Tadabbur Makna “Bismillahirrahmanirrahim”
Oleh: Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I
Anggota Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI/Dosen STIS Hidayatullah
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Ada satu kalimat yang begitu sering meluncur dari bibir kita, sebagai seorang muslim yang beriman. Kita mengucapkannya saat hendak menyuapi makanan, menyalakan kendaraan, membuka laptop di meja kerja, atau saat melangkah keluar rumah. Tidak lain adalah kalimat: “Bismillahirrahmanirrahim”.
Kalimat ini
begitu akrab dan dekat. Namun, pernahkah kita terdiam sejenak, menghela napas,
dan bertanya pada diri sendiri: Apakah basmalah (istilah singkat dari kalimat Bismillahirrahmanirrahim)
yang baru saja kita ucapkan benar-benar dihayati oleh jiwa, atau sekadar
gerakan refleks dari lidah yang sudah terbiasa? Di sinilah letak perbedaan
mendasar antara sekadar membaca dan benar-benar meresapi serta menghidupkan
maknanya.
Peradaban agung
tidak pernah lahir dari ruang hampa, dan ia tidak dibangun di atas susunan batu
bata semata. Peradaban Islam adalah peradaban pemikiran, nilai, dan
spiritualitas. Jika kita bertanya: “Di manakah batu pertama peradaban Islam
diletakkan?” Jawabannya tidak lain ada pada kalimat yang kita ucapkan setiap
hari: “Bismillahirrahmanirrahim”.
Ketika basmalah
dipahami bukan lagi sekadar ucapan ritual komat-kamit, melainkan dihayati
sebagai aktualisasi tauhid dan etika pergerakan, di situlah fondasi peradaban
Islam yang merangkul dan memakmurkan bumi mulai berdiri.
Bayangkan saat
Anda akan memulai sebuah proyek besar, menghadapi ujian berat, atau menyusun
rencana hidup. Rasa cemas sering kali menyelusup, dibayangi oleh ketakutan akan
kegagalan. Di titik itulah, kalimat basmalah hadir sebagai pendarat jiwa.
Ketika kesadaran
ini meresap, beban kecemasan perlahan sirna. Hasil akhir tak lagi menakutkan,
sebab urusan tersebut telah kita serahkan kepada Allah SWT, Sang Pemilik
Semesta, sejak detik pertama.
Selama ini, ada
kecenderungan memisahkan urusan dunia dan agama, seolah pekerjaan kantor,
penelitian ilmiah, atau tata kelola publik tidak menyangkut nilai ketuhanan. Guru
saya, KH Abdullah Said menegaskan bahwa membaca basmalah bukan sekadar gerakan
bibir, melainkan komitmen total.
Banyak ulama,
termasuk Syekh Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha dalam Tafsir Al-Fatihah,
cenderung memaknai “Bismillah” tidak hanya sebagai “Dengan nama Allah”,
tetapi lebih tepatnya “Atas nama Allah”.
Makna ini berakar
dari tradisi di mana seseorang melakukan suatu tindakan atas nama penguasa,
yang berarti ia tidak bertindak demi kepentingan pribadinya, melainkan
menjalankan otoritas sang penguasa. Begitu pula saat manusia mengucapkannya:
kita sedang bertindak sebagai khalifah Allah di muka bumi untuk mewujudkan misi
keselamatan, kedamaian, dan kesejahteraan bagi sekalian alam (rahmatan lil ‘alamin).
Di samping itu, membaca basmalah juga merupakan bentuk ungkapan “permisi” dan adab kesopanan seorang hamba kepada Sang Pencipta. Ketika kita hendak menggunakan, menikmati, atau memanfaatkan setiap nikmat dan karunia Allah mulai dari makanan, fasilitas kendaraan, hingga kesehatan tubuh, mengucapkan basmalah adalah wujud kesadaran bahwa seluruh fasilitas di bumi ini adalah milik-Nya, dan kita menggunakannya atas izin serta keridhaan-Nya.
