Keteguhan Iman Muslim Persia dan Isyarat Tafsir Surat Muhammad
Abd. Hakim Abidin
Penulis
Admin
Editor
Jakarta, MUI Digital — Dalam beberapa waktu terakhir, dunia menyaksikan bagaimana Iran menunjukkan sikap keras dan keberanian politik dalam menghadapi tekanan dari Amerika Serikat dan Israel.
Bagi sebagian orang,
ini mungkin dianggap sekadar dinamika geopolitik. Namun, jika ditarik ke akar
sejarah yang lebih dalam, kita akan menemukan bahwa bangsa Iran merupakan kelanjutan
dari bangsa Persia. Wilayah geografis dan sosiokultural Iran menunjukkan hal
itu. Kota-kota seperti Shiraz, Naishabur Tabriz, dan Isfahan, terkenal sejak
dulu melahirkan banyak cendekiawan terkemuka.
Bangsa Persia merupakan sebuah bangsa yang sejak dahulu dikenal identik dengan karakter kuat, daya tahan tinggi, dan keteguhan dalam menjaga kehormatan dan prinsip hidupnya.
Baca juga: Solidaritas Kita pada Iran
Dalam lintasan sejarah
Islam, sosok bangsa Persia yang paling menonjol adalah Salman al-Farisi. Bukan
sekadar sahabat biasa, Salman adalah seorang pencari kebenaran yang menempuh
perjalanan panjang lintas agama hingga akhirnya menemukan Islam.
Lebih dari itu, Salman
dikenal sebagai ahli strategi perang, yang mengusulkan penggalian parit dalam Perang
Khandaq atau yang dikenal dengan Perang Ahzab, yang mana kafir Quraisy,
berkoalisi dengan kaum Yahudi dari berbagai kabilah yang memusuhi Nabi.
Kemenangan perang tersebut
memang sepenuhnya adalah anugerah dari Allah. Tapi hal ini tidak bisa terlepas
dari strategi cerdas Salman dalam membuat parit, yang disetujui oleh Nabi. Dan
strategi perang ini bisa dilihat sebagai wasilah dalam menyelamatkan kaum muslimin.
Sosok Salman al-Farisi
yang cerdas dan teguh pendiriannya ini dinilai merepresentasikan karakter
tangguh bangsa Persia. Menariknya, keteguhan bangsa Persia bahkan pernah
disinggung langsung oleh Nabi SAW dalam sabdanya:
وَالَّذِي
نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ كَانَ الإِيمَانُ مَنُوطًا بِالثُّرَيَّا لَتَنَاوَلَهُ
رِجَالٌ مِنْ فَارِسَ
“Demi Dzat yang
jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya iman itu tergantung di bintang
Tsurayya, niscaya akan diraih oleh orang-orang dari Persia.” (HR Tirmidzi)
Jika dilihat dari teks lengkapnya, maka
didapati bahwa hadis ini berkaitan dengan ayat 38 dalam surat Muhammad. Dalam Sunan
at-Timidzi, redaksi hadis selengkapnya seperti berikut:
عَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ أَنَّهُ قَالَ: قَالَ نَاسٌ مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَنْ هَؤُلَاءِ الَّذِينَ ذَكَرَ
اللهُ إِنْ تَوَلَّيْنَا اسْتُبْدِلُوا بِنَا ثُمَّ لَا يَكُونُوا أَمْثَالَنَا؟ قَالَ: وَكَانَ
سَلْمَانُ بِجَنْبِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: فَضَرَبَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ فَخِذَ سَلْمَانَ قَالَ: هَذَا وَأَصْحَابُهُ، وَالَّذِي نَفْسِي
بِيَدِهِ لَوْ كَانَ الإِيمَانُ مَنُوطًا بِالثُّرَيَّا لَتَنَاوَلَهُ رِجَالٌ
مِنْ فَارِسَ
“Diriwayatkan dari Abu
Hurairah, ia berkata: Sejumlah sahabat Rasulullah SAW bertanya: ‘Wahai Rasulullah, siapakah mereka
yang disebut oleh Allah—bahwa jika kami berpaling, mereka akan menggantikan
kami, dan mereka tidak akan seperti kami?’ Saat itu, Salman al-Farisi berada di
samping Rasulullah SAW. Maka Rasulullah SAW menepuk paha Salman seraya bersabda: ‘Orang
ini dan kaumnya. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya iman
itu tergantung di bintang Tsurayya, niscaya akan diraih oleh orang-orang dari
Persia.’”
