Ketika Bahagia Hanya Tampak di Layar
Ketika Bahagia Hanya Tampak di Layar
Oleh: KH Ahmad Jamil, M.A, Ph.D
Pengurus KPK MUI/Pimpinan Pondok Pesantren Tahfizh Daarul Quran (DaQu)
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Manusia modern hidup di tengah kelimpahan dan kemudahan yang belum pernah dinikmati generasi sebelumnya, bahkan mungkin tidak pernah terbayangkan oleh Firaun dengan segala kekuasaannya ataupun Qarun dengan seluruh kekayaannya. Makanan dapat dipesan dalam hitungan menit, hiburan tersedia tanpa jeda, komunikasi lintas benua berlangsung seketika, dan hampir setiap keinginan dapat diwujudkan melalui transaksi.
Secara material, kehidupan manusia semakin mudah dan nyaman.
Namun, kemajuan teknologi dan kelimpahan fasilitas tidak selalu berjalan
seiring dengan ketenteraman jiwa. Di tengah kehidupan yang serba mudah ini,
tidak sedikit manusia justru semakin lelah secara mental, diliputi kecemasan,
terasing dalam kesepian, serta perlahan kehilangan arah dan makna kehidupan.
Kita memiliki lebih banyak sarana untuk memperoleh
kesenangan, tetapi belum tentu semakin mampu merasakan kebahagiaan. Kita
semakin mudah terhubung secara digital, tetapi tidak selalu semakin dekat
secara emosional. Kita mengetahui banyak hal tentang kehidupan orang lain,
tetapi semakin jarang memiliki seseorang yang benar-benar mengenal kegelisahan
dan luka kita. Kita mampu mengabadikan hampir setiap momen, tetapi justru
kehilangan kemampuan untuk hadir secara utuh di dalamnya.
Inilah paradoks kebahagiaan pada zaman digital, yaitu
semakin sering kebahagiaan dipertontonkan, semakin sulit pula membedakan antara
kebahagiaan yang sungguh-sungguh dialami dan kebahagiaan yang sekadar
dipentaskan. Manusia akhirnya tidak hanya menjalani kehidupan, tetapi juga
sibuk membangun citra mengenai kehidupan yang ingin dilihat orang lain.
Di media sosial, kebahagiaan sering hadir sebagai
pertunjukan. Ia diukur dari tempat yang dikunjungi, barang yang digunakan,
tubuh yang terlihat ideal, jabatan yang diumumkan, anak yang berprestasi,
keluarga yang tampak harmonis, atau seberapa banyak respons yang diperoleh.
Perlahan-lahan, manusia tidak lagi sekadar menjalani hidup,
tetapi juga memproduksi citra tentang hidupnya. Bahkan ketika sedang menikmati
sesuatu, sebagian pikirannya sibuk memikirkan bagaimana pengalaman itu akan
terlihat di mata orang lain.
Pada titik itu, manusia tidak sepenuhnya menikmati
kebahagiaan. Sejatinya ia hanya sedang mengelola kesan kebahagiaan.
Kebahagiaan semu bekerja melalui mekanisme yang sederhana,
yaitu memberikan kesenangan singkat, lalu menciptakan kebutuhan untuk
mengulanginya dalam kadar yang lebih besar. Barang baru terasa istimewa
beberapa hari, jabatan baru membanggakan beberapa bulan, dan pujian memberikan
kepuasan hanya beberapa saat. Setelah itu, semuanya menjadi biasa. Psikologi
menyebut proses ini sebagai “hedonic adaptation”: manusia cenderung
kembali pada tingkat emosi relatif sebelumnya setelah memperoleh kesenangan
atau keberhasilan tertentu.
Karena itu, orang yang mengira kebahagiaan berada pada pencapaian berikutnya akan terus memindahkan garis akhir. Setelah memperoleh rumah, ia menginginkan rumah yang lebih besar. Setelah mencapai jabatan tertentu, ia membandingkan dirinya dengan jabatan yang lebih tinggi. Setelah mendapatkan seribu pengikut, ia gelisah melihat orang lain memiliki sepuluh ribu. Bukan karena nikmat itu tidak berharga, melainkan karena jiwa telah dilatih untuk melihat apa yang belum dimiliki, bukan mensyukuri apa yang sudah ada.
Alquran menamai keadaan tersebut dengan ungkapan yang sangat
presisi:
أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ. حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ
“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu
masuk ke dalam kubur.” (QS. At-Takatsur: 1–2)
Kata “at-takatsur” tidak sekadar berarti mempunyai
banyak. Ia menunjuk pada dorongan untuk terus memperbanyak dan mengungguli:
lebih kaya, lebih terkenal, lebih tinggi, lebih indah, dan lebih dipuji. Sementara,
kata “alhakum” menunjukkan bahwa perlombaan itu telah melalaikan manusia
dari sesuatu yang lebih mendasar. Ia terlalu sibuk menghitung tambahan hingga
lupa mempertanyakan tujuan.
Alquran tidak mengatakan bahwa seluruh yang diperbanyak itu
haram. Persoalannya terletak pada “ilha’”, yaitu ketika pencarian dunia
menyita perhatian dari Allah, keluarga, kemanusiaan, kematian, dan hakikat
kehidupan.
Manusia mungkin semakin berhasil secara sosial, tetapi
semakin asing terhadap dirinya sendiri. Ia dapat mengelola perusahaan, lembaga,
dan ribuan orang, tetapi gagal mengelola kegelisahan dalam hatinya.
Budaya digital memperluas “at-takatsur” ke wilayah
yang lebih halus. Bukan hanya kekayaan yang diperbanyak, tetapi juga perhatian,
penayangan, tanda suka, komentar, pengikut, dan validasi. Perhatian manusia
telah menjadi komoditas ekonomi.
Platform digital dirancang agar pengguna terus melihat,
bereaksi, membandingkan, lalu kembali lagi. Setiap notifikasi membawa janji
kecil tentang pengakuan dan setiap guliran layar membuka kemungkinan kesenangan
baru. Namun, kepuasan yang diberikan sangat singkat sehingga manusia harus
terus mengulanginya.
Akibatnya, diam terasa membosankan, kesunyian terasa
menakutkan, membaca yang panjang terasa berat, dan ibadah yang membutuhkan
ketenangan mudah terganggu. Bukan karena jiwa tidak lagi membutuhkan kedalaman,
tetapi karena perhatian telah terbiasa hidup dalam fragmen-fragmen pendek.
Antara Kebahagiaan Semu dan Konsep “Hayah Thayyibah”
World Happiness Report 2026, yang diterbitkan Wellbeing
Research Centre University of Oxford bersama Gallup dan UN Sustainable
Development Solutions Network, memberikan perhatian khusus pada relasi
antara media sosial dan kesejahteraan. Laporan itu mencatat penurunan
kebahagiaan generasi muda di Amerika Utara dan Eropa Barat dibandingkan dengan sekitar
lima belas tahun sebelumnya. Penggunaan media sosial meningkat tajam pada
periode yang sama.
Temuannya tidak boleh disederhanakan menjadi anggapan bahwa
seluruh teknologi pasti merusak. Media digital yang digunakan untuk komunikasi,
dukungan sosial, pendidikan, dan pemeliharaan relasi dapat memberikan manfaat.
Akan tetapi, penggunaan yang berlebihan, pasif, berbasis perbandingan, dan
didominasi konten algoritmik lebih sering berhubungan dengan rendahnya kepuasan
hidup.
Persoalan utamanya bukan semata-mata keberadaan layar,
melainkan untuk apa layar digunakan, berapa lama perhatian diserahkan
kepadanya, dan kehidupan seperti apa yang secara perlahan dibentuk olehnya.
Manusia akhirnya berhadapan dengan dua jenis kebahagiaan. Pertama,
kebahagiaan yang bergantung pada stimulus: harus ada sesuatu yang dibeli,
ditonton, dicapai, atau dipuji. Kedua, kebahagiaan yang tumbuh dari kualitas
jiwa: kemampuan merasa cukup, mencintai, mengabdi, bersyukur, menerima
keterbatasan, serta hidup dalam hubungan yang benar dengan Allah.
Jenis pertama tidak selalu buruk. Manusia boleh senang karena memperoleh hadiah, kenaikan jabatan, keuntungan usaha, atau liburan bersama keluarga. Namun, kesenangan menjadi semu ketika ia diperlakukan sebagai sumber identitas dan sandaran terakhir kehidupan. Sebab, segala sesuatu yang datang dari luar dapat berubah atau hilang. Apabila kebahagiaan sepenuhnya dibangun di atas sesuatu yang fana, ketenteraman hati akan selalu berada dalam ancaman.
Di tengah kegelisahan tersebut, Alquran menawarkan konsep “hayah
thayyibah”. Allah SWT berfirman:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ
فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ
مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki
maupun perempuan, sedang ia beriman, niscaya Kami benar-benar akan memberinya
kehidupan yang baik, dan sungguh Kami akan memberikan balasan kepada mereka
dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan.”
(QS. An-Nahl: 97)
Ayat ini tidak menggunakan kata “hayah mutrafah”, yang berarti kehidupan mewah, tidak pula “hayah sahilah”, yang berarti kehidupan yang selalu mudah. Alquran memilih kata “thayyibah”. Kata ini mengandung makna baik, bersih, menenteramkan, halal, layak, dan membawa kemaslahatan. Dengan demikian, makna “hayah thayyibah” (حَيَاةً طَيِّبَةً) bukan sekadar kehidupan yang terasa menyenangkan, tetapi kehidupan yang baik sumbernya, benar orientasinya, bersih prosesnya, dan bermakna akibatnya.
Di sinilah perbedaan antara kehidupan yang menyenangkan dan
kehidupan yang baik. Tidak semua yang menyenangkan itu baik, dan tidak semua
yang baik selalu terasa menyenangkan pada awalnya.
Menunda kesenangan demi belajar mungkin terasa berat, tetapi
baik. Menolak keuntungan yang haram mungkin terasa merugikan, tetapi
menyelamatkan. Mengakui kesalahan dapat melukai harga diri, tetapi membersihkan
jiwa. Bangun malam untuk shalat Tahajud tidak selalu nyaman, tetapi dapat
menghadirkan kedalaman batin yang tidak diberikan oleh hiburan mana pun.
Ayat tersebut membangun hayah thayyibah di atas dua
fondasi: iman dan amal saleh. Iman memberikan pusat orientasi, sedangkan amal
saleh menerjemahkan orientasi itu ke dalam kenyataan. Iman tanpa amal dapat
berubah menjadi pengakuan yang kehilangan daya transformasi. Amal tanpa iman
mungkin menghasilkan manfaat duniawi, tetapi kehilangan orientasi penghambaan
dan dimensi akhirat. Ketika keduanya bersatu, manusia tidak hanya mengetahui
kebenaran, tetapi hidup di dalamnya.
Iman menjawab pertanyaan paling mendasar: dari mana manusia berasal, untuk apa ia hidup, kepada siapa ia bergantung, dan ke mana ia akan kembali. Amal saleh menjawab bagaimana jawaban-jawaban itu diwujudkan dalam pekerjaan, keluarga, ibadah, transaksi, kepemimpinan, dan hubungan sosial. Karena itu, hayah thayyibah bukan konsep yang melarikan manusia dari dunia. Ia justru mengajarkan cara hidup secara benar di dalam dunia.
Adapun frasa “falanuhyiyannahu”(فَلَنُحْيِيَنَّهُ)
mengandung
penegasan yang sangat kuat. Janji itu bukan sekadar bahwa Allah akan memberikan
sesuatu kepadanya, melainkan “Kami benar-benar akan menghidupkannya.”
Artinya, ada manusia yang secara biologis hidup, tetapi
batinnya kehilangan kehidupan. Ia bergerak, bekerja, tertawa, dan
bersosialisasi, tetapi tidak mengetahui untuk apa semuanya dilakukan.
Sebaliknya, Allah menghidupkan orang beriman dengan kesadaran, arah,
ketenteraman, dan kemampuan menemukan makna, bahkan dalam keadaan yang sulit.
Para mufasir menjelaskan hayah thayyibah melalui
makna yang beragam tetapi saling melengkapi. Ibn ‘Abbas menafsirkannya sebagai
rezeki yang baik dan halal, serta dalam riwayat lain sebagai kebahagiaan. Al-Hasan
al-Bashri memaknainya sebagai qana’ah. Al-Dhahhak menghubungkannya dengan
rezeki halal, ketaatan, dan kelapangan hati ketika beribadah.
Imam at-Thabari dalam Jami‘ al-Bayan memilih qana’ah
sebagai makna yang paling kuat. Menurutnya, orang yang dibuat merasa cukup oleh
Allah terhadap rezeki yang diberikan tidak akan terlalu letih mengejar apa yang
luput dan tidak terus-menerus keruh hidupnya karena memburu sesuatu yang belum
tentu diperoleh.
Penjelasan ini tentu sangat relevan bagi manusia modern yang
menderita bukan hanya karena kekurangan, tetapi juga karena keinginan yang
tidak memiliki batas.
Ibn Katsir merangkum keluasan makna itu dengan penjelasan
berikut:
وَالْحَيَاةُ الطَّيِّبَةُ تَشْمَلُ وُجُوهَ الرَّاحَةِ مِنْ أَيِّ جِهَةٍ
كَانَتْ
“Hayah thayyibah mencakup berbagai bentuk ketenteraman,
dari arah mana pun datangnya.”
Artinya, rezeki halal, qana’ah, kebahagiaan, ketenteraman,
dan kenikmatan dalam ketaatan tidak perlu dipertentangkan. Seluruhnya merupakan
dimensi kehidupan baik. Imam al-Qurthubi bahkan menghimpun makna yang lebih
luas dan detail yang mencakup: rezeki halal, rasa cukup, taufik dalam ketaatan,
kebahagiaan, manisnya ibadah, mengenal Allah, ridha terhadap ketetapan-Nya,
serta kehidupan surga.
Dengan demikian, hayah thayyibah bukan janji bahwa
orang beriman pasti kaya, selalu sehat, tidak pernah berduka, atau terbebas
dari konflik. Para nabi merupakan manusia yang paling kuat imannya, tetapi juga
mengalami ujian yang sangat berat. Nabi Ayyub sakit, Nabi Ya‘qub berduka karena
kehilangan Yusuf, Nabi Musa menghadapi kekuasaan tiranik, dan Rasulullah SAW
kehilangan orang-orang yang dicintainya. Kualitas kehidupan mereka tidak
ditentukan oleh ketiadaan penderitaan, tetapi oleh kedalaman hubungan dengan
Allah ketika menjalani kehidupan yang dipenuhi ujian dan cobaan.
Hayah thayyibah bukan hidup tanpa masalah, melainkan
hidup yang tidak kehilangan makna karena masalah. Ia bukan ketiadaan air mata,
tetapi kemampuan menjaga harapan di tengah air mata. Ia bukan jaminan bahwa
setiap doa segera dikabulkan sesuai keinginan, melainkan keyakinan bahwa tidak
satu pun doa, kesabaran, dan pengorbanan hilang dari pengetahuan Allah.
Rasulullah Saw menjelaskan kekayaan batin yang menjadi unsur
penting kehidupan tersebut. Beliau bersabda:
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى
النَّفْسِ
“Kekayaan bukanlah karena banyaknya harta benda, tetapi
kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan jiwa.” (HR Bukhari)
Kata “al-‘aradh” di sini menunjuk pada harta dunia
yang bersifat sementara. Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam Fath al-Bari
menjelaskan bahwa kekayaan jiwa tumbuh ketika seseorang merasa cukup terhadap
apa yang Allah berikan, tidak rakus, dan tidak terus-menerus memandang apa yang
berada di tangan orang lain. Orang yang kaya jiwa tetap bekerja dan berkembang,
tetapi harga dirinya tidak naik turun mengikuti saldo rekening, jabatan,
komentar, atau penilaian manusia.
Sebaliknya, kemiskinan jiwa dapat dialami oleh orang yang
sangat kaya. Ia memiliki banyak, tetapi selalu merasa kurang. Ia memperoleh
sesuatu, tetapi tidak sempat menikmatinya karena segera membandingkan dengan
milik orang lain. Kekurangan yang paling melelahkan bukan selalu sedikitnya
kepemilikan, melainkan ketidakmampuan jiwa untuk berkata: “Ini cukup untuk
disyukuri.”
Rasulullah SAW bersabda:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ، وَرُزِقَ كَفَافًا، وَقَنَّعَهُ اللَّهُ
بِمَا آتَاهُ
“Sungguh beruntung orang yang memeluk Islam, diberi
rezeki yang mencukupi, dan Allah menjadikannya merasa cukup terhadap apa yang
telah dianugerahkan kepadanya.” (HR Muslim)
Hadis ini menyatukan tiga unsur, yaitu orientasi spiritual,
kecukupan material, dan kematangan psikologis. Islam memberikan arah, rezeki
menopang kehidupan, sedangkan qana’ah menjaga jiwa dari kelaparan yang tidak
berkesudahan. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa “kafaf” ialah rezeki yang
memenuhi kebutuhan tanpa berlebihan dan tanpa membuat seseorang bergantung
kepada orang lain.
Jadi, qana’ah bukan alasan untuk memelihara kemiskinan, menolak kemajuan, atau melemahkan etos kerja. Islam tetap memerintahkan ikhtiar, produktivitas, profesionalitas, dan tanggung jawab sosial. Qana’ah bukan merasa cukup dari bekerja, melainkan merasa cukup setelah bekerja. Ia bukan berhenti memperbaiki kehidupan, melainkan tidak menunda kebahagiaan sampai seluruh ambisi terpenuhi. Orang yang qana’ah boleh mempunyai target besar, tetapi jiwanya tidak menjadi tawanan target tersebut.
Riset Modern dan Petunjuk Agama
Riset modern membenarkan bahwa pendapatan memiliki hubungan
dengan kesejahteraan. Uang penting karena menyediakan pangan, tempat tinggal,
pendidikan, layanan kesehatan, keamanan, dan kebebasan menentukan pilihan. Sementara
kemiskinan bukan keadaan yang patut diromantisasi karena dapat menghasilkan
penderitaan nyata dan membatasi peluang manusia.
Namun demikian, uang hanya dapat membeli kondisi yang
mendukung kebahagiaan; ia tidak selalu mampu membeli kebahagiaan itu sendiri.
Ia dapat membeli rumah, tetapi tidak kehangatan; membeli tempat tidur, tetapi
tidak ketenangan; membayar hiburan, tetapi tidak makna; dan menyediakan
perawatan, tetapi tidak menjamin adanya orang yang dengan tulus menemani.
Psikologi kontemporer membedakan hedonic happiness
dan eudaimonic well-being. Pendekatan hedonik menekankan emosi
menyenangkan dan minimnya pengalaman negatif. Adapun pendekatan eudaimonik
memahami kebahagiaan sebagai kehidupan yang baik, berkembang, bermakna, dan
sesuai dengan kebajikan.
Dalam Nicomachean Ethics, Aristoteles menggunakan
konsep eudaimonia. Kebahagiaan baginya bukan sekadar keadaan emosional,
melainkan aktivitas kehidupan yang selaras dengan kebajikan. Seseorang tidak
disebut bahagia hanya karena sedang merasa senang, tetapi karena ia menjalani
kehidupan yang bernilai dan mengaktualisasikan kualitas terbaik kemanusiaannya.
Martin Seligman, salah seorang tokoh psikologi positif,
mengembangkan model PERMA: Positive Emotion, Engagement, Relationships, Meaning,
dan Accomplishment. Model tersebut menegaskan bahwa kesejahteraan tidak
hanya terdiri atas perasaan positif. Manusia juga membutuhkan keterlibatan yang
mendalam, relasi yang sehat, makna yang melampaui dirinya, dan pencapaian yang
bernilai.
Namun, hayah thayyibah melampaui kebahagiaan hedonik
maupun eudaimonik. Dalam perspektif Alquran, kehidupan baik bukan hanya tentang
merasa nyaman atau mengembangkan potensi diri, melainkan juga tentang kebenaran
orientasi.
Pertanyaan seorang mukmin bukan hanya, “Apakah ini membuat
saya bahagia?”, tetapi juga, “Apakah ini halal? Apakah ini benar? Apakah ini
bermanfaat? Apakah Allah meridhainya?”
Sebab, seseorang mungkin merasa senang ketika melakukan
sesuatu yang merusak dirinya. Ia dapat memperoleh kesenangan dari pujian yang
dibangun di atas kepalsuan, keuntungan dari transaksi yang zalim, atau
popularitas dari perilaku yang merendahkan martabat. Kesenangan subjektif tidak
otomatis menjadi kebaikan objektif. Hayah thayyibah menyatukan apa yang
terasa baik dengan apa yang secara moral dan spiritual memang baik.
