Lewati ke konten utama
Sabtu, 26 September 2026 / 14 Rabiul Akhir 1448 H
Jadwal memuat...
Cholil Nafis
Waketum MUI, KH M Cholil Nafis saat menutup Mudzakarah Ilmiah Harmonisasi Manhaj dan Otoritas Fatwa Nasional di Hotel Balairung, Matraman, Jakarta, Kamis (6/8/2026). Foto: Latifahtul/ MUI Digital
Berita

Hikmah Kiai Cholil: Berbuat Baik Harus Karena Allah SWT, Bukan Menanti Balasan Manusia

Hikmah Kiai Cholil: Berbuat Baik Harus Karena Allah SWT, Bukan Menanti Balasan Manusia

/ 14 Rabiul Akhir 1448 H 3 menit baca 69 dibaca

Jakarta, MUI Digital— Wakil Ketua Umum MUI KH M Cholil Nafis mengingatkan pentingnya meluruskan niat dalam setiap tindakan kebaikan yang dilakukan oleh seorang Muslim.

 Kiai Cholil mengimbau umat Islam untuk senantiasa menebar kebaikan semata-mata demi mengharapkan keridhaan Allah SWT, bukan karena menanti balasan dari sesama manusia.

Pesan mendalam tersebut disampaikan Kiai Cholil dalam ceramahnya pada pengajian rutinan Sabtu Mujahadah yang mengkaji Kitab Maudzotul Mu'minin di Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat, Sabtu (26/9/2026).

Dalam tausiyahnya, Kiai Cholil menyoroti fenomena sosial di mana banyak orang merasa kapok atau enggan melanjutkan berbuat baik lantaran kebaikan mereka dibalas dengan pengkhianatan atau perlakuan tidak menyenangkan. 

Menurutnya, hal tersebut terjadi karena seseorang masih menjadikan dorongan manusiawi sebagai landasan utama dalam beramal.

"Seringkali kita ini mau berbuat baik pada orang menunggu orang itu berbuat baik sama kita. Atau akan terus berbuat baik kepada siapa pun kalau orang itu membalas kebaikan kita. Itu berarti berbuat baik karena orang," ujar Kiai Cholil. 

Ulama kelahiran Madura pada 1 Juni 1975 ini menjelaskan bahwa kebiasaan berbuat baik yang bersyarat seperti itu rentan menimbulkan keputusasaan. 

Menurutnya, banyak orang yang menganggap bahwa mereka telah lelah membantu sesama karena orang yang dibantu justru bertindak mengecewakan. 

Kiai Cholil menerangkan bahwa perlakuan buruk dari sesama sejatinya adalah ujian untuk menguji ketulusan iman seseorang.

"Ini banyak sekali orang menjadi kapok. 'Kapok saya berbuat baik sama orang, orang yang dibaikin mengkhianati terus sama saya.' Nah, itu cobaannya. Tapi kepada orang lain, jangan berhenti berbuat baik. Mengapa? Karena kita berbuat baik itu bukan karena dia, tapi karena perintah dari Allah," kata dia mengingatkan. 

Lebih lanjut, Kiai Cholil menerangkan bahwa memiliki tetangga atau teman pergaulan yang kurang baik merupakan tantangan hidup yang disengaja oleh Allah SWT untuk menggembleng kualitas akhlak manusia. 

“Meski begitu, berbuat baik bukan berarti seseorang harus bersikap pasrah tanpa ketegasan,” tutur dia.

Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah ini memaparkan bahwa memberikan teguran, peringatan, atau sanksi kepada orang yang berbuat salah tetap diperbolehkan dalam Islam, asalkan tindakannya tidak didasari oleh rasa dendam melainkan niat mendidik (al-mawāni' wa al-zawājir) agar perbuatan buruk tersebut berhenti dan tidak menular kepada orang lain.

"Orang memberi sanksi itu bukan dendam, tapi tujuannya al-mawāni' wa al-zawājir, biar orang berhenti berbuat buruk dan orang lain tidak berbuat buruk karena ada sanksinya. Kalau tidak baik sama dia, itu pelajaran. Bukan karena benci, tapi pelajaran biar dia berubah," tambahnya.

Kiai Cholil mengajak seluruh jamaah untuk terus melatih diri dan ber-mujahadah agar perbuatan baik menjadi karakter yang melekat. 

Menurutnya, ketika jiwa seseorang dalam kondisi sehat dan niatnya murni karena Allah SWT, memberi dan menolong orang lain tidak lagi terasa berat, melainkan berubah menjadi sebuah kenikmatan batin yang tiada tara.

BAGIKAN: