Catatan Pengalaman Ibadah Haji 2026: Antara “MBG” ala Makkah, Rindu Sambal Terasi, dan Keikhlasan
Oleh: Muhamad Saefullah
Anggota Komisi Infokomdigi MUI
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Di ruang rapat Senayan, kalimat-kalimat para pejabat mengalir manis menenteramkan. Anggota Tim Pengawas Haji DPR, Cucun Ahmad Syamsurijal—dari Fraksi FKB—menyampaikan hasil evaluasi perihal konsumsi jemaah. Ada permintaan agar menu tak monoton, diselingi pujian bagi perbaikan katering hasil negosiasi dengan syarikah. Kabar itu terdengar teduh di telinga.
Namun, fakta di lapangan kerap punya kisahnya
sendiri. Lidah orang-orang kecil yang letih dipanggang terik Tanah Suci tak
selalu merasakan manisnya laporan di atas kertas. Ada hal yang memang benar,
tetapi tak sedikit pula yang cuma jadi kabar gembira yang berjarak jauh dari
kenyataan di telapak kaki jemaah.
Bagi jemaah yang sedang bertaruh peluh
menggapai haji mabrur, urusan perut bukan sekadar angka laporan, melainkan
tentang bagaimana raga yang tua ditopang agar tetap khusyuk bersujud kepada
Allah.
Di atas meja kecil kamar lantai 6 nomor 607 Hotel
Diamond di Sektor 9 nomor area 917, Kawasan Misfalah, Makkah, tiga kali sehari
kami menerima pasokan kehidupan. Makanan dikemas dalam kotak aluminium rapat
dengan cetakan huruf yang tegas: Makan Pagi, Makan Siang, dan Makan
Malam. Di sudutnya, tertera peringatan waktu konsumsi. Makanan malam,
misalnya, tertulis harus dihabiskan sebelum pukul 21.00, bersebelah dengan
cetakan huruf kapital bertuliskan kota Makkah. Kami, sebagai jemaah dari
ceruk-ceruk kampung, berseloroh menamai jatah ini sebagai paket “MBG”—Makanan
Bergizi Gratis—versi Kementerian Haji dan Umrah.
Batas waktu yang tertera pada tutup aluminium
itu sesungguhnya tidak lahir dari lamunan kosong. Ia diukir oleh jejak sejarah
yang getir. Pada musim-musim yang lalu, kabar tentang makanan basi sempat
menggegerkan. Musababnya lugu: jemaah terseret jurus “aji mumpung”. Mumpung sedang berada di tanah paling
mulia di muka bumi, ibadah dimaksimalkan habis-habisan. Begitu matanya menatap
keagungan Ka’bah, tubuh sering kali lupa bahwa ia masih terikat pada hukum
perut. Berangkat sebelum Ashar, baru kembali melangkahkan kaki usai Isya.
Sampai di kamar, kotak makanan yang terabaikan telah mendingin, meruapkan aroma
asam fermentasi. Peringatan jam itu pun ditempelkan sebagai alarm yang jujur:
bahwa raga yang hendak sujud panjang tetap butuh disanggah sepinggan nasi.
Menurut catatan Kementerian Haji dan Umrah,
ada 127 kali jatah makan yang disiapkan selama di Arab Saudi—27 kali di
Madinah, 84 kali di Makkah, dan 15 kali ditambah paket kudapan berat saat
puncak Armuzna.
Soal ketepatan waktu distribusi, kita layak mengapresiasi.
Para petugas bergerak cepat, bahkan kadang terlampau sigap. Usai Subuh, kotak
sarapan sudah mengetuk pintu, jam sepuluh pagi, makan siang telah siap, dan
sebelum Maghrib tiba, ketua regu sudah mengantar jatah malam dari kamar ke
kamar.
Sayang, ketepatan waktu antaran itu belum berbanding lurus dengan kelembutan rasa di dalamnya. Di Makkah, jujur saja, lauk-pauk itu seakan kehilangan jiwa. Rasanya hambar. Pernah kedapatan daging sapi yang disajikan kerap terlalu kenyal, kalau tak boleh disebut alot bagai getah kayu. Bagi pemuda berotot kencang saja, butuh perjuangan keras untuk mengunyahnya, apalagi bagi para lansia. Gigi-gigi tua mereka yang rapuh bisa mendadak tanggal.
Baca juga: Pergi Haji
Itulah yang dialami Mbah Datoem. Lelaki sepuh
berusia 84 tahun asal Desa Ciberung, Ajibarang, Banyumas itu memegang sendok
plastik dengan jemari yang gemetar. Matanya yang kabur menatap sepotong daging
sapi di dalam kotak aluminium.
Mbah Datoem adalah cermin kepasrahan rakyat
kecil. Gigi gelatuknya sudah lama gugur, menyisakan gusi tua yang kenyang makan
asam garam kehidupan. Namun daging di dalam kotak hari itu betul-betul tak
bersahabat: ulet dan kenyal bagai karet ban bekas.
“Jan... iki daging alot, diuntal malah marahi keselek!” (Duh,
daging ini keras sekali. Dikunyah bikin tersedak!), keluh Mbah Datoem dengan dialek Ngapak yang polos, jujur, dan resik dari beban politis.
Saya yang duduk tak jauh darinya hanya mampu
merenung sambil tersenyum getir. Di ponsel, saya menyimpan rekaman video daging
kenyal itu sebagai bukti bisu. Daging itu nyata-nyata tidak layak disunting
oleh gusi seorang sepuh—bahkan lidah yang muda pun menyerah. Padahal jauh
sebelum terbang meninggalkan Tanah Air, kami sudah sibuk mendata jumlah jemaah
lansia dengan janji akan ada menu khusus. Namun di gurun pasir ini, daftar nama
lansia itu seakan terbang disapu angin kering. Menu untuk pemuda berdadabidang
dan lansia tanpa gigi disamaratakan. Mbah Datoem terpaksa menelan kekecewaan
itu dengan diam.
Lauk-pauknya pun sepi variasi. Kalau tidak
ayam, ya ikan atau daging. Rasanya polos dan hambar, seakan rempah-rempah
Nusantara yang katanya diekspor berkonteiner-konteiner ke Tanah Suci itu lupa
diseduhkan ke dalam kuali.
Beruntung, daya bertahan hidup orang kampung
begitu liat. Bumbu mi instan dirobek demi memberi warna dan rasa pada kuah yang
dingin. Dan yang menjadi pahlawan utama perut kami adalah sambal terasi kemasan
yang diselipkan di lipatan baju saat di Tanah Air.
Penyelamat Mbah Datoem siang itu akhirnya
bukanlah daging berserat baja tersebut, melainkan sebungkus bumbu mi instan dan
sambal terasi. Bagi kami yang terbiasa dengan sengatan pedas, colekan sambal
terasi sedikit mengobati dahaga rindu kampung halaman.
Bila rasa rindu pada masakan rumah sudah
merajam tak tertahankan, kami memutar otak. Sayur bening ala kadarnya kami
racik sendiri di kamar. Bahannya dibeli dari pasar malam Misfalah—bayam,
wortel, tomat, dan cabai—diolah dengan bawang merah, bawang putih, dan kencur
bawaan dari desa.
Jika lidah benar-benar mogok, kami nekat
merogoh kocek lebih dalam menaiki lantai 5 Menara Zamzam. Di sana, semangkuk
bakso dibanderol 30 SAR (sekitar Rp150.000) dan ayam penyet 50 SAR (sekitar
Rp250.000). Mahal memang, tapi demi menyuntikkan sedikit kegembiraan pada lidah
yang merana, isi dompet rela mengalah.
Usai puncak haji, sambil menunggu “hijrah” ke
Madinah, sesekali kami keluar dari “kampung” Misfalah. Sambil mengikuti city tour mengunjungi
tempat-tempat bersejarah, menelusuri jejak-jejak awal perjuangan Rasulullah dan
para sahabat, seperti Jabal Nur, Jabal
Tsur dan Thaif, kami menyempatkan diri keluar sejenak dari rutinitas kotak aluminium kiriman Kementerian Haji dan
Umrah.
