Lewati ke konten utama
Minggu, 2 Agustus 2026 / 18 Shafar 1448 H
Jadwal memuat...
Opini

Catatan Pengalaman Ibadah Haji 2026: Haji, Lansia, dan Egoisme Ibadah

7 menit baca 49 dibaca
Muhamad Saefullah

Oleh: Muhamad Saefullah

Anggota Komisi Infokomdigi MUI

Diunggah: Admin Admin Editor: Admin
Catatan Pengalaman Ibadah Haji 2026: Haji, Lansia, dan Egoisme Ibadah
Foto asli dan kombinasi AI yang memotret penulis saat menunaikan ibadah haji bersama Mbah Datoem, sosok sepuh yang dirawat dan kebutuhannya diurus selama haji. Foto: Dok. Pribadi/Muhamad Saefullah
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital — Di gedung DPR yang dingin dan berkarpet tebal itu, tepatnya pada Senin, 6 Juli 2026, saat Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) di Komisi VIII DPR, Ketua DPW FK KBIHU Jawa Barat, Syatori, melempar ucapan yang jujur tetapi rasanya hambar. “Jemaah haji lansia itu ibadahnya repot dan merepotkan sesama jemaah,” katanya. Tak karuan, Bung Matindas Janusanti Rumambi dari Komisi VIII segera menyela, meminta agar kalimat kasar itu dicabut.

Memang tanah Arab bukanlah ruang rapat yang adem dan nyaman. Di tanah gersang tempat matahari menyengat tanpa ampun, kenyataan senantiasa bertelanjang dada. Sebagai jemaah reguler asal Banyumas yang mendaftar sejak akhir 2012 dan telaten menabung belasan tahun demi memenuhi panggilan surat Al-Hajj ayat 27, saya menyaksikan dan mengalami sendiri: ucapan Syatori bukanlah bualan. Itu adalah fakta! Cuma mungkin diksi tersebut harus diakui kurang tepat. Tutur yang lebih santun mungkin begini: “Haji lansia butuh perhatian dan kebijakan khusus.”

Pelayanan terhadap jemaah sepuh tak akan pernah cukup bila hanya mengandalkan petugas haji (PPIH). Memang ada petugas Landis (lansia dan disabilitas) yang berseragam gagah, namun mereka mustahil bisa “ngerumat” jemaah day-to-day. Mereka tak mungkin sempat mengawasi makan harian, memandikan dan menuntun jemaah saban jam. Pada akhirnya, urusan kemanusiaan yang karib itu kembali pulang ke pundak sesama jemaah, wabil khusus kawan sekamar yang saban hari menyaksikan kerentaan itu dari dekat.

Baca juga: Pergi Haji

Egoisme Ibadah

Tuhan rupanya punya cara sendiri untuk menguji ambisi saya. Sebelum berangkat, saya dan istri sudah menyusun daftar egois di dalam kepala: ingin berlama-lama i’tikaf, shalat Tahajud, shalat Taubat, shalat Hajat dan lain sebagainya sambil berbisik mesra di Multazam, memburu Hijir Ismail, dan melahap pahala sunnah sebanyak-banyaknya.

Namun di Makkah, takdir menunjuk kami untuk “ngerumat” Mbah Mohammad Datoem—seorang pensiunan polisi berusia 84 tahun dari Desa Ciberung, Ajibarang—bersama istrinya, Mbah Dakinah, di atas kursi roda.

Seperti saya, Mbah Datoem masuk dalam Rombongan 9, Kloter 75 SOC. Tubuhnya kurus bagai ranting kayu jati di musim kemarau. Di tanah air, beliau dinyatakan lulus “istitha’ah”, yakni dianggap mampu menunaikan ibadah haji. Namun, berangkat tanpa pendamping keluarga membuat ketua rombongan membagi tugas. Kami dipasrahi untuk menjaga pasangan yang sudah sepuh ini.

Skenario ibadah syahdu yang sudah saya susun rapi langsung berantakan di hari-hari pertama. Ketika kami yang sehat usai menuntaskan umrah wajib di Misfalah, Mbah Datoem yang didawuhi menunggu di hotel ternyata sudah santai pakai katok (celana pendek) biasa dan melepas kain ihramnya. Beliau lupa letak kamar mandi yang pas di sampingnya, lalu buang air kecil di lantai kamar, dan lupa menyiram kotorannya sendiri.

Di situlah benturan batin pertama terjadi. Bau harum minyak attar yang saya harapkan di pelataran Ka’bah berganti dengan bau pesing di karpet kamar. Demi membenahi ihramnya yang batal, saya harus merelakan waktu i’tikaf demi membawanya miqat ulang ke Masjid Aisyah di Tan’im. Saya dorong kursi rodanya, memandu langkahnya yang gontai, di antara ribuan manusia.

Baca juga: Magnet Baitullah dan Panggilan Haji

Hilang

Belum selesai lelah di Tan’im, Mbah Datoem mendadak hilang saat pulang menumpang Bus Shalawat nomor 20 dari Haram. Kami yang ketiduran jadi panik luar biasa, karena beliau melangkah turun sendirian di shelter bus 918, padahal penginapan kami di shelter 917. Tiga jam lamanya impian berdoa tenang di Masjidil Haram berganti dengan langkah tersengal-sengal menyusuri jalan-jalan Misfalah, mencari seorang tua yang akhirnya ditemukan oleh petugas haji berdiri “teler-teler” alias bingung di tepi jalan.

Puncak perbenturan egoisme ibadah terjadi saat wukuf di Arafah. Di saat jemaah lain menangis syahdu memanjatkan doa terbaik di dalam tenda yang sumuk, Mbah Datoem mendadak lari keluar sambil berteriak ketakutan, mengaku hendak dicekik orang. Doa-doa khusyuk yang sudah saya catat rapi serta-merta buyar. Saya harus berlari membujuk jiwa tua yang sedang merana itu di bawah terik pasir Makkah.

Di Mina, egoisme saya kembali diuji. Pas jemaah lain berbondong-bondong hendak melaksanakan wajib haji melontar jumrah, Mbah Datoem malah uring-uringan dan nekat hendak menerobos pintu maktab.

Demi menjaga raga yang sepuh itu, saya merelakan ambisi pribadi gugur, mengikhlaskan lemparan jumrah dititipkan pada orang lain. Malam itu saya berhasil menahannya. Namun, tenaga manusia selalu ada batasnya.

Bakda Subuh, saat saya ketiduran karena lelah yang amat sangat, Mbah Datoem diam-diam menyelinap pergi. Keinginan kaburnya semalam sukses ia tebus. Menjelang siang harinya, barulah petugas haji menemukannya tersesat di maktab orang lain, jauh sekali dari Maktab 48 tempat kami bernaung. Kejadian-kejadian itu membuat jadwal ibadah idealis yang saya bawa dari tanah air semuanya sirna.

Dedikasi para petugas kloter pun diuji di titik ini. Ketua Kloter, Ahmad Tantowi, dr. Putri Restu Wulandari, perawat Siti Robi’ah, pembimbing ibadah Ahmad Sholeh serta Karom Ahmad Riyadi sadar betul akan amanah yang mengikat mereka. Saban hari mereka turut menyisihkan waktu dan perhatian ekstra demi mengontrol kesehatan Mbah Datoem. Empat kali beliau raib di Makkah menjadi alasan kuat bagi kami dan petugas untuk mengajukan tanazul, memintakan izin pemulangan lebih awal usai rangkaian ibadah haji.

Namun, suratan di kementerian berkata lain; usulan itu bergeming. Mbah Datoem pun bertahan menjalani takdir hajinya selama 41 hari penuh. Ulahnya yang tak biasa itu melambungkan namanya; seluruh jemaah Kloter 75 tahu persis kisahnya, menjelmakan raga renta itu sebagai ikon tak resmi di kelompok terbang kami. Sungguh sebuah teka-teki, sebab begitu rombongan tiba di Madinah yang teduh, tak ada lagi tingkah ajaib yang keluar dari raga sepuh itu.

Di Madinah, kota tempat Rasulullah dimakamkan, saya tetap telaten “ngerumat” Mbah Datoem, memperhatikan makan dan membawakan air Zamzam yang saya ambil dari Masjid Nabawi saban usai shalat berjamaah.

Di kota yang diliputi kehangatan Nabi ini, kami sejatinya memendam rindu besar untuk mengejar shalat Arbain. Namun, setelah 14 tahun menabung, impian bersahaja itu kandas karena masa tinggal di Madinah dibatasi ketat hanya delapan hari.

Dalam batin saya, timbul tanya yang getir tatkala mengenang banyaknya waktu luang yang terbuang usai hajian di Makkah. Usut punya usut, Kementerian Haji dan Umrah memangkas waktu demi alasan efisiensi sewa hotel harian di Madinah, bahkan berwacana memangkas total masa tinggal haji menjadi 30 hari.

Boleh saja birokrasi berhitung angka dan anggaran, tapi tolonglah, di Kota Nabi yang mulia ini, jangan pernah “menjegal” rindu Arbain para musafir yang sudah menunggu belasan tahun dengan sabar.

Baca juga: Bagaimana Tanda-Tanda Haji Mabrur? Begini Penjelasan Ulama

Fiqih Kasih Sayang  

Dari 1.300-an jemaah Banyumas di Kloter 72–76, ada sekitar 30% lansia. Secara nasional, puluhan ribu lansia butuh perhatian khusus. Fenomena ini menunjukkan bahwa jargon “Haji Ramah Lansia” tak boleh berhenti sebatas slogan di atas kertas. Negara tak boleh membiarkan awak-awak tua itu hanya mengandalkan belas kasihan jemaah lain. Mereka membutuhkan porsi pendamping keluarga dan menu makanan yang ramah bagi fisik mereka.

Namun di luar urusan birokrasi, Allah rupanya sedang menyindir kepekaan spiritual saya lewat Mbah Datoem. Saya berangkat ke Tanah Suci membawa ambisi egois: ingin memaksimalkan ibadah dan mengejar pahala sunnah. Namun lewat Mbah Datoem, Tuhan seolah memanggil dan berkata:

“Wahai hamba-Ku yang merasa suci, untuk apa engkau mengetuk-ngetuk pintu langit di depan Ka’bah jika matamu buta pada rintihan teman kamarmu? Kasih sayang-Ku tidak hanya bersemayam di Multazam, tetapi hadir pada jemarimu yang sudi membasuh bekas kencing dan menuntun langkah renta yang tersesat di jalanan Makkah.”

Jalaluddin Rumi benar ketika menulis bahwa keagungan Ilahi sering kali tersimpan dalam kepasrahan makhluk-Nya yang paling lemah. Haji ternyata bukan cuma soal mengetuk pintu langit di depan Ka’bah dengan egoisme pahala pribadi, melainkan juga tentang bagaimana kita meruntuhkan ego itu demi menuntun kaki sesama yang gemetar di atas bumi.

Di balik cucian baju, tumpahan kencing, dan langkah tersesat Mbah Datoem, saya akhirnya paham, bahwa di sanalah tempat menemukan haji yang sejati.

Terima kasih, Mbah Kaji Datoem. Semoga panjenengan, saya, dan kita semua jemaah haji 2026 dianugerahi predikat haji mabrur. Amin.

Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.