Memahami dan Meyakini Mukjizat Nabi
Memahami dan Meyakini Mukjizat Nabi
Oleh: Abd. Hakim Abidin, M.A
Redaktur Keislaman MUI Digital
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Ada satu pemahaman yang begitu melekat di benak sebagian umat Islam, bahwa Nabi Muhammad SAW hanya memiliki satu mukjizat, yaitu Alquran. Pada hakikatnya, pemahaman ini tidak sepenuhnya keliru. Artinya, Alquran memang mukjizat terbesar dan paling agung yang pernah diturunkan kepada beliau.
Namun demikian, menyempitkan mukjizat kenabian hanya pada
kitab suci ini adalah kekeliruan, yang secara diam-diam, disengaja maupun
tidak, mengaburkan sebuah lanskap sejarah yang jauh lebih kaya dan menakjubkan.
Untuk memahami persoalan ini secara utuh, kita perlu mundur
ke akar maknanya. Mukjizat adalah peristiwa luar biasa yang berada di luar
kebiasaan manusia, yang Allah SWT tampakkan melalui tangan seorang nabi sebagai
bukti kebenaran risalahnya.
Mukjizat bukan kesaktian pribadi, bukan pula keahlian yang
dilatih. Hal itu adalah tanda kekuasaan Allah yang dipinjamkan sesaat kepada
hamba pilihan-Nya, untuk meyakinkan manusia bahwa yang berbicara di hadapan
mereka bukan sekadar manusia biasa, melainkan utusan Tuhan semesta alam.
Syekh Ramadhan al-Buthi dalam kitab Kubra al-Yaqiniyat al-Kauniyah
menggarisbawahi bahwa yang dimaksud di luar kebiasaan manusia itu adalah menyelisihi
kebiasaan dan sesuatu yang lazim terjadi, tetapi tidak bertentangan dengan akal
maupun kemungkinan.
إِنَّمَا
تُخَالِفُ الْعَادَةَ وَالْمَأْلُوفَ، وَلَا تُخَالِفُ الْعَقْلَ وَالْإِمْكَانَ
“Sesungguhnya, hal itu hanya bertentangan dengan
kebiasaan dan sesuatu yang lazim, bukan bertentangan dengan akal dan
kemungkinan.” (Kubra al-Yaqiniyat al-Kauniyah; Wujud al-Khaliq wa
Wadhifah al-Makhluq [Damaskus: Dar al-Fikr], h. 214)
Dalam sejarah, mukjizat bukan barang asing dalam kisah para
nabi. Nabi Ibrahim AS, misalnya, tidak hangus ketika dilemparkan ke dalam
kobaran api. Allah SWT berfirman:
قُلْنَا
يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ
“Kami berfirman, ‘Wahai api! Jadilah kamu dingin dan
penyelamat bagi Ibrahim.’” (QS. Al-Anbiya’: 69)
Nabi Musa AS juga mengalami hal serupa. Ketika terjepit di
antara laut dan kejaran Fir’aun, ia diperintahkan memukulkan tongkatnya ke
permukaan air. Laut pun terbelah, airnya berdiri tegak bagai gunung. Allah SWT
berfirman:
فَأَوْحَيْنَا
إِلَىٰ مُوسَىٰ أَنِ اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْبَحْرَ فَانفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ
كَالطَّوْدِ الْعَظِيمِ
“Lalu Kami wahyukan kepada Musa, ‘Pukullah laut itu
dengan tongkatmu.’ Maka terbelahlah laut itu, dan setiap belahan seperti gunung
yang besar.” (QS. Asy-Syu’ara’ [26]: 63)
Dari dua kisah ini kita bisa menarik satu benang merah.
Peristiwa yang melampaui kelaziman alam bukanlah sesuatu yang asing dalam
pandangan Alquran.
Hukum alam memang berjalan menurut sunnatullah yang tetap,
tetapi Allah sebagai Pencipta hukum tersebut tentu berkuasa penuh untuk
sesekali menampakkan sesuatu di luar kelaziman itu.
Sebagai seorang muslim, meyakini adanya mukjizat adalah sebuah kewajiban. Tetapi mencoba memahami bagaimana hal itu bisa terjadi bukanlah ranah yang dilarang.
Nabi Muhammad SAW dan Mukjizat selain Alquran
Dalam pembahasan tentang mukjizat Nabi Muhammad SAW,
terdapat anggapan bahwa satu-satunya mukjizat beliau hanyalah Alquran. Memang
benar bahwa Alquran merupakan mukjizat terbesar dan paling agung Nabi Muhammad SAW.
Namun, hal tersebut tidak berarti beliau tidak memiliki mukjizat lainnya.
Terkait hal itu, Alquran sendiri memberikan dasar penting
mengenai fungsi Nabi Muhammad SAW sebagai penjelas wahyu. Allah SWT berfirman:
وَأَنزَلْنَا
إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ
يَتَفَكَّرُونَ
“Dan Kami turunkan kepadamu Alquran agar engkau
menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka, agar mereka
memikirkan.” (QS. An-Nahl: 44)
Karena itu, dalam tradisi keilmuan Islam, Alquran dan hadis
tidak diposisikan sebagai dua sumber yang saling berlawanan. Alquran menjadi
sumber utama, sementara hadis Nabi SAW menjelaskan, merinci, dan menerapkan
kandungan wahyu dalam kehidupan.
Sebagai buktinya, salah satu contoh mukjizat yang berkaitan
dengan peristiwa besar dalam perjalanan kenabian adalah Isra’ dan Mi’raj.
Peristiwa Isra’ disebut secara eksplisit dalam Alquran:
سُبْحَانَ
الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى
الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ
إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada
suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi
sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran
Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. Al-Isra’: 1)
Adapun peristiwa Mi'raj dijelaskan dalam hadis-hadis sahih.
Dalam rangkaian peristiwa tersebut terdapat ketetapan kewajiban shalat lima
waktu. Hal ini tentu menunjukkan bahwa penjelasan mengenai mukjizat Nabi SAW
tidak hanya bersumber dari Alquran, tetapi juga dari keteladanan Nabi, yang
selanjutnya disebutlah sebagai sunnah atau hadis Nabi.
Mukjizat Nabi SAW juga mencakup sejumlah pemberitaan tentang
perkara yang belum terjadi pada saat beliau menyampaikannya.
Di antaranya sabda beliau mengenai Mesir. Dalam sebuah
riwayat hadis, Nabi SAW bersabda:
إِنَّكُمْ
سَتَفْتَحُونَ مِصْرَ، وَهِيَ أَرْضٌ يُسَمَّى فِيهَا الْقِيرَاطُ، فَإِذَا
فَتَحْتُمُوهَا فَأَحْسِنُوا إِلَى أَهْلِهَا؛ فَإِنَّ لَهُمْ ذِمَّةً وَرَحِمًا
“Sesungguhnya kalian akan menaklukkan Mesir, sebuah
negeri yang menggunakan istilah qirath. Apabila kalian telah menaklukkannya,
maka perlakukanlah penduduknya dengan baik, karena mereka memiliki perlindungan
dan hubungan kekerabatan.” (HR Muslim)
Selain itu, Nabi SAW juga bersabda:
إِذَا
هَلَكَ كِسْرَى فَلَا كِسْرَى بَعْدَهُ، وَإِذَا هَلَكَ قَيْصَرُ فَلَا قَيْصَرَ
بَعْدَهُ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتُنْفَقَنَّ كُنُوزُهُمَا فِي سَبِيلِ
اللَّهِ
“Apabila Kisra telah binasa, tidak akan ada lagi Kisra
setelahnya. Dan apabila Kaisar telah binasa, tidak akan ada lagi Kaisar
setelahnya. Demi Zat yang jiwaku berada dalam kekuasaan-Nya, sungguh harta
kekayaan keduanya akan dibelanjakan di jalan Allah.” (HR Bukhari dan
Muslim)
Dalam perspektif keimanan Islam, pemberitaan semacam ini
termasuk tanda yang menguatkan kebenaran risalah Nabi SAW.
