Catatan Pengalaman Ibadah Haji 2026: Haji, Lansia, dan Egoisme Ibadah
Oleh: Muhamad Saefullah
Anggota Komisi Infokomdigi MUI
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Di gedung DPR yang dingin dan berkarpet tebal itu, tepatnya pada Senin, 6 Juli 2026, saat Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) di Komisi VIII DPR, Ketua DPW FK KBIHU Jawa Barat, Syatori, melempar ucapan yang jujur tetapi rasanya hambar. “Jemaah haji lansia itu ibadahnya repot dan merepotkan sesama jemaah,” katanya. Tak karuan, Bung Matindas Janusanti Rumambi dari Komisi VIII segera menyela, meminta agar kalimat kasar itu dicabut.
Memang tanah Arab
bukanlah ruang rapat yang adem dan
nyaman. Di tanah gersang tempat matahari menyengat tanpa ampun, kenyataan
senantiasa bertelanjang dada. Sebagai jemaah reguler asal Banyumas yang
mendaftar sejak akhir 2012 dan telaten menabung belasan tahun demi memenuhi
panggilan surat Al-Hajj ayat 27, saya
menyaksikan dan mengalami sendiri: ucapan Syatori bukanlah bualan. Itu
adalah fakta! Cuma mungkin diksi tersebut harus diakui kurang tepat. Tutur yang
lebih santun mungkin begini: “Haji lansia
butuh perhatian dan kebijakan khusus.”
Pelayanan terhadap jemaah sepuh tak akan pernah cukup bila hanya mengandalkan petugas haji (PPIH). Memang ada petugas Landis (lansia dan disabilitas) yang berseragam gagah, namun mereka mustahil bisa “ngerumat” jemaah day-to-day. Mereka tak mungkin sempat mengawasi makan harian, memandikan dan menuntun jemaah saban jam. Pada akhirnya, urusan kemanusiaan yang karib itu kembali pulang ke pundak sesama jemaah, wabil khusus kawan sekamar yang saban hari menyaksikan kerentaan itu dari dekat.
Baca juga: Pergi Haji
Egoisme Ibadah
Tuhan rupanya punya
cara sendiri untuk menguji ambisi saya. Sebelum berangkat, saya dan istri sudah menyusun
daftar egois di dalam kepala: ingin berlama-lama i’tikaf, shalat Tahajud, shalat
Taubat, shalat Hajat dan lain sebagainya sambil berbisik mesra di Multazam,
memburu Hijir Ismail, dan melahap pahala sunnah sebanyak-banyaknya.
Namun di Makkah,
takdir menunjuk kami untuk “ngerumat” Mbah Mohammad Datoem—seorang
pensiunan polisi berusia 84 tahun dari Desa Ciberung, Ajibarang—bersama
istrinya, Mbah Dakinah, di atas kursi roda.
Seperti saya, Mbah
Datoem masuk dalam Rombongan 9, Kloter 75 SOC. Tubuhnya kurus bagai ranting
kayu jati di musim kemarau. Di tanah air, beliau dinyatakan lulus “istitha’ah”,
yakni dianggap mampu menunaikan ibadah haji. Namun, berangkat tanpa pendamping
keluarga membuat ketua rombongan membagi tugas. Kami dipasrahi untuk menjaga
pasangan yang sudah sepuh ini.
Skenario ibadah syahdu
yang sudah saya susun rapi langsung berantakan di hari-hari pertama. Ketika
kami yang sehat usai menuntaskan umrah wajib di Misfalah, Mbah Datoem yang didawuhi
menunggu di hotel ternyata sudah santai pakai katok (celana pendek)
biasa dan melepas kain ihramnya. Beliau lupa
letak kamar mandi yang pas di sampingnya, lalu buang air kecil di
lantai kamar, dan lupa menyiram kotorannya sendiri.
Di situlah benturan batin pertama terjadi. Bau harum minyak attar yang saya harapkan di pelataran Ka’bah berganti dengan bau pesing di karpet kamar. Demi membenahi ihramnya yang batal, saya harus merelakan waktu i’tikaf demi membawanya miqat ulang ke Masjid Aisyah di Tan’im. Saya dorong kursi rodanya, memandu langkahnya yang gontai, di antara ribuan manusia.
Baca juga: Magnet Baitullah dan Panggilan Haji
Hilang
Belum selesai lelah di
Tan’im, Mbah Datoem mendadak hilang saat pulang menumpang Bus Shalawat nomor 20
dari Haram. Kami yang ketiduran jadi panik luar biasa, karena beliau melangkah
turun sendirian di shelter bus 918, padahal penginapan kami di shelter 917.
Tiga jam lamanya impian berdoa tenang di Masjidil Haram berganti dengan langkah
tersengal-sengal menyusuri jalan-jalan Misfalah, mencari seorang tua yang
akhirnya ditemukan oleh petugas haji berdiri “teler-teler” alias bingung
di tepi jalan.
Puncak perbenturan
egoisme ibadah terjadi saat wukuf di Arafah. Di saat jemaah lain menangis
syahdu memanjatkan doa terbaik di dalam tenda yang sumuk, Mbah Datoem
mendadak lari keluar sambil berteriak ketakutan, mengaku hendak dicekik orang.
Doa-doa khusyuk yang sudah saya catat
rapi serta-merta buyar. Saya harus berlari membujuk jiwa tua yang sedang merana
itu di bawah terik pasir Makkah.
Di Mina, egoisme saya kembali diuji. Pas jemaah lain
berbondong-bondong hendak melaksanakan wajib haji melontar jumrah, Mbah Datoem
malah uring-uringan dan nekat hendak menerobos pintu maktab.
Demi menjaga raga yang
sepuh itu, saya merelakan
ambisi pribadi gugur, mengikhlaskan lemparan jumrah dititipkan pada orang lain.
Malam itu saya berhasil
menahannya. Namun, tenaga manusia selalu ada batasnya.
Bakda Subuh, saat saya ketiduran karena lelah
yang amat sangat, Mbah Datoem diam-diam menyelinap pergi. Keinginan kaburnya
semalam sukses ia tebus. Menjelang siang harinya, barulah petugas haji
menemukannya tersesat di maktab orang lain, jauh sekali dari Maktab 48 tempat
kami bernaung. Kejadian-kejadian itu membuat jadwal ibadah idealis yang saya
bawa dari tanah air semuanya sirna.
Dedikasi para petugas kloter pun diuji di titik ini. Ketua Kloter, Ahmad
Tantowi, dr. Putri Restu Wulandari, perawat Siti Robi’ah, pembimbing ibadah
Ahmad Sholeh serta Karom Ahmad Riyadi sadar betul akan amanah yang mengikat
mereka. Saban hari mereka turut menyisihkan waktu dan perhatian ekstra demi
mengontrol kesehatan Mbah Datoem. Empat kali beliau raib di Makkah menjadi
alasan kuat bagi kami dan petugas untuk mengajukan tanazul, memintakan
izin pemulangan lebih awal usai rangkaian ibadah haji.
Namun, suratan di kementerian berkata lain; usulan itu bergeming. Mbah
Datoem pun bertahan menjalani takdir hajinya selama 41 hari penuh. Ulahnya yang
tak biasa itu melambungkan namanya; seluruh jemaah Kloter 75 tahu persis
kisahnya, menjelmakan raga renta itu sebagai ikon tak resmi di kelompok terbang
kami. Sungguh sebuah teka-teki, sebab begitu rombongan tiba di Madinah yang
teduh, tak ada lagi tingkah ajaib yang keluar dari raga sepuh itu.
Di Madinah, kota tempat Rasulullah dimakamkan, saya tetap telaten “ngerumat”
Mbah Datoem, memperhatikan makan dan membawakan air Zamzam yang saya ambil dari
Masjid Nabawi saban usai shalat berjamaah.
Di kota yang diliputi kehangatan Nabi ini, kami sejatinya memendam rindu
besar untuk mengejar shalat Arbain. Namun, setelah 14 tahun menabung, impian
bersahaja itu kandas karena masa tinggal di Madinah dibatasi ketat hanya
delapan hari.
Dalam batin saya, timbul tanya yang getir tatkala mengenang banyaknya waktu
luang yang terbuang usai hajian di Makkah. Usut punya usut, Kementerian Haji
dan Umrah memangkas waktu demi alasan efisiensi sewa hotel harian di Madinah,
bahkan berwacana memangkas total masa tinggal haji menjadi 30 hari.
Boleh saja birokrasi berhitung angka dan anggaran, tapi tolonglah, di Kota Nabi yang mulia ini, jangan pernah “menjegal” rindu Arbain para musafir yang sudah menunggu belasan tahun dengan sabar.
Baca juga: Bagaimana Tanda-Tanda Haji Mabrur? Begini Penjelasan Ulama
Fiqih Kasih Sayang
Dari 1.300-an jemaah
Banyumas di Kloter 72–76, ada sekitar 30% lansia. Secara nasional, puluhan ribu
lansia butuh perhatian khusus. Fenomena ini menunjukkan bahwa jargon “Haji
Ramah Lansia” tak boleh berhenti sebatas slogan di atas kertas. Negara tak
boleh membiarkan awak-awak tua itu hanya mengandalkan belas kasihan jemaah
lain. Mereka membutuhkan porsi pendamping keluarga dan menu makanan yang ramah
bagi fisik mereka.
Namun di luar urusan
birokrasi, Allah rupanya sedang menyindir kepekaan spiritual saya lewat Mbah
Datoem. Saya berangkat ke Tanah Suci membawa ambisi egois: ingin memaksimalkan
ibadah dan mengejar pahala sunnah. Namun lewat Mbah Datoem, Tuhan seolah
memanggil dan berkata:
“Wahai hamba-Ku yang merasa suci, untuk apa
engkau mengetuk-ngetuk pintu langit di depan Ka’bah jika matamu buta pada
rintihan teman kamarmu? Kasih sayang-Ku tidak hanya bersemayam di Multazam,
tetapi hadir pada jemarimu yang sudi membasuh bekas kencing dan menuntun
langkah renta yang tersesat di jalanan Makkah.”
Jalaluddin Rumi benar
ketika menulis bahwa keagungan Ilahi sering kali tersimpan dalam kepasrahan
makhluk-Nya yang paling lemah. Haji
ternyata bukan cuma soal mengetuk pintu langit di depan Ka’bah dengan egoisme
pahala pribadi, melainkan juga tentang bagaimana
kita meruntuhkan ego itu demi menuntun kaki sesama yang gemetar di atas
bumi.
Di balik cucian baju, tumpahan kencing, dan langkah tersesat Mbah Datoem,
saya akhirnya paham,
bahwa di sanalah tempat menemukan haji yang sejati.
Terima kasih, Mbah Kaji Datoem. Semoga panjenengan, saya, dan kita semua jemaah haji 2026 dianugerahi predikat haji mabrur. Amin.