Pergi Haji
Oleh: Muhamad Saefullah
Anggota Komisi Infokomdigi MUI
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Allah SWT berfirman, yang artinya berbunyi: “Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.” (QS. Al-Hajj: 27)
Dalam Tafsir Ibnu Katsir,
dikisahkan sebuah fragmen yang menggetarkan. Setelah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam
bersama Nabi Ismail ‘Alaihissalam tuntas memasang batu terakhir Ka’bah,
Allah SWT menitahkan: “Serulah manusia untuk berhaji!”
Ibrahim, dengan nada
skeptis yang sangat manusiawi, sempat bertanya, “Wahai Tuhanku, bagaimana
suaraku yang serak-serak basah ini bisa sampai ke telinga manusia, sedangkan
aku berada di lembah sunyi tanpa pengeras suara?”
Allah menjawab dengan otoritas mutlak: “Serulah! Tugasmu cuma berteriak, tugas-Ku yang menyampaikan suara itu ke seluruh penjuru dunia.”
Baca juga: 5 Bacaan Doa Melepas Keberangkatan Jamaah Haji
Ibrahim pun berdiri di
atas bukit Abu Qubais. Dikisahkan, saat ia berseru, Allah merendahkan semua
gunung di bumi agar suara sang Nabi melesat tanpa hambatan, menembus ruang dan
waktu, hingga masuk ke dalam ruh manusia yang bahkan saat itu belum jadi janin.
Begitu pun dengan
saya. Saya ini bukan siapa-siapa. Cuma kuli perangkai kata yang saban hari
bergulat dengan tenggat waktu.
Saya tidak punya nasab
kiai, tidak menyandang gelar gus, apalagi ajengan. Harta pun tak seberapa, tak
cukup untuk pamer di media sosial. Namun, suara dari bukit ribuan tahun lalu
itu rupanya tersangkut juga di telinga saya.
Bermodalkan keyakinan pada kuasa Tuhan, saya memberanikan diri mendaftar haji pada tahun 2012. Akhirnya, setelah 14 tahun, saya sampai pada titik ini: memenuhi undangan-Nya, menjadi tamu Allah di Kloter 75 SOC Solo. Demikianlah, haji memang undangan VVIP, bukan urusan saldo di buku tabungan atau silsilah keluarga.
Baca juga: Ikhtiar dan Doa bagi Jamaah Haji agar Mendapatkan Predikat Mabrur
“Tilik Haji”
Namun, di negeri kita
yang ajaib ini, panggilan Ibrahim itu tidak berhenti di telinga saya saja. Ia
menjadi urusan satu RT, satu RW bahkan sekelurahan. Semuanya ikut “bungah” (senang). Sebuah tradisi yang melekat bertahun-tahun di
masyarakat Indonesia. Namanya “tilik haji” (mengunjungi calon haji). Sebuah
laboratorium sosial yang hanya ada di ensiklopedia Islam Nusantara.
Begitu saya menggelar “walimatus
safar”, suatu acara yang mengiringi keberangkatan, rumah saya mendadak jadi
terminal doa.
Tamu-tamu datang silih
berganti, ada rombongan Muslimat NU, GP Ansor, Fatayat NU, Asiyiah
Muhammadiyah, ibu-ibu pengajian RT, sampai kerabat individu, datang bersilaturahim
sekaligus memberi “sangu” doa—sebuah bekal yang tidak ternilai harganya.
Silaturahim dalam tilik haji adalah mesin sosial yang oleh Durkheim, seorang sosiolog Barat, disebut sebagai penjaga keteraturan. Di mata Durkheim, masyarakat itu ibarat jam dinding raksasa; jika baut dan geriginya tidak saling mengunci, ia akan macet dan rusak. Nah, silaturahim inilah “pelumas” geriginya. Tanpa ritual kumpul-kumpul sembari mengupas rengginang ini, masyarakat kita akan limbung menjadi individu-individu yang kering dan saling curiga.
Namun, Durkheim sebenarnya hanya sedang memotret secara ilmiah apa yang sudah dideklarasikan oleh Rasulullah SAW empat belas abad silam.
Baca juga: Bagaimana Tanda-Tanda Haji Mabrur? Begini Penjelasan Ulama
Nabi pernah bersabda
dengan nada yang sangat puitis sekaligus taktis, yang artinya: “Perumpamaan
orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi
bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka
seluruh anggota tubuhnya ikut merasa sakit dengan tidak bisa tidur dan merasa
demam.” (HR Muslim)
Di sinilah titik
temunya. Durkheim menyebutnya sebagai cara jitu mencegah anomie—kondisi
di mana manusia merasa tak punya pegangan dan kehilangan arah. Sementara Nabi
menyebutnya sebagai syarat mutlak keimanan yang sehat.
Dalam tradisi tilik
haji, hadis ini tidak hanya dihafal
di atas mimbar, tapi dipraktikkan di atas hamparan karpet plastik. Tetangga
yang belum bisa berangkat tidak merasa iri; sebaliknya, mereka merasa menjadi
bagian dari “kaki” yang akan melangkah ke arah Ka’bah. Mereka datang membawa
gula, beras, telor juga doa agar si calon jamaah haji tetap bugar,
karena jika “sakit” atau gagal berangkat, komunitas di rumah pun ikut merasa “demam”
khawatir.
Di sini tampak terjadi “barter” spiritual yang luar biasa indah: tamu datang mendoakan saya agar meraih haji mabrur, dan saya mendoakan mereka agar segera mendapat giliran memenuhi undangan menjadi tamu Allah lewat frekuensi undangan Ibrahim.
Baca juga: Inilah 6 Rukun Haji yang Wajib Diketahui, Lengkap dengan Dalil dan Penjelasannya
Kita tidak ingin masuk surga sendirian. Kita ingin rombongan. Tradisi ini perlu dipertahankan bukan karena kita hobi pesta prasmanan, tapi karena ia adalah benteng terakhir agar kita tidak menjadi angka-angka kering di kalkulator yang hidup sendiri-sendiri tanpa nyawa. Dengan tradisi tersebut, semuanya terasa indah.
Rudal Iran dan “War”
Tiket
Tapi dasar manusia
modern, di saat kita sibuk mengetuk pintu langit lewat doa tetangga, dunia luar
sibuk menyiapkan mesiu. Kabar perang Iran, Amerika Serikat, dan Israel sempat
membuat kami tersenyum getir.
Bayangkan, Ibrahim ‘Alaihissalam
memanggil kita untuk bersatu, sementara para pemimpin dunia sibuk adu canggih
rudal. Ada wacana haji ditiadakan karena situasi perang. Untunglah, skenario
Allah tak butuh izin dari Pentagon atau Teheran.
Belum lagi soal wacana “war” tiket haji. Ini puncak komedi. Masak iya, mau sowan ke “rumah” Tuhan harus adu cepat jempol layaknya berburu tiket konser K-Pop? Tuhan itu Maha Pemurah, tapi birokrasi kadang ingin merasa lebih berkuasa dari takdir. Untunglah, panggilan Ibrahim tak kenal istilah sold out gara-gara koneksi internet lemot.
Baca juga: 6 Kewajiban yang Harus Diketahui Jamaah Haji, Lengkap dengan Penjelasannya
Saya melangkah menuju rumah
Allah membawa doa-doa dari rumah sederhana yang masih bau aroma kopi dan
ketulusan para tamu tilik haji.
Labbaikallahumma Labbaik... Kami datang memenuhi panggilan-Mu, ya Tuhan, membawa titipan rindu dari mereka yang belum sempat berangkat, namun doanya sudah sampai lebih dulu ke Arsy-Mu.
Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.