Lewati ke konten utama
Jumat, 11 September 2026 / 29 Rabiul Awal 1448 H
Jadwal memuat...
Catatan Pengalaman Ibadah Haji 2026: Di Arafah, Kita Ini Sebenarnya Siapa?
Jemaah haji berkumpul di tenda saat melaksanakan wukuf di Arafah. Foto: Dok. Pribadi/Muhamad Saefullah
Opini

Catatan Pengalaman Ibadah Haji 2026: Di Arafah, Kita Ini Sebenarnya Siapa?

Catatan Pengalaman Ibadah Haji 2026: Di Arafah, Kita Ini Sebenarnya Siapa?

/ 29 Rabiul Awal 1448 H 6 menit baca 93 dibaca
Muhamad Saefullah

Oleh: Muhamad Saefullah

Anggota Komisi Infokomdigi MUI

Admin Admin Editor: Admin

Jakarta, MUI Digital — Kanjeng Nabi Muhammad SAW bersabda dengan begitu tegas: “Al-Hajj ‘Arafah”—haji itu adalah Arafah. Di atas hamparan suci inilah inti perjalanan rohani itu dipertaruhkan, sekaligus melemparkan pertanyaan yang menghantam dada tanpa permisi: Di Arafah, kita ini sebenarnya siapa?

Ketika dua helai kain putih tak berjahit membungkus raga, seluruh atribut duniawi mendadak rontok bagai daun kering ditiup angin. Apakah kita ini pejabat, pengusaha, kiai, atau sekadar “wong Ngapak” dari Kloter 75 SOC Banyumas yang kesehariannya orang biasa? Debu Arafah tak pernah peduli. Ia menempel di jidat siapa saja dengan kearifan yang sama mulianya.

Serasa bermimpi. Kaki-kaki kami akhirnya benar-benar memijak bumi Arafah—hamparan gersang di timur Makkah tempat penantian panjang selama 14 tahun dibayar tuntas oleh Gusti Allah dengan nikmat wukuf. Dari kejauhan, Jabal Rahmah berdiri kokoh memancarkan kehangatan sejarah.

Sejak matahari tergelincir di ufuk Dzuhur pada 9 hingga fajar 10 Dzulhijjah menyingsing, waktu seolah berhenti berdetak. Udara Arafah menjelma menjadi hening yang bergetar; tempat jutaan lidah melafadzkan dzikir, istighfar, dan menggantungkan doa-doa paling rahasia langsung ke pintu langit yang sedang dibuka lebar-lebar.

Kekhusyukan di bawah tenda Arafah itu tidak jatuh begitu saja dari langit. Ia adalah muara dari rangkaian kepasrahan yang telah dilatih sejak kami masih berada di hotel Makkah, satu hari sebelum puncak haji ini tiba. Di sana, ujian kesabaran melatih ego kami pelan-pelan—dimulai dari hal-hal kecil, termasuk menata keinginan ibadah agar tak berlebihan.

Petugas haji (PPIH) Sektor 9 dari awal sebenarnya sudah mewanti-wanti kami dengan kearifan yang sejuk dan bersahaja: “Sampun, Pak, Bu... Simpan tenaganya. Jangan ngoyo ibadah berlebihan ke Masjidil Haram sebelum puncak.”

Demikianlah sebuah imbauan fiqih yang amat rasional. Namun ya dasar wong Ngapak, tidak sering sowan ke Masjidil Haram mumpung “ana nang Mekah” itu rasanya persis seperti sudah kepanasan masuk ke pasar tapi lupa tak membeli mendoan hangat—ada rasa mengganjal yang mengendap di ulu hati. Namun kami nurut. Kami memilih ikhlas beribadah di masjid hotel di bawah bimbingan pembimbing ibadah kloter kiai Sholeh dan jemaah yang sudah maqom kiai, seperti KH Sofyan, pengasuh sebuah pondok pesantren di banyumas

Soal urusan perut, Kementeruan Haji dan Umroh sebetulnya sudah berikhtiar baik. Menjelang pergeseran 8 Dzulhijjah (25 Mei 2026), kami dibekali satu paket kotak ransum ready-to-eat untuk bekal Armuzna. Isinya macem-macem, ada rendang, ayam kuah, dan lain-lain. Di tenda, persediaan mi instan, kopi saset, hingga sekerat roti padat yang seloroh dijuluki jemaah sebagai “Roti Kanebo” tersedia aman. “Angger dipangan ya lumayan nggo ganjal weteng”, walau penampakannya agak mirip kain pembersih kaca mobil.

Namun, Gusti Allah selalu punya cara yang teramat halus dan jenaka untuk membedah rahasia jiwa manusia di balik senyum pelayanan Kementerian Haji dan pihak syarikah. Sejak fajar menyingsing usai Subuh, tubuh-tubuh kami sudah terbungkus rapi oleh putihnya kain ihram, menanti jam tujuh pagi yang dijanjikan sebagai jadwal bertolak ke Arafah.

Namun penantian itu melar bagai karet; bus baru merapat ketika matahari sudah merambat naik pukul sembilan tiga puluh. Itu pun, kendaraan yang tiba rupanya membawa kapasitas yang kelewat sesak. Alhasil, kami berhimpitan di dalam kabin bus; sebagian duduk saling mengapit lutut dan siku, sementara yang lain terpaksa berdiri pasrah, bergantung rapat pada tiang-tiang besi yang terasa dingin di telapak tangan.

Suasananya persis nostalgia naik bus kota Jakarta era 80-an—lengket, impit-impitan, dan sarat bau ketiak sesama musafir. Tetapi di sinilah keajaiban sufistik itu bekerja: tidak ada satu pun bibir yang mengumpat.

Ego duniawi rontok seketika saat kalimat “Labbaikallahumma Labbaik” meluncur deras dari tenggorokan, memeluk lutut kami sendiri-sendiri dalam keheningan batin. Dengung talbiyah itulah yang menjelma tali gaib, menopang persendian kami agar tetap kokoh melangkah menuju muara cinta: Arafah.

Meski ruang fisik bus dan perencanaan transportasi mikro kedodoran menampung jasad kami, keikhlasan jemaah rupanya membentang jauh lebih luas dari sempitnya kabin bus mana pun di bumi.

Arafah dan Air Mata

Tenda Arafah menyambut kami dengan wajah tanahnya yang hangat. Masuknya mulus, walau urusan klasik seperti antrean kamar mandi yang mengular dan sengatan terik udara tetap setia hadir menguji napas kesabaran. Namun justru di situlah magisnya Arafah. Saat waktu wukuf mengepung, hukum-hukum fiqih yang tadinya berupa barisan huruf mati di kitab-kitab lama langsung meresap menjadi pengalaman batin yang menggetarkan.

Di padang penantian ini, gambaran Mahsyar dipentaskan secara cilik. Tangis pecah di setiap sudut tenda. Air mata jemaah menetes deras di atas sajadah, membasahi debu, menanggalkan kesombongan jabatan, serta dosa-dosa yang selama ini kita sembunyikan dengan rapi di balik baju bagus.

Mendengar tangis jemaah di sekeliling saya, ingatan saya mendadak melayang jauh pada cerita tentang Arafah yang dulu kerap disampaikan oleh guru ngaji kami saat kami kecil di langgar kampung. Di bawah temaram lampu teplok, beliau bercerita dengan suara bergetar tentang tangis para sahabat Nabi—terutama sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu—ketika mendengar Khutbah Wada’ yang disampaikan Rasulullah SAW di tempat ini pada 10 Hijriah.

Kala itu, Rasulullah menatap ratusan ribu umatnya seraya bersabda dengan nada yang teramat halus namun merobek dada:

“Wahai manusia, dengarkanlah perkataanku ini. Aku tidak tahu apakah aku bakal dapat bertemu lagi dengan kalian di tempat ini setelah tahun ini….”

Di hamparan bumi Arafah ini pulalah, di tengah heningnya wukuf, ayat wahyu penyempurna syariat diturunkan Allah SWT mengunci genapnya risalah Islam:

“...Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Ma’idah: 3)

Sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu—orang yang paling lembut jiwanya—menangis tersedu-sedu di pojok tenda. Sebagaimana kisah yang kami dengar di langgar dulu, ketika sahabat lain bertanya heran mengapa ia menangis di hari seagung ini, Abu Bakar menjawab lirih: “Setelah kesempurnaan, tidak ada lagi yang tersisa selain perpisahan.” Beliau paham betul firasat itu: tugas Sang Pembawa Risalah telah genap dan Beliau tak lama lagi bakal dipanggil pulang oleh Tanah Asal. Dan benar saja, hanya berselang tak sampai tiga bulan setelah khutbah dan turunnya ayat penyempurna di Arafah itu, Rasulullah SAW wafat di Madinah.

Beliau meninggalkan amanat luhur yang senantiasa diteladankan kepada kita: larangan menumpahkan darah, larangan mengambil harta secara zalim (riba), perintah memuliakan perempuan, dan penegasan bahwa tidak ada bedanya antara orang Arab, orang Jawa, atau suku mana pun—kecuali dari kadar ketakwaannya.

Usai wukuf ditutup, rencana pergeseran dari Arafah menuju Muzdalifah dan Mina kembali diuji oleh keadaan. Rencana awal keluar tenda selepas Maghrib molor hingga usai Isya. Di halte bus, penjemputan menganut hukum alam “siapa cepat dia naik angkot”—tidak ada lagi urutan rombongan, campur aduk antara yang muda dan sepuh dalam pusaran aksi saling dorong. Karena kami membawa jemaah lansia dan tak tega berdesak-desakan, kami memilih mengalah dan menunggu hingga akhir. Penantian bus melar begitu lama dalam penat yang menumpuk.

Alhasil, kami baru terangkut di gelombang paling buncit. Bus yang kami naiki bahkan baru melintas di Muzdalifah belum tengah malam—tak sempat mabit secara ideal maupun dipasangkan skema murur yang pas—lalu langsung merayap membawa kami menuju Mina.

Ujian belum selesai. Sesampainya di Mina dalam pekat malam, kami justru tidak mendapat jatah tempat di dalam tenda karena telah ditempati rombongan lain. Namun di atas hamparan tanah Mina dan di bawah naungan langit malam itu, kepasrahan kami sudah benar-benar meluas tanpa sisa.

Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.
BAGIKAN: