Lewati ke konten utama
Kamis, 15 Oktober 2026 / 4 Jumadil Awal 1448 H
Jadwal memuat...
Spektrum “Hudan”, Meniti Jalan Petunjuk
Foto: AI Modified/ChatGPT
Opini

Spektrum “Hudan”, Meniti Jalan Petunjuk

Spektrum “Hudan”, Meniti Jalan Petunjuk

/ 4 Jumadil Awal 1448 H 6 menit baca 75 dibaca
Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I

Oleh: Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I

Anggota Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI/Dosen STIS Hidayatullah

Admin Admin Editor: Admin

Jakarta, MUI Digital — Ketika seorang hamba berdiri dalam keheningan shalat lalu melantunkan “Ihdinash-shirathal-mustaqim”, sesungguhnya ia sedang menyatakan kebergantungan mutlaknya pada “hudan” atau petunjuk Ilahi yang menjadi kebutuhan paling mendasar bagi eksistensi manusia. Melalui ayat ini, seorang hamba melakukan penyelarasan ulang arah hidupnya di hadapan Allah, memastikan bahwa setiap langkahnya tetap terpaut pada komando wahyu.

Sebuah pertanyaan sering terlintas: jika seseorang telah memeluk Islam dan beriman, mengapa ia masih diwajibkan terus-menerus meminta petunjuk setiap rakaat? Apakah doa ini merupakan pengulangan yang sia-sia?

Para ulama tafsir menegaskan bahwa permohonan ini adalah kebutuhan yang mutlak. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan bahwa hidayah mencakup dua dimensi besar. Pertama, hidayah menuju jalan yang benar: bimbingan awal untuk mengenal kebenaran dan memeluk Islam. Kedua, hidayah di atas jalan (at-taufiq wal-istiqamah): pertolongan Allah agar kita mampu memahami syariat secara terperinci, diberi daya untuk mengamalkannya, dan diteguhkan langkahnya hingga embusan napas terakhir.

Kita meminta bukan karena belum berada di jalan itu, melainkan agar Allah tidak mencabut nikmat iman dari dada kita. Hal ini serupa dalam firman Allah, yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya….” (QS. An-Nisa: 136)

Iman bukanlah garis finis yang sekali disentuh lalu abadi tanpa ujian. Iman adalah perjalanan yang membutuhkan pasokan bahan bakar berupa taufik ilahi di setiap detiknya. Apalagi ada nafsu yang terkadang membuat lalai dan ada setan yang senantiasa menggoda untuk menggelincirkan manusia dari petunjuk.

Manusia bukanlah makhluk yang sempurna, melakukan kesalahan dan khilaf merupakan salah satu fitrah manusia. Namun, Allah sebagai “Al-Hadi” (pemberi petunjuk) selalu memberi kesempatan kepada manusia untuk kembali kepada kebenaran. Hidayah hanya milik Allah SWT. Hidayah tidak akan datang kepada seorang hamba tanpa seizin-Nya.

Seseorang yang mendapat hidayah akan cenderung melakukan amal kebaikan, dan ketika mampu berbuat maksiat, ia menjauhinya karena Allah SWT telah membimbingnya, sehingga maksiat yang seharusnya bisa dilakukan menjadi tidak dilakukan. Mereka juga diberi kemudahan untuk mengamalkan Islam, merasa nikmat dalam melakukan kebaikan, istiqamah (konsisten), yang artinya berpegang teguh kepada nilai-nilai keimanan yang dimiliki, senang mendengarkan nasihat, sabar, dan bersyukur dalam menjalani hidup.

Di tengah krisis orientasi moral, derasnya arus disinformasi, dan kejenuhan era modernis kekinian, keberadaan “hudan” menjadi penahan eksistensial yang tidak bisa digantikan oleh apa pun. Sebaliknya, hidup tanpa “hudan” menyimpan bahaya eksistensial yang sangat fatal bagi kehidupan manusia, baik di dunia maupun di akhirat. Tanpa petunjuk Ilahi, akal manusia yang terbatas dan sering kali terdistorsi oleh hawa nafsu akan dengan mudah tersesat dalam relativisme moral dan kesesatan.

Allah SWT secara tegas menggambarkan kondisi orang-orang yang berpaling dari petunjuk-Nya dalam surat Thaha ayat 124, yang artinya: “Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta.”

Seseorang tidak mendapatkan hidayah atau akan kesulitan mendapatkan hidayah dari Allah SWT dikarenakan melakukan beberapa sebab. Contohnya berbuat zalim, melakukan kefasikan dan keburukan, ingkar janji atau berkhianat, berbohong demi kebaikan diri sendiri maupun kelompok, sombong dan takabur, mengikuti hawa nafsu, dan lain-lain.

Mendalami Makna “Hudan”

Alquran banyak menyebutkan derivasi kata “hudan”, baik dalam bentuk madli, mudlari’, amar maupun dalam bentuk lainnya. Jelas ini menarik untuk diulas lebih detail.

Sebelum mengkaji lebih dalam, terlebih dahulu penulis memaparkan pengertian huda berdasarkan kamus-kamus bahasa. Dalam kamus bahasa Indonesia, “hudan” bermakna petunjuk.

Adapun secara terminologi, kata “hudan” merupakan petunjuk yang dapat menuntun, menunjuki, memberi, mengantarkan manusia dari kesesatan menuju jalan kebenaran, dan Allah-lah yang memperhatikan hamba-Nya dan memberi cara kepada hamba-Nya untuk mengenal-Nya, sehingga mereka mengakui ketuhanan-Nya, serta membimbing setiap makhluk kepada apa yang seharusnya ia tuju demi kelangsungan hidupnya.

Selain itu, dapat juga diartikan sebagai jalan yang menyampaikan kepada yang haq, yaitu jalan lurus yang setiap manusia memohon di dalam shalat untuk menempuh jalan itu dan konsisten dalam berjalan di atasnya.

Ringkasnya, di sini dapat dipahami bahwa “hudan” (hidayah) merupakan penjelasan dan petunjuk jalan yang akan mengantarkan seseorang kepada tujuan, sehingga meraih kemenangan di sisi Allah SWT.

T. M. Hasbi ash-Shiddieqy membagi hidayah kepada empat bentuk. Pertama, hidayah ilham. Hidayah ini diberikan kepada anak bayi sejak dilahirkan. Dengan hidayah ini, si bayi merasa memerlukan makanan, lalu menangis untuk memperolehnya. Inilah hidayah pertama yang secara langsung Allah berikan kepada hambanya. Ilham ini dikenal juga dengan sebutan insting atau naluri yang diberikan kepada bayi dan hewan.

Kedua, pancaindra, hidayah ini diperoleh oleh manusia dan hewan sebagai hidayah pertama, bahkan hewan memperoleh hidayah pancaindra lebih sempurna dibandingkan manusia. Hewan mendapatkan hidayah, ilham, dan pancaindra sekaligus sejak dilahirkan, berbeda dengan manusia yang diberikan secara berangsur-angsur.

Ketiga, akal. Hidayah ini lebih tinggi daripada ilham dan pancaindra. Manusia diciptakan oleh Allah SWT untuk hidup bermasyarakat. Ilham dan pancaindra saja tidak cukup untuk hidup bermasyarakat. Oleh karena itu, ia perlu diberikan hidayah akal agar bisa mengoreksi dan meluruskan kesalahan-kesalahan yang diperbuat oleh pancaindra.

Keempat, agama dan syariat. Hidayah ini sangat diperlukan oleh setiap orang. Dengan hidayah agama, batas-batas yang tidak boleh dilanggar dan peraturan yang harus ditaati menjadi jelas, sehingga manusia tidak melanggar batas-batas yang ditentukan.

Pada prinsipnya, ada hal-hal yang memang manusia tidak dapat berpegang pada pikirannya, seperti hal-hal gaib yang memang manusia tidak mampu menjangkau dengan akalnya. Misalnya, dalam kehidupan kedua setelah kematian, manusia tidak mampu mengetahui apa yang menjadi dasar kebahagiaan dalam kehidupan kedua itu. Tetapi keterangannya dapat dilihat dalam petunjuk agama dan syariat.

Di sini saya perlu menggarisbawahi, bahwa memohon jalan yang lurus itu bukan sekadar komat-kamit pasif di atas sajadah, melainkan doa paling agung sekaligus tekad untuk terus berbenah. Menghayati makna tersirat dalam ayat “Ihdinash-shirathal-mustaqim” menuntut ikhtiar aktif: menuntut ilmu, membersihkan racun ego, mencari lingkungan atau komunitas yang baik dan menjaga integritas agar tidak hanyut oleh tren yang merusak.

Karakter yang seimbang lahir ketika fitrah, indra, dan akal tunduk di bawah bimbingan wahyu. Kecerdasan intelektual tanpa wahyu hanya menghasilkan arogansi. Sebaliknya, antusiasme beramal tanpa pijakan ilmu mudah tersesat.

Seorang muslim yang cerdik memohon anugerah “hudan” akan memiliki jiwa yang adaptif namun berprinsip, jernih dalam mengambil keputusan, serta senantiasa menebarkan maslahat.

Dalam lanskap peradaban, “hudan” adalah nyawa, fondasi, sekaligus arah kebijakan bersama. Kemegahan suatu peradaban tidak pernah diukur sebatas tinggi infrastruktur beton atau canggihnya teknologi.

Tanpa panduan nilai ilahi, sains berisiko berakhir pada eksploitasi alam yang serakah, ekonomi tereduksi menjadi ajang spekulasi pembohong, dan hukum terdistorsi menjadi instrumen kekuasaan.

Sebaliknya, ketika “hudan” menggelora dalam jiwa para penggerak bangsa, segenap inovasi, tata kelola publik, dan karya kebudayaan akan bermuara pada keadilan dan nilai-nilai kemanusiaan universal.

Dari kepasrahan individu yang bersujud memohon petunjuk di setiap rakaat, lahirlah tatanan masyarakat yang berintegritas, sebuah peradaban Islam yang tegak di atas paduan ilmu dan amal, kokoh memegang etika, serta menjadi rahmat bagi semesta alam.

Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.
Google Ads
BAGIKAN:
Google Ads