Lewati ke konten utama
Selasa, 7 Juli 2026 / 21 Muharam 1448 H
Jadwal memuat...
Opini

Isyarat Alquran dan Penjelasan Neurosains Modern tentang Ubun-Ubun sebagai Pusat Kebohongan

4 menit baca 1.265 dibaca
KH Khariri Makmun, Lc, DPL, M.A

Oleh: KH Khariri Makmun, Lc, DPL, M.A

Wakil Ketua Komisi Dakwah MUI/Pengasuh Pesantren Algebra, Bogor

Diunggah: Admin Admin Editor: Admin
Ubun-Ubun sebagai Pusat Kebohongan
Ilustrasi seorang pria memegang ubun-ubun kepalanya. Foto: Pinterest
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital — Perkembangan ilmu kedokteran modern dalam dua dekade terakhir melahirkan banyak temuan mengejutkan tentang cara kerja otak manusia. Salah satunya adalah hasil pemindaian menggunakan “Functional Magnetic Resonance Imaging” (FMRI) terhadap para pembohong, penipu, hingga pelaku kejahatan berat.

Dari penelitian itu, para ilmuwan menemukan bahwa bagian otak yang paling aktif ketika seseorang merancang kebohongan ternyata bukan pusat bicara, bukan pula pengendali emosi dasar, melainkan area paling depan otak yang disebut “prefrontal cortex” atau korteks prefrontal.

Bagian ini terletak tepat di balik tulang dahi manusia—wilayah yang dalam bahasa Arab klasik sering disebut sebagai “nashiyah” atau ubun-ubun depan. Menariknya, sejak 14 abad lalu Alquran telah memberikan isyarat yang sangat spesifik mengenai hubungan antara ubun-ubun dan perilaku dusta manusia.

Baca juga: Arsitektur Baru Ekonomi Syariah: Industri Keuangan, Teknologi, dan Daya Saing

Allah berfirman dalam surat Alquran, surat Al-‘Alaq ayat 15–16:

كَلَّا لَٮِٕنۡ لَّمۡ يَنۡتَهِ ۙ لَنَسۡفَعًۢا بِالنَّاصِيَةِۙ‏.  نَاصِيَةٍ كَاذِبَةٍ خَاطِئَةٍ​

“Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti, niscaya Kami tarik ubun-ubunnya. (Yaitu) ubun-ubun yang mendustakan lagi durhaka.”

Ayat ini sejak lama dipahami para mufassir sebagai ungkapan penghinaan terhadap pembangkangan manusia. Namun di era modern, sebagian ilmuwan muslim mulai melihat adanya dimensi ilmiah yang menarik: mengapa Alquran menyebut bagian “ubun-ubun” sebagai pusat kedustaan dan kesalahan?

Dalam perspektif neurosains modern, korteks prefrontal memang merupakan pusat fungsi eksekutif otak manusia. Ia bertanggung jawab atas pengambilan keputusan, perencanaan strategis, kontrol moral, penilaian sosial, hingga kemampuan memanipulasi informasi.

Dengan kata lain, kebohongan bukan sekadar gerakan lidah, tetapi hasil rekayasa kognitif tingkat tinggi yang dirancang oleh otak bagian depan.

Baca juga: Memahami Hadis Nabi Berqurban Satu Ekor Domba untuk Satu Keluarga

Ketika seseorang berkata jujur, otak bekerja relatif sederhana karena ia hanya menyampaikan fakta sebagaimana adanya. Namun saat seseorang berbohong, otaknya harus bekerja jauh lebih kompleks: menyusun narasi palsu, menekan fakta asli, mengatur ekspresi wajah, mengantisipasi respons lawan bicara, dan menjaga agar ceritanya tetap konsisten. Semua proses ini membuat aktivitas korteks prefrontal meningkat tajam dalam pemindaian FMRI.

Dalam ilmu psikologi kognitif, kebohongan bahkan dianggap sebagai aktivitas mental yang “mahal”. Psikolog terkenal Paul Ekman menjelaskan bahwa kebohongan membutuhkan beban mental lebih besar dibandingkan dengan kejujuran karena pelaku harus terus mengontrol dirinya secara sadar.

Karena itu, pembohong sering menunjukkan tanda-tanda stres neurologis: jeda bicara lebih panjang, perubahan ekspresi mikro, hingga kelelahan mental.

Dari sisi kedokteran saraf, kerusakan pada korteks prefrontal juga sering dikaitkan dengan hilangnya kontrol moral dan meningkatnya perilaku antisosial.

Baca juga: Menjaga Nalar Bangsa di Tengah Arus Perang Pemikiran

Kasus klasik yang sering dibahas dalam dunia neurologi adalah Phineas Gage, seorang pekerja rel kereta api abad ke-19 yang mengalami kerusakan serius pada bagian depan otaknya akibat kecelakaan.

Setelah selamat, kepribadiannya berubah drastis: impulsif, kasar, sulit mengontrol perilaku, dan kehilangan pertimbangan moral.

Artinya, bagian depan otak memang berkaitan erat dengan etika, pengendalian diri, dan perilaku sosial manusia.

Di titik inilah dialog antara wahyu dan sains menjadi menarik. Tentu Alquran bukan kitab neurologi, sebagaimana laboratorium bukan tempat mencari tafsir ayat. Namun keduanya dapat saling menerangi. Wahyu memberi petunjuk moral dan makna eksistensial, sedangkan sains membantu manusia memahami mekanisme biologis di balik perilaku itu.


Banyak ulama tafsir klasik sebenarnya telah memberi penjelasan yang cukup dekat dengan makna modern tersebut. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa “ubun-ubun pendusta” dalam ayat itu menunjukkan pusat kesombongan dan pembangkangan manusia. Sementara Fakhruddin ar-Razi menafsirkan “nashiyah” sebagai simbol kendali dan kepemimpinan diri manusia.

Dalam budaya Arab klasik, memegang ubun-ubun seseorang juga bermakna menguasai atau mengendalikan dirinya sepenuhnya. Karena itu, ayat tersebut mengandung pesan psikologis mendalam: manusia yang terus-menerus berdusta sesungguhnya sedang merusak pusat kendali moral dirinya sendiri.

Baca juga: Menjawab Tekanan Ekonomi Lewat Kekuatan Pesantren

Perspektif ini juga sejalan dengan kajian psikologi modern tentang dampak kebohongan terhadap kesehatan mental. Penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan berbohong kronis dapat meningkatkan stres, kecemasan, dan ketegangan neurologis.

Kebohongan memaksa otak hidup dalam keadaan waspada terus-menerus. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi kestabilan emosi dan hubungan sosial seseorang.

Sebaliknya, kejujuran berkaitan erat dengan ketenangan psikologis. Dalam psikologi positif, integritas dianggap sebagai fondasi kesehatan mental karena mengurangi konflik internal antara realitas dan citra diri. Apa yang diucapkan sesuai dengan apa yang diyakini. Tidak ada energi mental besar yang dihabiskan untuk menyembunyikan kepalsuan.

Karena itu, Alquran tidak sekadar melarang dusta sebagai dosa moral, tetapi juga sebagai perilaku yang merusak struktur kemanusiaan itu sendiri. Dusta bukan hanya pelanggaran etika sosial, melainkan tindakan yang mengacaukan keseimbangan jiwa dan fungsi akal manusia.

Baca juga: Mengukur Masa Depan Peradaban dalam Literasi Alquran

Di era modern hari ini, ketika manipulasi informasi, propaganda, dan pencitraan palsu menjadi bagian dari kehidupan publik, pesan ini terasa semakin relevan.

Manusia modern mungkin berhasil membangun teknologi yang mampu memindai aktivitas otak, tetapi Alquran jauh sebelumnya telah mengingatkan bahwa pusat kedustaan manusia berada di bagian paling depan dirinya—tempat lahirnya niat, perencanaan, dan kesadaran moral.

Sains mungkin baru menemukan mekanismenya sekarang. Namun, wahyu telah lebih dahulu menyentuh substansinya: bahwa kebohongan bukan sekadar ucapan lidah, melainkan keputusan sadar yang lahir dari pusat kendali terdalam manusia.

Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.