Hikmah Kiai Cholil: Mengapa Kita Nyaman dengan Kebatilan, Sementara tidak dengan Kebaikan ?
Hikmah Kiai Cholil: Mengapa Kita Nyaman dengan Kebatilan, Sementara tidak dengan Kebaikan ?
Depok, MUI Digital— Kebaikan dan ibadah sejatinya mampu memberikan kenikmatan serta ketenteraman jiwa yang jauh lebih besar daripada kebatilan.
Namun, rasa tenteram tersebut tidak datang secara instan, melainkan harus dilatih dan dibiasakan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.
Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua Umum MUI KH M Cholil Nafis, saat mengisi pengajian rutinan Sabtu Mujahadah yang mengkaji Kitab Mauidzotul Mu'minin di Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat, Sabtu (3/10/2026) dan kembali dinarasikan MUI Digital pada Ahad (4/10/2026).
Kiai Cholil menyoroti fenomena psikologis manusia yang kerap terjebak dalam kenyamanan hal-hal buruk akibat faktor kebiasaan.
Menurutnya, jiwa manusia yang dibiarkan terus-menerus bergelut dengan kebatilan atau kebiasaan buruk lama-kelamaan akan merasa nyaman dan menganggapnya sebagai hal yang lumrah.
"Kalau kebatilan saja kalau biasa lama-lama nikmat. Orang biasa kotor, lama-lama nyaman dengan kotor. Kalau yang buruk saja kalau biasa itu dinikmati, mengapa dengan yang baik-baik kita tidak bisa menikmati? Seharusnya kita bisa menikmati," ujar Rais Syuriah PBNU tersebut.
Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah ini mencontohkan berbagai kebiasaan sederhana dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari menjaga kebersihan lingkungan, melipat pakaian kotor dengan rapi, hingga adab menjaga fasilitas umum.
Menurutnya, kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilatih secara konsisten akan membentuk watak dasar seseorang. Dampaknya, ketika hal baik tersebut tidak dilakukan, justru akan timbul rasa tidak nyaman dalam diri.
Lebih lanjut, Ketua Badan Pengurus DSN MUI ini menekankan bahwa esensi kebajikan dan keindahan ibadah memerlukan proses latihan berkelanjutan (riyadhah) serta kepasrahan total kepada Allah SWT.
"Kapan itu terjadi? Dilatih, dibiasakan, dibiasakan, dibiasakan. Gak enak kalau tidak dilakukan. Begitu juga mindset kita, harus menggantungkan diri hanya kepada Allah secara totalitas, tidak bisa separuh-separuh," tegasnya.
Selain pentingnya pembiasaan, CEO Amanah Zakat ini juga menguraikan makna hikmah dalam beramal. Kebaikan yang mampu menentramkan jiwa adalah kebaikan yang dikerjakan oleh orang yang bijak, yakni memahami cara yang tepat, momentum yang pas, serta didasari niat yang lurus.
"Orang yang punya hikmah itu tahu yang baik, tahu yang tepat, dan tahu momentumnya kapan. Kalau kebatilan saja bisa bikin orang ketagihan karena biasa, maka kebenaran dan kebaikan yang dibiasakan pasti jauh lebih nikmat dan menentramkan jiwa," kata Kiai Cholil.