Viktor Frankl, psikiater dan penggagas logotherapy, memandang pencarian makna sebagai salah satu kebutuhan manusia yang paling mendasar. Berdasarkan pengalamannya bertahan di kamp konsentrasi Nazi, ia melihat bahwa manusia mampu melewati penderitaan besar ketika masih memiliki makna yang layak diperjuangkan. Kekosongan makna, sebaliknya, dapat membuat seseorang merasa hampa meskipun kebutuhan materialnya terpenuhi.
Dalam Islam, makna itu tidak diciptakan secara
sewenang-wenang. Ia berakar pada penghambaan kepada Allah, tanggung jawab
sebagai khalifah, pengembangan ilmu, pemeliharaan keluarga, serta kemanfaatan
bagi sesama.
Kebahagiaan Qur’ani selalu bergerak keluar dari ego. Ia
tidak berhenti pada “aku merasa baik”, tetapi berkembang menjadi “aku
menghadirkan kebaikan”. Shalat menata hubungan dengan Allah; sedekah
membebaskan manusia dari egoisme; silaturahim memelihara kehangatan; menuntut
ilmu memperluas kesadaran; bekerja secara amanah menjaga martabat; dan menolong
orang lain membuat kehidupan melampaui kepentingan diri sendiri.
Hal tersebut menemukan dukungan dalam Global Flourishing
Study yang dipublikasikan dalam Nature Mental Health pada 2025.
Studi longitudinal yang melibatkan 202.898 responden dari 22 negara di enam
benua itu tidak mengukur kesejahteraan hanya dari kepuasan hidup, tetapi juga
kesehatan, makna, karakter, relasi sosial, dan keamanan finansial.
Ketika keamanan finansial tidak dimasukkan ke dalam indeks,
Indonesia memperoleh rerata flourishing tertinggi, yakni 8,47, disusul Meksiko
8,19 dan Filipina 8,11. Temuan tersebut tentu tidak berarti seluruh penduduk
Indonesia telah sejahtera atau bahwa kemiskinan tidak penting. Namun, ia
mengingatkan bahwa kualitas hidup tidak dapat direduksi menjadi besarnya produk
domestik bruto. Masyarakat dapat memiliki kekayaan ekonomi tinggi, tetapi
mengalami kemiskinan relasi, krisis makna, dan kerapuhan komunitas.
Data itu juga memperlihatkan hubungan positif antara
flourishing dengan kualitas relasi keluarga, pernikahan, pekerjaan, kesehatan,
dan partisipasi keagamaan. Rata-rata skor flourishing meningkat dari 6,86 pada
responden yang tidak pernah menghadiri kegiatan keagamaan menjadi 7,67 pada
mereka yang menghadirinya lebih dari sekali seminggu.
Kehidupan keagamaan tampaknya tidak hanya menyediakan
keyakinan, tetapi juga ritme hidup, komunitas, identitas, dukungan sosial,
praktik syukur, dan kerangka makna dalam menghadapi penderitaan.
Temuan ini sejalan dengan Harvard Study of Adult
Development, salah satu penelitian longitudinal terpanjang mengenai
kehidupan manusia. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa hubungan yang hangat
dan berkualitas merupakan prediktor penting bagi kebahagiaan dan kesehatan
jangka panjang. Bukan banyaknya kenalan, jumlah pengikut, atau popularitas yang
paling menentukan, melainkan kualitas keterhubungan: apakah seseorang merasa
aman, didengar, diterima, dan tidak sendirian ketika menghadapi kesulitan.
Ini menjelaskan mengapa seseorang dapat merasa sepi di
tengah keramaian. Kesepian tidak selalu berarti tidak ada orang di sekitar,
tetapi tidak adanya hubungan yang memungkinkan seseorang hadir secara jujur
tanpa harus terus mempertontonkan kesempurnaan. Banyak orang memiliki ruang
untuk tampil, tetapi tidak memiliki ruang untuk rapuh.
Karena itu, kebahagiaan sejati tidak identik dengan
kehidupan yang selalu menyenangkan. Rasulullah SAW bersabda:
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ
ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ؛ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ
خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruh keadaannya
merupakan kebaikan, dan hal itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin.
Apabila memperoleh kesenangan, ia bersyukur dan itu baik baginya. Apabila
ditimpa kesusahan, ia bersabar dan itu pun baik baginya.” (HR Muslim)
Hadis ini tidak mengajarkan toxic positivity, yaitu
memaksa seseorang terlihat baik-baik saja ketika sedang terluka. Islam mengakui
kesedihan, ketakutan, kehilangan, bahkan tangisan. Nabi Ya‘qub menangis karena
kehilangan Yusuf. Rasulullah Saw meneteskan air mata ketika putranya, Ibrahim,
wafat. Kesedihan bukan bukti lemahnya iman. Yang dibangun oleh iman adalah
kemampuan agar kesedihan tidak berubah menjadi keputusasaan dan kenikmatan
tidak berubah menjadi kelalaian.
Syukur membuat kesenangan memperoleh arah. Sabar membuat
penderitaan tetap memiliki makna. Tanpa syukur, kenikmatan dapat melahirkan
kesombongan. Tanpa sabar, penderitaan dapat merampas harapan. Orang beriman
bukan manusia yang selalu merasa senang, tetapi manusia yang tetap mengetahui
cara bersikap ketika keadaan berubah.
Sumber ketenteraman terdalam itu ditegaskan oleh Allah:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا
بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi
tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati
menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra‘d: 28)
Dzikir dalam ayat ini tidak terbatas pada ucapan lisan. Ia
mencakup kesadaran akan kehadiran, kebesaran, kasih sayang, janji, dan
pengawasan Allah. Hati menjadi tenteram bukan karena seluruh masalah telah
selesai, tetapi karena ia mengetahui bahwa dirinya tidak menghadapi masalah
sendirian. Ada Allah yang mengetahui apa yang tidak sanggup diucapkan,
mendengar doa yang belum selesai dirangkai, dan menilai perjuangan yang tidak
dilihat manusia.
Sebaliknya, keterputusan dari Allah dapat melahirkan
kesempitan eksistensial:
وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا
“Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh
baginya kehidupan yang sempit.” (QS. Thaha: 124)
Di sini makna ma‘isyatan dhanka tidak selalu
berbentuk kemiskinan ekonomi. Seseorang mungkin mempunyai rumah luas, tetapi
dada yang sempit; memiliki jadwal penuh, tetapi kehidupan yang kosong;
mempunyai banyak pengikut, tetapi tidak memiliki tempat aman untuk pulang;
dapat membeli hampir semua hiburan, tetapi tidak sanggup tinggal tenang bersama
dirinya sendiri.
Di sinilah manusia perlu berhenti dan memeriksa kembali definisi kebahagiaannya. Apakah kebahagiaan berarti tidak pernah mengalami kesulitan? Apakah ia harus selalu terlihat sukses? Apakah kehidupan baru dianggap bernilai apabila mendapat pengakuan? Apakah sesuatu sungguh-sungguh dinikmati, atau hanya dipersiapkan untuk dipamerkan?
Kebahagiaan semu selalu berkata, “Aku akan tenang setelah
mendapatkan sesuatu yang berikutnya.” Namun, sesuatu yang berikutnya tidak
pernah benar-benar berakhir. Kebahagiaan sejati berkata, “Aku akan tetap
berusaha, tetapi tidak menunda syukur; aku akan mengejar kemajuan, tetapi tidak
kehilangan diriku; aku akan menikmati dunia, tetapi tidak menjadikannya sebagai
Tuhan.”
Hayah thayyibah bukan kehidupan yang selalu mudah,
melainkan kehidupan yang benar. Bukan hidup tanpa luka, melainkan hidup yang
tidak kehilangan makna karena luka. Bukan kemewahan tanpa batas, melainkan
rezeki halal yang disyukuri. Bukan berhenti bercita-cita, melainkan tidak
menyerahkan ketenteraman kepada cita-cita. Bukan sekadar merasa senang,
melainkan hidup dalam iman, amal, cinta, manfaat, dan kedekatan kepada Allah.
Pada akhirnya, ukuran kebahagiaan bukan seberapa mengagumkan kehidupan kita di mata manusia, melainkan seberapa bersih hati kita ketika menjalaninya. Sebab, ada kebahagiaan yang ramai di layar tetapi sunyi di dalam jiwa. Ada pula kebahagiaan yang tidak banyak terlihat, tidak mengundang tepuk tangan, dan tidak menjadi bahan unggahan—tetapi menghadirkan ketenteraman karena hati merasa cukup bersama Allah.