Catatan Pengalaman Ibadah Haji 2026: “Surat Cinta” dari Maktab 48
Catatan Pengalaman Ibadah Haji 2026: “Surat Cinta” dari Maktab 48
Oleh: Muhamad Saefullah
Anggota Komisi Infokomdigi MUI
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Sebuah “surat cinta” tidak selalu ditulis di atas kertas wangi, apalagi dikirimkan lewat amplop berselotip merah jambu. Di Mina yang berdebu ini, surat cinta kami ditulis dengan keringat yang mengering di kain ihram, beralaskan semen keras di lorong-lorong Maktab 48, dan ditandatangani langsung oleh betis-betis tua jemaah yang bengkak setelah berjalan kaki puluhan kilometer.
Lalu siapakah penerimanya?
Boleh jadi Kementerian Haji dan Umrah, pihak syarikah yang mahir berdiplomasi,
atau siapa saja yang percaya bahwa kesabaran jemaah haji reguler adalah
komoditas yang tak terbatas.
Urusan mabit
di Mina ini sebetulnya adalah gelanggang olah batin yang melatih kezuhudan,
tetapi bisa berubah menjadi petaka bagi fisik para lansia. Kami, jemaah reguler
yang tergabung dalam Kloter 75 SOC, menapakkan kaki di tempat ujian ini dengan
sisa-sisa tenaga.
Drama perjalanan
pasca-Arafah—ketika kami melewati Muzdalifah dalam himpitan bus yang luar biasa
padat—menjadi babak awal perjuangan kami. Di ruang bus yang sempit itu, jemaah
berdiri saling menyangga tubuh yang kian melemah. Kisah ini terasa seperti skenario
langit yang sengaja dihadirkan untuk menakar sedalam apa keikhlasan kami.
Sebagai jemaah
reguler—orang-orang lugu yang berangkat bermodal niat bersih dan lembaran
rupiah dari perasan keringat bertahun-tahun—kami ditempatkan di Zona 3,
persisnya di Maktab 48. Lokasinya terselip di seberang mulut Terowongan
Mu’aishim.
Di atas kertas peta,
tempat ini mungkin tampak tenang dan menyendiri. Namun, bagi persendian para
lansia, ini adalah ujian fisik yang merayap perlahan. Jarak menuju pilar
Jamarat membentang sekitar empat kilometer.
Bagi kami yang
mengambil Nafar Tsani, empat kali berjalan kaki bolak-balik melintasi dua terowongan
panjang itu berarti menempuh jarak keseluruhan kurang lebih 32 kilometer.
Sebuah perjalanan menyabung sisa tenaga yang jaraknya sama saja dengan berjalan
kaki dari Ajibarang menuju Alun-Alun Purwokerto, lalu berjalan pulang kembali
sampai di Cilongok.
Sementara di sana, di Zona 1 dan Zona 2 yang teduh dan dekat dari tempat melontar, para jemaah haji khusus (ONH Plus) menikmati privasi yang dibeli dengan rupiah berlipat. Di tanah suci yang katanya memusnahkan kasta, ternyata takdir kasur masih ditentukan oleh isi dompet.
Drama Mina
Drama yang
sesungguhnya meletus sekitar pukul 23.00 waktu setempat, tatkala tubuh kami
yang lunglai akhirnya menginjakkan kaki di Maktab 48. Dalam manifes resmi, kami
dialokasikan untuk menempati tenda besar berkapasitas 360 jemaah, ditambah sekat
tenda kecil berkapasitas 40 orang yang “dipinjam” dari sebelah.
Namun, begitu pintu
kain tenda 40 orang itu dibuka, pemandangan ajaib tersaji: sekitar 30 perempuan
berselimut pakaian serba hitam dan bercadar telah menguasai ruangan. Mereka
menolak bergeser seinci pun, bertahan dengan bahasa yang asing di telinga kami.
Lagipula, jika dihitung menggunakan standar nalar dan ukuran kasur busa yang
digelar, tenda itu sebetulnya hanya layak dihuni 20 orang.
Setali tiga uang
dengan tenda besar berkapasitas 360 jemaah. Setelah dihitung satu per satu oleh
ketua kloter kami, faktanya hanya ada 300 lembar kasur yang terhampar. Lalu, ke
mana 60 jemaah sisanya harus merebahkan punggung?
Debat kusir pecah
tatkala malam di Mina kian menggelegak oleh udara gerah. Petugas PPIH dan Ketua
Kloter 75 berdiri bersitegang menghadapi perwakilan syarikah. Pihak
syarikah—yang lihai menganyam lidah dan berkulit tebal—terus berlindung di
balik deretan angka di atas lembaran kertas. Sementara petugas kami bertaruh
nyawa membela kenyataan di atas tanah: bahwa ada tenda yang diserobot dan
puluhan kasur yang raib entah ke mana.
Dengan muka tanpa
dosa, orang syarikah itu malah menuding bahwa jemaah kita telah berbuat serakah dengan menguasai dua kasur sekaligus hingga tenda tampak menyumpat. Tudingan yang
melukai martabat itu seketika membuat dada bergolak panas.
“Ayo kita hitung
bersama! Pakai mata dan tangan kita sendiri. Hitung berapa lembar kasur yang
ada dan berapa kepala jemaah yang berdiri di sini!” tantang petugas PPIH,
suaranya bergetar menahan gusar. Namun, ajakan menghitung secara telanjang itu
menguap begitu saja. Hingga larut malam yang pengap, tak satu pun jalan keluar
lahir dari mulut para pengelola.
Di luar tenda, malam
tak lagi memberi harapan. Para lansia yang matanya telah redup dan
persendiannya ringsek ditimpa keletihan, akhirnya memilih menyerah pada nasib.
Mereka tak lagi peduli pada perdebatan birokrasi di dalam sana.
Satu per satu, tubuh-tubuh tua itu merebahkan diri di lorong-lorong sempit antartenda. Mereka menggelar tikar plastik tipis, menjadikan semen keras yang menyimpan sisa bahang siang sebagai “pembarakan”, dan menyangga kepala dengan tas paspor yang kusam.
Pemandangan
tubuh-tubuh berbalut kain putih ihram yang terkapar berserakan di atas semen
lorong malam itu bukan lagi sekadar potret kepiluan “wong cilik”. Itu
adalah lembar surat cinta yang paling getir—sebuah satire bisu namun tajam,
yang menampar telak wajah tata kelola pelayanan di tanah suci.
Kementerian Haji dan
Umrah memang merespons cepat setelah riak-riak kekecewaan ini merembet dan
viral hingga ke tanah air. Pihak syarikah akhirnya memindahkan jemaah asing
tersebut dan menata ulang tempat tidur.
Namun, hukum fisika
tak bisa dibohongi: volume ruang tidak bertambah besar. Kapasitas yang tidak
mencukupi memaksa kami menerima kenyataan dengan kelapangan dada yang
dipaksakan. Sebagian jemaah tetap harus bergantian tidur di lorong, berdamai
dengan ketidakpastian.
Belum lagi urusan MCK. Antrean ke kamar mandi menyerupai deretan orang mengantre beras bansos—panjang, melelahkan, dan menguji batas saraf kemanusiaan. Di titik ini, ibadah haji benar-benar menanggalkan baju kesombongan manusia hingga yang tersisa hanyalah insting untuk bertahan hidup.
Solusi Mina
Di tengah kemelut
Mina yang tak kunjung ketemu muaranya, sebuah kabar bertiup dari ruang-ruang
rapat ber-AC di Riyadh. Wakil Menteri Agama Dahnil Anzar Simanjuntak
menyampaikan wacana Kerajaan Arab Saudi yang mematok target lima juta jemaah
haji pada 2030. Caranya, dengan membangun gedung-gedung berlantai delapan di
lembah Mina.
Jika proyek itu
terwujud, Indonesia konon bisa mendapat tambahan kuota hingga dua kali lipat.
Antrean panjang 26 tahun di kampung halaman pun bisa dipangkas menjadi 10 tahun
saja.
Bagi orang-orang
desa yang bertaruh waktu menanti giliran berangkat, kabar ini tentu terdengar
manis. Namun bagi kami yang sedang berada di Al-Masy’ar—menyaksikan sendiri
bagaimana tanah suci ini dipadati manusia—rencana itu justru menyisakan
kecemasan yang nyata.
Bangunan bertingkat
mungkin bisa menyelesaikan urusan kasur di maktab. Namun, menumpuk beton
delapan lantai di atas tanah Mina jelas akan mengubah wajah tempat ini, yang
sejatinya adalah lembah perkemahan peninggalan para nabi.
Secara fiqih, para
ulama memang memperbolehkan bangunan bertingkat selama masih berdiri tegak
lurus di atas tanah sah Mina. Namun, persoalannya bukan cuma soal sah atau
batalnya mabit di lantai delapan. Isu utamanya adalah keselamatan jiwa (hifdz
an-nafs).
Dua juta jemaah hari
ini saja sudah membuat Terowongan Mu’aishim pengap dan lorong-lorong tenda
tersumbat. Membayangkan lima juta manusia tumpah bersamaan di kawasan Jamarat
adalah kecemasan yang beralasan. Tempat melontar jumrah—meski sudah dibangun
empat tingkat—tetap punya batas daya tampung.
Mengalirkan jutaan
pasang kaki dari gedung delapan lantai menuju pilar Jamarat yang sama adalah
pertaruhan nyawa yang amat berisiko. Prosesi melontar jumrah adalah gerakan massa
paling rawan terdesak dan panik, apalagi jika jutaan jemaah memaksakan diri melontar
pada waktu-waktu utama (afdhal).
Menambah kuota tanpa perhitungan matang soal daya tampung jalan hanya akan mempertaruhkan keselamatan jemaah atas nama efisiensi. Entahlah, biarlah para ahli yang menghitungnya. Bagi kami yang berjalan di bawah terik Mina, keselamatan jiwa jemaah jauh lebih utama daripada sekadar angka-angka di atas kertas.
Jalan Tawakal
Meski dihantam
serangkaian drama dan kekecewaan pada tata kelola manusia, ritual melontar
jumrah bagi Kloter 75 SOC tetap terlaksana sesuai jadwal yang ditetapkan
Kemenhaj dan syarikah. Kami bergerak dalam barisan yang teratur, menyusuri
terowongan dengan sisa-sisa tenaga yang terkumpul dari doa-doa malam.
Bagi jemaah lansia
dan kelompok risiko tinggi (resti), prosesi melontar jumrah dibadalkan secara
sah sesuai petunjuk fiqih rukhsah (kemudahan). Keindahan Islam justru
memancar dari fleksibilitas ini: ketika fisik tak lagi sanggup memikul beban
batu, niat dan kasih sayang sesama jemaah menggantikannya meluncurkan batu-batu
kecil ke arah tugu kegelapan.
Ketika semua
rangkaian di Mina tuntas bagi kami yang mengambil Nafar Tsani, dan
kepala-kepala kami telah dicukur gundul hingga mengilap, kami kembali ke hotel
di kawasan Misfalah (Sektor 9, Hotel 917).
Di sana, kepala yang ringan dan tubuh yang letih bersiap menyambut Rukun Agung berikutnya: Tawaf Ifadah. Kami memastikan tak ada satu pun anggota Kloter 75 yang tertinggal, termasuk mereka yang sepuh dan sakit, untuk menyelesaikan janji suci ini.