Lewati ke konten utama
Selasa, 15 September 2026 / 3 Rabiul Akhir 1448 H
Jadwal memuat...
Catatan Pengalaman Ibadah Haji 2026:  “Surat Cinta” dari Maktab 48
Foto penulis bersama para jemaah yang bertempat di lorong-lorong Maktab 48 saat mabit di Mina. Foto: Dok.Pribadi/Muhamad Saefullah
Opini

Catatan Pengalaman Ibadah Haji 2026: “Surat Cinta” dari Maktab 48

Catatan Pengalaman Ibadah Haji 2026: “Surat Cinta” dari Maktab 48

/ 3 Rabiul Akhir 1448 H 7 menit baca 65 dibaca
Muhamad Saefullah

Oleh: Muhamad Saefullah

Anggota Komisi Infokomdigi MUI

Admin Admin Editor: Admin

Jakarta, MUI Digital — Sebuah “surat cinta” tidak selalu ditulis di atas kertas wangi, apalagi dikirimkan lewat amplop berselotip merah jambu. Di Mina yang berdebu ini, surat cinta kami ditulis dengan keringat yang mengering di kain ihram, beralaskan semen keras di lorong-lorong Maktab 48, dan ditandatangani langsung oleh betis-betis tua jemaah yang bengkak setelah berjalan kaki puluhan kilometer.

Lalu siapakah penerimanya? Boleh jadi Kementerian Haji dan Umrah, pihak syarikah yang mahir berdiplomasi, atau siapa saja yang percaya bahwa kesabaran jemaah haji reguler adalah komoditas yang tak terbatas.

Urusan mabit di Mina ini sebetulnya adalah gelanggang olah batin yang melatih kezuhudan, tetapi bisa berubah menjadi petaka bagi fisik para lansia. Kami, jemaah reguler yang tergabung dalam Kloter 75 SOC, menapakkan kaki di tempat ujian ini dengan sisa-sisa tenaga.

Drama perjalanan pasca-Arafah—ketika kami melewati Muzdalifah dalam himpitan bus yang luar biasa padat—menjadi babak awal perjuangan kami. Di ruang bus yang sempit itu, jemaah berdiri saling menyangga tubuh yang kian melemah. Kisah ini terasa seperti skenario langit yang sengaja dihadirkan untuk menakar sedalam apa keikhlasan kami.

Sebagai jemaah reguler—orang-orang lugu yang berangkat bermodal niat bersih dan lembaran rupiah dari perasan keringat bertahun-tahun—kami ditempatkan di Zona 3, persisnya di Maktab 48. Lokasinya terselip di seberang mulut Terowongan Mu’aishim.

Di atas kertas peta, tempat ini mungkin tampak tenang dan menyendiri. Namun, bagi persendian para lansia, ini adalah ujian fisik yang merayap perlahan. Jarak menuju pilar Jamarat membentang sekitar empat kilometer.

Bagi kami yang mengambil Nafar Tsani, empat kali berjalan kaki bolak-balik melintasi dua terowongan panjang itu berarti menempuh jarak keseluruhan kurang lebih 32 kilometer. Sebuah perjalanan menyabung sisa tenaga yang jaraknya sama saja dengan berjalan kaki dari Ajibarang menuju Alun-Alun Purwokerto, lalu berjalan pulang kembali sampai di Cilongok.

Sementara di sana, di Zona 1 dan Zona 2 yang teduh dan dekat dari tempat melontar, para jemaah haji khusus (ONH Plus) menikmati privasi yang dibeli dengan rupiah berlipat. Di tanah suci yang katanya memusnahkan kasta, ternyata takdir kasur masih ditentukan oleh isi dompet.

Drama Mina

Drama yang sesungguhnya meletus sekitar pukul 23.00 waktu setempat, tatkala tubuh kami yang lunglai akhirnya menginjakkan kaki di Maktab 48. Dalam manifes resmi, kami dialokasikan untuk menempati tenda besar berkapasitas 360 jemaah, ditambah sekat tenda kecil berkapasitas 40 orang yang “dipinjam” dari sebelah.

Namun, begitu pintu kain tenda 40 orang itu dibuka, pemandangan ajaib tersaji: sekitar 30 perempuan berselimut pakaian serba hitam dan bercadar telah menguasai ruangan. Mereka menolak bergeser seinci pun, bertahan dengan bahasa yang asing di telinga kami. Lagipula, jika dihitung menggunakan standar nalar dan ukuran kasur busa yang digelar, tenda itu sebetulnya hanya layak dihuni 20 orang.

Setali tiga uang dengan tenda besar berkapasitas 360 jemaah. Setelah dihitung satu per satu oleh ketua kloter kami, faktanya hanya ada 300 lembar kasur yang terhampar. Lalu, ke mana 60 jemaah sisanya harus merebahkan punggung?

Debat kusir pecah tatkala malam di Mina kian menggelegak oleh udara gerah. Petugas PPIH dan Ketua Kloter 75 berdiri bersitegang menghadapi perwakilan syarikah. Pihak syarikah—yang lihai menganyam lidah dan berkulit tebal—terus berlindung di balik deretan angka di atas lembaran kertas. Sementara petugas kami bertaruh nyawa membela kenyataan di atas tanah: bahwa ada tenda yang diserobot dan puluhan kasur yang raib entah ke mana.

Dengan muka tanpa dosa, orang syarikah itu malah menuding bahwa jemaah kita telah berbuat serakah dengan menguasai dua kasur sekaligus hingga tenda tampak menyumpat. Tudingan yang melukai martabat itu seketika membuat dada bergolak panas.

“Ayo kita hitung bersama! Pakai mata dan tangan kita sendiri. Hitung berapa lembar kasur yang ada dan berapa kepala jemaah yang berdiri di sini!” tantang petugas PPIH, suaranya bergetar menahan gusar. Namun, ajakan menghitung secara telanjang itu menguap begitu saja. Hingga larut malam yang pengap, tak satu pun jalan keluar lahir dari mulut para pengelola.

Di luar tenda, malam tak lagi memberi harapan. Para lansia yang matanya telah redup dan persendiannya ringsek ditimpa keletihan, akhirnya memilih menyerah pada nasib. Mereka tak lagi peduli pada perdebatan birokrasi di dalam sana.

Satu per satu, tubuh-tubuh tua itu merebahkan diri di lorong-lorong sempit antartenda. Mereka menggelar tikar plastik tipis, menjadikan semen keras yang menyimpan sisa bahang siang sebagai “pembarakan”, dan menyangga kepala dengan tas paspor yang kusam.

Pemandangan tubuh-tubuh berbalut kain putih ihram yang terkapar berserakan di atas semen lorong malam itu bukan lagi sekadar potret kepiluan “wong cilik”. Itu adalah lembar surat cinta yang paling getir—sebuah satire bisu namun tajam, yang menampar telak wajah tata kelola pelayanan di tanah suci.

Kementerian Haji dan Umrah memang merespons cepat setelah riak-riak kekecewaan ini merembet dan viral hingga ke tanah air. Pihak syarikah akhirnya memindahkan jemaah asing tersebut dan menata ulang tempat tidur.

Namun, hukum fisika tak bisa dibohongi: volume ruang tidak bertambah besar. Kapasitas yang tidak mencukupi memaksa kami menerima kenyataan dengan kelapangan dada yang dipaksakan. Sebagian jemaah tetap harus bergantian tidur di lorong, berdamai dengan ketidakpastian.

Belum lagi urusan MCK. Antrean ke kamar mandi menyerupai deretan orang mengantre beras bansos—panjang, melelahkan, dan menguji batas saraf kemanusiaan. Di titik ini, ibadah haji benar-benar menanggalkan baju kesombongan manusia hingga yang tersisa hanyalah insting untuk bertahan hidup.

Solusi Mina

Di tengah kemelut Mina yang tak kunjung ketemu muaranya, sebuah kabar bertiup dari ruang-ruang rapat ber-AC di Riyadh. Wakil Menteri Agama Dahnil Anzar Simanjuntak menyampaikan wacana Kerajaan Arab Saudi yang mematok target lima juta jemaah haji pada 2030. Caranya, dengan membangun gedung-gedung berlantai delapan di lembah Mina.

Jika proyek itu terwujud, Indonesia konon bisa mendapat tambahan kuota hingga dua kali lipat. Antrean panjang 26 tahun di kampung halaman pun bisa dipangkas menjadi 10 tahun saja.

Bagi orang-orang desa yang bertaruh waktu menanti giliran berangkat, kabar ini tentu terdengar manis. Namun bagi kami yang sedang berada di Al-Masy’ar—menyaksikan sendiri bagaimana tanah suci ini dipadati manusia—rencana itu justru menyisakan kecemasan yang nyata.

Bangunan bertingkat mungkin bisa menyelesaikan urusan kasur di maktab. Namun, menumpuk beton delapan lantai di atas tanah Mina jelas akan mengubah wajah tempat ini, yang sejatinya adalah lembah perkemahan peninggalan para nabi.

Secara fiqih, para ulama memang memperbolehkan bangunan bertingkat selama masih berdiri tegak lurus di atas tanah sah Mina. Namun, persoalannya bukan cuma soal sah atau batalnya mabit di lantai delapan. Isu utamanya adalah keselamatan jiwa (hifdz an-nafs).

Dua juta jemaah hari ini saja sudah membuat Terowongan Mu’aishim pengap dan lorong-lorong tenda tersumbat. Membayangkan lima juta manusia tumpah bersamaan di kawasan Jamarat adalah kecemasan yang beralasan. Tempat melontar jumrah—meski sudah dibangun empat tingkat—tetap punya batas daya tampung.

Mengalirkan jutaan pasang kaki dari gedung delapan lantai menuju pilar Jamarat yang sama adalah pertaruhan nyawa yang amat berisiko. Prosesi melontar jumrah adalah gerakan massa paling rawan terdesak dan panik, apalagi jika jutaan jemaah memaksakan diri melontar pada waktu-waktu utama (afdhal).

Menambah kuota tanpa perhitungan matang soal daya tampung jalan hanya akan mempertaruhkan keselamatan jemaah atas nama efisiensi. Entahlah, biarlah para ahli yang menghitungnya. Bagi kami yang berjalan di bawah terik Mina, keselamatan jiwa jemaah jauh lebih utama daripada sekadar angka-angka di atas kertas.

Jalan Tawakal

Meski dihantam serangkaian drama dan kekecewaan pada tata kelola manusia, ritual melontar jumrah bagi Kloter 75 SOC tetap terlaksana sesuai jadwal yang ditetapkan Kemenhaj dan syarikah. Kami bergerak dalam barisan yang teratur, menyusuri terowongan dengan sisa-sisa tenaga yang terkumpul dari doa-doa malam.

Bagi jemaah lansia dan kelompok risiko tinggi (resti), prosesi melontar jumrah dibadalkan secara sah sesuai petunjuk fiqih rukhsah (kemudahan). Keindahan Islam justru memancar dari fleksibilitas ini: ketika fisik tak lagi sanggup memikul beban batu, niat dan kasih sayang sesama jemaah menggantikannya meluncurkan batu-batu kecil ke arah tugu kegelapan.

Ketika semua rangkaian di Mina tuntas bagi kami yang mengambil Nafar Tsani, dan kepala-kepala kami telah dicukur gundul hingga mengilap, kami kembali ke hotel di kawasan Misfalah (Sektor 9, Hotel 917).

Di sana, kepala yang ringan dan tubuh yang letih bersiap menyambut Rukun Agung berikutnya: Tawaf Ifadah. Kami memastikan tak ada satu pun anggota Kloter 75 yang tertinggal, termasuk mereka yang sepuh dan sakit, untuk menyelesaikan janji suci ini.

Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.
slot gacorhttps://kencang77-on.com/https://kencang77.net/
BAGIKAN: