Khutbah Jumat: Peran Penting Seorang Ayah dalam Tumbuh Kembangnya Setiap Anak
Khutbah Jumat: Peran Penting Seorang Ayah dalam Tumbuh Kembangnya Setiap Anak
Oleh: Admin
Editor: Admin
Oleh: KH Sobrun Jamili, S.Pd.I, Sekretaris 5 MUI kota Tangerang
Khutbah I
الَسَّلامُ عَليْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ
وَبَرَكَاتُه
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الّذِيْ جَعَلَ الْأَمْوَالَ
وَالْبَنِيْنَ زِيْنَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا،وَأَمَرَنَا بِتَرْبِيَتِهِمْ عَلٰى
مَنْهَجِ الْإِسْلَامِ وَالتَّقْوَى، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ عَلٰى نِعَمِهِ
الْعُظْمَى. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْأَسْمَاءُ
الْحُسْنَى،وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَاوَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الْخُلُقِ
الْأَسْمَى، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى
سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَعْلَامِ الْهُدَى.
أَمَّا
بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ،اِتَّقُوا اللّٰهَحَقَّ تُقَاتِهِ، وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ مَسْؤُولُونَ عَنْ رَعَايَاكُمْ
يَوْمَ اللِّقَاءِ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فَيْ
الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ، أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ: (يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا
النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ
اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ)، وَقَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ: ( كُلُّ مَوْلُودٍ
يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ).
صَدَقَ اللّٰهُ الْعَطِيْمُ وَصَدَقَ رَسُوْلُهُ النَّبِيُّ الْكَرِيْمُ وَنَحْنُ عَلَى ذٰلِكَ مِنَ الشَّاهِدِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
Sidang Jumat yang Berbahagia,
Marilah kita senantiasa meningkatkan kualitas takwa kita kepada
Allah SWT. Takwa dalam arti menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi
segala larangan-Nya. Berharap agar kita layak mendapatkan tempat yang mulia di sisi-Nya.
Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada uswatun
hasanah kita, teladan terbaik kita, Baginda Nabi Muhammad SAW, beserta
keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga akhir zaman.
Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah,
Bagi kita, anak adalah anugerah sekaligus juga amanah dari Allah
SWT. Kita, selaku orang tua wajib mendidik dan menjaganya dalam mengantarkan
mereka menuju jalan yang benar dan lurus sesuai fitrahnya.
Jika kita ajarkan kebaikan dan kebenaran, maka mereka akan berada
dijalan lurus menuju keselamatan. Namun jika sebaliknya, maka jalan
kesesatanlah yang akan dilalui oleh mereka.
Diriwayatkan dalam sebuah hadis, dari Abu Hurairoh r.a, Rasulullah
SAW bersabda:
كُلُّ
مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ
أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
“Setiap anak dilahirkan dalam fitrahnya.
Kemudian kedua orang tuanyalah yang akan membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani,
ataupun Majusi.” (HR Bukhari dan Muslim)
Saat ini, kita sering terjebak dalam stigma bahwa urusan mendidik
anak, menemani bermain, dan membentuk karakter ego anak adalah tugas mutlak
seorang ibu. Sementara ayah, sering kali dianggap cukup hanya sebagai mesin
pencari nafkah semata.
Fenomena ini melahirkan apa yang disebut oleh para pakar sosiologi
sebagai “fatherless country” atau negeri tanpa ayah—sebuah kondisi di
mana ayah ada secara fisik, namun absen secara psikologis dan spiritual dalam
kehidupan anak-anaknya.
Sejatinya, Islam tidak pernah mengajarkan hal demikian. Alquran
memberikan porsi yang sangat besar dalam menggambarkan bagaimana dialog-dialog
pengasuhan justru banyak dilakukan oleh seorang ayah.
Dr Tariq al-Suwaidan dalam riset statistik dan numerik Alquran
yang dipublikasikan dalam format buku yang berjudul Al-Izazul Adadi fil
Qur’anil Karim, yang diterbitkan pada tahun 1990 hingga awal tahun 2000
menyampaikan hasil risetnya sebagai berikut:
“Bahwa di dalam Alquran ada 17 dialog antara orang tua dan anak.
14 dialog melibatkan peran Ayah, 2 dialog melibatkan peran Ibu, dan 1 dialog
melibatkan gabungan kedua orang tua dalam menghadapi anak yang membangkang.”
Maka, 14 berbanding 2 ini adalah sebuah pesan eksplisit dari Allah
SWT, bahwa peran ayah sangat dominan dalam tumbuh kembang anak untuk membentuk
karakter anak dalam masalah ketauhidan, ketataan kepada Tuhan, penanaman akhlak
dan moral, adab sosial kemasyarakatan, bahkan visi untuk menghadapi masa depan.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Allah SWT berfirman dalam surat At-Tahrim ayat 6:
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ
وَالْحِجَارَة
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu
dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu….”
Ayat ini merupakan khitab atau seruan yang ditujukan utama
kepada para kepala keluarga, yaitu para ayah. Ayah adalah benteng utama,
komandan, dan penanggung jawab hitam-putihnya masa depan anak di hadapan Allah
SWT.
Rasulullah SAW juga mempertegas tanggung jawab besar ini dalam
sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Beliau bersabda:
كُلُّكُمْ
رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ... وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ
مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya
tentang rakyat yang dipimpinnya... Seorang laki-laki (ayah) adalah pemimpin di
tengah keluarganya, dan dia akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya.”
Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah,
Jika kita membuka lembaran kitab-kitab para ulama, kita akan
mendapati betapa tegasnya mereka dalam menyoroti peran ayah. Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah
dalam kitabnya, Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud, menerangkan satu hal
yang sangat menampar kita, selaku para ayah. Beliau mengungkapkan:
“Kerusakan yang terjadi pada anak, mayoritas penyebabnya adalah
karena kelalaian ayah. Ayah mengabaikan mereka dan tidak mengajarkan
kewajiban-kewajiban agama serta sunnah-sunnahnya. Mereka menyia-nyiakan
anak-anak sejak kecil, sehingga anak-anak tidak memberikan manfaat untuk diri
mereka sendiri dan orang tua mereka saat tumbuh dewasa.”
Pendapat ulama ini selaras dengan temuan para pakar pendidikan
modern. Berbagai studi psikologi anak menunjukkan bahwa anak yang tumbuh dengan
kehadiran sosok ayah yang aktif (father-presence) memiliki tingkat
kecerdasan emosional yang lebih tinggi, lebih percaya diri, lebih mandiri, dan
memiliki kemampuan memecahkan masalah (problem-solving) yang jauh lebih
baik.
Sebaliknya, anak yang kehilangan figur ayah (baik karena
perceraian, kematian, atau ayah yang sibuk bekerja tanpa interaksi) rentan
mengalami depresi, kecemasan, penurunan prestasi akademik, hingga terjerumus
pada kenakalan remaja dan narkoba.
Terkait hal itu, para pakar pendidikan menekankan bahwa ibu
memberikan rasa aman dan empati, sedangkan ayah memberikan tantangan,
ketegasan, dan mengenalkan batas-batas dunia luar.
Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah,
Mari kita tengok kisah teladan yang abadi di dalam Alquran. Allah
SWT mengabadikan nama seorang ayah yang bukan nabi, bukan pula raja, namun
namanya kekal menjadi nama surat karena kehebatannya dalam mendidik anak. Tidak
lain, beliau adalah Luqman Al-Hakim.
Dalam surat Luqman ayat 13, Allah mengabadikan momen kedekatan
Luqman dengan anaknya:
وَاِذْ قَالَ لُقْمٰنُ لِابْنِهٖ وَهُوَ
يَعِظُهٗ يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللّٰهِ ۗاِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata
kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, ‘Wahai anakku!
Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah)
adalah benar-benar kezaliman yang besar.’”
Perhatikan panggilan Luqman kepada anaknya, “Ya Bunayya”.
Ini adalah panggilan kasih sayang, sebuah panggilan yang melembutkan hati anak.
Luqman tidak mendidik dengan membentak, tidak pula mentransfer
kurikulum kehidupan dengan penuh amarah. Ia mendidik dengan kedekatan hati,
mengajarkan tauhid, akhlak, shalat, dan adab bermasyarakat secara langsung.
Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah,
Kisah teladan lainnya datang dari Nabi Ibrahim AS. Beliau adalah
ayah yang sangat sibuk, berdakwah melintasi negara dan benua. Namun, ketika
beliau mendapatkan perintah untuk menyembelih anaknya, Ismail, beliau tidak
langsung mengeksekusinya secara otoriter. Nabi Ibrahim mengajak Ismail
berdiskusi, meminta pendapatnya secara demokratis. Dialog tersebut diabadikan
oleh Allah SWT dalam Alquran surat Ash-Shaffat ayat 102 :
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ
يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا
تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ
مِنَ الصّٰبِرِيْنَ
“Ketika anak itu sampai pada (umur) ia
sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, ‘Wahai anakku, sesungguhnya
aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?’ Dia (Ismail)
menjawab, ‘Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu!
Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
Psikologis yang dibangun Ibrahim membuat Ismail tanpa ragu
menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu.”
Demikianlah ketaatan Ismail lahir dari kualitas pengasuhan Ibrahim
yang luar biasa.
Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah,
Lalu, bagaimanakah kita bisa meneladani para tokoh di atas di era
modern yang penuh tantangan digital ini? Di sini, setidaknya ada tiga peran
mendasar yang harus diambil oleh seorang ayah saat ini, yakni sebagai berikut:
1. Ayah sebagai pendidik iman dan akhlak (The Spiritual Leader)
Ayah harus menjadi teladan utama dalam beribadah. Jangan sampai
anak melihat ayahnya jarang ke masjid, gemar berbohong, atau sibuk dengan gawai
saat adzan berkumandang.
2. Sebagai pemberi kasih sayang dan perhatian (The Emotional
Anchor)
Sempatkan waktu setidaknya 15-30 menit sehari tanpa gangguan apa
pun untuk mengobrol, mendengarkan keluh kesah anak, dan memeluk mereka.
3. Sebagai penjaga batasan dan disiplin (The Coach)
Ayah mengajarkan ketegasan, sportivitas, dan hukum sebab-akibat
dalam kehidupan agar anak siap menghadapi kerasnya dunia di luar rumah.
Menjadi ayah bukanlah sekadar status biologis setelah pernikahan.
Menjadi ayah adalah sebuah profesi ukhrawi, sebuah amanah suci yang akan
dimintai pertanggungjawabannya di hadapan mahkamah Allah SWT.
Mencari nafkah adalah kewajiban yang mulia, namun jangan sampai
demi menjamin masa depan finansial anak, kita justru menghancurkan masa depan
moral, mental, dan spiritual mereka karena ketidakhadiran kita di sisi mereka.
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan hidayah, kekuatan, dan kesabaran kepada para ayah agar mampu mengemban amanah pengasuhan ini dengan baik, sehingga anak-anak kita tumbuh menjadi generasi yang saleh, qurrata a’yun, dan pembawa keberkahan bagi agama, bangsa, dan kedua orang tuanya.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْأَنِ الْكَرِيْمِ
وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْم،
وَتَقَبَّلَ اللَّهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ
الْعَلِيْمُ.
أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيْمَ لِي
وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى
سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ
أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ
وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ
أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى
نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى
ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ
تَسۡلِيمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا
إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا
إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ
والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم
ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ
وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ
وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً
وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.