Lewati ke konten utama
Kamis, 17 September 2026 / 5 Rabiul Akhir 1448 H
Jadwal memuat...
Tadabbur Makna “Maliki Yaumiddin”
Foto: AI Modified/ChatGPT
Opini

Tadabbur Makna “Maliki Yaumiddin”

Tadabbur Makna “Maliki Yaumiddin”

/ 5 Rabiul Akhir 1448 H 5 menit baca 62 dibaca
Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I

Oleh: Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I

Anggota Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI/Dosen STIS Hidayatullah

Admin Admin Editor: Admin

Jakarta, MUI Digital — Dalam rangkaian pembuka Alquran, setelah kita mengagungkan Allah sebagai Sang Pencipta (Rabbul ‘Alamin) serta menghayati kasih sayang-Nya yang melimpah (Ar-Rahman Ar-Rahim), jiwa kita diajak membumbung pada puncak kesadaran tauhid melalui ayat keempat surat Al-Fatihah: “Maliki Yaumiddin”.

Ayat ini menyimpan kedalaman makna yang luar biasa. Ia menghubungkan antara takdir akhirat dan keberadaan manusia di dunia, sekaligus menjadi cermin bagi setiap muslim yang mengemban amanah sebagai khalifah di muka bumi.

Para ulama qiraah dan mufasir mencatat dua bacaan mutawatir yang sangat kaya makna pada lafadz ini. Perbedaan penekanan pada kata “Malik” membukakan pintu pemahaman yang sangat luas mengenai kekuasaan Allah. Bila dibaca “Maalik” (panjang), berarti “Dzu al-Milki” (Pemilik segala sesuatu). Makna ini menegaskan bahwa Allah adalah pemilik hakiki atas seluruh ciptaan, baik manusia maupun benda-benda materi. Hal ini dikuatkan oleh firman Allah dalam surat Al-Infithar ayat 19, yang artinya: “Pada hari ketika seseorang tidak memiliki kuasa sedikit pun untuk menolong orang lain”.

Bila dibaca “Malik” (pendek), berarti “Dzu al-Mulki” (Raja diraja yang memiliki kerajaan dan kekuasaan). Sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Muhammad ‘Abduh dan ar-Raghib al-Isfahani, membaca pendek lebih terasa khusyuk karena merujuk pada “Malik an-Nas” (Raja Manusia), pengatur urusan makhluk berakal yang dituntut melaksanakan perintah dan menjauhi larangan. Makna ini dikuatkan oleh firman-Nya dalam surat Al-Mu’min ayat 16, yang artinya: “Milik siapakah kerajaan pada hari ini?”

Tatkala Seluruh Keangkuhan Sirna

Imam Ibnu Katsir menjelaskan mengapa kata “Malik” dikhususkan pada “Yaumiddin” (Hari Pembalasan/Perhitungan). Tentu bukan berarti Allah tidak menguasai hari-hari di dunia, sebab Allah telah menegaskan sebagai “Rabbul ‘Alamin” (Tuhan semesta alam) yang mencakup dunia dan akhirat.

Pengkhususan tersebut hadir karena pada Hari Kiamat, seluruh kekuasaan makhluk terputus total. Semua manusia, baik raja, presiden, dinasti, rezim, oligarki, maupun hamba sahaya, berdiri pada derajat yang sama, tunduk, dan pasrah menunggu keputusan keadilan Ilahi. Tak ada seorang pun yang dapat bersuara tanpa izin-Nya, sebagaimana disebutkan dalam surat Thaha ayat 108.

Dalam sebuah hadis qudsi riwayat Imam Bukhari, Rasulullah SAW menggambarkan momen mendebarkan tersebut, yang artinya sebagai berikut:

“Allah menggenggam langit dan bumi dengan kedua tangan-Nya lalu bertanya, ‘Milik siapakah kerajaan pada hari ini?’ Tak satu pun malaikat atau nabi yang menjawab, sehingga Allah sendiri yang menjawab, ‘Milik Aku yang Maha Esa lagi Maha Perkasa. Di manakah raja-raja dunia selama ini?’”

Jadi, “Yaumiddin” adalah menyiratkan sebuah makna pengingat radikal agar manusia melakukan perhitungan atas dirinya (hasibu anfusakum) sebelum mereka dihitung di hadapan Sang Penguasa Tunggal.

Merenungkan Makna Agung Kekuasaan Allah

Bagi Ustadz Abdullah Said (pendiri Hidayatullah), penghayatan terhadap “Maliki Yaumiddin” membawa implikasi praktis bagi fungsi manusia sebagai wakil Allah di bumi. Seorang khalifah yang meneladani sifat Allah harus berusaha menegakkan “daulah” (kekuasaan) dan “hukum Allah” di muka bumi.

Namun, penegakan kekuasaan Allah ini bukanlah slogan politik yang mengawang di awan, melainkan ikhtiar konkrit yang diuji dalam kehidupan nyata.

Menegakkan “kekuasaan Allah” tidak bisa diwujudkan jika seseorang gagal memerintah dirinya sendiri. Langkah paling mendasar adalah tunduk pada syariat dalam keseharian. Sebagai contoh sederhana; ketika azan berkumandang, seorang muslim yang menghayati “Maliki Yaumiddin” akan mendahulukan panggilan Allah di atas segala urusan atau panggilan duniawi, lalu bergegas menunaikan shalat berjamaah. Tanpa ketaatan pribadi, cita-cita menegakkan nilai-nilai Ilahi hanya akan menjadi impian hampa.

Lalu, langkah berikutnya adalah memperjuangkan agar nilai, etika, dan “hukum Allah” melingkupi seluruh aspek kehidupan mulai dari tata kelola keluarga, transaksi ekonomi yang adil, hingga kepemimpinan masyarakat. Semua ini ditujukan untuk menghadirkan kedamaian, kebahagiaan, dan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia di dunia, serta keselamatan di akhirat.

Secara kontekstual di era modern, ayat “Maliki Yaumiddin” mengajarkan kita cara menyikapi momen-momen kritis dalam hidup. Kita sering dihadapkan pada situasi sulit yang menuntut pengambilan keputusan besar, baik dalam karier, bisnis, kepemimpinan, maupun kehidupan pribadi. Harusnya, orientasi kita tertuju pada Allah, Dzat yang memang Maha Kuasa atas segala hal.

Di sini letak irisan spiritualnya adalah bahwa manusia wajib berikhtiar, menganalisis data, dan menyusun strategi secara optimal. Namun, kita harus sadar bahwa Allah adalah Maha Menguasai di Hari Penentuan (Yaumiddin).

Hasil akhir dari setiap ikhtiar tidak sepenuhnya ditentukan oleh kepintaran atau koneksi kita, melainkan berada di bawah genggaman keputusan Allah. Memahami hakikat ini melahirkan jiwa yang tenang (tuma’ninah). Artinya, kita tidak akan sombong ketika keputusan berbuah keberhasilan, dan tidak akan hancur berputus asa ketika ikhtiar bertemu dengan kegagalan.

Membaca ayat “Maliki Yaumiddin” yang merupakan bagian dari surat Al-Fatihah dalam shalat adalah ikrar kepasrahan sekaligus komitmen perjuangan. Ia mengingatkan kita bahwa dunia ini fana dan seluruh takhta manusia akan runtuh di hadapan Sang Penguasa Hari Pembalasan.

Sebagai hamba dan khalifah-Nya, tugas kita adalah menegakkan perintah Allah; mulai dari kedisiplinan diri hingga keteraturan sosial, sembari menggantungkan seluruh hasil dan keputusan hidup hanya kepada Allah, Sang Pemilik Hari Penentuan yang Hakiki.

Menghidupkan prinsip makna “Maliki Yaumiddin” dalam jiwa berarti menanamkan kesadaran penuh akan akuntabilitas dan visi jangka panjang.

Di tengah kepungan tren serba instan dan budaya serba bebas saat ini, ayat tersebut menjadi rem spiritual yang mengingatkan bahwa setiap pilihan, ucapan, dan tindakan kita memiliki konsekuensi logistik yang pasti dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Kesadaran ini akan membentuk karakter pribadi yang berintegritas tinggi, jujur, dan tidak mudah tergiur oleh jalan pintas yang merugikan.

Prinsip hari penyelesaian juga melahirkan keberanian dan keadilan sejati dalam diri seorang muslim. Ketika meyakini ada hari perhitungan yang Maha Adil, seseorang tidak akan mudah merasa kecewa saat melihat ketidakadilan di dunia, dan sebaliknya, ia akan semakin berhati-hati agar tidak menzalimi orang lain.

Karakter tersebut kemudian mendorong lahirnya pribadi yang amanah dalam memegang tanggung jawab, baik sebagai profesional, pemimpin, maupun warga atau masyarakat biasa.

Dalam konteks pembangunan peradaban Islam, nilai yang terkandung dalam makna ayat “Maliki Yaumiddin” menjadi fondasi utama bagi terciptanya tata kelola kehidupan yang bersih dan berorientasi masa depan.

Peradaban yang dibangun di atas kesadaran akan adanya Hari Pembalasan tidak akan bertumpu pada egoisme jangka pendek atau eksploitasi yang merusak. Sebaliknya, ia akan melahirkan sistem sosial, politik, dan ekonomi yang transparan, menegakkan keadilan tanpa memandang bulu, serta selalu berorientasi pada kemaslahatan abadi yang melampaui sekat-sekat kehidupan duniawi.

Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.
slot gacorhttps://kencang77-on.com/https://kencang77.net/
BAGIKAN: