Lewati ke konten utama
Minggu, 8 November 2026 / 28 Jumadil Awal 1448 H
Jadwal memuat...
75690b3e-b0f7-405f-aae7-e3c7e9319891
Berita

Hikmah Kiai Ni'am: Kesombongan Atas Harta dan Jabatan Justru Picu Kejatuhan Manusia

Hikmah Kiai Ni'am: Kesombongan Atas Harta dan Jabatan Justru Picu Kejatuhan Manusia

/ 28 Jumadil Awal 1448 H 3 menit baca 224 dibaca

Jakarta, MUI Digital-- Ketua MUI Bidang Fatwa, Prof KH Asrorun Niam Sholeh, mengingatkan bahwa sifat kesombongan, baik yang didasari oleh kekayaan, kekuasaan, kepintaran, maupun keunggulan fisik, pada akhirnya akan menjadi sarana kejatuhan manusia itu sendiri. 

Prof Niam menjelaskan, sikap merasa hebat dan meninggikan diri bertentangan dengan prinsip keimanan sejati yang harus diiringi dengan kerendahan hati.

​Demikian disampaikan Prof Niam saat mengisi pengajian rutin mingguan untuk membedah Kitab Nashaihul Ibad karya Syekh Nawawi Al-Bantani. Pengajian yang diselenggarakan oleh Pondok Pesantren An-Nahdlah ini berlangsung secara hibrida pada Sabtu pagi, dihadiri secara langsung oleh para santri serta diikuti secara antusias oleh ribuan jamaah dari berbagai pelosok nusantara melalui Zoom.

​Dalam kajiannya, Prof Niam menguraikan dialog antara Rasulullah SAW dan para sahabat mengenai penanda keimanan seseorang. Ketika Rasulullah bertanya tentang tanda-tanda keimanan yang benar, para sahabat menjawab dengan tiga hal utama, yakni bersabar atas ujian, bersyukur atas kenikmatan, serta rida dengan ketetapan Allah SWT.

​Saat membahas poin kedua mengenai rasa syukur atas kelapangan hidup, Prof Niam mengingatkan agar kenikmatan berupa harta, kesehatan, dan kemudahan tidak disikapi dengan kesombongan.

​"Bukan tepuk dada. Ah, ini karena kerja keras saya, karena kehebatan saya, karena saya pintar memang, oh karena saya kaya, makanya kamu harus tunduk pada saya, oh karena saya kuasa," ujar Prof Niam.

​Pengasuh Pondok Pesantren An-Nahdlah, Depok, Jawa Barat ini menekankan bahwa sikap menyombongkan keunggulan diri, seperti kekayaan, kekuasaan, kepintaran, atau paras yang menarik, merupakan bentuk ketidakpahaman atas hakikat karunia.

Menurutnya, sunnatullah telah menetapkan hukum alam dan spiritual yang pasti bagi setiap manusia: barang siapa yang meninggikan diri atau sombong, maka Allah SWT akan menjatuhkan derajatnya. Sebaliknya, orang yang senantiasa tawaduk atau rendah hati akan diangkat derajatnya oleh Allah SWT.

​"Jadi kalau ada orang merendahkan diri, Allah akan angkat derajatnya. Tapi kalau seseorang itu meninggikan diri, Allah akan jatuhkan, nah kira-kira begitu, itu sudah sunnatullah-nya," tegasnya. 

Lebih lanjut, ​Guru Besar Bidang Ilmu Fikih UIN Syarif Hidayatullah Jakart ini menjelaskan bahwa sifat sombong sering kali muncul ketika seseorang mendapatkan kelapangan hidup, baik berupa kedudukan, fasilitas teknologi, maupun kekuatan finansial. 

Prof Niam menegaskan, merasa diri paling digdaya hingga merendahkan pihak lain adalah bentuk kesombongan yang justru mengikis nilai-nilai keimanan yang dibangun di atas fondasi sabar dan syukur.

​Prof Niam mengajak seluruh santri dan jamaah untuk senantiasa mawas diri, menjaga hati dari sifat takabur, serta menjadikan kerendahan hati sebagai landasan utama dalam berinteraksi sosial di tengah masyarakat. 

Google Ads
BAGIKAN:
Google Ads