Catatan Pengalaman Haji 2026: Batu, Toilet, dan Tuhan
Catatan Pengalaman Haji 2026: Batu, Toilet, dan Tuhan
Oleh: Muhamad Saefullah
Anggota Komisi Infokomdigi MUI
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Ada kalanya pengalaman beribadah kepada Tuhan justru mengajarkan kita melalui hal-hal yang paling sederhana: sebutir batu yang dilempar ke jumrah, sebuah toilet yang mendadak lengang, dan hati manusia yang perlahan belajar lapang. Batu ada di tangan. Toilet ada di depan mata. Dan Tuhan semestinya tetap ada di dalam dada.
Hari ke-13 Dzulhijjah
2026, bagi jemaah Kloter 75 SOC, Mina mendadak terasa seperti surga kecil.
Bukan karena tiba-tiba muncul sungai susu dan madu, melainkan karena
lorong-lorong tenda yang sehari sebelumnya sesak mulai melonggar.
Sehari
sebelumnya, ketika gelombang nafar awal pamit undur diri, Mina seperti
melipat ribuan kecemasannya. Tenda yang tadinya mirip pepesan tongkol—berjejal,
saling himpit, sampai napas tetangga terasa dekat di telinga—kini mulai
menyisakan ruang.
Antrean kamar
mandi yang biasanya menguji iman melampaui batas kemampuan syariat mendadak
menjadi lebih manusiawi. Tak ada lagi ketukan pintu toilet yang ritmis dan
panik, mirip ketukan penagih utang.
“Alhamdulillah,
Kang. Sekarang kalau mau buang air kecil tidak perlu pakai jurus silat,”
celetuk Jafaruddin, tetangga satu RT
saya dari Ajibarang yang sehari-hari bertani, sambil menyampirkan handuk
di pundaknya. Wajahnya
semringah.
Barangkali, di
tanah suci, definisi kebahagiaan memang kadang harus diturunkan ke ukuran yang
sangat sederhana. Bisa buang air kecil dengan tenang saja
sudah terasa seperti karunia besar.
Kami memilih nafar
tsani. Menyelesaikan lontar jumrah hingga hari ketiga Tasyrik dan
menggenapkan 70 batu. Tubuh memang terasa rontok. Lima hari
dihajar terik Armuzna—Arafah yang puitis, Muzdalifah yang hanya dilintasi, dan
Mina yang penuh dinamika syarikah—membuat sendi-sendi serasa hendak mengajukan
surat pengunduran diri. Namun, di balik tulang yang linu, ada
sebentuk keheningan yang mahal. Nafar tsani terasa lebih marem. Ada rasa
tuntas karena seluruh rangkaian lempar jumrah dapat diselesaikan hingga hari
terakhir.
Perjalanan menuju
kawasan Jamarat hari itu pun terasa teramat lengang. Tak ada aksi berdesakan. Kami berjalan santai seperti warga desa yang sedang
jalan sehat pada Minggu pagi. Batu-batu kecil
melayang menuju tempat lontar, diiringi doa yang tak lagi tergesa-gesa. Ada rasa tenang yang sulit dijelaskan: ketika ketegangan manusia mulai
surut, ibadah seperti menemukan kembali degup jantungnya.
Terkadang, mungkin memang begitulah cara Tuhan mendidik manusia. Ia tidak selalu memberi nasihat panjang. Kadang cukup dengan mengurangi sedikit kerumunan agar kita bisa mendengar suara hati sendiri. Yang jelas, Tuhan selalu membersamai kita.
Rindu Misfalah
Usai lemparan
terakhir tuntas, jadwal kami adalah kembali ke Misfalah. Saat itu, proses
kepulangan menuju Hotel Diamond, kamar nomor 917, berjalan mulus. Di bawah
komando Ketua Kloter H Ahmad Tantowi dan para Karom yang sigapnya melebihi
petugas lapangan, kami dinaikkan ke bus secara tertib.
Kami
mengapresiasi gaya naik bus kali ini yang sungguh humanis dan beradab. Tidak ada insiden serobot pintu seperti bus kota era 1980-an di Terminal
Purwokerto.
Sepanjang jalan
sekelebat pertanyaan bermunculan: Mungkinkah manajemen transportasi syarikah
sedang berbenah secara revolusioner? Ataukah ini sekadar efek wajar karena
separuh populasi jemaah sudah hengkang dari Mina?
Tapi, biarlah Malaikat Raqib dan Atid yang
mencatatnya. Yang penting, kami bisa duduk manis tanpa
perlu menyikut rusuk orang sebelah.
Misfalah memang
ajaib sekaligus bikin rindu.
Baru ditinggal lima hari,
rasanya sudah dilanda kangen yang menderu. Entah bagaimana nanti kalau kami
sudah kembali ke tanah air.
Kangen pada ritualitas
hariannya: menunggu pintu kamar diketuk Karu yang mengantar jatah “MBG” ala Makkah (jatah konsumsi), keriuhan
pasar kaget, rooftop lantai tujuh tempat melepas penat, hingga Bus Selawat
Nomor 21 yang setia mengantar ke Masjidil Haram. Tak ketinggalan obrolan gayeng bersama Mbah Datoem di Kamar 607 dan
kebiasaan beliau nderes
(membaca Alquran) mengisi kebosanan.
Saking
menikmatinya, kami sampai lupa ini hari ke berapa sejak pertama mendarat di
Tanah Suci. Namun tentu saja, kami datang bukan untuk
wisata nostalgia. Tugas mahapenting sudah melambaikan tangan
dari balik pintu hotel: Tawaf Ifadhah, salah satu rukun haji yang menjadi
bagian penting dari penyempurnaan ibadah. Di sinilah
konsolidasi organisasi kembali dimulai.
H Sholeh,
pembimbing ibadah kami yang sabarnya bagai telaga tanpa dasar, sibuk memetakan
rombongan. Jemaah lansia dan kelompok berisiko tinggi ditata sedemikian rupa.
Jemaah yang sehat dibimbing para mutawif untuk tawaf lebih dahulu. Setelah itu,
giliran jemaah lansia dan kelompok risiko tinggi dengan pendamping
masing-masing.
Ketua Rombongan 9, Ahmad Ryadi, dengan cekatan membagi tugas
pendampingan. Saya mendapat amanah “mengawal” Mbah Datoem yang langkahnya mulai terlihat lelah. Sementara istri saya menggandeng erat jemari
Mbah Sariyem, pedagang sayur kawakan dari Pasar Ajibarang. Di sela-sela persiapan itu, Mbah Sariyem mendadak menghentikan langkah. Wajah sepuhnya dibayangi kecemasan.
“Pak Haji Sholeh,
kalau nanti di sana berdesakan lalu bersentuhan kulit dengan laki-laki, wudhuku
batal tidak, ya?,” tanyanya polos.
Bagi Mbah
Sariyem, batal wudhu di tengah lautan manusia adalah bencana lokal tingkat
tinggi. Artinya, harus mencari tempat wudhu lagi yang jauhnya barangkali
seperti berjalan dari satu desa ke desa sebelah.
Saya dan H Sholeh
yang berdiri bersebelahan langsung saling melempar senyum. Di sinilah fiqih menunjukkan wajahnya yang menenangkan. H Sholeh menatap Mbah Sariyem dengan tenang.
“Mbah,” ujarnya
lembut, “Dalam mazhab Syafi’i yang biasa kita gunakan sehari-hari, bersentuhan
kulit dengan lawan jenis memang memiliki konsekuensi terhadap wudhu. Tetapi
dalam kondisi tertentu, terutama ketika jemaah berada dalam kerumunan yang
sangat padat, ada pendapat ulama yang memberikan kelonggaran dengan mengikuti
pendapat dalam mazhab Hanafi atau Maliki.”
H Sholeh berhenti
sejenak. Lalu melanjutkan penjelasannya, “Yang penting, niatnya murni ibadah. Bukan
mau berkenalan.”
Saya menahan
tawa. H Sholeh pun ikut terkekeh. Mbah Sariyem tersenyum. Dadanya yang semula tegang mendadak lega.
Di lapangan haji, fiqih bukan sekadar perdebatan tentang siapa yang paling benar. Ia juga harus mampu menghadirkan ketenangan kepada manusia yang sedang beribadah dalam kondisi serba terbatas. Fiqih yang baik semestinya membantu manusia mendekat kepada Tuhan, bukan membuat orang panik sebelum sempat mengetuk pintu-Nya.
Poros Jiwa
Malam jatuh
ketika kami memasuki pelataran Masjidil Haram. Bau minyak wangi oud bercampur peluh jutaan hamba membubung ke
udara. Lantai marmer putih yang dingin menyambut telapak kaki kami yang sudah kapalan. Setelah menyelesaikan tawaf untuk diri sendiri, tugas kemanusiaan
berikutnya menanti.
Saya dan istri
bergegas menuju lantai dua Masjidil Haram, jalur yang memungkinkan jemaah
pengguna kursi roda menjalankan tawaf dengan lebih leluasa. Di sanalah kami mengambil alih kemudi. Saya mendorong kursi roda Mbah Datoem. Istri saya mengawal dan mendorong
kursi roda Mbah Sariyem.
Maka dimulailah
lintasan putaran sepanjang kurang lebih dua kilometer itu. Di atas keramik lantai dua yang dingin, kami menjelma menjadi satu rantai
kemanusiaan yang mungil di antara samudra jemaah dari berbagai penjuru dunia.
Ka’bah berdiri di
sana. Hitam. Bisu dan Anggun. Bangunan suci itu bukan sekadar sesuatu yang tampak oleh mata. Ia menjadi
arah yang menyatukan jutaan manusia dalam satu gerak, satu doa, dan satu
kepasrahan.
Saat melintasi
garis Hajar Aswad, kami mengangkat tangan.
“Bismillahi,
Allahu Akbar!”
Tangan hanya
menunjuk ke arah batu. Namun hati semestinya menunjuk lebih
jauh—kepada Tuhan yang menjadi tujuan seluruh ibadah. Ada getaran aneh yang menjalar dari telapak tangan, merambat ke dada, lalu
perlahan meluruhkan kesombongan.
Di hadapan
Ka’bah, Mbah Datoem bukan lagi sekadar pria sepuh dari
Ciberung. Mbah Sariyem bukan lagi pedagang sayur dari Pasar Ajibarang. Dan saya
bukan lagi orang yang sehari-hari sibuk merangkai kata. Kami hanyalah manusia.
Kecil. Ringkih. Dan seonggok makhluk yang sedang mengitari sebuah rumah suci untuk
mengingat kembali siapa diri kami di hadapan Sang Pencipta.
Putaran demi
putaran berjalan. Setiap langkah seolah mengingatkan bahwa
kehidupan pun terus berputar. Kita berkeliling mengitari Ka’bah bukan untuk
mengagungkan batu, melainkan untuk menyadarkan diri bahwa pusat kehidupan tidak
semestinya ego, jabatan, harta, ataupun nama besar yang sering kita banggakan di
tanah air.
Poros itu
mestinya Tuhan. Mbah Sariyem menangis di putaran kelima. Bukan karena kakinya sakit, melainkan karena rasa tidak percaya.
“Gusti, orang
desa seperti saya kok bisa sampai di sini…,” bisiknya lirih.
Kalimat itu
sederhana. Tidak ada bahasa Arab yang panjang. Tidak
ada susunan doa yang berbunga-bunga. Hanya ungkapan
seorang perempuan desa yang tiba-tiba berdiri begitu dekat dengan sesuatu yang
selama puluhan tahun hanya ia kenal melalui cerita, gambar, dan doa.
Saya melihat wajahnya. Di sana ada rasa takjub.
Ada syukur. Ada kepasrahan.
Dan mungkin,
justru karena kesederhanaannya, doa itu terasa begitu dalam. Tawaf Ifadhah melatih kita melipat ego. Di sini, kesabaran tidak hanya diajarkan melalui teks kitab. Ia diuji
melalui kaki yang terinjak, tubuh yang bersentuhan, peluh yang menetes, udara
yang pengap, dan bau ketiak orang asing yang sama-sama sedang berjuang menjadi
tamu Tuhan.
Tawaf adalah
ikhtiar sekaligus kepasrahan. Berjalan dengan kemampuan sendiri, tetapi
menyerahkan hasil akhirnya kepada Sang Maha Pengampun. Usai melengkapi tujuh
putaran dan menuntaskan Sa’i antara Shafa dan Marwah, kami duduk bersandar di
pilar masjid. Tubuh serasa remuk. Namun dada terasa lapang. Bahkan lebih lapang
daripada tenda Mina pada hari ketiga Tasyrik.
Saya menatap Mbah Datoem dan Mbah Sariyem yang meneguk air Zamzam dengan khusyuk. Ada garis senyum yang amat tulus di wajah-wajah sepuh itu. Saya tiba-tiba teringat toilet di Mina. Teringat antrean panjang. Teringat jurus silat Haji Jafaruddin. Teringat batu-batu kecil yang kami lemparkan ke Jamarat. Ternyata semuanya seperti potongan-potongan kecil dari sebuah pelajaran yang sama.
Batu mengajarkan
keteguhan. Antrean toilet mengajarkan kesabaran. Kerumunan mengajarkan pengendalian diri. Dan Ka’bah mengajarkan ke mana seluruh perjalanan itu seharusnya bermuara.
Haji 2026
mengajarkan satu hal mendasar: keikhlasan jiwa tidak pernah dijajakan di biro
perjalanan dengan biaya berapa pun. Keikhlasan baru bisa
dipetik setelah manusia bersedia merendahkan hati, menahan kekesalan atas
antrean toilet yang buruk, bersabar menghadapi kepayahan fisik, dan akhirnya
berdiri di hadapan Ka’bah sambil mengakui betapa kecilnya diri ini.
Masyarakat kecil
dari daerah pun telah menuntaskan panggilan-Nya. Kami tidak membawa pulang keagungan, sebab keagungan hanya milik-Nya. Kami hanya membawa pulang hati yang telah dikikis oleh perjalanan panjang,
oleh peluh, oleh kesabaran, oleh doa, dan oleh kepasrahan.
Barangkali kelak ketika rindu kepada Mina, Misfalah, Jamarat, atau Ka’bah kembali datang, yang sebenarnya kami rindukan bukan sekadar tempat-tempat itu. Kami sedang merindukan versi diri kami yang benar-benar begitu kecil di hadapan Tuhan. Dan mungkin, justru karena merasa kecil itulah, kami belajar menjadi manusia. Dan kesadaran inilah yang kami bawa pulang dari Tanah Suci. Semoga bisa istiqamah.