Lewati ke konten utama
Kamis, 1 Oktober 2026 / 19 Rabiul Akhir 1448 H
Jadwal memuat...
Tips Menguatkan Akal dan Hafalan dari Kitab “Khazinatul Asrar”
Foto: AI Modified/ChatGPT
Paradigma Islam

Tips Menguatkan Akal dan Hafalan dari Kitab “Khazinatul Asrar”

Tips Menguatkan Akal dan Hafalan dari Kitab “Khazinatul Asrar”

/ 18 Rabiul Akhir 1448 H 5 menit baca 182 dibaca

Jakarta, MUI Digital — Kemampuan mengingat merupakan salah satu karunia terbesar yang diberikan Allah kepada manusia. Dengan ingatan, seseorang dapat menyimpan ilmu, menjaga pengalaman, memahami pelajaran, mengingat pesan guru, bahkan mempertahankan warisan pengetahuan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dalam tradisi Islam, persoalan daya ingat bukan hanya soal psikologis atau kemampuan otak. Hal itu juga berkaitan dengan adab, kesungguhan belajar, kebersihan jiwa, doa, keberkahan ilmu, dan hubungan seorang pencari ilmu dengan Alquran.

Menariknya, persoalan tersebut dapat ditemukan dalam salah satu pembahasan menarik dalam kitab Khazinatul Asrar Jalilatul Adzkar karya Syekh Haqi an-Nazili. Dalam bab tentang berbagai keterangan yang berkaitan dengan peningkatan akal, pemahaman, dan kekuatan hafalan, an-Nazili menghimpun sejumlah riwayat, pendapat ulama, serta pengalaman yang disebut sebagai “mujarrabat”, yakni amalan yang menurut pengalaman sebagian ulama memberikan manfaat tertentu.

Yang menarik, pembahasannya menunjukkan bahwa para ulama terdahulu tidak memandang kemampuan menghafal sebagai sesuatu yang berdiri sendiri. Mereka menghubungkannya dengan Alquran, pengulangan, doa, kedisiplinan, serta keberkahan dari wahyu.

Menghafal dengan Bertahap

Salah satu keterangan yang dikutip oleh an-Nazili berasal dari Abu al-‘Aliyah. Beliau memberikan nasihat agar seseorang mempelajari Alquran lima ayat demi lima ayat. Keterangan tersebut juga dikaitkan dengan cara Nabi Muhammad SAW menerima Alquran dari Malaikat Jibril AS secara bertahap. Abu al-‘Aliyah mengatakan:

تعلموا القرآن خمس آيات خمس آيات فإن النبي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كان يأخذ من جبرائيل عليه الصلاة والسلام خمساً خمساً كذا

“Pelajarilah Alquran lima ayat demi lima ayat, karena Nabi SAW dahulu menerima Alquran dari Jibril AS lima ayat demi lima ayat.” (Khazinatul Asrar [Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah], h. 81).

Terlepas dari perincian penilaian sanad masing-masing riwayat dalam kutipan tersebut, prinsip yang terkandung di dalamnya sangat menarik. Secara implisit disebutkan bahwa hafalan yang kuat tidak bisa terlepas dari proses yang bertahap dan berulang.

Inilah salah satu karakter penting pendidikan Islam yang ideal, baik klasik maupun modern. Bahwa ilmu tidak selalu dikejar dengan prinsip sebanyak mungkin dalam waktu sesingkat mungkin. Sebaliknya, ilmu ditanam sedikit demi sedikit sampai benar-benar melekat. Artinya, kealiman atau kepakaran seseorang tidak terlepas dari proses panjang belajar.

Berdasarkan keterangan dalam riwayat di atas, lima ayat yang dipahami dan diulang secara terus-menerus dapat lebih bermanfaat daripada puluhan halaman yang dibaca sekali lalu hilang dari ingatan.

Kiranya, dalam konteks pendidikan modern, prinsip semacam ini juga mempunyai relevansinya. Hafalan membutuhkan repetisi, konsistensi, perhatian, dan jeda. Karena itu, tradisi “talaqqi”, “muraja’ah” atau pengulangan yang telah lama dipraktikkan di pesantren sebenarnya menyimpan prinsip pedagogis yang sangat penting. Sehingga, pendidikan ala pesantren tidak bisa dipandang sebelah mata.

Dalam kitab Khazinatul Asrar, an-Nazili juga mengutip keterangan yang dinisbatkan kepada Imam al-Ghazali mengenai ayat-ayat tertentu yang bisa dijadikan amalan untuk dibaca dan ditulis sebagai bagian dari ikhtiar untuk memperoleh kekuatan dalam menghafal ilmu.

Disebutkan, Imam Ghazali mengatakan, bahwa barang siapa menginginkan hafalan terhadap seluruh ilmu, baik ilmu yang mendalam maupun yang besar, hendaknya ia menulis pada sebuah wadah yang bersih, beberapa ayat berikut:

Enam awal ayat surat Ar-Rahman:

الرَّحْمَٰنُ. عَلَّمَ الْقُرْآنَ. خَلَقَ الْإِنسَانَ. عَلَّمَهُ الْبَيَانَ. الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ. وَالنَّجْمُ وَالشَّجَرُ يَسْجُدَانِ

“(Allah) Yang Maha Pengasih. Dia telah mengajarkan Alquran. Dia menciptakan manusia. Dia mengajarinya pandai menjelaskan. Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan. Dan tumbuh-tumbuhan dan pepohonan tunduk kepada-Nya.” (QS. Ar-Rahman: 1–6)

Lalu ayat-ayat berikut:

لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ. إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ. فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ. ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُ

“Janganlah engkau menggerakkan lidahmu untuk membaca Alquran karena hendak cepat-cepat menguasainya. Sesungguhnya Kamilah yang akan mengumpulkannya di dalam dadamu dan membacakannya. Apabila Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya Kamilah yang akan menjelaskannya.” (QS. Al-Qiyamah: 16–19)

Kemudian ditutup dengan dua ayat ini:

بَلْ هُوَ قُرْآنٌ مَجِيدٌ. فِي لَوْحٍ مَحْفُوظٍ

“Bahkan, ia adalah Alquran yang mulia, yang tersimpan dalam Lauh Mahfuz.” (QS. Al-Buruj: 21–22)

Al-Ghazali kemudian menganjurkan—setelah ayat-ayat di atas ditulis dalam satu wadah—agar kemudian menuangkan air Zamzam di dalamnya. Lalu, tulisan tersebut dihapus dengan air itu. Selanjutnya, air diminumkan kepada anak atau siapa saja orang yang dikehendaki agar ia memiliki kemampuan menghafal segala sesuatu yang berkaitan dengan ilmu. Insya Allah, dengan keberkahan ayat-ayat yang mulia tersebut, kemampuan memahami dan menghafal ilmu akan semakin kuat. (Khazinatul Asrar [Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah], h. 81).

Amalan ini disebutkan telah dipraktikkan oleh para ulama saleh terdahulu dan dirasakan khasiatnya. Karena itu, hal ini disebut sebagai bagian dari “mujarrabat”, yakni amalan yang telah terbukti mujarabnya.

Jika dikaji lebih dalam, pemilihan ayat-ayat tersebut secara simbolik tentu sangat menarik. Ayat-ayat itu berbicara tentang pengajaran Alquran, kemampuan manusia menerima pengetahuan, proses penerimaan wahyu, serta pemeliharaan Alquran.

Namun demikian, di sini perlu digarisbawahi bahwa pesan yang dapat ditangkap dari tradisi tersebut bukan semata-mata kalau menulis ayat tertentu secara mekanis akan membuat seseorang menjadi jenius. Yang lebih mendasar adalah membangun hubungan spiritual dengan sumber ilmu, yaitu Alquran, sembari melakukan ikhtiar untuk belajar dan menghafal.

Menyatukan Akal dan Keberkahan

Judul bab yang dihimpun an-Nazili menyebut tiga hal penting; “ziyadatul aql”, “alfahmu”, “quwwatul hifdhi”, yang artinya adalah peningkatan akal, pemahaman, dan kekuatan hafalan.

Urutan dalam keterangan tersebut patut direnungkan. Bahwa hafalan yang kuat itu ditopang dengan peningkatan akal dan pemahaman yang matang. Dengan kata lain, seseorang dapat menghafal ribuan halaman tetapi belum tentu memahami isinya. Sebaliknya, seseorang dapat memahami suatu gagasan tetapi kehilangan detail jika tidak mempunyai daya ingat yang baik.

Walhasil, ilmu yang ideal membutuhkan ketiganya, yakni akal yang jernih, pemahaman yang mendalam, dan ingatan yang kuat. Kemudian ketiga kemampuan tersebut diarahkan kepada tujuan yang lebih tinggi, yaitu mengenal Allah, memahami wahyu, memperbaiki akhlak, dan memberikan manfaat kepada manusia.

Jika ilmu hanya untuk kebanggaan, hafalan dapat menjadi beban. Jika ilmu untuk mencari kedudukan, kecerdasan dapat berubah menjadi kesombongan. Tetapi jika ilmu diniatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memberi manfaat kepada sesama, maka hafalan, pemahaman, dan kecerdasan memperoleh arah yang benar.

Demikianlah pelajaran penting yang dapat kita baca dari khazanah ulama dalam kitab Khazinatul Asrar. Bahwa menjaga kekuatan akal dan hafalan menyangkut pula perpaduan antara ikhtiar, disiplin, doa, adab, dan keberkahan ilmu. Bukan sekadar persoalan teknis belaka.

BAGIKAN: