Menginternalisasi Makna “Ar-Rahman Ar-Rahim” di Tengah Krisis Empati Modern
Menginternalisasi Makna “Ar-Rahman Ar-Rahim” di Tengah Krisis Empati Modern
Oleh: Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I
Anggota Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI/Dosen STIS Hidayatullah
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Di dalam lembaran Alquran, setelah kita mengagungkan Allah sebagai “Rabbul ‘Alamin”, Sang Pencipta dan Pemelihara Semesta. Allah langsung menyapa jiwa kita dengan ayat ketiga surah Al-Fatihah: “Ar-Rahmanir-Rahim”.
Secara
metodologis, Imam al-Qurtubi dalam tafsirnya mencermati susunan indah ini.
Penempatan sifat “Ar-Rahman” dan “Ar-Rahim” setelah Rabbul ‘Alamin
adalah bentuk penyeimbang antara peringatan dan harapan. Kata “Rabb”
menghadirkan rasa hormat, cemas, dan segan (khauf), sedangkan “Ar-Rahman”
dan “Ar-Rahim” meniupkan kesejukan, cinta, dan harapan (raja’).
Bagi seorang
muslim yang mengemban amanah sebagai khalifah (“wakil” Allah di bumi),
ayat ketiga Al-Fatihah ini bukan sekadar kalimat hafalan ritual. Ia adalah
mandat etis universal bahwa tugas utama kekhalifahan setelah bertauhid adalah
menyebarkan kasih sayang (rahmah) tanpa batas.
Untuk memahami
bagaimana kita harus berkasih sayang di dunia nyata, kita perlu membedah
hakikat rahmat Ilahi. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di dan para ulama
Salaf menegaskan satu kaidah penting, bahwa iman kepada nama dan sifat Allah
berarti mengimani nama-Nya, sifat yang dikandungnya, serta dampak nyata rahmat
tersebut pada ciptaan-Nya.
Allah memiliki
sifat “Ar-Rahmah” (Maha Kasih Sayang). Manifestasi dari rahmat ini
melimpah kepada hamba-hamba-Nya. Rasulullah SAW mengungkapkan gambaran dahsyat
tentang luasnya rahmat Allah dalam sebuah hadis: “... dari seratus rahmat yang
dimiliki Allah, Dia hanya menurunkan satu rahmat ke bumi”.
Satu rahmat yang diturunkan di dunia itu telah cukup untuk menghidupi, menaungi, dan menjadikan seluruh makhluk dari manusia hingga binatang dapat saling mengasihi. Sementara sembilan puluh sembilan rahmat lainnya disimpan untuk melingkupi hamba-hamba-Nya di Hari Kiamat.
Memahami Makna
“Ar-Rahman” dan “Ar-Rahim”
Secara
kebahasaan, Syekh Muhammad Abduh dan Muhammad Rasyid Ridha menjelaskan bahwa “Ar-Rahman”
dan “Ar-Rahim” berakar dari kata “ar-rahmah”. Pada manusia, kasih
sayang kerap dibayangi oleh gejolak emosional atau rasa iba yang menyiksa hati.
Namun, bagi Allah, rahmat-Nya suci dari keterbatasan emosi makhluk. Rahmat
Allah berarti ihsan, yaitu kehendak dan tindakan nyata untuk memberikan
kebaikan serta memenuhi kebutuhan makhluk tanpa mengharapkan imbalan.
“Ar-Rahman”
menunjukkan sifat yang penuh, melimpah, dan tanpa batas. Abu Ali al-Farisi
menekankan bahwa “Ar-Rahman” adalah nama khusus bagi Allah yang tidak
boleh disematkan kepada makhluk.
“Ar-Rahman”
mencakup rahmat universal bagi seluruh makhluk di dunia, baik orang beriman,
orang kafir, hingga hewan dan tumbuhan.
“Ar-Rahim”,
menurut Ibnu Jarir ath-Thabari, lebih dimaknai sebagai sifat yang berkaitan
dengan pemberian rahmat yang spesifik, mendalam, dan abadi bagi kaum mukminin,
yang puncaknya disempurnakan di akhirat kelak.
Lantas, bagaimana
Allah mengasihi mereka yang mendurhakai-Nya? Sesuai surat Al-An’am ayat 44,
Allah tetap memberikan rezeki duniawi kepada orang-orang yang melupakan
peringatan-Nya.
Namun demikian, bagi yang membangkang, kelimpahan materi tanpa iman itu sejatinya adalah bentuk ujian dan kenikmatan sementara (istidraj), berbeda dengan rahmat hakiki yang diliputi keberkahan bagi orang beriman.
Oase di Tengah
Maraknya “Cyberbullying” dan Degradasi Moral
Jika kita
menengok realitas sosial hari ini, pesan “Ar-Rahman Ar-Rahim”
terasa kian mendesak dan krusial. Kita hidup di era digital yang kerap diwarnai
krisis empati, maraknya perundungan siber (cyberbullying), serta
maraknya ujaran kebencian di media sosial. Tidak sedikit orang yang merasa
berhak menghakimi, mencaci, dan mempermalukan sesama hanya demi meluapkan ego
atau mencari popularitas instan.
Di sinilah letak
kegagalan memahami fungsi kekhalifahan. Sungguh sebuah penyalahgunaan mandat
dari Allah apabila kehadiran seseorang, baik di dunia nyata maupun di ruang
digital, selalu menjadi ancaman bagi orang lain. Setiap kali ia muncul atau
membuat unggahan, orang-orang di sekitarnya merasa cemas karena ia gemar
mencela, memprovokasi, dan menyusahkan sesama.
Imam al-Ghazali
menerangkan bahwa manusia yang berhasil menginternalisasi sifat “Ar-Rahman”
adalah mereka yang menunjukkan rasa iba, empati kepada orang yang lalai. Kasih
sayang itu diwujudkan dengan merangkul dan mengajak mereka kembali ke jalan
yang benar melalui nasihat yang lembut dan edukatif, bukan dengan caci maki
atau penghakiman publik.
Tugas
kekhalifahan yang meneladani “Ar-Rahman Ar-Rahim” juga menuntut
kasih sayang yang menembus batas spesies: kepada satwa dan tumbuh-tumbuhan.
Kita kerap
menyaksikan fenomena sederhana namun menyentuh di sekitar kita. Seseorang yang
memelihara puluhan ekor kucing dengan penuh kasih sayang diberi makan teratur,
dirawat kesehatannya, dan disediakan tempat tinggal yang layak akan
menghasilkan hewan yang jinak, bersih, dan tahu tata krama.
Sebaliknya,
mengapa ada hewan liar yang sering merusak atau mengganggu? Sering kali, karena
mereka tidak diperlakukan dengan baik, mereka justru diusir, ditendang, dan dipukuli.
Dalam skala yang lebih luas, alam semesta merespons perilaku manusia dengan cara yang sama. Krisis iklim, bencana banjir bandang, dan tanah longsor yang marak terjadi hari ini adalah cerminan dari kerakusan manusia yang kehilangan sifat rahmat terhadap alam.
Teladan
Ekologis dari Pesantren
Sekadar sebagai
contoh, pesan menjaga alam ini diwujudkan secara nyata di Kampus Pondok
Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan. Pendirinya, Ustadz Abdullah
Said, menanamkan kesadaran mendalam kepada seluruh santri bahwa seorang
khalifah harus menjadi pelopor kelestarian lingkungan.
Di kawasan kampus
yang dikelilingi hutan lindung, para santri dilarang keras membawa ketapel atau
senjata berburu. Mereka dilarang menyakiti burung-burung yang beterbangan.
Hasilnya,
berbagai jenis satwa, seperti burung cica-rawa yang merdu, jalak, elang, hingga
pipit, hidup berdampingan dengan damai bersama manusia. Membiarkan burung
terbang bebas menikmati kebebasannya adalah manifestasi nyata dari pengamalan
internalisasi sifat “Ar-Rahman Ar-Rahim”.
Lalu, jika dikaji
lebih jauh, dalam dimensi sosial dan profesional saat ini, pemaknaan “Ar-Rahim”
sangat erat kaitannya dengan memperkuat tali silaturahim. Dalam sebuah Hadis
Qudsi, Allah menegaskan bahwa barang siapa yang menyambungkan silaturahim, maka
Allah akan menyambungkan rahmat-Nya untuk orang tersebut.
Memaknai “Ar-Rahim”
tidak cukup sekadar bertegur sapa di media sosial. Ia menuntut kapasitas yang
lebih kompleks: kemampuan memobilisasi, mengorganisasi, dan membangun jaringan
ukhuwah dalam manajemen ilmiah yang profesional. Konteks modern tidak bisa mengubah
atau menggantikan hal itu.
Sifat “Ar-Rahim”
memanggil kaum muslimin untuk saling menguatkan keahlian, membangun kolaborasi
yang solid, serta menghadirkan solusi konkret atas masalah-masalah sosial dan
ekonomi masyarakat.
Membaca “Ar-Rahman Ar-Rahim” dalam setiap shalat kita adalah pembaharuan ikrar. Setiap kali lafadz ini diucapkan, kita diingatkan untuk mengetuk pintu rahmat Allah sekaligus berjanji untuk menjadi saluran rahmat itu bagi semesta alam.
Membangun
Manajemen Ukhuwah Modern
Di tengah dunia
yang makin bising oleh kebencian, mari kita jadikan kehadiran kita sebagai
peneduh bagi sesama, pelindung bagi alam, serta perekat tali ukhuwah. Sebab,
hanya dengan jiwa yang dipenuhi kasih sayang, kita layak berdiri tegak sebagai “wakil”
Sang Maha Pengasih di atas bumi Allah ini.
Dalam konteks
pembentukan karakter diri dan pembangunan peradaban Islam, dengan menghidupkan
nilai “Ar-Rahman Ar-Rahim” dalam diri berarti menempatkan kasih sayang
sebagai napas utama dalam setiap pikiran, tutur kata, dan tindakan.
Di tengah dunia
yang sering terjebak dalam kompetisi tidak sehat dan egoisme, sebagai seorang
muslim kita dituntut untuk memancarkan energi kedamaian dan ketulusan. Kasih
sayang tanpa batas (Ar-Rahman) mendorong kita untuk menjadi pribadi yang
inklusif, merangkul sesama tanpa membeda-bedakan, serta peduli terhadap krisis
kemanusiaan dan lingkungan sekitar.
Di sisi lain,
dimensi kasih sayang yang berkelanjutan (Ar-Rahim) menggembleng
mentalitas diri untuk selalu konsisten menjaga hubungan yang penuh kehangatan,
empati, dan pengampunan. Karakter yang dibangun di atas landasan kasih ini akan
mengikis sikap menghakimi, kekerasan, dan balas dendam, lalu menggantikannya
dengan semangat pembinaan serta pengayoman.
Ketika
kepribadian bernafaskan kasih sayang ini menjelma dalam ruang sosial, peradaban
Islam yang dibangun bukan lagi peradaban yang menakutkan atau kaku, melainkan
peradaban yang dipenuhi dengan makna rahmatan lil ’alamin.
Inilah yang kemudian kita sebut sebagai sebuah tatanan masyarakat yang tegak di atas keadilan yang humanis, di mana kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan ekonomi yang berorientasi pada penyebaran perdamaian, kesejahteraan bersama, serta pemuliaan martabat manusia.
Pondasi Sejati
Peradaban Islam
Penyebutan sifat “Ar-Rahman”
dan “Ar-Rahim” langsung setelah “Rabbul ’Alamin” dalam surat
Al-Fatihah menegaskan amanat etis kekhalifahan: tugas utama manusia setelah
bertauhid adalah menyebarkan kasih sayang ke seluruh penjuru bumi.
Rahmat Allah
bukanlah membiarkan emosi sesaat, melainkan ihsan, tindakan nyata memberi
kebaikan tanpa pamrih. Di tengah dunia modern yang terjangkit krisis empati,
kegaduhan ruang digital, dan kerakusan yang merusak ekologi, membumikan asma Allah
ini menjadi kunci keselamatan zaman.
Peradaban Islam
yang sejati tidak diukur dari megahnya bangunan atau melimpahnya materi,
melainkan dari kebaruan orientasinya: menjadikan rahmat sebagai arsitektur
tatanan sosial.
Karakter “Ar-Rahman”
bekerja sebagai payung inklusif yang melahirkan sistem ekonomi berkeadilan
serta kesadaran ekologis yang menjaga alam tanpa eksploitasi. Sementara itu,
karakter “Ar-Rahim” menjadi energi pelatihan yang memuliakan manusia,
mengubah pendekatan hukum yang menghukum menjadi budaya yang memulihkan dan
merawat persaudaraan.
Ketika kedua
sifat ini menyatu dalam umat sanubari, peradaban tidak lagi dibangun di atas
dominasi rasa takut atau arogansi kekuasaan.
Sains berkembang untuk menyelamatkan kemanusiaan, kepemimpinan hadir untuk mengayomi yang lemah, dan hubungan sosial yang bertumpu pada keikhlasan. Dari kesucian dzikir di mihrab masjid hingga kesejahteraan di ruang publik, “Ar-Rahman Ar-Rahim” menjadi landasan abadi yang melahirkan peradaban Islam yang ramah, kokoh, dan sungguh-sungguh menjadi rahmat bagi semesta alam.