Ketika Kemajuan Tak Selalu Berarti Kemuliaan
Oleh: KH Ahmad Jamil, M.A, Ph.D
Pengurus KPK MUI/Pimpinan Pondok Pesantren Tahfizh Daarul Quran (DaQu)
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Ada satu penyakit hati yang datang tanpa suara, yaitu silau melihat kehidupan orang lain. Kita melihat mereka lebih kaya, lebih maju, lebih berpengaruh. Kota-kota mereka tertata, teknologi berkembang, universitas maju, ekonomi kuat, perjalanan lintas negara begitu mudah. Di zaman media sosial, semua itu bahkan hadir setiap hari di telapak tangan kita.
Lalu, tanpa disadari, muncul pertanyaan di dalam hati: Mengapa
orang-orang yang tidak beriman justru tampak begitu menikmati dunia? Apakah
kelapangan dunia merupakan tanda bahwa mereka lebih mulia di sisi Allah?
Alquran menjawab kegelisahan itu dengan sangat tegas:
لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلَادِ. مَتَاعٌ
قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۚ وَبِئْسَ الْمِهَادُ
“Jangan sekali-kali engkau terpedaya oleh kegiatan
orang-orang kafir yang bergerak di berbagai negeri. Itu hanyalah kesenangan
sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahanam. Dan itulah
seburuk-buruk tempat tinggal.” (QS. Ali ‘Imran: 196-197)
Perhatikan diksi “La yaghurrannaka” (لَا يَغُرَّنَّكَ), “Jangan sekali-kali engkau tertipu”.
Larangan ini bukan perintah untuk menutup mata terhadap kemajuan orang lain.
Islam tidak mengajarkan umatnya membenci ilmu, teknologi, kekuatan ekonomi,
kedisiplinan, atau kemajuan peradaban hanya karena hal-hal itu dimiliki bangsa
lain.
Yang dilarang adalah tertipu. Melihat keberhasilan material,
kemudian menganggapnya sebagai ukuran mutlak kemuliaan. Melihat dunia, lalu
lupa akhirat. Melihat yang tampak, tetapi kehilangan kemampuan membaca hakikat.
Allah juga menggunakan ungkapan (تَقَلُّبُ
الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلَادِ). Imam at-Thabari dalam Jami‘ al-Bayan
menjelaskan “taqallub” dalam konteks aktivitas dan pergerakan mereka di
bumi. Al-Qurthubi juga menjelaskan tentang perjalanan mereka, termasuk
aktivitas perdagangan dan berbagai urusan dunia.
Ayat ini berbicara tentang sesuatu yang sangat konkret,
yakni orang beriman mungkin melihat mereka bepergian dari negeri ke negeri,
berdagang, memperoleh keuntungan, hidup aman, mempunyai kekuatan ekonomi dan
menikmati berbagai fasilitas kehidupan. Tapi sebagaimana ditegaskan di awal ayatnya, itu semua jangan sampai membuat kita tertipu.
Jangan sampai semua itu mengguncangkan iman. Mengapa? Ayat
berikutnya menjawab “Mata’un qolilun” (مَتَاعٌ
قَلِيلٌ) yang berarti
“kesenangan yang sedikit”. Memang hanya dua kata, tetapi dua kata
itu mengubah perspektif kehidupan. Dunia bukan tidak bernilai. Dunia bernilai
sebagai jalan, bukan sebagai tujuan terakhir.
Persoalan muncul ketika sesuatu yang sementara diperlakukan seolah-olah abadi; sesuatu yang seharusnya menjadi sarana berubah menjadi tujuan; dan sesuatu yang seharusnya berada di tangan justru masuk dan menguasai hati.
Baca juga: “DNA” Pejuang: Menagih Spiritualitas, Karakter, dan Tanggung Jawab Kemerdekaan
Kelapangan Dunia Bukan “Sertifikat” Keridhaan Allah
Ada kesalahan teologis yang sejak dahulu menghantui manusia: mengukur cinta Tuhan dengan keadaan ekonomi. Ketika kaya, seseorang berkata: “Allah sedang memuliakanku.” Namun, ketika miskin, ia berkata:“Allah sedang menghinakanku.”
Alquran membantah logika itu. Allah SWT berfirman:
فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ
وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ. وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ
عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ. كَلَّا
“Adapun manusia, apabila Tuhannya mengujinya lalu
memuliakannya dan memberinya kesenangan, dia berkata, ‘Tuhanku telah
memuliakanku.’ Namun apabila Dia mengujinya lalu membatasi rezekinya, dia
berkata, ‘Tuhanku telah menghinakanku.’ Sekali-kali tidak!” (QS. Al-Fajr:
15-17)
Ada kata penting dalam ayat ini, “ibtalahu” (ابْتَلَاهُ), “Dia mengujinya”. Kelapangan adalah
ujian, kesempitan juga ujian. Kekayaan ujian, kemiskinan ujian. Kekuasaan ujian,
bahkan popularitas pun ujian.
Karena itu, pertanyaan iman bukan hanya: “Berapa banyak yang aku miliki?” Tetapi: “Apa yang terjadi pada diriku karena apa yang aku miliki?” Apakah kekayaan membuat semakin bersyukur atau semakin angkuh? Apakah kekuasaan membuat semakin melayani atau semakin zalim? Apakah ilmu membuat semakin tawadhu’ atau justru merasa paling mengetahui?
Baca juga: Luka karena Pedang Dapat Sembuh, Luka karena Ucapan Dapat Diwariskan
Dunia adalah Penjara Orang Beriman
Dalam Shahih Muslim, disebutkan satu riwayat hadis,
bahwa Rasulullah Saw bersabda:
الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ
“Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi
orang kafir.” (HR Muslim)
Hadis ini sama sekali bukan ajaran agar muslim hidup miskin,
malas, kumuh, atau terbelakang. Islam tidak memusuhi kemajuan. Maknanya ialah
bahwa sebesar apa pun kenikmatan seorang mukmin di dunia, jika dibandingkan
dengan apa yang Allah persiapkan baginya di akhirat, dunia terasa seperti
penjara. Sebaliknya, sebesar apa pun kenikmatan dunia seseorang yang berakhir
dalam kekufuran, dibandingkan dengan kesudahan akhiratnya, dunia itulah “surga”-nya.
Jadi persoalannya bukan mempunyai dunia atau tidak mempunyai
dunia. Persoalannya adalah siapa yang memiliki siapa?, Apakah kita memiliki
dunia? Atau justru dunia yang memiliki kita?
Rasulullah Saw memberikan definisi kekayaan yang sangat
mendalam:
لَيْسَ الْغِنَىٰ عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَٰكِنَّ الْغِنَىٰ غِنَى
النَّفْسِ
“Kekayaan bukanlah karena banyaknya harta benda, tetapi
kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan jiwa.” (HR Bukhari dan Muslim)
Inilah wilayah “tazkiyatun nafs”, atau
penyucian jiwa. Seseorang bisa mempunyai banyak tetapi selalu merasa kurang. Bisa
tinggal di rumah besar, tetapi dadanya sempit. Bisa mempunyai jutaan pengikut
tetapi merasa kesepian. Bisa mengunjungi puluhan negara, tetapi tidak pernah
menemukan ketenteraman dalam dirinya.
Tradisi “tazkiyatun nafs” para ulama kita sejak
dahulu mengingatkan: persoalan terbesar bukan keberadaan dunia di tangan,
melainkan ketika kecintaan kepada dunia menguasai hati. Karena hati mempunyai
kebutuhan yang tidak seluruhnya dapat dibayar dengan uang. Ada lapar yang tidak
terpuaskan dengan makanan. Ada dahaga yang tidak selesai dengan minuman. Ada
kegelisahan yang tidak selesai dengan perjalanan wisata. Ada ruang dalam diri
manusia yang menuntut makna, tujuan, cinta dan hubungan dengan Yang Mahatinggi.
Karena itulah Allah berfirman:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi
tenteram.” (QS. Al-Ra‘d: 28)
Tentu ayat ini tidak berarti Islam mengabaikan aspek biologis, psikologis, ekonomi, keluarga dan sosial dalam kesehatan manusia. Semua itu mempunyai tempatnya. Tetapi manusia bukan sekadar tubuh. Manusia juga mempunyai ruh dan hati.
Baca juga: Berdoalah Saja, Jangan Mengatur Allah!
Ketika Psikologi Modern Berbicara tentang Makna
Menariknya, ilmu psikologi modern juga semakin menyadari
bahwa kesejahteraan manusia tidak dapat direduksi menjadi kekayaan atau
kesenangan. Martin E. P. Seligman, salah seorang tokoh penting positive
psychology, misalnya, mengembangkan kerangka kesejahteraan yang dikenal
dengan PERMA: Positive Emotion, Engagement, Relationships, Meaning, dan Accomplishment.
