Lewati ke konten utama
Sabtu, 15 Agustus 2026 / 2 Rabiul Awal 1448 H
Jadwal memuat...
Opini

Catatan Pengalaman Ibadah Haji 2026: Antara “MBG” ala Makkah, Rindu Sambal Terasi, dan Keikhlasan

7 menit baca 38 dibaca
Muhamad Saefullah

Oleh: Muhamad Saefullah

Anggota Komisi Infokomdigi MUI

Diunggah: Admin Admin Editor: Admin
Catatan Pengalaman Ibadah Haji 2026: Antara “MBG” ala Makkah, Rindu Sambal Terasi, dan Keikhlasan
Kebersamaan jemaah haji saat makan bersama. Foto: Dok. Pribadi/Muhammad Saefullah
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital — Di ruang rapat Senayan, kalimat-kalimat para pejabat mengalir manis menenteramkan. Anggota Tim Pengawas Haji DPR, Cucun Ahmad Syamsurijal—dari Fraksi FKB—menyampaikan hasil evaluasi perihal konsumsi jemaah. Ada permintaan agar menu tak monoton, diselingi pujian bagi perbaikan katering hasil negosiasi dengan syarikah. Kabar itu terdengar teduh di telinga.

Namun, fakta di lapangan kerap punya kisahnya sendiri. Lidah orang-orang kecil yang letih dipanggang terik Tanah Suci tak selalu merasakan manisnya laporan di atas kertas. Ada hal yang memang benar, tetapi tak sedikit pula yang cuma jadi kabar gembira yang berjarak jauh dari kenyataan di telapak kaki jemaah.

Bagi jemaah yang sedang bertaruh peluh menggapai haji mabrur, urusan perut bukan sekadar angka laporan, melainkan tentang bagaimana raga yang tua ditopang agar tetap khusyuk bersujud kepada Allah.

Di atas meja kecil kamar lantai 6 nomor 607 Hotel Diamond di Sektor 9 nomor area 917, Kawasan Misfalah, Makkah, tiga kali sehari kami menerima pasokan kehidupan. Makanan dikemas dalam kotak aluminium rapat dengan cetakan huruf yang tegas: Makan Pagi, Makan Siang, dan Makan Malam. Di sudutnya, tertera peringatan waktu konsumsi. Makanan malam, misalnya, tertulis harus dihabiskan sebelum pukul 21.00, bersebelah dengan cetakan huruf kapital bertuliskan kota Makkah. Kami, sebagai jemaah dari ceruk-ceruk kampung, berseloroh menamai jatah ini sebagai paket “MBG”—Makanan Bergizi Gratis—versi Kementerian Haji dan Umrah.

Batas waktu yang tertera pada tutup aluminium itu sesungguhnya tidak lahir dari lamunan kosong. Ia diukir oleh jejak sejarah yang getir. Pada musim-musim yang lalu, kabar tentang makanan basi sempat menggegerkan. Musababnya lugu: jemaah terseret jurus “aji mumpung”. Mumpung sedang berada di tanah paling mulia di muka bumi, ibadah dimaksimalkan habis-habisan. Begitu matanya menatap keagungan Ka’bah, tubuh sering kali lupa bahwa ia masih terikat pada hukum perut. Berangkat sebelum Ashar, baru kembali melangkahkan kaki usai Isya. Sampai di kamar, kotak makanan yang terabaikan telah mendingin, meruapkan aroma asam fermentasi. Peringatan jam itu pun ditempelkan sebagai alarm yang jujur: bahwa raga yang hendak sujud panjang tetap butuh disanggah sepinggan nasi.

Menurut catatan Kementerian Haji dan Umrah, ada 127 kali jatah makan yang disiapkan selama di Arab Saudi—27 kali di Madinah, 84 kali di Makkah, dan 15 kali ditambah paket kudapan berat saat puncak Armuzna.

Soal ketepatan waktu distribusi, kita layak mengapresiasi. Para petugas bergerak cepat, bahkan kadang terlampau sigap. Usai Subuh, kotak sarapan sudah mengetuk pintu, jam sepuluh pagi, makan siang telah siap, dan sebelum Maghrib tiba, ketua regu sudah mengantar jatah malam dari kamar ke kamar.