Baca juga: Menempa Militansi Jiwa Sabar
Karakter
Peradaban Islam
Mengapa Alquran
membawa peradaban dengan tekanan sifat “Kasih” dan “Sayang” di setiap awal
langkah? Alasannya adalah operating system (OS) dari kebudayaan Islam. Sebuah
peradaban runtuh tatkala para pemimpin dan pembangunnya bertindak atas nama
ego, ras, kelompok, atau akumulasi materi dan modal. Ketika kekuasaan dijalankan
atas nama hawa nafsu manusia, yang lahir adalah penjajahan, keserakahan, dan
eksploitasi.
Membaca basmalah
sebagai komitmen “Atas Nama Allah” mengubah lanskap kepemimpinan peradaban,
sebagaimana pemetaan berikut:
Pertama, bukan peradaban
penindasan. Peradaban Barat sekuler sering kali dibangun atas dasar kompetisi hutan
rimba. Sebaliknya, peradaban Islam yang dijiwai “Ar-Rahman”dan “Ar-Rahim”
adalah peradaban yang mengayomi: proteksi terhadap yang lemah, keadilan sosial,
dan kesetaraan hak di hadapan hukum.
Kedua, sains dan teknologi yang bernapaskan rahmat. Artinya, ilmu pengetahuan dalam Islam tidak dirancang untuk menciptakan senjata pemusnah massal atau merusak ekologi bumi, melainkan untuk menebarkan kemanfaatan (rahmatan lil ‘alamin). Dengan menghayati kalimat basmalah, dokter menyelamatkan dengan kasih sayang, ilmuwan meneliti alam untuk mengungkap keagungan Tuhan dan membantu kemanusiaan, begitu juga yang lainnya.
Baca juga: Kemerdekaan tanpa Empati
Menyambung
Keberkahan yang Terputus
Rasulullah SAW
pernah mengingatkan sebuah hakikat yang amat dalam bahwa setiap perkara penting
yang tidak diawali dengan Bismillahirrahmanirrahim, maka amalan tersebut
terputus keberkahannya (aqtha’).
Kata “terputus” tersebut
sangat menarik untuk direnungkan. Banyak pekerjaan di dunia ini yang selesai
secara fisik, tetapi “terputus” dari keberkahan. Kita melihat orang-orang yang
bekerja keras dari pagi hingga malam mengumpulkan materi, namun rumah tangganya
hampa. Ada pula karya akademis yang tebal, tetapi tak memberi manfaat bagi
masyarakat. Mengapa? Karena aktivitas itu terputus dari langit. Ia hanya
selesai di dunia, tanpa punya gaung di akhirat.
Basmalah adalah jembatan emas yang mengubah hal-hal biasa menjadi bernilai ibadah. Makan dan minum yang diawali basmalah berubah dari sekadar pemuas lapar menjadi energi untuk taat. Bekerja mencari nafkah yang dibuka dengan basmalah berubah dari rutinitas materi menjadi perjuangan spiritual. Bahkan tidur yang didahului basmalah berubah menjadi benteng perlindungan jiwa.
Baca juga: Menjaga Ketulusan Dakwah
Integrasi
Ilmu, Iman, dan Amal
Tragedi peradaban
modern adalah sekularisme dengan dikotomi (pemisahan) antara sains dan
spiritualitas, antara aktivitas profesional dan nilai ketuhanan. Pekerjaan
kantor dianggap urusan duniawi, sementara ibadah dianggap urusan masjid.
Bismillah meluluhkan sekularisme tersebut melalui
prinsip Iqra’ bismi rabbik (QS. Al-‘Alaq: 1). Dengan kata lain, Bismillah
adalah jembatan emas yang menghubungkan bumi dan langit. Ia mengubah transaksi
ekonomi, laboratorium penelitian, tata kelola kota, dan pengajaran di kelas
menjadi akumulasi amal saleh yang bernilai abadi.
Peradaban yang
membuang Tuhan dari rencananya mungkin akan terlihat megah secara fisik, namun
hampa secara spiritual, yang melahirkan masyarakat yang stres, krisis moral, dan
rumah tangga yang retak. Bismillah memastikan bahwa kemajuan materi
tetap terhubung dengan keberkahan dari Allah.
Bangkitnya
kembali kejayaan Islam tidak dimulai dari penguasaan wilayah, melainkan dari
pembaharuan kesadaran individu (kebangkitan). Hal ini bisa dilihat dalam
beberapa hal berikut:
Pertama, dalam sektor
pendidikan. Ajarkan anak-anak kita bahwa mereka menuntut ilmu sains, koding,
dan bahasa asing bukan demi mendapatkan kemapanan kerja atau kekayaan
pribadi, melainkan “Atas Nama Allah” mencari ilmu yang bermanfaat (‘ilmun yuntafa’u
bihi ) sebagai bekal untuk menyelesaikan masalah masyarakat, melahirkan
inovasi, dan memakmurkan kehidupan umat.
Kedua, dalam sektor
ekonomi dan bisnis. Bangun korporasi dan transaksi keuangan yang dipandu oleh Bismillah
dengan menjauhi pelanggaran, ketidakadilan, korupsi, riba dan monopoli yang
merugikan masyarakat. Ekonomi yang dilandasi dengan Bismillah
menghadirkan bisnis yang sehat, beretika, dan bertumbuh bersama dalam
keberkahan.
Ketiga,dalam sektor
kepemimpinan dan publik. Lahirkan para pejabat dan penggerak sosial yang
berhenti sejenak sebelum mengambil keputusan, memunculkan kesadaran bahwa
jabatan mereka adalah alat untuk menyebarkan kasih sayang Allah (Ar-Rahman
Ar-Rahim) melalui keadilan, kemudahan layanan, dan pengayoman yang tulus
kepada seluruh rakyat.
Keempat, dalam sektor
sosial dan budaya. Ciptakan ruang interaksi sosial dan tradisi
kebudayaan yang memuliakan martabat manusia sebagai hamba Allah.
Di sektor ini,
kesadaran Bismillah mewujud menjadi budaya masyarakat yang saling
menghormati, mengayomi, dan menjaga rasa aman, karena adanya beberapa hal
berikut:
Pertama, nir-perundungan
(no bullying ): menghapus budaya saling mengutuk, mengejek, atau
mengintimidasi sesama, karena setiap jiwa diciptakan mulia oleh Sang Pencipta.
Kedua, nir-pelecehan
dan kekerasan: membangun lingkungan sosial yang bersih dari pemikiran seksual,
verbal, maupun fisik, serta menghadirkan perlindungan penuh bagi kelompok
rentan, perempuan, dan anak-anak.
Ketiga, kebudayaan rahmatan lil ‘alamin: membaca karya seni, literasi, dan tradisi perkotaan/pedesaan yang menyejukkan jiwa, menyatukan persaudaraan, mengikis prasangka, dan memancarkan keindahan akhlak Islam.
Baca juga: Menyucikan “Pakaian” dan Niat
Peradaban Islam
yang agung di masa lalu dari Madinah, Baghdad, hingga Cordoba dipandu oleh
jiwa-jiwa yang basmalah-nya hidup. Mereka bukan sekadar menyebut nama Tuhan di
lisan, melainkan menjadikan nilai ketuhanan sebagai napas dari setiap
penelitian, perdagangan, dan kebijakan politik mereka.
Biarkan kalimat
agung ini meresap dan hidup ke dalam aliran darah, menenangkan pikiran yang
lelah, dan membimbing setiap gerak langkah kita. Sebab, ketika Allah sudah
dilibatkan di awal langkah, tidak ada jalan yang terlalu terjal untuk dilalui,
dan tidak ada ikhtiar yang akan berujung sia-sia.
Ketika jutaan umat Islam hari ini berhenti sejenak, merasakan, dan menghidupkan kalimat basmalah (baca: Bismillahirrahmanirrahim) dalam setiap tarikan napas dan karya nyatanya, maka di situlah kebangkitan peradaban Islam sedang diukir kembali