Kehidupan yang baik bukan hanya kehidupan yang menyenangkan.
Manusia juga membutuhkan keterlibatan, hubungan yang sehat, pencapaian dan
makna.
Viktor E. Frankl, psikiater dan neurolog Austria serta
penggagas logoterapi, bahkan menjadikan pencarian makna sebagai salah satu tema
utama pemikirannya. Dalam karya-karyanya tentang logoterapi, termasuk Man’s
Search for Meaning dan The Will to Meaning, Frankl menunjukkan
betapa pentingnya tujuan dan makna dalam kemampuan manusia menghadapi
penderitaan.
Frankl tentu berbicara sebagai psikiater, bukan mufasir. Seligman
berbicara dalam bahasa psikologi, bukan dalam bahasa tafsir. Karena itu, kita
tidak perlu memaksakan teori mereka menjadi “bukti” Alquran.
Namun, menarik melihat sebuah titik perjumpaan: manusia tidak
cukup hanya dibuat nyaman; manusia membutuhkan makna.
Dan bagi seorang mukmin, makna tertinggi kehidupan tidak
berhenti pada dirinya sendiri. Ia bermuara kepada Allah. Jangan pula mudah menghakimi
Barat. Di sinilah kita perlu bersikap adil. Ayat (لَا
يَغُرَّنَّكَ) tidak boleh dijadikan legitimasi
untuk mengatakan bahwa setiap orang nonmuslim pasti tidak bahagia, atau bahwa
setiap masyarakat Barat pasti mengalami kehampaan spiritual. Klaim seperti itu
terlalu menyederhanakan manusia dan tidak cukup kuat secara ilmiah.
Penelitian lintas negara Pew Research Center, misalnya,
menemukan bahwa orang yang aktif berpartisipasi dalam komunitas keagamaan
cenderung melaporkan tingkat kebahagiaan dan keterlibatan sosial yang lebih
tinggi di banyak negara dibandingkan kelompok pembanding tertentu. Namun, para
penelitinya juga menegaskan bahwa hubungan tersebut bersifat kompleks dan data
korelasional tidak dengan sendirinya membuktikan sebab-akibat.
Ini pelajaran penting bagi dakwah: semangat harus berjalan
bersama kejujuran ilmiah. Karena itu, jangan mengejek Barat. Belajarlah dari
kemajuannya. Pelajari sainsnya. Ambil kedisiplinannya. Tiru profesionalismenya.
Bangun teknologi yang lebih baik. Pelajari budaya risetnya. Bangun ekonomi yang
kuat. Tetapi jangan kehilangan kemampuan melakukan kritik terhadap pandangan
hidup yang bertentangan dengan nilai wahyu.
Seorang muslim tidak diperintahkan menjadi anti-Barat. Tetapi ia juga tidak boleh silau kepada Barat. Ia mengambil hikmah tanpa kehilangan kiblat.
Baca juga: Sebuah Refleksi ketika Kehormatan Diukur dengan Kekayaan
Kita Terus Bergerak, tetapi Menuju ke Mana?
Ada ruang tadabbur yang menarik dari kata: تَقَلُّبُ. Secara tafsir, makna yang harus didahulukan adalah apa yang
diterangkan para mufasir mu‘tabar: pergerakan dan aktivitas mereka di berbagai
negeri.
Namun, sebagai tadabbur, bukan sebagai tafsir
definitif, kata ini dapat mengingatkan kita pada karakter manusia modern yang
terus bergerak. Dari satu kota ke kota berikutnya. Dari satu destinasi wisata
ke destinasi berikutnya. Dari satu kendaraan menuju kendaraan yang lebih mahal.
Dari satu gawai menuju seri terbaru. Dari satu jabatan menuju jabatan
berikutnya. Dari seribu pengikut menuju sejuta pengikut.
Kita terus bergerak. Tetapi pernahkah kita bertanya: Hati
ini sebenarnya sedang bergerak menuju ke mana?
Bepergian tentu bukan masalah. Rasulullah SAW dan para
sahabat pun melakukan perjalanan. Rekreasi, menikmati alam dan melihat
negeri-negeri lain merupakan bagian yang wajar dari kehidupan.
Namun, apabila perjalanan hanya menjadi cara untuk
terus-menerus melarikan diri dari kehampaan, kegelisahan itu akan ikut masuk ke
dalam koper. Boleh jadi seseorang telah mengelilingi separuh dunia, tetapi
belum pernah melakukan perjalanan beberapa sentimeter menuju kedalaman hatinya
sendiri.
Media Sosial dan Fatamorgana Kebahagiaan
Ayat ini terasa semakin relevan pada zaman media sosial. Kita
hidup pada masa ketika manusia sering membandingkan seluruh kehidupan dirinya
dengan potongan terbaik kehidupan orang lain. Kita melihat foto liburannya,
bukan kegelisahannya. Kita melihat mobilnya, bukan bebannya. Kita melihat
prestasinya, bukan malam-malam panjang perjuangannya. Kita melihat senyumnya,
tetapi tidak mengetahui pergulatan yang sedang terjadi dalam hatinya.
Alquran mengingatkan:
وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا
مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ
خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ
“Janganlah engkau tujukan pandanganmu kepada kenikmatan
yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka sebagai bunga
kehidupan dunia untuk Kami uji mereka dengannya. Karunia Tuhanmu lebih baik dan
lebih kekal.” (QS. Thaha: 131)
Perhatikan ungkapan Alquran yang berbunyi: زَهْرَةَ
الْحَيَاةِ الدُّنْيَا yang berarti “Bunga
kehidupan dunia”. Bunga memang indah. Bunga boleh dinikmati. Tetapi bunga
tidak selamanya mekar. Standar langit berbeda, Rasulullah Saw bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَىٰ صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَٰكِنْ
يَنْظُرُ إِلَىٰ قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi
Dia melihat hati dan amal kalian.” (HR Muslim)
Di sinilah ukuran langit berbeda dengan ukuran dunia. Dunia bertanya: Berapa hartamu? Iman bertanya: Dari mana dan untuk apa hartamu? Dunia bertanya: Apa jabatanmu? Iman bertanya: Berapa banyak manusia memperoleh manfaat dari jabatanmu? Dunia bertanya: Berapa banyak manusia mengenalmu? Iman bertanya: Apakah Allah meridhaimu? Dunia menghitung apa yang masuk ke rekening. Sementara, tazkiyatun nafs mengingatkan kita untuk menghitung apa yang masuk ke dalam hati.
Baca juga: Mengobati Krisis Spiritualitas Umat di Era Digital
Yang Menentukan adalah Kesudahan
Pada akhirnya, QS Ali ‘Imran 196 di awal tulisan ini mendidik
cara kita memandang kehidupan. Jangan rendah diri hanya karena rumah orang lain
lebih besar. Jangan kehilangan rasa syukur karena kendaraan orang lain lebih
mahal. Jangan menganggap kehidupan gagal hanya karena perjalanan orang lain
terlihat lebih cepat. Dan jangan pula merasa otomatis lebih mulia hanya karena
kita seorang muslim.
Identitas iman adalah amanah. Iman semestinya melahirkan
ilmu yang lebih tinggi, akhlak yang lebih luhur, kerja yang lebih profesional,
ekonomi yang lebih kuat, kepedulian sosial yang lebih luas, dan peradaban yang
membawa rahmat bagi manusia.
Seorang mukmin boleh kaya. Tetapi kekayaan berada di
tangannya, bukan di hatinya. Ia boleh mempunyai kekuasaan. Tetapi kekuasaan
tidak boleh menguasai jiwanya. Ia boleh terkenal. Tetapi ia tidak hidup untuk
tepuk tangan manusia. Ia boleh mengelilingi dunia. Tetapi ia tahu ke mana
perjalanan terakhirnya.
Sebab setelah semua perjalanan selesai, kita semua akan pulang.
Sebagaimana ditegaskan oleh Allah dalam berfirman-Nya:
وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ
“Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih
kekal.” (QS. Al-A‘la: 17)
Maka lihatlah kemajuan dunia. Pelajarilah. Kejarlah
prestasi. Bangunlah ilmu. Kuatkan ekonomi. Ciptakan teknologi. Bangunlah
peradaban. Nikmatilah yang halal dan baik. Tetapi jangan silau. Sebab orang
yang silau kehilangan kemampuan melihat arah. Sedangkan seorang mukmin
mempunyai arah yang jauh melampaui dunia: Allah dan kehidupan akhirat.
Pada akhirnya, pertanyaan terbesar bukan: “Seberapa banyak dunia yang berhasil kita nikmati?” Tetapi: “Dalam keadaan bagaimana kita akan kembali kepada Allah?” Sebab yang menentukan bukan sekadar indahnya permulaan, tetapi baiknya kesudahan—husnul khatimah. Wallahu a’lam bis shawab.