Riwayat hadis juga menyebutkan sejumlah mukjizat yang
berkaitan dengan benda-benda di sekitar Nabi SAW.
Dalam Sunan at-Tirmidzi, disebutkan sebuah riwayat,
bahwa Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah menceritakan
kisah berikut:
كُنْتُ
مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ بِمَكَّةَ،
فَخَرَجْنَا فِي بَعْضِ نَوَاحِيهَا، فَمَا اسْتَقْبَلَهُ شَجَرٌ وَلَا جَبَلٌ
إِلَّا وَهُوَ يَقُولُ: السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ
“Aku pernah bersama Rasulullah SAW di Makkah. Kami keluar
menuju beberapa daerah di sekitarnya. Tidaklah beliau melewati pohon ataupun
gunung kecuali benda tersebut mengucapkan, ‘Salam sejahtera atasmu, wahai
Rasulullah.’” (HR Tirmidzi)
Dalam riwayat lain, seorang Arab Badui bertanya kepada Nabi SAW
bagaimana ia dapat mengetahui bahwa beliau benar-benar Rasulullah. Nabi SAW
kemudian memanggil pelepah kurma. Pelepah tersebut turun dari pohonnya dan
mendekati beliau seraya mengucapkan salam:
السَّلَامُ
عَلَيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ
“Salam sejahtera atasmu, wahai Rasulullah.”
Setelah itu, Nabi SAW memerintahkannya kembali ke tempat
semula dan pelepah tersebut kembali. Riwayat ini disebutkan juga oleh Imam at-Tirmidzi.
Mukjizat lainnya terjadi pada batang pohon kurma yang dahulu
digunakan Nabi SAW untuk berkhutbah. Ketika dibuatkan mimbar, beliau
meninggalkan batang kurma tersebut. Anas bin Malik r.a meriwayatkan hadis ini
sebagaimana berikut:
فَلَمَّا
صُنِعَ لَهُ الْمِنْبَرُ فَخَطَبَ عَلَيْهِ حَنَّ الْجِذْعُ حَنِينَ النَّاقَةِ،
فَنَزَلَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ فَمَسَّهُ فَسَكَنَ
“Ketika dibuatkan mimbar untuk beliau lalu beliau
berkhutbah di atasnya, batang kurma itu merintih seperti rintihan unta.
Kemudian Nabi SAW turun dan menyentuhnya, maka batang itu pun menjadi tenang.”
(HR Tirmidzi)
Masih ada lagi, mukjizat lain terjadi dalam perjalanan
menuju Hudaibiyah. Ketika para sahabat kehabisan air, Nabi SAW memasukkan
tangannya ke dalam sebuah wadah kecil. Air kemudian memancar dari sela-sela
jari beliau.
Jabir bin Abdullah r.a meriwayatkan hal itu:
فَجَعَلَ
يَفُورُ مِنْ بَيْنِ أَصَابِعِهِ كَأَمْثَالِ الْعُيُونِ، فَتَوَضَّأْنَا
وَشَرِبْنَا
“Air kemudian memancar dari sela-sela jari beliau seperti
mata air. Kami pun berwudhu dan minum.”
Ketika Jabir ditanya mengenai jumlah mereka, ia menjawab
bahwa mereka berjumlah sekitar 1.500 orang. Bahkan, ia mengatakan bahwa
seandainya mereka berjumlah 100.000 orang, air tersebut akan tetap mencukupi.
Riwayat ini terdapat dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.
Adapun salah satu mukjizat Nabi Muhammad SAW yang paling
terkenal adalah terbelahnya bulan. Peristiwa ini bukan hanya disebut dalam
hadis, tetapi juga berkaitan langsung dengan ayat Alquran. Allah SWT menggambarkan
kejadian itu dalam firman-Nya berikut:
اقْتَرَبَتِ
السَّاعَةُ وَانشَقَّ الْقَمَرُ. وَإِنْ يَرَوْا آيَةً يُعْرِضُوا وَيَقُولُوا
سِحْرٌ مُّسْتَمِرٌّ
“Telah dekat saat datangnya kiamat dan bulan pun
terbelah. Jika mereka melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan
berkata, ‘Ini adalah sihir yang terus-menerus.’” (QS. Al-Qamar: 1–2)
Ibnu Mas’ud r.a meriwayatkan bahwa ketika berada bersama
Rasulullah SAW di Mina, bulan terbelah menjadi dua bagian. Salah satu bagian
berada di balik gunung, sementara bagian lainnya berada di sisi yang lain. Saat
itu, Nabi SAW kemudian bersabda:
اشْهَدُوا
“Saksikanlah.” (HR Bukhari dan Muslim)
Anas bin Malik r.a juga meriwayatkan bahwa penduduk Makkah
meminta Nabi SAW memperlihatkan suatu tanda. Beliau kemudian memperlihatkan
bulan dalam keadaan terbelah menjadi dua sehingga mereka dapat melihat Gunung
Hira berada di antara kedua bagian tersebut. Riwayat ini juga terdapat dalam Shahih
Bukhari dan Shahih Muslim.
Dalam kerangka aqidah Islam, terbelahnya bulan dipahami sebagai mukjizat yang Allah SWT berikan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai tanda penguat kerasulannya. Dan bahwa kekuasaan Allah tidak dibatasi oleh kebiasaan alam yang kita kenal.
Akal, Alam, dan Batas Pengingkaran
Pertanyaan yang wajar muncul di sini adalah, mengapa
mukjizat semacam ini tidak boleh ditolak begitu saja dengan alasan akal sehat
atau hukum alam?
Pada dasarnya, Islam tidak pernah mengajarkan penolakan
terhadap akal. Sebaliknya, Alquran berulang kali mengajak manusia berpikir dan
merenung. Namun menerima keteraturan hukum alam tidak lantas berarti menutup
kemungkinan bahwa Allah, sebagai Pencipta hukum tersebut, bisa sesekali
menampakkan sesuatu di luar keteraturannya.
Alquran sendiri penuh dengan kisah semacam ini, tongkat Nabi
Musa AS yang berubah menjadi ular nyata, batu yang memancarkan dua belas mata
air sekaligus, gunung dan burung yang bertasbih bersama Nabi Dawud AS, hingga
mukjizat Nabi Isa AS yang membentuk burung dari tanah liat dan menghidupkan
orang yang telah wafat, sebagaimana termaktub dalam firman Allah berikut:
وَإِذْ
تَخْلُقُ مِنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ بِإِذْنِي فَتَنفُخُ فِيهَا
فَتَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِي
“Dan ketika engkau membentuk dari tanah berupa burung
dengan seizin-Ku, kemudian engkau meniupnya, lalu ia menjadi burung dengan
seizin-Ku...” (QS. Al-Ma’idah: 110)
Menarik mengamati ayat ini. Ada satu frasa dalam ayat yang
perlu digarisbawahi dengan cermat, yaitu “bi idzni”, “dengan seizin-Ku”.
Ini menjadi kunci untuk memahami hakikat mukjizat secara tepat.
Hal itu menyiratkan makna yang tegas, bahwa Nabi Isa AS tidak memiliki kekuasaan ketuhanan sedikit pun. Beliau hanyalah penerima dan pelaksana kehendak Allah. Dan Allah-lah yang mencipta mukjizat itu sendiri, sementara nabi hanya dipinjami kemampuan tersebut sebagai tanda kerasulannya. Prinsip ini berlaku sama pada seluruh mukjizat para nabi, termasuk mukjizat Nabi Muhammad SAW.
Landasan Pemahaman Mukjizat dan Kedudukan Alquran
Selanjutnya, di sini perlu menempatkan persoalan mukjizat
Nabi SAW dalam kerangka yang lebih jernih, yaitu kerangka hubungan antara Alquran
dan hadis Nabi.
Tidak semua mukjizat harus disebutkan secara eksplisit dalam Alquran
agar layak diyakini. Sebagian besarnya justru dijelaskan lewat hadis-hadis
sahih, sebagaimana rincian ibadah shalat, jumlah rakaat, waktu pelaksanaan, dan
tata caranya juga dijelaskan lewat hadis, bukan disebutkan rinci dalam Alquran.
Dalam Alquran disebutkan, bahwa kewajiban mengikuti
Rasulullah SAW ditegaskan langsung oleh Allah SWT:
مَنْ
يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ
“Barang siapa menaati Rasul, maka sungguh, dia telah
menaati Allah.” (QS. An-Nisa’: 80)
Karena itu, menempatkan hadis sahih sebagai sumber ajaran
yang otoritatif bukan berarti menandingi kedudukan Alquran. Idealnya, justru hadis
itu menjadi jembatan yang menerangkan bagaimana wahyu itu dipahami dan
dihidupkan dalam keseharian Rasulullah SAW, yang kemudian menjadi rujukan dan
panutan umat Islam.
Lalu, pengakuan atas mukjizat-mukjizat inderawi sama sekali
tidak mengurangi kedudukan Alquran sebagai mukjizat terbesar dan paling agung.
Keduanya justru berdiri pada wilayah yang berbeda. Mukjizat inderawi bersifat
sesaat, disaksikan oleh orang-orang tertentu pada waktu tertentu, lalu menjadi
kisah yang diwariskan lewat riwayat. Alquran, sebaliknya, terus hidup sepanjang
zaman, terus dibaca, dihafal, dikaji, dan menjadi hujjah yang tak lekang bagi
siapa pun yang mencarinya, kapan pun dan di mana pun.
Tidak ada alasan untuk mempertentangkan keduanya. Alquran sebagai mukjizat abadi dan mukjizat-mukjizat lain sebagai bukti sesaat sama-sama mengarah pada satu tujuan, yaitu menegaskan kebenaran risalah Muhammad SAW dari berbagai sisi yang saling menguatkan.
Sekali lagi, persoalan mukjizat tidak hanya tentang cocok
atau tidaknya sebuah peristiwa dengan pengalaman empiris manusia sehari-hari.
Ada pertanyaan yang jauh lebih mendasar di baliknya, yaitu apakah Allah
Mahakuasa atas segala sesuatu? Jika Dialah Pencipta alam beserta seluruh hukum
yang mengaturnya, maka tidak ada alasan teologis untuk membatasi kekuasaan-Nya
hanya pada apa yang lazim disaksikan manusia.
Mukjizat, dengan demikian, bukan penyimpangan dari
sunnatullah, melainkan penegasan bahwa sunnatullah itu sendiri bukan batas
kekuasaan Allah, melainkan salah satu bentuk ciptaan-Nya yang bisa Dia lampaui
kapan pun berkehendak. Hukum alam adalah karya-Nya; mukjizat adalah tanda bahwa
Sang Pencipta tidak pernah terkurung oleh karya-Nya sendiri.
Walhasil, sikap yang paling proporsional bagi seorang muslim adalah menerima mukjizat-mukjizat yang telah ditetapkan lewat Alquran dan hadis-hadis sahih, tanpa berlebihan mengarang kisah yang tak berdasar, dan tanpa pula gegabah menolak riwayat yang telah teruji kekuatannya hanya karena ia berada di luar jangkauan kebiasaan manusia. Di titik seimbang inilah iman dan akal berjalan beriringan, bukan saling menjegal.