Lewati ke konten utama
Sabtu, 26 September 2026 / 14 Rabiul Akhir 1448 H
Jadwal memuat...
Catatan Pengalaman Haji 2026: Batu, Toilet, dan Tuhan
Suasana Jamarat yang mulai lengang pada tanggal 13 Dzulhijjah, terasa lega bagi jemaah haji yang mengambil nafar tsani. Foto: Dok. Pribadi/Muhamad Saefullah
Opini

Catatan Pengalaman Haji 2026: Batu, Toilet, dan Tuhan

Catatan Pengalaman Haji 2026: Batu, Toilet, dan Tuhan

/ 14 Rabiul Akhir 1448 H 9 menit baca 1.522 dibaca
Muhamad Saefullah

Oleh: Muhamad Saefullah

Anggota Komisi Infokomdigi MUI

Admin Admin Editor: Admin

Jakarta, MUI Digital — Ada kalanya pengalaman beribadah kepada Tuhan justru mengajarkan kita melalui hal-hal yang paling sederhana: sebutir batu yang dilempar ke jumrah, sebuah toilet yang mendadak lengang, dan hati manusia yang perlahan belajar lapang. Batu ada di tangan. Toilet ada di depan mata. Dan Tuhan semestinya tetap ada di dalam dada.

Hari ke-13 Dzulhijjah 2026, bagi jemaah Kloter 75 SOC, Mina mendadak terasa seperti surga kecil. Bukan karena tiba-tiba muncul sungai susu dan madu, melainkan karena lorong-lorong tenda yang sehari sebelumnya sesak mulai melonggar.

Sehari sebelumnya, ketika gelombang nafar awal pamit undur diri, Mina seperti melipat ribuan kecemasannya. Tenda yang tadinya mirip pepesan tongkol—berjejal, saling himpit, sampai napas tetangga terasa dekat di telinga—kini mulai menyisakan ruang.

Antrean kamar mandi yang biasanya menguji iman melampaui batas kemampuan syariat mendadak menjadi lebih manusiawi. Tak ada lagi ketukan pintu toilet yang ritmis dan panik, mirip ketukan penagih utang.

“Alhamdulillah, Kang. Sekarang kalau mau buang air kecil tidak perlu pakai jurus silat,” celetuk Jafaruddin, tetangga satu RT saya dari Ajibarang yang sehari-hari bertani, sambil menyampirkan handuk di pundaknya. Wajahnya semringah.

Barangkali, di tanah suci, definisi kebahagiaan memang kadang harus diturunkan ke ukuran yang sangat sederhana. Bisa buang air kecil dengan tenang saja sudah terasa seperti karunia besar.

Kami memilih nafar tsani. Menyelesaikan lontar jumrah hingga hari ketiga Tasyrik dan menggenapkan 70 batu. Tubuh memang terasa rontok. Lima hari dihajar terik Armuzna—Arafah yang puitis, Muzdalifah yang hanya dilintasi, dan Mina yang penuh dinamika syarikah—membuat sendi-sendi serasa hendak mengajukan surat pengunduran diri. Namun, di balik tulang yang linu, ada sebentuk keheningan yang mahal. Nafar tsani terasa lebih marem. Ada rasa tuntas karena seluruh rangkaian lempar jumrah dapat diselesaikan hingga hari terakhir.

Perjalanan menuju kawasan Jamarat hari itu pun terasa teramat lengang. Tak ada aksi berdesakan. Kami berjalan santai seperti warga desa yang sedang jalan sehat pada Minggu pagi. Batu-batu kecil melayang menuju tempat lontar, diiringi doa yang tak lagi tergesa-gesa. Ada rasa tenang yang sulit dijelaskan: ketika ketegangan manusia mulai surut, ibadah seperti menemukan kembali degup jantungnya.

Terkadang, mungkin memang begitulah cara Tuhan mendidik manusia. Ia tidak selalu memberi nasihat panjang. Kadang cukup dengan mengurangi sedikit kerumunan agar kita bisa mendengar suara hati sendiri. Yang jelas, Tuhan selalu membersamai kita.

Rindu Misfalah

Usai lemparan terakhir tuntas, jadwal kami adalah kembali ke Misfalah. Saat itu, proses kepulangan menuju Hotel Diamond, kamar nomor 917, berjalan mulus. Di bawah komando Ketua Kloter H Ahmad Tantowi dan para Karom yang sigapnya melebihi petugas lapangan, kami dinaikkan ke bus secara tertib.

Kami mengapresiasi gaya naik bus kali ini yang sungguh humanis dan beradab. Tidak ada insiden serobot pintu seperti bus kota era 1980-an di Terminal Purwokerto.

Sepanjang jalan sekelebat pertanyaan bermunculan: Mungkinkah manajemen transportasi syarikah sedang berbenah secara revolusioner? Ataukah ini sekadar efek wajar karena separuh populasi jemaah sudah hengkang dari Mina?

Tapi, biarlah Malaikat Raqib dan Atid yang mencatatnya. Yang penting, kami bisa duduk manis tanpa perlu menyikut rusuk orang sebelah.

Misfalah memang ajaib sekaligus bikin rindu. Baru ditinggal lima hari, rasanya sudah dilanda kangen yang menderu. Entah bagaimana nanti kalau kami sudah kembali ke tanah air. Kangen pada ritualitas hariannya: menunggu pintu kamar diketuk Karu yang mengantar jatah “MBG” ala Makkah (jatah konsumsi), keriuhan pasar kaget, rooftop lantai tujuh tempat melepas penat, hingga Bus Selawat Nomor 21 yang setia mengantar ke Masjidil Haram. Tak ketinggalan obrolan gayeng bersama Mbah Datoem di Kamar 607 dan kebiasaan beliau nderes (membaca Alquran)  mengisi kebosanan.

Saking menikmatinya, kami sampai lupa ini hari ke berapa sejak pertama mendarat di Tanah Suci. Namun tentu saja, kami datang bukan untuk wisata nostalgia. Tugas mahapenting sudah melambaikan tangan dari balik pintu hotel: Tawaf Ifadhah, salah satu rukun haji yang menjadi bagian penting dari penyempurnaan ibadah. Di sinilah konsolidasi organisasi kembali dimulai.

H Sholeh, pembimbing ibadah kami yang sabarnya bagai telaga tanpa dasar, sibuk memetakan rombongan. Jemaah lansia dan kelompok berisiko tinggi ditata sedemikian rupa. Jemaah yang sehat dibimbing para mutawif untuk tawaf lebih dahulu. Setelah itu, giliran jemaah lansia dan kelompok risiko tinggi dengan pendamping masing-masing.

Ketua Rombongan 9, Ahmad Ryadi, dengan cekatan membagi tugas pendampingan. Saya mendapat amanah “mengawal” Mbah Datoem yang langkahnya mulai terlihat lelah. Sementara istri saya menggandeng erat jemari Mbah Sariyem, pedagang sayur kawakan dari Pasar Ajibarang. Di sela-sela persiapan itu, Mbah Sariyem mendadak menghentikan langkah. Wajah sepuhnya dibayangi kecemasan.

“Pak Haji Sholeh, kalau nanti di sana berdesakan lalu bersentuhan kulit dengan laki-laki, wudhuku batal tidak, ya?,” tanyanya polos.

Bagi Mbah Sariyem, batal wudhu di tengah lautan manusia adalah bencana lokal tingkat tinggi. Artinya, harus mencari tempat wudhu lagi yang jauhnya barangkali seperti berjalan dari satu desa ke desa sebelah.

Saya dan H Sholeh yang berdiri bersebelahan langsung saling melempar senyum. Di sinilah fiqih menunjukkan wajahnya yang menenangkan. H Sholeh menatap Mbah Sariyem dengan tenang.

“Mbah,” ujarnya lembut, “Dalam mazhab Syafi’i yang biasa kita gunakan sehari-hari, bersentuhan kulit dengan lawan jenis memang memiliki konsekuensi terhadap wudhu. Tetapi dalam kondisi tertentu, terutama ketika jemaah berada dalam kerumunan yang sangat padat, ada pendapat ulama yang memberikan kelonggaran dengan mengikuti pendapat dalam mazhab Hanafi atau Maliki.”

H Sholeh berhenti sejenak. Lalu melanjutkan penjelasannya, “Yang penting, niatnya murni ibadah. Bukan mau berkenalan.” 

Saya menahan tawa. H Sholeh pun ikut terkekeh. Mbah Sariyem tersenyum. Dadanya yang semula tegang mendadak lega.

Di lapangan haji, fiqih bukan sekadar perdebatan tentang siapa yang paling benar. Ia juga harus mampu menghadirkan ketenangan kepada manusia yang sedang beribadah dalam kondisi serba terbatas. Fiqih yang baik semestinya membantu manusia mendekat kepada Tuhan, bukan membuat orang panik sebelum sempat mengetuk pintu-Nya.

Poros Jiwa

Malam jatuh ketika kami memasuki pelataran Masjidil Haram. Bau minyak wangi oud bercampur peluh jutaan hamba membubung ke udara. Lantai marmer putih yang dingin menyambut telapak kaki kami yang sudah kapalan. Setelah menyelesaikan tawaf untuk diri sendiri, tugas kemanusiaan berikutnya menanti.

Saya dan istri bergegas menuju lantai dua Masjidil Haram, jalur yang memungkinkan jemaah pengguna kursi roda menjalankan tawaf dengan lebih leluasa. Di sanalah kami mengambil alih kemudi. Saya mendorong kursi roda Mbah Datoem. Istri saya mengawal dan mendorong kursi roda Mbah Sariyem.

Maka dimulailah lintasan putaran sepanjang kurang lebih dua kilometer itu. Di atas keramik lantai dua yang dingin, kami menjelma menjadi satu rantai kemanusiaan yang mungil di antara samudra jemaah dari berbagai penjuru dunia.

Ka’bah berdiri di sana. Hitam. Bisu dan Anggun. Bangunan suci itu bukan sekadar sesuatu yang tampak oleh mata. Ia menjadi arah yang menyatukan jutaan manusia dalam satu gerak, satu doa, dan satu kepasrahan.

Saat melintasi garis Hajar Aswad, kami mengangkat tangan.

“Bismillahi, Allahu Akbar!”

Tangan hanya menunjuk ke arah batu. Namun hati semestinya menunjuk lebih jauh—kepada Tuhan yang menjadi tujuan seluruh ibadah. Ada getaran aneh yang menjalar dari telapak tangan, merambat ke dada, lalu perlahan meluruhkan kesombongan.

Di hadapan Ka’bah, Mbah Datoem bukan lagi sekadar pria sepuh dari Ciberung. Mbah Sariyem bukan lagi pedagang sayur dari Pasar Ajibarang. Dan saya bukan lagi orang yang sehari-hari sibuk merangkai kata. Kami hanyalah manusia. Kecil. Ringkih. Dan seonggok makhluk yang sedang mengitari sebuah rumah suci untuk mengingat kembali siapa diri kami di hadapan Sang Pencipta.

Putaran demi putaran berjalan. Setiap langkah seolah mengingatkan bahwa kehidupan pun terus berputar. Kita berkeliling mengitari Ka’bah bukan untuk mengagungkan batu, melainkan untuk menyadarkan diri bahwa pusat kehidupan tidak semestinya ego, jabatan, harta, ataupun nama besar yang sering kita banggakan di tanah air.

Poros itu mestinya Tuhan. Mbah Sariyem menangis di putaran kelima. Bukan karena kakinya sakit, melainkan karena rasa tidak percaya.

“Gusti, orang desa seperti saya kok bisa sampai di sini…,” bisiknya lirih.

Kalimat itu sederhana. Tidak ada bahasa Arab yang panjang. Tidak ada susunan doa yang berbunga-bunga. Hanya ungkapan seorang perempuan desa yang tiba-tiba berdiri begitu dekat dengan sesuatu yang selama puluhan tahun hanya ia kenal melalui cerita, gambar, dan doa.  Saya melihat wajahnya. Di sana ada rasa takjub. Ada syukur. Ada kepasrahan.

Dan mungkin, justru karena kesederhanaannya, doa itu terasa begitu dalam. Tawaf Ifadhah melatih kita melipat ego. Di sini, kesabaran tidak hanya diajarkan melalui teks kitab. Ia diuji melalui kaki yang terinjak, tubuh yang bersentuhan, peluh yang menetes, udara yang pengap, dan bau ketiak orang asing yang sama-sama sedang berjuang menjadi tamu Tuhan.

Tawaf adalah ikhtiar sekaligus kepasrahan. Berjalan dengan kemampuan sendiri, tetapi menyerahkan hasil akhirnya kepada Sang Maha Pengampun. Usai melengkapi tujuh putaran dan menuntaskan Sa’i antara Shafa dan Marwah, kami duduk bersandar di pilar masjid. Tubuh serasa remuk. Namun dada terasa lapang. Bahkan lebih lapang daripada tenda Mina pada hari ketiga Tasyrik.

Saya menatap Mbah Datoem dan Mbah Sariyem yang meneguk air Zamzam dengan khusyuk. Ada garis senyum yang amat tulus di wajah-wajah sepuh itu. Saya tiba-tiba teringat toilet di Mina. Teringat antrean panjang. Teringat jurus silat Haji Jafaruddin. Teringat batu-batu kecil yang kami lemparkan ke Jamarat. Ternyata semuanya seperti potongan-potongan kecil dari sebuah pelajaran yang sama.

Baca juga: Pergi Haji

Batu mengajarkan keteguhan. Antrean toilet mengajarkan kesabaran. Kerumunan mengajarkan pengendalian diri. Dan Ka’bah mengajarkan ke mana seluruh perjalanan itu seharusnya bermuara.

Haji 2026 mengajarkan satu hal mendasar: keikhlasan jiwa tidak pernah dijajakan di biro perjalanan dengan biaya berapa pun. Keikhlasan baru bisa dipetik setelah manusia bersedia merendahkan hati, menahan kekesalan atas antrean toilet yang buruk, bersabar menghadapi kepayahan fisik, dan akhirnya berdiri di hadapan Ka’bah sambil mengakui betapa kecilnya diri ini.

Masyarakat kecil dari daerah pun telah menuntaskan panggilan-Nya. Kami tidak membawa pulang keagungan, sebab keagungan hanya milik-Nya. Kami hanya membawa pulang hati yang telah dikikis oleh perjalanan panjang, oleh peluh, oleh kesabaran, oleh doa, dan oleh kepasrahan. 

Barangkali kelak ketika rindu kepada Mina, Misfalah, Jamarat, atau Ka’bah kembali datang, yang sebenarnya kami rindukan bukan sekadar tempat-tempat itu. Kami sedang merindukan versi diri kami yang benar-benar begitu kecil di hadapan Tuhan. Dan mungkin, justru karena merasa kecil itulah, kami belajar menjadi manusia. Dan kesadaran inilah yang kami bawa pulang dari Tanah Suci. Semoga bisa istiqamah.

Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.
BAGIKAN: