dibaca
Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I

Oleh: Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I

Anggota Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI/Dosen STIS Hidayatullah

Diunggah: Admin Admin Editor: Admin
Jamaah haji
Ilustrasi jamaah haji khusyuk berdoa di depan Ka'bah. Foto: Pinterest
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital — Setiap bulan Dzulhijjah, fenomena mobilisasi massa global terjadi, saat jutaan umat Muslim dari berbagai belahan dunia berbondong-bondong menuju Makkah menggunakan segala lini transportasi.

Fenomena ini diperkuat dengan realitas di Indonesia, di mana daftar tunggu reguler mencapai puluhan tahun. Ada juga jalur akselerasi seperti Haji Plus yang berbiaya ratusan juta rupiah pun tetap dibatasi oleh pemerintah dengan sekat kuota.

Secara sosiologis dan spiritual, muncul pertanyaan mendasar: magnet apa yang mampu menggerakkan kerinduan sedemikian besar, hingga manusia rela mengorbankan materi dan waktu demi sebuah perjalanan yang belum tentu mereka alami kembali?

Baca juga: Pergi Haji

Jawabannya terletak pada dimensi transendental. Mereka yang berangkat sama sekali tidak pernah bertatap muka dengan Nabi Muhammad SAW, apalagi bertemu Nabi Ibrahim AS, Siti Hajar, dan Nabi Ismail AS yang menjadi episentrum inspirasi ritual haji.

Secara psikologi agama, dorongan kuat ini merupakan manifestasi dari mekanisme keimanan yang tumbuh subur tanpa sekat ruang dan waktu dengan sang pembawa risalah.

Fenomena sosiologis-religius ini adalah implementasi nyata dari konsep al-imanu bil ghaib (beriman kepada yang ghaib). Sebagaimana diabadikan dalam Alquran surat Al-Baqarah ayat 3 sebagai karakteristik utama hamba yang bertakwa.

Mencintai, meneladani, dan mengikuti figur-figur suci yang mukjizat serta kemuliaan akhlaknya tidak pernah disaksikan secara empiris, adalah sebuah tantangan spiritual yang tidak mudah. Namun, justru dalam ruang kerinduan yang tak kasat mata inilah terletak hakikat iman yang paling murni. Sebuah kualitas keimanan yang fundamental, kokoh, dan begitu dikagumi oleh Rasulullah SAW.

Baca juga: Mengapa Allah Memanggil Manusia ke Baitullah?

Iman yang Mengagumkan

Keistimewaan dimensi iman bil ghaib ini terefleksi secara mendalam dalam sebuah dialog historis antara Rasulullah SAW dan para sahabat yang direkam dalam literatur hadis.

Ketika beliau melempar retorika tentang siapa pemilik keimanan yang paling menakjubkan, para sahabat berturut-turut menebak malaikat, para nabi, hingga diri mereka sendiri sebagai sahabat.

Namun, Rasulullah SAW menyanggah asumsi tersebut dengan argumen yang rasional. Beliau bersabda, yang artinya: “Bagaimana para malaikat tidak beriman, sedangkan mereka berada di sisi Tuhan mereka? Bagaimana para nabi tidak beriman, sedangkan wahyu turun kepada mereka? Dan bagaimana kalian tidak beriman, sedangkan aku berada di antara kalian?”

Melalui diskursus ini, Rasulullah SAW memberikan batasan jelas bahwa para malaikat, nabi, dan sahabat memiliki akses empiris. Mereka menyaksikan langsung perkara ghaib, menerima wahyu, atau melihat secara kasat mata dan berinteraksi langsung dengan Rasulullah.

Baca juga: Belajar dari Nabi Ibrahim dalam Menghadapi Gelombang Krisis Global

Sebaliknya, Rasulullah SAW menegaskan episentrum keimanan yang paling luar biasa dengan bersabda, yang artinya: “Akan tetapi, manusia yang paling menakjubkan keimanannya adalah suatu kaum yang datang setelahku. Mereka menemukan lembaran-lembaran (kitab) yang berisi tulisan, lalu mereka beriman kepadanya.” (HR al-Hakim)

Secara psikologis, fenomena ini membalikkan adagium umum bahwa cinta tumbuh karena interaksi visual. Dalam konteks ini, cinta justru bertransformasi dari dalam hati, lalu naik memengaruhi cara pandang seseorang dalam melihat dunia, sekalipun mata fisik mereka belum pernah menatap sosok yang dicintai.

Pengakuan visioner dari Rasulullah SAW yang menyebut generasi akhir zaman ini bukan sekadar sebagai umat, melainkan sebagai “saudara-saudara” (ikhwan) beliau, merupakan sebuah legitimasi spiritual yang sangat agung.

Tanpa perlu menyaksikan mukjizat fisik selain Alquran. Kemampuan umat akhir zaman untuk merawat konsistensi iman dan cinta transendental ini menjadi anugerah terbesar sekaligus bukti bahwa keimanan sejati mampu melampaui batas ruang, waktu, dan fisik.

Baca juga: Berqurban Itu Berat, yang Ringan Beralasan

Haji Itu Panggilan

Secara historis, ibadah haji bukanlah ritual kontemporer, melainkan sebuah kontinuitas sejarah keimanan yang telah dirajut sejak ribuan tahun lalu.

Konstruksi spiritual ini diinisiasi oleh keteguhan Nabi Ibrahim AS, perjuangan Siti Hajar, dan keikhlasan Nabi Ismail AS. Kemudian disempurnakan serta dilanjutkan syariatnya oleh Nabi Muhammad SAW.

Setiap jemaah yang melangkah ke Tanah Suci sejatinya sedang meleburkan diri ke dalam arus besar kesinambungan sejarah keimanan tersebut.

Jika dibedah melalui kacamata materialistis dan kalkulasi duniawi, ibadah haji sama sekali tidak menawarkan daya tarik ekonomi.

Ritual ini menuntut alokasi finansial yang masif hingga ratusan juta rupiah, menguras energi fisik secara ekstrem demi menuntaskan rukun-rukunnya, serta menyita waktu berminggu-minggu jauh dari zona nyaman kampung halaman.

Namun, ketika paradigma yang digunakan adalah “kacamata iman”, seluruh variabel pengorbanan tersebut mengalami dematerialisasi. Bagi seorang mukmin, tidak ada nominal materi atau keletihan fisik yang terlalu mahal untuk mengaktualisasikan rukun Islam kelima ini.

Baca juga: Mengapa Rasulullah SAW Selalu Rindu Shalat?

Meski demikian, fakta sosiologis di lapangan menunjukkan bahwa haji merupakan ibadah eksklusif yang sepenuhnya bersandar pada hak prerogatif Allah melalui konsep “panggilan-Nya”.

Kita sering menyaksikan paradoks di mana para miliarder yang muda, energik, dan secara finansial sangat mapan, justru kerap menunda haji ke Baitullah karena belum terpanggil hatinya atau terhalang oleh berbagai urusan duniawi.

Sebaliknya, tidak sedikit individu dengan keterbatasan ekonomi dengan kemiskinan atau keterbatasan fisik—seperti mereka yang harus bertumpu pada tongkat, kursi roda, bahkan kehilangan penglihatan—, justru mampu menginjakkan kaki di Baitullah.

Haji tahun ini mengusung tagline “Ramah Lansia”—sebuah penghormatan sekaligus kesiapan menyambut para tamu Allah, mengingat 25% dari total jamaah haji merupakan kelompok lanjut usia.

Secara medis dan fisik, usia senja mungkin menjadi uzur (keterbatasan). Namun, ketika Allah sudah berkehendak memanggil, tidak ada satu pun keterbatasan fisik yang mampu menghalangi langkah kaki mereka menuju Baitullah.

Salah satu potret keajaiban itu hadir dari seorang ibunda berusia 103 tahun. Benih niat suci itu ia tanam sejak usia 80 tahun. Bukan sekadar angan, niat itu ia perjuangkan lewat aksi nyata (mujahadah) selama 23 tahun: menabung sekeping demi sekeping, merombak total pola hidup dan pola makan, serta konsisten berolahraga demi menjaga fisik.

Hasil dari kesabaran dan ikhtiar langit-bumi itu berbuah manis; Allah menjawab kerinduannya tepat di usia seabad lebih.

Baca juga: Pembelaan Allah Itu Pasti

Kisah ibunda ini hanyalah satu dari ribuan fragmen heroik di Padang Arafah. Di balik jubah ihram para lansia, ada jutaan cerita perjuangan, air mata, dan keteguhan iman yang membawa mereka berhasil menunaikan rukun Islam kelima.

Fenomena ini menegaskan sebuah aksioma spiritual yang indah: Allah tidak memanggil orang-orang yang mampu, melainkan Allah memampukan orang-orang yang terpanggil.

Semoga kita semua yang belum haji, terpanggil untuk menunaikan haji. Amin.

Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.