Lewati ke konten utama
Rabu, 1 Juli 2026 / 15 Muharam 1448 H
Jadwal memuat...
Opini

Mengobati Krisis Spiritualitas Umat di Era Digital

7 menit baca 451 dibaca
KH Ahmad Jamil, M.A, Ph.D

Oleh: KH Ahmad Jamil, M.A, Ph.D

Pengurus KPK MUI/Pimpinan Pondok Pesantren Tahfizh Daarul Quran (DaQu)

Diunggah: Admin Admin Editor: Admin
Mengobati Krisis Spiritualitas Umat di Era Digital
Mengaji dan dakwah bisa dilakukan secara online di era digital, tapi nilai spiritualitas cenderung berkurang. Foto: Pinterest
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital — Di tengah kemajuan teknologi, melimpahnya informasi, dan meningkatnya standar hidup, banyak manusia justru kehilangan sesuatu yang paling mendasar: ketenangan hati.

Kita hidup di zaman yang menawarkan berbagai kemudahan, tetapi tidak selalu menghadirkan ketenteraman. Manusia semakin terhubung dengan dunia, namun sering kali semakin jauh dari dirinya sendiri.

Tulisan ini mengajak kita merenungkan kembali sebuah doa yang mengajarkan bagaimana menempatkan dunia pada ukurannya yang benar dan mengembalikan orientasi hidup kepada Allah SWT.

Baca juga: Tafsir Peradaban atas Doa Nabi Nuh

Ada banyak doa yang berisi permohonan tambahan rezeki, kesehatan, umur panjang, kemudahan urusan, dan berbagai kebutuhan duniawi lainnya. Namun sangat sedikit doa yang secara khusus memohon agar dunia tidak menguasai hati. Padahal sering kali problem terbesar manusia bukanlah kekurangan dunia, melainkan terlalu banyak dunia yang bersemayam di dalam dirinya.

Di antara doa yang sangat menyentuh dalam konteks ini adalah doa yang penulis terima langsung dari guru mulia, Al-Habib Umar bin Hafidz hafidhahullahu ta’ala saat berkunjung ke kediaman beliau di Tarim.

Doa tersebut beliau himpun dalam kitab Al-Khulashah dan dibaca setiap selesai shalat Subuh setelah rangkaian wirid pagi. Kandungannya sangat dalam dan terasa semakin relevan dengan kondisi spiritual umat Islam pada masa kini.

Berikut lafaz doa yang saya maksud:

اللَّهُمَّ أَخْرِجْ مِنْ قَلْبِي كُلَّ قَدْرٍ لِلدُّنْيَا، وَكُلَّ مَحَلٍّ لِلْخَلْقِ، يَمِيلُ بِي إِلَى مَعْصِيَتِكَ، أَوْ يَشْغَلُنِي عَنْ طَاعَتِكَ، أَوْ يَحُولُ بَيْنِي وَبَيْنَ التَّحَقُّقِ بِمَعْرِفَتِكَ الْخَاصَّةِ، وَمَحَبَّتِكَ الْخَالِصَةِ

“Ya Allah, keluarkanlah dari hatiku segala kadar kecintaan kepada dunia dan segala tempat bagi makhluk yang dapat menyeretku kepada kemaksiatan kepada-Mu, atau menyibukkanku dari ketaatan kepada-Mu, atau menghalangiku dari tercapainya ma‘rifat yang mendalam kepada-Mu dan cinta yang tulus kepada-Mu.”

Doa ini tidak mengajarkan manusia untuk meninggalkan dunia. Ia tidak mengajarkan kemiskinan, anti-kemajuan, atau menjauhi tanggung jawab sosial. Yang dimohonkan adalah agar dunia tidak menguasai hati. Sebab masalah terbesar manusia bukan ketika ia memiliki dunia, melainkan ketika dunia memiliki dirinya.

Baca juga: Keteguhan Iman Muslim Persia dan Isyarat Tafsir Surat Muhammad

Di antara penyakit terbesar yang menggerogoti umat Islam hari ini bukanlah kemiskinan materi atau keterbelakangan teknologi, melainkan krisis spiritual yang berlangsung perlahan dan sering kali tidak disadari.

Kita hidup di zaman yang dipenuhi informasi, tetapi semakin miskin ketenangan. Manusia semakin terhubung dengan dunia, tetapi semakin jauh dari dirinya sendiri.

Di tengah kemajuan yang mengagumkan, banyak hati justru merasa kosong, gelisah, dan kehilangan arah. Allah SWT mengingatkan:

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ

“Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kalian, dan berlomba-lomba dalam harta serta anak-anak.” (QS. Al-Hadid: 20)

Ayat ini terasa semakin relevan pada era digital. Apa yang dahulu terjadi di pasar-pasar Arab kini terjadi di layar-layar telepon genggam. Perlombaan status sosial, pencitraan diri, pencarian pengakuan, dan budaya pamer berlangsung tanpa henti.

Baca juga: Ketika Doa dalam Qiyamul Lail “Belum Terkabul”

Dunia tidak lagi hanya hadir di hadapan manusia, tetapi masuk ke ruang paling pribadi dalam kehidupannya.

Pada dasarnya, Alquran tidak pernah melarang manusia memiliki kekayaan. Nabi Sulaiman AS memimpin kerajaan yang besar. Nabi Dawud AS memiliki kekuasaan. Sayyidina Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu dan Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu termasuk sahabat yang sangat kaya. Namun mereka tidak diperbudak oleh apa yang mereka miliki.

Sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, bahwa zuhud bukanlah tidak memiliki dunia, melainkan ketika apa yang ada di sisi Allah lebih dipercaya daripada apa yang ada di tangan manusia.

Inilah persoalan utama manusia modern. Nilai diri sering diukur dengan jabatan, harga diri dengan penghasilan, dan keberhasilan dengan popularitas. Pujian manusia menjadi sumber kebahagiaan, sementara kritik menjadi sumber penderitaan. Akibatnya, hati kehilangan kebebasannya. Padahal Allah berfirman:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Jadi, ketenangan bukan produk dunia. Ia adalah buah kedekatan dengan Allah.

Baca juga: Hakikat di Balik Syariat Doa

Para ulama seperti Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin, Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, dan Imam Ibn al-Qayyim dalam Madarij al-Salikin menjelaskan bahwa hati merupakan pusat kesadaran ruhani manusia. Ia diciptakan untuk mengenal Allah, mencintai-Nya, berharap kepada-Nya, dan bergantung kepada-Nya.

Ketika hati dipenuhi oleh kecintaan yang berlebihan kepada dunia, jabatan, harta, popularitas, dan penilaian manusia, maka fungsi fitrahnya mulai terganggu.

Dunia yang berada di tangan dapat menjadi sarana ibadah, tetapi dunia yang menetap di hati dapat berubah menjadi hijab antara seorang hamba dengan Rabb-nya.

Oleh karena itu, para salaf lebih takut terhadap kerasnya hati daripada sempitnya kehidupan. Mereka memahami bahwa kerusakan hati pada akhirnya akan melahirkan kerusakan pada seluruh dimensi kehidupan manusia.

Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

“Sesungguhnya dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika ia baik maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah bahwa ia adalah hati.” (HR Bukhari dan Muslim)

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa seluruh perilaku manusia merupakan refleksi dari keadaan hatinya. Amal anggota badan hanyalah buah, sedangkan hati adalah akar. Maka, setiap proyek perbaikan umat yang mengabaikan pembangunan hati pada hakikatnya hanya menyentuh gejala, bukan sumber masalah.

Baca juga: Doa yang Terlupakan di Tengah Krisis

Salah satu tantangan terbesar umat Islam hari ini adalah hidup di bawah kendali algoritma. Apa yang kita lihat, baca, sukai, dan pikirkan sebagian besar diarahkan oleh sistem digital yang dirancang untuk merebut perhatian manusia selama mungkin.

Akibatnya, manusia modern semakin sulit menikmati keheningan, semakin sulit berkonsentrasi dalam ibadah, dan semakin sulit hadir sepenuhnya ketika berinteraksi dengan Alquran. Padahal hati yang terus-menerus terpecah oleh distraksi akan kesulitan merasakan kehadiran Allah.

Kita hidup dalam budaya yang menjadikan perhatian sebagai komoditas dan popularitas sebagai mata uang. Tidak banyak yang bertanya pada dirinya, “Apakah Allah ridha kepadaku?” Sebaliknya, banyak orang lebih sibuk bertanya, “Bagaimana penilaian manusia terhadapku?”

Imam al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata:

تَرْكُ الْعَمَلِ لِأَجْلِ النَّاسِ رِيَاءٌ، وَالْعَمَلُ لِأَجْلِ النَّاسِ شِرْكٌ، وَالإِخْلَاصُ أَنْ يُعَافِيَكَ اللَّهُ مِنْهُمَا

"Meninggalkan amal karena manusia adalah riya', beramal karena manusia adalah syirik kecil, sedangkan ikhlas adalah ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya."

Menariknya, berbagai penelitian psikologi modern juga menunjukkan bahwa orientasi hidup yang terlalu materialistik berkorelasi dengan meningkatnya kecemasan, depresi, stres, dan rendahnya kepuasan hidup.

Tim Kasser dalam The High Price of Materialism menyimpulkan bahwa semakin seseorang menjadikan kekayaan, status sosial, popularitas, dan citra diri sebagai tujuan utama hidupnya, semakin besar kemungkinan munculnya kehampaan batin dan gangguan psikologis.

Baca juga: Pesan Tersirat Surat Al-Qalam Menyembuhkan Lelah Mental dalam Dakwah

Alquran telah menjelaskan hal ini jauh sebelumnya:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا

“Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka baginya kehidupan yang sempit.” (QS. Thaha: 124)

Para mufassir seperti Imam ath-Thabari, al-Qurthubi, dan Ibn Katsir menjelaskan bahwa yang dimaksud bukan sekadar kesempitan ekonomi, tetapi juga kesempitan jiwa, kegelisahan hati, dan hilangnya ketenteraman meskipun seseorang memiliki berbagai kenikmatan dunia.

Pelajaran serupa diwariskan oleh Sayyidina Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

نَحْنُ قَوْمٌ أَعَزَّنَا اللَّهُ بِالْإِسْلَامِ، فَمَهْمَا ابْتَغَيْنَا الْعِزَّةَ بِغَيْرِهِ أَذَلَّنَا اللَّهُ

“Kami adalah kaum yang dimuliakan Allah dengan Islam. Maka kapan saja kami mencari kemuliaan dengan selain Islam, Allah akan menghinakan kami.”

Kemuliaan sejati tidak berasal dari apa yang dimiliki manusia, tetapi dari kedekatannya kepada Allah. Selaras dengan hal ini, Ibnu Taimiyyah berkata:

إِنَّ فِي الدُّنْيَا جَنَّةً، مَنْ لَمْ يَدْخُلْهَا لَمْ يَدْخُلْ جَنَّةَ الْآخِرَةِ

“Sesungguhnya di dunia ini ada surga. Barang siapa tidak memasukinya, ia tidak akan memasuki surga akhirat.”

Ungkapan ini dinukil oleh murid beliau, Imam Ibnu al-Qayyim, dalam Al-Wabil as-Shayyib dan beberapa karya lainnya. Yang dimaksud bukanlah surga berupa kenikmatan materi, melainkan surga ma‘rifatullah, mahabbatullah, dzikrullah, dan kedekatan seorang hamba dengan Rabb-nya. Sebuah keadaan ketika hati menemukan tempat pulangnya setelah lama tersesat dalam keramaian dunia.

Baca juga: Sebuah Renungan: Inflasi, Ketamakan, dan Hilangnya Keberkahan

Oleh karena itu, kebangkitan umat hari ini harus dimulai dari pemulihan hati. Kita perlu menghidupkan kembali budaya muhasabah di tengah banjir informasi digital, memperbanyak tilawah dan tadabbur Alquran, memperbaiki kualitas doa, melatih keikhlasan, serta memperbanyak mengingat kematian. Sebab seluruh latihan ruhani tersebut bermuara pada satu tujuan, yaitu mengembalikan orientasi hidup kepada Allah.

Kebangkitan sejati harus dimulai dari tempat yang sama ketika Rasulullah SAW memulai perubahan generasi pertama Islam: dari hati. Sebab dari hatilah lahir cara berpikir, cara memandang kehidupan, dan cara memperlakukan sesama manusia. Ketika hati sehat, ilmu menjadi cahaya, kekuasaan melahirkan keadilan, kekayaan menghadirkan keberkahan, dan peradaban menemukan arah yang benar.

Masalah terbesar manusia bukanlah sedikitnya apa yang ia miliki, melainkan siapa yang menjadi pusat orientasi hidupnya. Jika dunia menjadi tujuan akhir, ia akan terus merasa kurang meskipun memiliki segalanya. Namun jika Allah menjadi tujuan hidupnya, ia akan menemukan kecukupan bahkan di tengah keterbatasan.

Itulah sebabnya para ulama tidak pernah berdoa agar dunia keluar dari tangan mereka. Mereka berdoa agar dunia tidak menetap di dalam hati mereka.

Baca juga: Belajar dari Nabi Ibrahim dalam Menghadapi Gelombang Krisis Global

Kiranya, di tengah hiruk-pikuk zaman yang semakin bising ini, doa yang penulis dapatkan dari Habib Umar di atas menjadi sangat penting untuk diamalkan:

اللَّهُمَّ أَخْرِجْ مِنْ قَلْبِي كُلَّ قَدْرٍ لِلدُّنْيَا، وَكُلَّ مَحَلٍّ لِلْخَلْقِ، يَمِيلُ بِي إِلَى مَعْصِيَتِكَ، أَوْ يَشْغَلُنِي عَنْ طَاعَتِكَ، أَوْ يَحُولُ بَيْنِي وَبَيْنَ التَّحَقُّقِ بِمَعْرِفَتِكَ الْخَاصَّةِ، وَمَحَبَّتِكَ الْخَالِصَةِ

Ketika dunia kembali berada pada ukurannya yang benar, seorang hamba akan mampu melihat kehidupan dengan jernih: bahwa dunia hanyalah tempat singgah, sedangkan tujuan akhirnya adalah Allah. Wallahu a’lam bis shawab.

Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.