Sayang, ketepatan waktu antaran itu belum berbanding lurus dengan kelembutan rasa di dalamnya. Di Makkah, jujur saja, lauk-pauk itu seakan kehilangan jiwa. Rasanya hambar. Pernah kedapatan daging sapi yang disajikan kerap terlalu kenyal, kalau tak boleh disebut alot bagai getah kayu. Bagi pemuda berotot kencang saja, butuh perjuangan keras untuk mengunyahnya, apalagi bagi para lansia. Gigi-gigi tua mereka yang rapuh bisa mendadak tanggal.

Baca juga: Pergi Haji

Itulah yang dialami Mbah Datoem. Lelaki sepuh berusia 84 tahun asal Desa Ciberung, Ajibarang, Banyumas itu memegang sendok plastik dengan jemari yang gemetar. Matanya yang kabur menatap sepotong daging sapi di dalam kotak aluminium.

Mbah Datoem adalah cermin kepasrahan rakyat kecil. Gigi gelatuknya sudah lama gugur, menyisakan gusi tua yang kenyang makan asam garam kehidupan. Namun daging di dalam kotak hari itu betul-betul tak bersahabat: ulet dan kenyal bagai karet ban bekas.

Jan... iki daging alot, diuntal malah marahi keselek!” (Duh, daging ini keras sekali. Dikunyah bikin tersedak!), keluh Mbah Datoem dengan dialek Ngapak yang polos, jujur, dan resik dari beban politis.

Saya yang duduk tak jauh darinya hanya mampu merenung sambil tersenyum getir. Di ponsel, saya menyimpan rekaman video daging kenyal itu sebagai bukti bisu. Daging itu nyata-nyata tidak layak disunting oleh gusi seorang sepuh—bahkan lidah yang muda pun menyerah. Padahal jauh sebelum terbang meninggalkan Tanah Air, kami sudah sibuk mendata jumlah jemaah lansia dengan janji akan ada menu khusus. Namun di gurun pasir ini, daftar nama lansia itu seakan terbang disapu angin kering. Menu untuk pemuda berdadabidang dan lansia tanpa gigi disamaratakan. Mbah Datoem terpaksa menelan kekecewaan itu dengan diam.

Lauk-pauknya pun sepi variasi. Kalau tidak ayam, ya ikan atau daging. Rasanya polos dan hambar, seakan rempah-rempah Nusantara yang katanya diekspor berkonteiner-konteiner ke Tanah Suci itu lupa diseduhkan ke dalam kuali.

Beruntung, daya bertahan hidup orang kampung begitu liat. Bumbu mi instan dirobek demi memberi warna dan rasa pada kuah yang dingin. Dan yang menjadi pahlawan utama perut kami adalah sambal terasi kemasan yang diselipkan di lipatan baju saat di Tanah Air.

Penyelamat Mbah Datoem siang itu akhirnya bukanlah daging berserat baja tersebut, melainkan sebungkus bumbu mi instan dan sambal terasi. Bagi kami yang terbiasa dengan sengatan pedas, colekan sambal terasi sedikit mengobati dahaga rindu kampung halaman.

Bila rasa rindu pada masakan rumah sudah merajam tak tertahankan, kami memutar otak. Sayur bening ala kadarnya kami racik sendiri di kamar. Bahannya dibeli dari pasar malam Misfalah—bayam, wortel, tomat, dan cabai—diolah dengan bawang merah, bawang putih, dan kencur bawaan dari desa.

Jika lidah benar-benar mogok, kami nekat merogoh kocek lebih dalam menaiki lantai 5 Menara Zamzam. Di sana, semangkuk bakso dibanderol 30 SAR (sekitar Rp150.000) dan ayam penyet 50 SAR (sekitar Rp250.000). Mahal memang, tapi demi menyuntikkan sedikit kegembiraan pada lidah yang merana, isi dompet rela mengalah.

Usai puncak haji, sambil menunggu “hijrah” ke Madinah, sesekali kami keluar dari “kampung” Misfalah.  Sambil mengikuti city tour mengunjungi tempat-tempat bersejarah, menelusuri jejak-jejak awal perjuangan Rasulullah dan para sahabat, seperti Jabal Nur, Jabal  Tsur dan Thaif,  kami menyempatkan diri keluar sejenak dari rutinitas kotak aluminium kiriman Kementerian Haji dan Umrah.

