Lewati ke konten utama
Senin, 24 Agustus 2026 / 11 Rabiul Awal 1448 H
Jadwal memuat...
Opini

Catatan Pengalaman Ibadah Haji 2026: Kalah “Hoki” di Tanah Suci

8 menit baca 133 dibaca
Muhamad Saefullah

Oleh: Muhamad Saefullah

Anggota Komisi Infokomdigi MUI

Diunggah: Admin Admin Editor: Admin
Catatan Pengalaman Ibadah Haji 2026: Kalah “Hoki” di Tanah Suci
Penulis bersama rombongan jemaah haji Kloter 75 SOC, yang bernaung di Sektor 9 kawasan Misfalah nomor hotel 217, di Hotel Diamond. Foto: Dok. Pribadi/Muhamad Saefullah
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital — Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak, mengabarkan lewat media-media daring dengan nada penuh syukur dan kebanggaan: sebanyak 17.000 jemaah haji reguler Indonesia tahun 2026  menginap di hotel bintang empat dan bintang lima Madinah, yang jaraknya hanya beberapa langkah—tak sampai 50 meter—dari pelataran Masjid Nabawi. Kabar gembira yang sekilas terasa manis dan patut dirayakan dengan syukuran tumpeng beras rojo lele, lengkap dengan urap daun katuk, rempeyek rebon, serta hangatnya tempe mendoan.

Namun, kebahagiaan yang berbinar di layar gawai itu perlahan luruh dan mengendap di dasar dada tatkala seorang kerabat yang tekun berhitung berbisik lirih, “Kang, 17.000 dari 221.000 jemaah itu cuma 7,9 persen.”

Maka genaplah pemahaman kami. Ada 92,1 persen jemaah sisanya—termasuk Mbah Datoem, Mbah Sanwikarta Tarsim, Mbah Sariyem dan orang-orang sepuh lain di kloter kami yang sendi-sendi lututnya rada kering dan gemeretak tiap kali ditekuk dalam sujud—harus menerima suratan takdir:  ditaruh di Zona 4 yang jaraknya lebih dari setengah kilometer. Sebuah undian nasib yang memperlihatkan bahwa di tanah para nabi sekalipun, peruntungan garis tangan soal bilik tidur tetap berlaku.

Sejak masih di kampung halaman, saya merasakan adanya garis nasib yang tak selalu “menguntungkan”. Ketika di Makkah, saya termasuk jemaah dalam Kloter 75 SOC, yang bernaung di Sektor 9 kawasan Misfalah nomor hotel 217, di Hotel Diamond.

Bangunan hotel itu, menjulang tujuh lantai dengan pelataran atap (rooftop) di puncaknya yang dipenuhi tali-tali jemuran dan cucian pakaian jemaah. Entah berapa ratus jiwa yang sanggup ditampung di hotel itu. Yang pasti, ada dua kelompok terbang yang menempati: Kloter 74 dan Kloter 75. Satu kamar paling sedikit dihuni enam orang, bahkan tak jarang harus muat dipaksakan hingga delapan orang.

Di lantai dasar, bagian depannya difungsikan sebagai lobi yang tak seberapa luas, sementara bagian belakangnya disulap menjadi ruang shalat—tempat kami menumpahkan sujud berjamaah tatkala raga terlalu lelah untuk bergegas ke Masjidil Haram.

Dua unit lift kecil berkapasitas empat orang menjadi tumpuan utama. Jika dipaksakan padat berjejal bak penumpang angkutan pedesaan, mesin besi itu akan ngambek dan enggan bergerak, memaksa sebagian orang berkecil hati untuk melangkah keluar. Pada jam-jam sibuk, kami harus memupuk kesabaran ekstra, berdiri mengular demi menanti giliran naik.

Jarak dari kawasan Misfalah menuju pelataran Masjidil Haram berkisar 2,2 kilometer. Sesekali bisa saja ditempuh dengan mengayunkan kaki, namun sebagian besar dari kami lebih memilih menumpang Bus Shalawat nomor 20 yang setia beroperasi 24 jam mengantar-jemput jemaah.

Di saat kami mendengar berita bahwa hotel-hotel di sektor lain kerap disambangi para pejabat kementerian hingga anggota dewan yang terhormat, di tempat kami menumpang tidur ini, jangankan pejabat, petugas PPIH saja teramat langka menampakkan diri. Mereka hanya hadir sewaktu membagikan kunci kamar, saat sosialisasi dari pihak sektor, menjelang Armuzna, serta ketika kami hendak bergeser ke Madinah. Sisa hari-hari selebihnya, mereka nyaris tak pernah terlihat. Adapun yang selalu bersiap di tempat hanyalah petugas transportasi—orang-orang asal Indonesia yang telah lama bermukim dan mencari nafkah di Tanah Arab.

Baca juga: Pergi Haji

Sementara di Madinah, nama kami terpampang di Hotel Diyar Al Nakheel, Sektor 4. Bangunannya terbilang lumayan besar, dengan deretan lift berkapasitas lapang. Belakangan kami tahu, bangunan di Madinah itu berdiri di Zona 4, setengah kilometer lebih jauh dari halaman Masjid Nabawi. Yang paling jauh dibandingkan dengan permukiman jemaah lainnya. “Ora opo-opo”, bisik batin kami. Kaki-kaki orang desa yang biasa merambah pematang sawah dan tanah berlumpur tentu tak akan menyerah hanya karena jarak yang membakar.

Sebenarnya saat di Tanah Air, para petugas telah memeras keringat menyusun rincian nama. Lansia disandingkan dengan pendampingnya, mahram diletakkan berdekatan, dan lantai kamar disesuaikan dengan sisa-sisa tenaga yang ada. Sungguh niat yang luhur. Namun, begitu tubuh-tubuh lunglai kami mendarat setelah penerbangan 12 jam yang melelahkan, kepanasan dan linglung karena jet lag, aturan tertulis itu menguap begitu saja.

Di depan meja resepsionis, lembaran rancangan itu tak lebih berharga daripada bungkus kacang yang lusuh. Pendamping terlempar jauh dari orang tuanya, bilik yang terdaftar sudah dihuni orang lain, bahkan ada kamar yang mendadak diisi jemaah dari kloter lain.

Ketua Rombongan 9, Ustadz Ahmad Riyadi, hanya mampu mengelus dada dan memegang dahi yang makin menghangat.

“Ini sebetulnya catatan kamar buat apa, Pak?,” tanyanya ragu, di antara rasa masygul dan kepasrahan.

Petugas di sana hanya menyunggingkan senyum tawar, lalu mengucapkan kalimat yang terasa asing namun memutus harapan, “Sistem yang mengubahnya, Kiai.”

Ah, “sistem”—sebuah nama tanpa wujud yang senantiasa dijadikan kambing hitam tatkala keteraturan terlepas dari genggaman. Karena sosok gaib itu tak memiliki telinga untuk mendengar keluh kesah, masalah akhirnya dikembalikan pada kebiasaan khas masyarakat Indonesia: musyawarah.

Ketua Kloter, para Karom, dan para Karu duduk melingkar di kursi lobi. Puluhan jemaah yang kelopak matanya sudah amat berat terpaksa mengapung dalam kepastian yang samar. Keputusannya bersahaja: masuklah ke kamar dulu untuk melepas lelah, sebab ibadah umrah wajib sudah menunggu di ambang pintu. Perkara bongkar pasang penghuni kamar bisa dibicarakan esok lusa.

Maka terciptalah pemandangan yang mengiba: Kamar Karom 9 Ustadz Ahmad Riyadi di lantai 7 menjadi penampungan sementara jemaah yang kamarnya belum tertata. Ada sekitar 10 jemaah di kamar yang tidak terlalu luas itu, berhimpitan seperti ikan asin yang ditata rapat dalam besek bambu.

Uniknya, takdir yang sama terulang kembali sewaktu kami menjejakkan kaki di Madinah. Kamar yang kunci besinya sudah di tangan ternyata telah ditempati rombongan lain. Padahal bagi kami, berkumpul dalam satu lorong bukan demi kenyamanan raga, melainkan demi saling menjaga: memastikan Mbah Sanwikarta Tarsim, Mbah Sariyem sudah menerima suapan nasinya, mengecek denyut darah Mbah Datoem, atau sekadar memastikan tak ada orang tua yang tersesat di lorong-lorong sunyi.

Baca juga: Catatan Pengalaman Ibadah Haji 2026: Haji, Lansia, dan Egoisme Ibadah

Kisah kekacauan akomodasi ini rasanya terus berulang saban musim haji, bagai celah lama yang tak pernah ditambal. Ada yang harus dibenahi secara mendalam oleh para pengelola di Kementerian Agama dan Kementerian Haji.

Mengayomi ratusan ribu jiwa memang bukan perkara mudah seperti menghalau ternak ke padang rumput, tetapi menyerahkan nasib istirahat para sesepuh pada sistem yang kerap macet jelas membutuhkan perenungan yang bening.

Walaupun begitu keadaannya, orang desa punya penawar duka yang sederhana: “Angger dilakoni bareng, rasane dadi enteng.” (Jika dijalani bersama, rasanya jadi ringan).

Kami memilih menerima apa yang terhampar di depan mata dengan dada lapang. Kami memang bukan bagian dari 7,9 persen orang-orang pilihan yang menempati kamar bintang lima, yang hanya butuh beberapa langkah untuk menyentuh ubin pelataran Nabawi. Kami harus mengayunkan kaki setengah kilometer, melintasi sengatan terik Madinah yang memanggang kulit sampai gersang.

Namun di sanalah letak rahasia alam yang tersembunyi. Bukankah Sang Nabi SAW pernah bersabda bahwa setiap ayunan langkah menuju rumah Allah adalah penghapus noda dosa dan pengangkat derajat raga? Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ لِيَقْضِيَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ كَانَتْ خُطُوَاتُهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً وَالأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً

“Barang siapa bersuci di rumahnya lalu berjalan menuju salah satu rumah Allah (masjid) untuk menunaikan salah satu kewajiban yang Allah wajibkan, maka langkah-langkah kakinya: salah satunya menghapus kesalahan (dosa) dan langkah yang lainnya meninggikan derajat.” (HR Muslim)

Jikalau jemaah di hotel bintang lima hanya memanen lima puluh langkah sekali jalan, kami yang terdampar di Zona 4 ini menabur beribu-ribu langkah setiap harinya. Keringat yang menetes dan meleleh di atas aspal Madinah yang membara adalah saksi bisu betapa mahalnya harga sebuah kerinduan hamba pada Sang Nabi.

Lagi pula, jalan setapak yang kami tempuh dari Hotel Diyar Al Nakheel menuju Pintu 310 Nabawi adalah jalur napak tilas yang sarat kenangan masa lalu. Setiap hari kaki kami melintasi Masjid Ghamamah—tempat Rasulullah SAW memimpin shalat Istisqa meminta rintik hujan dan mendirikan shalat Id.

Baca juga: Catatan Pengalaman Ibadah Haji 2026: Antara “MBG” ala Makkah, Rindu Sambal Terasi, dan Keikhlasan

Tak jauh dari sana, berdiri anggun Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Masjid Ali bin Abi Thalib yang tenang. Sedikit berpaling ke samping, tampak Masjid Al-Ijabah, tempat doa-doa panjang Sang Nabi dikabulkan oleh Yang Mahakuasa.

Sebetulnya ada desakan halus dalam dada untuk singgah dan menyungkurkan dahi di masjid-masjid bersejarah itu. Namun, niat itu kami tahan demi mengejar target menuntaskan Arbain—shalat 40 waktu tanpa terputus—di Masjid Nabawi. Walau pada akhirnya, hajat Arbain itu meleset dan tak terpenuhi karena rombongan kami sudah harus berkemas dan dipanggil pulang ke tanah air.

Jadilah setiap kali melintas, kami hanya bisa menatap ke dalam, melangkah masuk sejenak, menghirup keheningan ruangannya, lalu membasahi bibir dengan shalawat dan doa untuk Nabi SAW.

Sambil terus melangkah menuju Nabawi, rasa ngilu di sendi-sendi lutut mendadak luruh. Kami terbayang bagaimana para sahabat dahulu berjalan di atas tanah debu yang sama, memikul beban perjuangan yang jauh lebih berat ketimbang sekadar urusan kamar hotel yang tertukar.

Jalaluddin Rumi pernah berbisik dalam perenungannya yang dalam: “Jangan dukacita. Apa pun yang hilang darimu akan kembali dalam wujud yang lain.”

Mungkin kami kehilangan keempukan kasur bintang lima atau jarak dekat yang memanjakan raga. Namun, Tuhan menggantinya dengan deretan langkah yang memperpanjang dzikir, pemandangan tempat-tempat suci yang menyegarkan jiwa, serta jalinan kesabaran yang merekatkan rasa persaudaraan di dalam bilik yang sesak.

Pada akhirnya, haji bukanlah tentang di mana tubuhmu dibaringkan sewaktu malam tiba, melainkan di mana hati disandarkan saat menghadap Sang Pencipta. Hotel bintang lima atau kamar kelas asrama hanyalah kulit luar yang bakal lapuk; isi sebenarnya adalah ketundukan jiwa yang belajar merobohkan keangkuhan ego di tanah para nabi.

Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.