Menghidupkan Cinta kepada Rasulullah Setiap Saat
Oleh: Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I
Anggota Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI/Dosen STIS Hidayatullah
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Setiap kali bulan Rabiul Awal menyapa, gema shalawat membubung tinggi di udara, masjid-masjid bersolek indah, dan majelis ilmu dipadati lautan manusia yang memperingati Maulid Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Namun, di balik
panggung syiar yang megah dan gelombang kerinduan itu, ada sebuah pertanyaan
mendasar yang layak diendapkan dalam relung batin kita yang paling dalam:
Cukupkah bukti cinta itu disematkan hanya pada momen seremonial setahun sekali?
Peringatan Maulid
sejatinya adalah gerbang pengingat yang indah untuk memupuk kembali akar
kebersamaan dan ukhuwah Islamiyah. Akan tetapi, kebersamaan baru menemukan
ruhnya saat perayaan berganti menjadi pemahaman, dan kerinduan mewujud dalam
perbuatan.
Cinta yang sejati
tidak berhenti pada lisan yang fasih mengucapkan, melainkan terus berdenyut dalam
kehidupan sehari-hari melalui sikap ittiba' mengikuti jejak langkahnya
secara utuh.
Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wasallam adalah cermin kesempurnaan akhlak. Beliau hadir sebagai
sosok yang paling jujur (ash-shiddiq), memegang teguh amanah (al-amin),
penuh kelembutan, rendah hati, dan berprinsip adil dalam setiap urusan.
Nilai-nilai
kenabian tersebut bukan sekadar lembaran sejarah kuno untuk dikagumi, melainkan
jawaban atas krisis moral di era modern.
Di tengah zaman
yang dihinggapi krisis kejujuran, maraknya praktik korupsi, ketidakadilan
kepemimpinan, hingga krisis kepercayaan dalam bermasyarakat, keteladanan beliau
menjadi penawar yang sangat mendesak.
Meneladani Rasulullah bukan lagi sekadar retorika mimbar, melainkan kebutuhan spiritual dan sosial agar peradaban manusia tidak kehilangan arah.
Baca juga: Maulid Nabi, Momentum Tebar Spirit Keteladanan Muhammad SAW
Ketika Cinta
Terpotong Ruang dan Waktu
Banyak di antara kita dengan mudah mengklaim bahwa kita begitu mencintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun, pertanyaannya: Apakah cinta itu benar-benar hadir setiap
saat, ataukah kita sengaja melepasnya begitu melangkah keluar dari tempat
ibadah?
Sebuah paradoks
nyata yang pernah dialami oleh seorang pengusaha muda muslim. Suatu hari, ia
mendatangi kantor kedinasan untuk mengurus perizinan usahanya. Waktu
pertemuannya bertepatan dengan adzan Dzuhur. Dengan senyum ramah dan isyarat
yang teduh, sang pejabat menyapa dan mengajak: “Mari, anak muda, kita shalat
berjamaah dulu di mushalla kantor.”
Di mushalla
kantor, sang pengusaha menyaksikan betapa khusyuknya pejabat tersebut
mendirikan shalat. Seusai shalat, nuansa religius kian kental terasa di ruang
kerja.
Dinding ruangan
dihiasi kaligrafi ayat suci yang indah, di atas meja terhampar mushaf Alquran, dan
jemari pejabat itu tak henti-hentinya memutar bulir-bulir tasbih sambil
lisannya berkomat-kamit melantunkan dzikir. Sekilas, ia adalah gambaran ideal
seorang hamba yang begitu mencintai Allah dan Rasul-Nya.
Namun, rasa kagum
itu tiba-tiba sirna. Tepat setelah tasbih diletakkan, dengan nada datar dan
tanpa rasa canggung, pejabat tersebut meminta uang suap—“uang pelicin”—agar
izin usaha sang pengusaha muda bisa diloloskan.
Pengusaha muda
itu. Ada kegoncangan batin yang dahsyat di dada. Bagaimana mungkin seseorang
yang baru saja menempelkan keningnya dalam sujud, yang jemarinya memutar
tasbih, dan ruangannya dipenuhi simbol-simbol Alquran, dengan begitu mudah
memperjualbelikan hukum demi keserakahan materi?
Kisah ini
menelanjangi krisis paling akut di era modern: cinta yang terpotong oleh ruang
dan waktu. Pejabat tersebut mungkin merasa mencintai Rasulullah saat berada di
atas sajadah atau saat memegang tasbih. Namun, cintanya tiba-tiba putus saat ia
memegang kekuasaan di meja kerjanya. Ia lupa bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wasallam dengan tegas melaknat penyuap dan penerima suap.
Mencintai Rasulullah setiap saat berarti menolak dikotomi tersebut. Cinta sejati tidak mengenal kata “jeda” atau batas wilayah. Cinta kepada Beliau harus hadir di sajadah, di pasar, di jalanan, hingga di atas meja keputusannya seorang pejabat.
Baca juga: 5 Alasan Merayakan Maulid Nabi Menurut Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki
Ketika Cinta
Adalah Taruhan Jiwa
Mengikat rasa
cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah fondasi
utama dalam beragama. Jika kita menengok ke belakang, sejarah mencatat
bagaimana para sahabat menanamkan cinta dalam tingkatan yang paling murni. Bagi
mereka, cinta kepada Nabi bukan sekedar perasaan haru, melainkan pengorbanan
tanpa batas.
Lihatlah
bagaimana Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu menegakkan ego
menyelamatkan dirinya hingga menempatkan cinta kepada Rasulullah di atas
cintanya pada diri sendiri. Atau perhatikan pengorbanan para sahabat di medan
Uhud, seperti Anas bin Nadhr radhiyallahu ‘anhu, yang memagari tubuh
Nabi dari hujan panah musuh hingga tubuhnya terisi puluhan luka sabetan pedang.
Demikianlah
gambar luar biasa, bagi generasi awal Islam, mencintai Rasulullah berarti siap
menyerahkan harta, kedudukan, bahkan nyawa demi tegaknya risalah yang beliau
bawa.
Ujian Cinta di
Era Digital
Bagi kita yang
hidup ratusan tahun setelah masa kenabian, tantangan untuk mencintai Rasulullah
tentu berbeda. Kita tidak bertatap muka langsung dengan beliau, namun kita
diuji melalui arus informasi dan modernitas yang begitu deras.
Di era digital
saat ini, membela dan melindungi ajaran Nabi sering kali diuji ketika
nilai-nilai kenabian disalahpahami, dinarasikan secara keliru, atau bahkan
ditinggalkan oleh pengikutnya sendiri.
Mencintai Nabi di
masa kini menuntut kita untuk cerdas dan tangguh. Bukti cinta modern tidak
diukur dari seberapa riuh kita bersuara di media sosial, melainkan seberapa
teguh kita memegang ajarannya di tengah arus zaman yang sering bertentangan
dengan moral kenabian.
Sepatutnya, ketika dunia menawarkan kepalsuan, seorang pencinta Nabi akan memilih kejujuran; ketika dunia mengajarkan egoisme, ia memilih kepedulian sosial.
Baca juga: 5 Keutamaan Menghadiri Peringatan Maulid Nabi Berdasarkan Penjelasan Ulama
Mahkota
Ketaatan dan Janji Indah di Akhirat
Allah SWT telah
menegaskan hakikat cinta sejati ini dalam firman-Nya, yang artinya: “Katakanlah:
‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah
menyayangi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.” (QS. Ali ‘Imran: 31).
Ayat tersebut
menegaskan bahwa puncak tertinggi dari cinta adalah ketaatan (ittiba’).
Manusia sering menghabiskan tenaga untuk mengejar pengakuan duniawi, padahal
ada janji manis yang menanti bagi mereka yang mengingatkan hati kepada Sang
Nabi.
Coba kita
renungkan sebuah analogi sederhana. Di dunia ini, kerap kita dapati seseorang
yang merasa begitu bahagia dan bangga hanya karena sempat duduk sebentar atau
berfoto bersama seorang pejabat publik dalam sebuah acara. Foto momen itu
diunggah ke media sosial dengan rasa bangga yang meluap-luap, padahal sang
pejabat belum tentu kenal, ingat, atau berharap kembali setelah acara usai.
Jika momen saat
bersama manusia biasa yang memegang jabatan duniawi saja mampu membuat dada
membusung bangga, lalu bagaimana jika kita kelak bisa duduk dekat dan tinggal
bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam? Bukankah beliau adalah
kekasih Allah? Manusia terbaik sepanjang sejarah, yang kelak bukan sekadar
bersanding sekejap, melainkan membersamai kita di dalam surga-Nya.
Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wasallam memberi kabar gembira yang menenangkan jiwa. Beliau
bersabda, yang artinya: “Engkau akan bersama dengan orang yang kamu cintai.”
(HR Bukhari).
Betapa bahagianya jiwa yang kelak dihimpun bersama manusia paling mulia. Ikatan cinta dan shalawat yang tak pernah putus menjadi kunci terurainya berbagai kesusahan hidup, terhapusnya dosa-dosa, hingga dirasakannya manisnya keimanan di dalam dada.
Baca juga: 3 Amalan yang Dianjurkan di Bulan Maulid, Lengkap dengan Dalil dan Penjelasannya
Membumikan
Cinta Rasulullah dalam Keseharian
Dalam menumpahkan
rasa cinta dan pengagungan ini, Islam mengajarkan kita untuk tetap berdiri
tegak di atas koridor yang lurus. Cinta kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi
wasallam adalah bentuk ibadah yang suci, bukan emosi tanpa kendali.
Beliau
mengajarkan agar umatnya tidak berlebihan (ghuluw) hingga mendudukkan
beliau melebihi kapasitasnya sebagai hamba Allah. Seagung-agungnya beliau,
beliau tetaplah hamba Allah dan utusan-Nya yang mulia. Tidak boleh lantas
diposisikan layaknya orang Nasrani mengagungkan dan memposisikan Isa sebagai anak
Tuhan.
Cinta kepada Nabi
tidak boleh berhenti menjadi narasi besar di panggung ceramah, melainkan harus
hadir secara nyata dalam interaksi sehari-hari: di ruang keluarga, di pasar,
hingga di lingkungan tempat kita bekerja.
Jika kita bedah
secara sistematis, setidaknya ada empat ikhtiar konkret yang bisa kita hadirkan
dalam keseharian:
Pertama, menjadikan
Alquran dan hadis Nabi sebagai rujukan utama. Di tengah riuhnya pendapat dan
kompleksitas ideologi modern, seorang pecinta Rasulullah memiliki pegangan yang
jernih. Ketika menghadap ke kebuntuan, kita menatap ego visual di hadapan
keagungan petunjuk kenabian, lalu mengamalkannya dengan mantap tanpa keraguan.
Kedua, merawat kebiasaan
bertutur yang beradab melalui shalawat. Refleksi sederhana dari hati yang
tersambung dengan Nabi adalah lisan yang basah oleh doa dan pujiannya (Allahumma
shalli ’ala Sayyidina Muhammad). Kapan pun nama beliau diseru, lisan kita
bergerak secara alami sebagai penanda adab yang mendasar.
Ketiga, menjaga
dan melindungi ekosistem perjuangannya. Cinta yang utuh melingkupi lingkungan
terdekat beliau. Tidak mungkin seseorang mengaku mencintai Kanjeng Nabi, namun
di saat yang sama dengan mudah melontarkan celaan kepada para sahabat dan
istri-istri beliau (Ummahatul Mu’minin). Menjaga kehormatan mereka
adalah bentuk penghormatan langsung kepada Rasulullah.
Keempat, menghadirkan
wajah Islam yang teduh dan merangkul. Muara dari seluruh ketaatan kita adalah
lahirnya perilaku sosial yang menghadirkan rasa aman bagi sesama. Rasulullah
diutus untuk menebarkan kasih sayang (rahmatan lil ‘alamin). Dan wajah
cinta itu terwujud dalam senyum yang tulus, tutur kata yang santun, kepedulian
pada tetangga, serta kesediaan untuk tidak mudah menghakimi.
Pada akhirnya,
peringatan Maulid Nabi seharusnya menjadi momentum untuk melakukan evaluasi
diri (muhasabah), bukan sekadar agenda seremonial yang berlalu tanpa
bekas. Jangan biarkan kerinduan itu padam seiring berakhirnya bulan Rabiul
Awal.
Mari jadikan setiap terbitnya matahari sebagai ruang untuk menghidupkan ajaran Nabi Muhammad. Mulai dari cara bertutur kata yang jujur, bermuamalah secara adil, menyayangi keluarga, hingga menjadi penyebar kedamaian di lingkungan sekitar. Sebab, cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah berhenti pada peringatan tahunan; ia terus hidup, bernapas, dan membimbing setiap langkah kaki kita menuju keridhaan Allah Ta’ala.