Lewati ke konten utama
Minggu, 4 Oktober 2026 / 22 Rabiul Akhir 1448 H
Jadwal memuat...
Prasasti
Prasasti. Foto: Istimewa
Berita

Turki Temukan Fragmen Batu Perjanjian Perdamaian Kadesh Berusia 3.200 Tahun

Turki Temukan Fragmen Batu Perjanjian Perdamaian Kadesh Berusia 3.200 Tahun

/ 22 Rabiul Akhir 1448 H 4 menit baca 96 dibaca

Ankara, MUI Digital - Sebuah fragmen tablet bertuliskan aksara paku ditemukan di Hattusa, ibu kota kuno Kekaisaran Het di Turki bagian Tengah. 

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Turki Mehmet Nuri Ersoy pada menyatakan bahwa temuan tersebut telah diidentifikasi sebagai bagian dari salinan Perjanjian Perdamaian Kadesh.

Dikutip dari Saudigazette, sejarah mencatat bahwa setelah dua abad terjadi bentrokan yang berlangsung secara berkala untuk memperebutkan kendali atas wilayah, Firaun Mesir Ramses II dan Raja Het Ḫattusili III menyepakati apa yang kini dikenal sebagai Perjanjian Perdamaian Kadesh. 

Kedua penguasa menandatangani kesepakatan tersebut sekitar 15 tahun setelah Pertempuran Kadesh. Hal tersebut menandai deklarasi perdamaian tertua yang diketahui dalam sejarah tertulis.

Menanggapi penemuan tersebut, para arkeolog yang telah mendokumentasikan secara luas berbagai fragmen perjanjian yang tersimpan pada tablet bertuliskan aksara paku dalam bahasa Akkadia, serta hieroglif yang terukir pada dinding kuil Mesir,menjelaskan bahwa fragmen yang baru ditemukan tersebut menghadirkan pesan yang tetap relevan, yakni 3.200 tahun setelah pertama kali dituliskan.

Menurut kementerian, fragmen tersebut ditemukan dalam penggalian di Buyukkale, salah satu kawasan dari kota kuno tersebut. 

Fragmen itu memuat sejumlah baris dari ketentuan yang mengatur perlakuan terhadap orang-orang yang melarikan diri dari satu negara dan mencari perlindungan di negara lainnya.

“Kami telah menemukan jejak perdamaian yang berasal dari ribuan tahun lalu di tanah Anatolia. Pemeriksaan ilmiah telah menentukan bahwa sebuah fragmen tablet bertuliskan aksara paku yang ditemukan selama penggalian di Buyukkale, Hattusa, merupakan bagian dari salah satu salinan Perjanjian Perdamaian Kadesh,” kata Ersoy dalam sebuah unggahan di media sosial, Jum’at (02/10/26) dikutip Ahad (4/10/2026).

“Fragmen baru tersebut memuat sejumlah baris dari ketentuan perjanjian yang mengatur perlakuan terhadap orang-orang yang mencari perlindungan di suatu negara setelah melarikan diri dari negara lain,” ujarnya menambahkan.

Lebih lanjut, Ersoy mengatakan bagian fragmen yang masih dapat dibaca mencakup rujukan mengenai orang-orang yang melarikan diri dari wilayah Mesir dan Hatti, kerajaan kuno bangsa Het, serta ketentuan yang berkaitan dengan penghancuran rumah.

Dia mengatakan penemuan yang diumumkan pada 21 September 2026, bertepatan dengan Hari Perdamaian Sedunia, menunjukkan peran panjang Anatolia dalam sejarah perdamaian dan diplomasi.

“Pernyataan mengenai penghancuran rumah-rumah masyarakat membawa pesan kuat dari ribuan tahun lalu hingga masa kini,” kata Ersoy.

Dalam unggahannya, Ersoy juga menyinggung situasi di Palestina. Ia mengatakan warisan sejarah kuno tersebut mengingatkan manusia akan tanggung jawab untuk melindungi kehidupan dan martabat manusia.

“Kami berharap masa depan di mana semua orang, khususnya saudara-saudari kami di Palestina, dapat hidup dalam keamanan, perdamaian, dan ketenteraman,” ujarnya.

Disamping itu, menurut kementerian, fragmen tablet tersebut ditemukan di dekat Bangunan E di Buyukkale selama penggalian arkeologi. Salah satu sisi fragmen masih bertahan dan telah menjalani pemeriksaan ilmiah secara mendalam selama sekitar satu tahun.

Para peneliti menentukan bahwa fragmen tersebut merupakan bagian dari salah satu salinan Perjanjian Perdamaian Kadesh yang disepakati antara Raja Het Hattusili III dan Raja Mesir Ramses II. 

Perjanjian tersebut secara luas dikaitkan dengan berakhirnya konflik antara kerajaan Het dan Mesir setelah Pertempuran Kadesh yang berlangsung pada abad ke-13 sebelum Masehi. Perjanjian itu dianggap sebagai salah satu kesepakatan perdamaian tertulis paling awal yang diketahui.

Fragmen-fragmen perjanjian yang sebelumnya telah ditemukan kini menjadi bagian dari koleksi Museum Arkeologi Istanbul, Museum Peradaban Anatolia di Ankara, Vorderasiatisches Museum di Berlin, dan State Hermitage Museum di St Petersburg.

Fragmen yang baru diidentifikasi tersebut diharapkan dapat berkontribusi terhadap upaya untuk merekonstruksi salinan tablet tanah liat perjanjian yang ditemukan di Hattusa.

Penggalian di Buyukkale masih berlangsung. Para peneliti berharap dapat menemukan fragmen-fragmen lain yang masih hilang dari perjanjian tersebut.    

BAGIKAN: