Lewati ke konten utama
Minggu, 8 November 2026 / 28 Jumadil Awal 1448 H
Jadwal memuat...
Catatan Perjalanan Haji 2026: Tentang Unta, Kendaraan Nabi yang Tersisih Zaman
Penulis bersama istri dan jemaah haji Kloter 75 SOC Banyumas mengabadikan momen saat mengunjungi peternakan unta di kawasan Hudaibiyah, pinggiran Makkah. Peternakan ini menjadi salah satu destinasi favorit dalam rangkaian kegiatan city tour jemaah di sela-sela ibadah. Foto: Dok. Pribadi/Muhamad Saefullah
Opini

Catatan Perjalanan Haji 2026: Tentang Unta, Kendaraan Nabi yang Tersisih Zaman

Catatan Perjalanan Haji 2026: Tentang Unta, Kendaraan Nabi yang Tersisih Zaman

/ 28 Jumadil Awal 1448 H 6 menit baca 70 dibaca
Muhamad Saefullah

Oleh: Muhamad Saefullah

Anggota Komisi Infokomdigi MUI

Admin Admin Editor: Admin

Jakarta, MUI Digital — Mengapa jemaah haji Indonesia begitu ingin melihat unta? Apa menariknya hewan yang kerjanya cuma mengunyah rumput kering sambil menatap manusia dengan muka datar? Bagi jemaah haji Indonesia, jawabannya: sangat menarik.

Unta bukan sekadar binatang padang pasir berleher panjang. Ia pernah menjadi kendaraan, sahabat perjalanan, sekaligus saksi sejarah peradaban Islam. Di punggungnya, manusia melintasi gurun, menempuh perjalanan panjang, dan menghubungkan satu kota dengan kota lainnya.

Tak heran jika keberadaan hewan itu selalu menyimpan daya pikat sejarah yang seolah membawa siapa pun kembali ke zaman Rasulullah SAW.

Maka, salah satu agenda city tour jemaah Kloter 75 SOC Banyumas adalah mengunjungi peternakan unta di kawasan Hudaibiyah, pinggiran Makkah.

Kami datang dengan rasa ingin tahu yang kurang lebih sama. Begitu tiba, beberapa jemaah langsung mengeluarkan telepon genggam. Ada yang sibuk mencari sudut terbaik untuk berfoto. Ada pula yang ingin mendekat, mengamati binatang yang selama ini lebih sering kami jumpai dalam buku cerita, gambar kalender, atau tayangan televisi.

Menariknya, ada jemaah yang keberaniannya teruji: menunggang unta seharga 10 riyal, lalu menikmati sensasi tubuh digoyang-goyang saat binatang bertubuh jangkung itu berdiri mendadak.

Kini unta berada beberapa jengkal di hadapan kami. Bisa dilihat, diamati, bahkan—kalau tidak ada larangan—mungkin ingin mengelus. Tetapi, belum juga rasa penasaran itu tuntas, sebuah suara tiba-tiba memecah kerumunan.

“Jangan sentuh, Bapak-Ibu! Sekali lagi, jangan sentuh!”

Suara dokter Putri terdengar lantang. Bersama perawat Siti Robi’ah,  petugas medis Kloter 75, ia sejak awal sudah mengingatkan jemaah agar mengenakan masker dan tidak melakukan kontak langsung dengan unta.

Peringatan itu bukan sekadar kehati-hatian yang berlebihan. Unta dromedari memang diketahui berkaitan dengan penularan virus MERS-CoV, penyebab Middle East Respiratory Syndrome atau MERS.

Kontak langsung dengan unta, terutama unta yang terinfeksi, dapat meningkatkan risiko penularan. Maka, menjaga jarak dan menghindari sentuhan menjadi langkah pencegahan yang masuk akal. Niatnya ingin membawa pulang kenangan dari Arab Saudi. Jangan sampai malah membawa pulang penyakit.

Kami pun menahan diri. Cukup memandang dari jarak aman. Unta-unta itu tampak tenang, seolah tidak peduli dengan puluhan pasang mata yang mengamatinya. Lehernya panjang, punuknya menonjol, dan matanya menyimpan kesan tua. Saya memandangnya agak lama. Hewan ini ternyata bukan sekadar penghuni padang pasir. Ada banyak cerita yang pernah ditanggung di punggungnya.

Tersisih Zaman

Kini unta sudah tersisih. Kita tak akan lagi menjumpai  unta melintas meliuk-liuk di pusat kota Makkah. Ia menjelma menjadi saksi bisu di tengah deru pergeseran zaman yang menggilas tanpa ampun.

Makkah masa kini bersolek menjadi metropolitan megah. Lebih dari 50 terowongan membelah gunung batu, menampung lelah hilir-mudik mobil mewah serta armada tua yang berdesakan di atas aspal mulus—kualitasnya bahkan melampaui standar jalan tol di tanah air kita.

Di tengah deru mesin itu, jasa unta tak lagi dibutuhkan.  Manusia menjadikannya sekadar wahana kenangan. Pemandangan ini jauh berbeda dengan keriuhan jalanan tua di Lahore atau Damaskus yang masih membiarkan gerobak dan hewan mengarungi seluk-beluk kota.

Unta tidak benar-benar pergi. Ia hanya kehilangan tempat dalam kehidupan manusia modern. Dari kendaraan yang menghubungkan kota, kini ia menjadi penghuni peternakan yang didatangi manusia untuk mengenang masa lalu.

Ketika berdiri memandang unta-unta di Hudaibiyah yang terikat pasrah di bawah terik matahari, saya teringat pada perumpamaan Jalaluddin Rumi dalam Matsnawi tentang jiwa manusia dan unta. Jiwa sering kali terbelenggu oleh beban-beban duniawi, berjalan tertatih memikul koper keinginan yang tak pernah tuntas, padahal kedalaman hatinya merindukan kebebasan Ilahi.

Unta-unta di Hudaibiyah itu mengajarkan kita tentang hakikat ketundukan yang sunyi. Ia memikul takdir tanpa pernah melontarkan protes. Napasnya tetap tenang tatkala perannya tergusur oleh raungan bus-bus ber-AC dan kilatan kereta cepat Haramain.

Unta-unta itu menerima begitu saja tatapan takjub manusia yang sibuk mengagumi keperkasaan masa lalunya, sekaligus tatapan curiga yang takut tertular penyakit dari air liurnya.

Bermula dari Salah Paham

Sebutan “unta” sebenarnya hanya dikenal di Indonesia dan sebagian Asia Tenggara. Orang Arab menyebutnya jamal, sementara orang Inggris memanggilnya camel. Konon, kata “unta” di lidah orang Nusantara lahir dari salah kaprah yang mengocok perut.

Alkisah, seorang jemaah haji Nusantara pada zaman kolonial baru saja turun di Pelabuhan Jeddah. Ketika dijemput pelayan Arab yang menunggangi binatang berleher panjang itu, si jemaah—yang seumur-umur baru pertama kali melihatnya—lalu bertanya lugu dalam bahasa Melayu, “Hewan apa ini?” Si pelayan tak memahami pertanyaan tersebut. Ia justru balik bertanya dalam bahasa amiyah, “Ishtaghala inta?”—maksudnya, “Kamu kerja apa?”

Pertanyaan yang tak nyambung itu rupanya dianggap sebagai jawaban. Kata “inta” pun dipercaya meliuk menjadi “unta”, lalu bertahan hingga hari ini. Cerita itu tentu lebih pas dianggap sebagai anekdot ketimbang penjelasan ilmiah. Namun begitulah cerita rakyat; kata lahir dari salah dengar lalu diwariskan lintas generasi. Orang Arab tetap menyebutnya jamal, sementara kita nyaman-nyaman saja memanggilnya “unta”.

Di luar kelakar linguistik itu, unta di Makkah adalah jenis “Camelus dromedarius”—si punuk tunggal penghuni Timur Tengah. Kalau ada jemaah bertanya mengapa unta di sini cuma punya satu punuk, jawabannya bukan karena kekurangan jatah, melainkan berbeda jenis dengan unta Baktria berpunuk dua di Asia Tengah.

Hewan berpunuk satu inilah yang mengiringi sejarah Islam. Kita teringat Al-Qaswa, unta betina kesayangan Nabi yang langkah santainya menjadi penentu lokasi berdirinya Masjid Nabawi di Madinah. Di padang gurun, hampir tak ada bagian dari unta yang sia-sia: susunya diperah, dagingnya dikonsumsi, dan tenaganya memikul beban melintasi pasir panas.

Namun zaman telah berbalik arah. Mobil dan bus mengambil alih sebagian besar peran sang penghela gurun. Kalau dulu manusia menunggangi unta untuk menempuh perjalanan jauh, sekarang manusia naik bus ber-AC justru demi mendatangi tempat unta dikandangkan.

Di Hudaibiyah, kita tidak sekadar melihat seekor binatang. Kita sedang berhadapan dengan saksi sejarah yang masih hidup, tetapi zaman telah mengambil sebagian besar perannya.

Pulang Membawa Pelajaran

Menjelang meninggalkan peternakan, saya kembali memandang unta-unta itu. Beberapa jemaah masih sibuk mengambil gambar. Ada yang berfoto sendiri, ada pula yang beramai-ramai. Dokter Putri dan perawat Siti Robi’ah tetap mengawasi dari kejauhan, memastikan tak ada yang nekat mendekat.

Barangkali, inilah salah satu kenangan kecil perjalanan haji kami. Datang jauh-jauh ke Makkah, melihat binatang yang begitu lekat dengan sejarah Rasulullah, mengambil gambar, lalu membawa pulang cerita tentang pertemuan singkat itu.

Namun, perjalanan ini menyisakan sesuatu yang lebih penting daripada sekadar foto. Mengunjungi tempat bersejarah tidak otomatis membuat seseorang memahami sejarahnya. Kita bisa berfoto di depan unta, mendatangi tempat-tempat yang pernah dilalui Rasulullah, tetapi belum tentu membawa pulang pelajaran dari sana.

Dulu, unta mengantar manusia menuju Madinah. Kini, pesawat mengantar kita menuju Tanah Suci. Kendaraan berubah, perjalanan semakin mudah. Namun, ada satu hal yang semestinya tidak berubah: kerinduan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Sepulang dari Makkah, kita mungkin membawa ratusan foto, puluhan video, air zamzam, kurma, dan berbagai oleh-oleh. Koper penuh, grup WhatsApp keluarga ramai oleh kiriman dokumentasi. Semua itu sah-sah saja. Tetapi jangan sampai ada yang tertinggal: pelajaran dari perjalanan haji itu sendiri.

Unta-unta itu mungkin telah berada di ujung zamannya. Namun, sejarah yang pernah mereka saksikan semestinya tidak ikut berakhir. Bagi saya, yang paling penting dari sebuah perjalanan bukanlah seberapa banyak yang berhasil kita abadikan, melainkan seberapa banyak pelajaran yang kita bawa pulang.

Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.
Google Ads
BAGIKAN:
Google Ads