Catatan Pengalaman Ibadah Haji 2026: Cinta dan Air Mata di Jalur Mina
Catatan Pengalaman Ibadah Haji 2026: Cinta dan Air Mata di Jalur Mina
Oleh: Muhamad Saefullah
Anggota Komisi Infokomdigi MUI
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Orang-orang dengan gampang menunjuk Jabal Rahmah sebagai petak tanah paling romantis di jagat raya. Katanya, di bukit batu gersang itulah Nabi Adam dan Siti Hawa bersua kembali dalam dekapan rahmat Allah setelah sekian abad terpisah gara-gara urusan sebutir buah khuldi.
Namun, bagi kami —wong
Banyumas— kesimpulan itu agak meleset jauh dari sasaran. Di Padang Arafah, di
bawah panggangan matahari yang sanggup melunakkan batok kepala, jangankan
sempat kasmaran; mata saban orang sibuk menampung lelehan air mata. Semua sibuk
memikul karung-karung dosa yang rasanya tak bakal muat walau diangkut truk
gandeng. Mana sempat memikirkan romantisme itu?
Romantisme sejati
justru bersemi di sepanjang lintasan beton Jamarat. Romansa itu tak butuh puisi
mendayu-dayu, melainkan cukup diikat oleh sepasang sandal jepit Swallow bersol
setipis kerupuk serta dzikir yang tak putus-putus.
Di atas jalan beton
itulah, dari Maktab 48 menuju lokasi pelemparan kerikil, cinta mewujud nyata:
ribuan pasangan menggenggam erat jemari kekasihnya agar tak mendadak tergilas
oleh lautan manusia yang tumpah dari penjuru dunia.
Berdasarkan panduan
fiqih haji, waktu afdhal melempar jumrah adalah mulai dari terbit matahari pada
tanggal 10 Dzulhijjah hingga matahari terbenam. Sementara itu, waktu yang
diperbolehkan (rukhshah) dimulai sejak pertengahan malam, “mughibul
qamar” (setelah lewat tengah malam) pada 10 Dzulhijjah, terutama bagi
jemaah yang lemah, wanita, lansia, atau demi menghindari kepadatan ekstrem.
Menurut jumhur ulama, batas akhir sahnya pelemparan pada tanggal 10 Dzulhijjah adalah hingga matahari tenggelam, meski ada kelonggaran jika terpaksa hingga akhir malam. Jemaah biasanya dilarang atau diimbau untuk menghindari waktu yang sangat padat atau jam larangan resmi (seperti pukul 04.30–10.00 atau siang hari yang terik) demi keselamatan. Alternatif waktu longgar yang dianjurkan petugas adalah setelah waktu Maghrib, atau pada malam hari.
Setiap kloter berangkat ke Jamarat sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan pihak syarikah. Semula kami, Kloter 75 SOC, ingin melempar aqabah pada pukul 03.00 dini hari, tetapi tidak diperbolehkan lantaran bukan jadwal yang ditetapkan.
Pada 10 Dzulhijjah,
Kloter 75 SOC dijadwalkan meluncur pukul 09.00 waktu setempat—persis saat
matahari berada di puncak ketaatannya memanggang bumi. Udara menyengat hebat,
dan angin Mina hanya berembus tipis-tipis sekadar untuk menyapa dahi kami yang
mandi peluh.
Menempuh jarak
delapan kilometer bolak-balik selama empat hari berturut-turut saat nafar
tsani itu setara dengan berjalan kaki dari Ajibarang menuju Alun-Alun
Purwokerto, balik lagi, lalu baru menyerah di Cilongok. Dengkul mana yang tidak
bergoyang mirip dawet ayu? Betis mana yang tak kram dan keras bagai batu bata?
Kami mengikuti
bimbingan syarikah, yang memegang tongkat dengan label bertuliskan Maktab 48
sebagai identitas jemaah Kloter 75 SOC. Di jalanan, lautan manusia meluap.
Seperti pasangan lain, saya mengapit dan menggenggam jemari istri rapat-rapat.
Mengapa? Ini bukan sekadar urusan cinta romantis, tapi kalau sampai terlepas di
tengah jutaan manusia bertubuh tinggi besar bagai tiang listrik dari berbagai
belahan dunia, urusannya bisa berabe. Bisa-bisa kami baru bersua lagi
saat jam makan siang di tenda!
“Genggem sing
kenceng, Mbok. Aja ngasi terlepas!” bisik saya.
Di situlah letak indahnya. Saya merasakannya betul. Kami saling bantu merapikan payung, bergantian memegang botol air Zamzam, dan saling melempar senyum di tengah keringat yang membasahi dahi.
“Apartemen” Para Setan
Setelah tuntas
beromantisme dan berdesak-desakan, kaki membawa kami ke kawasan Jamarat—sebuah
karya megaarsitektur jempolan di tanah Mina.
Dulu, tempat itu
cuma tiang pilar bundar mungil di tanah lapang yang dikepung pagar sepinggang
orang dewasa. Kini, Pemerintah Arab Saudi menyulapnya menjadi kompleks jembatan
layang megah lima lantai. Lengkap dengan pendingin udara, eskalator, helipad,
hingga kamera cerdas berbasis AI. Konon, fondasinya sanggup menopang sampai dua
belas lantai jika bumi makin sesak oleh manusia.
Tiang yang dulu
imut-imut telah berganti tugu lonjong raksasa yang menembus dari lantai dasar
hingga puncak. Alur jemaah diatur ketat searah—mirip aturan jalan tol tanpa
putar balik—demi mencegah tragedi saling injak seperti masa lalu.
Di hadapan dinding
tugu Ula, Wustha, dan Aqabah, kami merapat. Tujuh kerikil di genggaman melesat
menghantam musuh abadi manusia.
“Bismillahi
Allahu Akbar!”
Pluk! Batu mendarat tepat di sumur penampungan.
Batu-batu kecil itu sejatinya bukan sekadar menyasar dinding beton. Yang kami bidik adalah setan-setan yang hobi nongkrong di benak diri kita sendiri. Ya, itulah setan keblinger yang merasa paling benar, setan kesombongan, dan setan egois yang gemar membisiki hati agar menuruti hawa nafsu. Rasakan itu, Setan!
Bayang-Bayang Tragedi
Kawasan Jamarat
bukan hanya lokasi penting penjelmaan ibadah, melainkan juga titik krusial
keselamatan jemaah. Selain sangat padat, jarak berjalan kaki dari maktab ke
Jamarat yang jauh jelas menguras fisik dan stamina. Di beberapa titik, kami
menjumpai jemaah yang benar-benar kelelahan. Ada yang tidak kuat berjalan,
bahkan ada yang tergeletak pingsan di pinggir jalan saat sedang mendapat
pertolongan dari tim satu rombongannya.
Di balik megahnya
bangunan lokasi melontar kerikil ini, tersimpan jejak sejarah yang
memprihatinkan. Area Jamarat memiliki catatan kelam terkait keselamatan jemaah,
sebagaimana deretan tragedi di Mina berikut ini:
1. Tahun 1990:
Tragedi Terowongan Mina yang menelan 1.426 korban jiwa
2. Tahun 1994: 270 jemaah wafat terinjak-injak
3. 1998: 118 jemaah tewas panik di Jembatan Jamarat lama
4. 2001 & 2003: Puluhan jiwa melayang akibat himpitan massa
5. 2004: 251 jemaah tewas di dekat area jembatan
6. 2006: 362 jemaah berpulang gara-gara tersandung koper yang jatuh dari bus
7. 2015: Tragedi Jalan 204 yang merenggut lebih dari 2.000 jiwa akibat dua arus
besar yang bertabrakan.
Maka dari itu,
urusan Jamarat bukan cuma soal romantisme dan ketangkasan mengayunkan kerikil,
melainkan juga soal keselamatan nyawa.
Melihat fakta itu,
naluri kepengurusan saya langsung terusik. Sepanjang jalur Jamarat biasanya ada
lima posko petugas. Namun, setidaknya ketika kami melintas, kami hanya sedikit
menjumpai petugas haji. Keberadaan mereka sering kali terhalang oleh bayang-bayang
padatnya manusia—gaib, tapi ada; ada, tapi tak kelihatan.
Pertanyaan saya sederhana saja untuk Kementerian Haji dan Umrah, penyelenggara, atau para birokrat terkait: Apakah amat haram hukumnya menyediakan beberapa unit kursi roda portable yang ringan di setiap pos penjagaan? Kalau ada jemaah tua pingsan di tengah jalan, kursi roda portable itu bisa langsung dipakai ngacir menolong korban. Tak perlu menunggu ambulans yang mustahil menembus lautan manusia, atau menunggu koordinasi berbelit-belit yang keburu bikin jemaah almarhum. Bukankah menjaga nyawa itu inti utama dari ajaran agama?
Romantisme yang Selamat
Ketika akhirnya kami
tiba kembali di tenda dengan napas tersengal dan telapak kaki rasanya mau
copot, dada kami lega. Kendati betis mengeras dan kaki kesemutan hebat, kami
saling pandang lalu tertawa kecil.
“Kita selamat,
Mbok!”
Bagi kami wong
Ngapak, ibadah haji adalah laboratorium tawakal tingkat tinggi. Melontar batu
di waktu afdhal memang mengejar pahala melimpah, namun menyelamatkan nyawa
sendiri dan orang lain adalah kewajiban mutlak yang tak bisa ditawar.
Kenapa demikian? Sebab, kelak di akhirat, Tuhan tak bakal bertanya seberapa kencang lemparan batumu ke dinding Jamarat, melainkan seberapa besar kepedulianmu terhadap keselamatan sesama manusia di sepanjang jalan.