Rombongan satu kloter 75  singgah di sebuah restoran Arab. Di sana, di atas nampan yang lebar, tersaji nasi kebuli hangat yang aromanya merebak sarat rempah khas bumi gurun, bertabur potongan daging ayam dan kambing yang empuk lagi gurih. Kami duduk bersila melingkari nampan, menyuap nasi bersama-sama untuk porsi empat hingga lima orang.

Cara makan yang riuh dan hangat itu seketika menerbangkan ingatan kami pada tradisi “mayoran” ala santri di pondok pesantren. Di balik gurihnya nasi kebuli siang itu, bukan sekadar pelipur rasa bosan atas menu reguler yang kami cari, melainkan nikmatnya merawat persaudaraan dan kebersamaan sesama musafir di Tanah Haram.

Baca juga: Catatan Pengalaman Ibadah Haji 2026: Haji, Lansia, dan Egoisme Ibadah

Madinah Berselera

Alhamdulillah, lain Makkah, lain pula Madinah. Di kota Sang Nabi, sajian katering terasa lebih beraroma dan “tahu diri”. Bumbunya meresap, mengelus lidah, dan membangkitkan ingatan pada tanah kelahiran. Warung-warung Indonesia pun tumbuh subur di sekitar Masjid Nabawi, mulai dari masakan Sunda hingga kuliner Jambi.

Bakda Asar, sambil menunggu waktu Maghrib, menjadi saat paling nikmat untuk berburu ganjal perut. Lidah yang dahaga akan rasa Nusantara menemukan penawarnya. Salah satu yang paling dekat dengan pemondokan kami adalah Dapur Sunda.

Di Madinah pula terdapat restoran yang diinisiasi oleh Ketua Umum MUI KH Anwar Iskandar dan dikelola oleh Muhammad Sarwono Thayyibi (Abah Umar)—seorang pengusaha asal Cilacap yang juga alumni santri KH Anwar Iskandar sewaktu menimba ilmu di Banyuwangi.

Di tempat itu, bakwan hangat yang renyah, soto bertabur koya, dan ayam bakar disajikan dengan cita rasa yang presisi dengan lidah desa. Madinah seolah paham benar cara menyambut orang-orang kampung yang letih usai melakoni perjalanan panjang.

Baca juga: Catatan Pengalaman Ibadah Haji 2026: Mbah Sariyem, Skema Murur, dan Ibadah “Mboten Marem”

Antara Kritik dan Keikhlasan

Merenungi urusan konsumsi itu, saya menyadari betapa pejabat sering kali memandang dunia hanya dari balik lembar kertas laporan. Evaluasi di mimbar bisa saja memuji keberhasilan negosiasi, namun bagi orang seperti Mbah Datoem, hakikat makanan adalah soal keberpihakan pada raga yang kian rapuh.

Namun demikian, menurut saya bagaimanapun, kritik kepada Kementerian Haji dan Umrah hendaknya disampaikan dengan santun namun bernas: merawat lansia adalah merawat rasa kemanusiaan kita. Lebih dari itu, menyajikan makanan yang empuk dan mudah dicerna bagi para sepuh bukanlah hadiah atau kelonggaran, melainkan kewajiban paling dasar dari seorang pelayan jemaah.

Kembali pada soal makanan “MBG” di Makkah, saya masih ingat, saat selesai menghabiskan paket siang yang dimodifikasi dengan tambahan bumbu mi instan dan sambal terasi itu, Mbah Datoem menyapu bibirnya dengan sapu tangan lusuh yang warnanya memudar. Ia lalu tersenyum—sebuah senyum khas orang desa yang telah selesai bertarung dengan keadaan tanpa dendam.

Sing penting wareg ganti tenaga, Mas. Gusti Allah ora mandang opo sing mlebu maring weteng, tapi opo sing metu saka ati.” (Yang penting kenyang jadi tenaga, Mas. Allah tidak melihat apa yang masuk ke dalam perut, melainkan apa yang keluar dari dalam hati), katanya lirih kepada kami.

Saya tertegun. Di balik taburan bumbu mi instan, sambal terasi, dan kerendahan hatinya, Mbah Datoem telah mengajarkan hakikat haji yang sejati: tentang keikhlasan.

Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.