Rombongan satu kloter 75 singgah di sebuah restoran Arab. Di sana, di
atas nampan yang lebar, tersaji nasi kebuli hangat yang aromanya merebak sarat
rempah khas bumi gurun, bertabur potongan daging ayam dan kambing yang empuk
lagi gurih. Kami duduk bersila melingkari nampan, menyuap nasi bersama-sama
untuk porsi empat hingga lima orang.
Cara makan yang riuh dan hangat itu seketika menerbangkan ingatan kami pada tradisi “mayoran” ala santri di pondok pesantren. Di balik gurihnya nasi kebuli siang itu, bukan sekadar pelipur rasa bosan atas menu reguler yang kami cari, melainkan nikmatnya merawat persaudaraan dan kebersamaan sesama musafir di Tanah Haram.
Baca juga: Catatan Pengalaman Ibadah Haji 2026: Haji, Lansia, dan Egoisme Ibadah
Madinah Berselera
Alhamdulillah, lain Makkah, lain pula Madinah.
Di kota Sang Nabi, sajian katering terasa lebih beraroma dan “tahu diri”.
Bumbunya meresap, mengelus lidah, dan membangkitkan ingatan pada tanah
kelahiran. Warung-warung Indonesia pun tumbuh subur di sekitar Masjid Nabawi,
mulai dari masakan Sunda hingga kuliner Jambi.
Bakda Asar, sambil menunggu waktu Maghrib,
menjadi saat paling nikmat untuk berburu ganjal perut. Lidah yang dahaga akan
rasa Nusantara menemukan penawarnya. Salah satu yang paling dekat dengan
pemondokan kami adalah Dapur Sunda.
Di Madinah pula terdapat restoran yang
diinisiasi oleh Ketua Umum MUI KH Anwar Iskandar dan dikelola oleh Muhammad
Sarwono Thayyibi (Abah Umar)—seorang pengusaha asal Cilacap yang juga alumni
santri KH Anwar Iskandar sewaktu menimba ilmu di Banyuwangi.
Di tempat itu, bakwan hangat yang renyah, soto bertabur koya, dan ayam bakar disajikan dengan cita rasa yang presisi dengan lidah desa. Madinah seolah paham benar cara menyambut orang-orang kampung yang letih usai melakoni perjalanan panjang.
Baca juga: Catatan Pengalaman Ibadah Haji 2026: Mbah Sariyem, Skema Murur, dan Ibadah “Mboten Marem”
Antara Kritik dan
Keikhlasan
Merenungi urusan konsumsi itu, saya menyadari
betapa pejabat sering kali memandang dunia hanya dari balik lembar kertas
laporan. Evaluasi di mimbar bisa saja memuji keberhasilan negosiasi, namun bagi
orang seperti Mbah Datoem, hakikat makanan adalah soal keberpihakan pada raga
yang kian rapuh.
Namun demikian, menurut saya bagaimanapun, kritik
kepada Kementerian Haji dan Umrah hendaknya disampaikan dengan santun namun
bernas: merawat lansia adalah merawat rasa kemanusiaan kita. Lebih dari itu, menyajikan
makanan yang empuk dan mudah dicerna bagi para sepuh bukanlah hadiah atau
kelonggaran, melainkan kewajiban paling dasar dari seorang pelayan jemaah.
Kembali pada soal makanan “MBG” di Makkah, saya
masih ingat, saat selesai menghabiskan paket siang yang dimodifikasi dengan tambahan
bumbu mi instan dan sambal terasi itu, Mbah Datoem menyapu bibirnya dengan sapu
tangan lusuh yang warnanya memudar. Ia lalu tersenyum—sebuah senyum khas orang
desa yang telah selesai bertarung dengan keadaan tanpa dendam.
“Sing penting wareg ganti tenaga, Mas. Gusti Allah ora mandang opo
sing mlebu maring weteng, tapi opo sing metu saka ati.” (Yang penting
kenyang jadi tenaga, Mas. Allah tidak melihat apa yang masuk ke dalam perut,
melainkan apa yang keluar dari dalam hati), katanya lirih kepada kami.
Saya tertegun. Di balik taburan bumbu mi instan, sambal terasi, dan kerendahan hatinya, Mbah Datoem telah mengajarkan hakikat haji yang sejati: tentang keikhlasan.