Lewati ke konten utama
Selasa, 30 Juni 2026 / 14 Muharam 1448 H
Jadwal memuat...
Opini

Uang adalah Energi, Perlu Cara dalam Mengalirkannya

5 menit baca 1.398 dibaca
KH Khariri Makmun, Lc, DPL, M.A

Oleh: KH Khariri Makmun, Lc, DPL, M.A

Wakil Ketua Komisi Dakwah MUI/Pengasuh Pesantren Algebra, Bogor

Diunggah: Admin Admin Editor: Admin
Uang adalah Energi, Perlu Cara dalam Mengalirkannya
Ilustrasi transaksi uang di bank. Foto: ANTARA FOTO/Nova Wahyudi
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital — Uang mengikuti energi hati kita, pikiran menciptakan arah, perasaan menciptakan getaran, keyakinan menciptakan kekuatan, tindakan menciptakan hasil, dan doa menghubungkan kita dengan Allah.

Di tengah tekanan ekonomi modern, banyak orang hidup dengan keyakinan bahwa uang hanya bisa didapat dengan satu cara: kerja keras tanpa henti. Semakin lelah, semakin dianggap pantas kaya.

Akibatnya, hidup berubah seperti mesin. Pagi sampai malam mengejar angka, tetapi hati tetap kosong dan rasa takut miskin tidak pernah benar-benar pergi. Ironisnya, semakin dikejar, uang justru terasa makin menjauh.

Baca juga: Isyarat Alquran dan Penjelasan Neurosains Modern tentang Ubun-Ubun sebagai Pusat Kebohongan

Dalam perspektif spiritual Islam, rezeki tidak semata-mata persoalan otot dan logika material. Ada dimensi batin yang sering dilupakan manusia modern: energi keyakinan, syukur, ketenangan hati, dan hubungan dengan Allah SWT sebagai sumber segala rezeki. Dunia fisik yang kita lihat hari ini sejatinya hanya hasil akhir dari proses yang lebih dalam dan tidak terlihat.

Alquran berkali-kali mengingatkan bahwa kehidupan manusia tidak berdiri sendiri. Ada campur tangan Allah dalam aliran rezeki, kesempatan, bahkan pertemuan-pertemuan yang mengubah nasib seseorang. Allah berfirman:

وَمَنۡ يَّـتَّـقِ اللّٰهَ يَجۡعَلْ لَّهٗ مَخۡرَجًا. وَّيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُ​ ؕ وَمَنۡ يَّتَوَكَّلۡ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسۡبُهٗ ؕ

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya. Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. At-Thalaq: 2-3)

Ayat ini menarik. Rezeki tidak selalu datang dari jalur yang bisa diprediksi manusia. Ada unsur “min haitsu la yahtasib”, dari arah yang tidak disangka-sangka. Artinya, logika rezeki dalam Islam tidak sepenuhnya linier. Tidak selalu identik dengan kerja fisik yang brutal. Ada faktor spiritual yang ikut bekerja.

Baca juga: Menjawab Tekanan Ekonomi Lewat Kekuatan Pesantren

Dalam ilmu psikologi modern, kondisi batin manusia memang memengaruhi perilaku ekonomi. Orang yang hidup dalam rasa takut cenderung mengambil keputusan sempit, defensif, dan penuh kecemasan.

Sebaliknya, orang yang memiliki rasa aman dan optimisme biasanya lebih kreatif, berani mengambil peluang, serta mampu membangun relasi sosial yang sehat. Di sinilah menariknya konsep syukur dalam Islam. Allah berfirman:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah nikmat kepadamu.”(QS. Ibrahim: 7)

Kebanyakan orang memahami syukur hanya sebatas ucapan “Alhamdulillah”. Padahal syukur adalah kondisi jiwa. Perasaan cukup di tengah keterbatasan. Keyakinan bahwa Allah tidak mungkin menelantarkan hambanya.

Baca juga: Arsitektur Baru Ekonomi Syariah: Industri Keuangan, Teknologi, dan Daya Saing

Orang yang bersyukur memancarkan energi kelapangan. Ia tidak mudah panik. Tidak hidup dalam mental kekurangan. Dan ketenangan seperti itu justru membuat pikirannya lebih jernih dalam membaca peluang hidup.

Sebaliknya, keluhan terus-menerus menciptakan energi sempit. Mulutnya berdoa minta kaya, tetapi hatinya dipenuhi rasa takut miskin. Bibirnya meminta rezeki, tetapi batinnya curiga kepada Allah.

Dalam tasawuf, keadaan seperti itu disebut sebagai hijab hati. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menjelaskan bahwa hati manusia sangat menentukan kualitas hubungan dengan Allah. Amal lahiriah bisa tampak baik, tetapi jika hati penuh ketakutan duniawi, maka hidup menjadi gelisah dan kehilangan keberkahan.

Nabi Muhammad SAW bahkan mengingatkan bahwa kekayaan sejati bukan banyaknya harta, melainkan kekayaan jiwa.

“Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan sejati adalah kaya hati.” (HR Bukhari dan Muslim)

Kaya hati inilah energi spiritual yang sering hilang dalam kehidupan modern. Manusia sibuk mengejar uang, tetapi lupa membangun kesadaran batin. Akibatnya, ketika uang sedikit, ia stres; ketika uang banyak, ia tetap takut kehilangan.

Baca juga: Memperkuat Industri Keuangan Syariah

Dalam ilmu ekonomi modern sendiri, konsep “abundance mindset” atau pola pikir kelimpahan mulai banyak dibahas. Para ekonom perilaku menjelaskan bahwa rasa takut miskin berlebihan dapat membuat seseorang sulit berkembang karena selalu mengambil keputusan jangka pendek. Sebaliknya, mentalitas kelimpahan mendorong keberanian berbagi, membangun jejaring, dan memperbesar peluang ekonomi.

Karena itu, salah satu cara paling unik dalam Islam untuk memperlancar aliran rezeki adalah sedekah. Secara logika material, sedekah terlihat mengurangi uang. Namun, dalam logika spiritual dan sosial, sedekah justru memperluas pintu rezeki. Allah berfirman:

مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada tiap tangkai ada seratus biji.” (QS. Al-Baqarah: 261)

Ayat ini bukan sekadar simbol pahala akhirat. Ini juga menggambarkan hukum pertumbuhan. Sedekah menciptakan efek sosial, psikologis, dan spiritual sekaligus.

Orang yang gemar memberi biasanya memiliki hubungan sosial yang lebih luas, dipercaya banyak orang, dan hidupnya lebih tenang. Dari situlah sering muncul peluang-peluang yang sebelumnya tidak pernah diduga.

Baca juga: Memahami Hadis Nabi Berqurban Satu Ekor Domba untuk Satu Keluarga

Ada banyak kisah nyata tentang hal ini. Salah satunya sering diceritakan para pengusaha muslim di Indonesia.

Seorang pedagang kecil di Jawa Barat pernah mengalami kebangkrutan bertahun-tahun. Tokonya sepi, utangnya menumpuk. Dalam kondisi tertekan, ia justru memutuskan menyisihkan sebagian kecil uangnya setiap hari untuk sedekah makanan subuh kepada pekerja jalanan dan anak yatim. Awalnya tampak mustahil. Penghasilannya sendiri pas-pasan.

Perlahan hidupnya berubah. Hatinya menjadi lebih tenang. Ia tidak lagi terlalu panik memikirkan kekurangan.

Dari ketenangan itu, ia mulai lebih fokus bekerja. Relasinya meluas. Ada pelanggan lama yang kembali membawa proyek besar.

Usahanya berkembang hingga akhirnya memiliki beberapa cabang toko. Ketika ditanya apa titik balik hidupnya, ia menjawab sederhana: “Saat saya berhenti takut uang habis.”

Di situlah letak jebakan terbesar manusia modern. Kita terlalu percaya bahwa sumber rezeki adalah dompet, jabatan, atau rekening. Padahal semua itu hanya alat. Sumber utamanya tetap Allah SWT.

Ketika manusia menggantungkan hati sepenuhnya kepada benda, ia mudah cemas. Tetapi ketika hati tersambung kepada Allah, hidup terasa lebih ringan.

Baca juga: Menjaga Nalar Bangsa di Tengah Arus Perang Pemikiran

Namun demikian, bukan berarti Islam mengajarkan pasif dan malas bekerja. Tidak. Islam tetap memerintahkan ikhtiar maksimal.

Kerja keras tanpa ketenangan hati hanya akan melahirkan kelelahan. Sedangkan kerja yang disertai tawakkal, syukur, dan keyakinan kepada Allah akan melahirkan keberkahan.

Karena pada akhirnya, rezeki bukan hanya soal angka yang masuk ke rekening. Tetapi tentang rasa cukup, ketenangan hidup, kesehatan jiwa, dan keberlimpahan yang membuat manusia mampu berbagi kepada sesama.

Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.