Selain redaksi hadis ini, Imam at-Tirmidzi
juga menyebutkan redaksi lain yang mirip substansinya, yakni sebagai berikut:
عَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ قَالَ: تَلَا رَسُولُ اللهِ - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - يَوْمًا
هَذِهِ الْآيَةَ (وَإِنْ تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ ثُمَّ لا
يَكُونُوا أَمْثَالَكُمْ) قَالُوا: وَمَنْ يُسْتَبْدَلُ بِنَا؟ قَالَ: فَضَرَبَ
رَسُولُ اللهِ - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - عَلَى مَنْكِبِ سَلْمَانَ، ثُمَّ
قَالَ: هَذَا وَقَوْمُهُ، هَذَا وَقَوْمُهُ.
“Diriwayatkan
dari Abu Hurairah, ia berkata: Pada suatu hari Rasulullah SAW membaca ayat
ini: ‘Dan jika kalian berpaling, niscaya Allah akan mengganti kalian dengan
kaum yang lain, kemudian mereka tidak akan seperti kalian.’ (QS. Muhammad: 38).
Lalu para sahabat bertanya: ‘Siapakah yang akan menggantikan kami?’ Kemudian Rasulullah
SAW
menepuk pundak Salman al-Farisi seraya bersabda: ‘Orang ini dan kaumnya, orang
ini dan kaumnya.’”
Tapi Imam at-Tirmidzi mengungkapkan bahwa status hadis ini adalah ‘gharib’ atau aneh, sebab ditemukan kejanggalan sanad periwayatnya. Namun demikian, jika ditelusuri lebih jauh, hadis ini juga ada kemiripan redaksinya dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Sehingga bisa dijadikan landasan argumentasi.
Baca juga: Perang Iran, Antara Narasi Armageddon dan Tanda Akhir Zaman
Dalam Shahih Bukhari disebutkan
hadis berikut:
عَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ رضي
الله عنه، قَالَ:
كُنَّا جُلُوسًا عِنْدَ النَّبِيِّ—صلى الله عليه وسلم، فَأُنْزِلَتْ
عَلَيْهِ سُورَةُ الْجُمُعَةِ (وَآخَرِينَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوا بِهِمْ)
قَالَ: قُلْتُ: مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللهِ؟ فَلَمْ يُرَاجِعْهُ حَتَّى سَأَلَ
ثَلَاثًا، وَفِينَا سَلْمَانُ الْفَارِسِيُّ، وَضَعَ رَسُولُ اللهِ—صلى الله عليه
وسلم— يَدَهُ عَلَى سَلْمَانَ، ثُمَّ قَالَ: لَوْ كَانَ الْإِيمَانُ عِنْدَ
الثُّرَيَّا، لَنَالَهُ رِجَالٌ، أَوْ رَجُلٌ، مِنْ هَؤُلَاءِ
“Kami
sedang duduk bersama Nabi SAW, lalu diturunkan kepada beliau surat
Al-Jumu‘ah: ‘Dan (Dia mengutus-Nya juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang
belum bergabung dengan mereka.’ (QS. Al-Jumu‘ah: 3). Aku berkata: ‘Siapakah
mereka itu, wahai Rasulullah?’ Namun beliau tidak menjawabku hingga aku
bertanya sebanyak tiga kali. Sementara di tengah kami ada Salman al-Farisi. Lalu
Rasulullah SAW meletakkan tangannya di atas Salman, kemudian bersabda: ‘Seandainya
iman itu berada di bintang Tsurayya, niscaya akan diraih oleh orang-orang—atau
seorang laki-laki—dari golongan ini.’”
Di sini terdapat sedikit perbedaan, tetapi hakikatnya
saling berkaitan. Dalam Sunan at-Tirmidzi, Rasulullah menyinggung satu
kaum, yakni kaumnya Salman al-Farisi, yang digambarkan dengan keteguhan iman
setelah membaca surat Muhammad ayat 38, sedangkan dalam Shahih Bukhari, Rasulullah
bersabda mengenai keteguhan iman Salman dan kaumnya ketika diturunkannya surat
Al-Jum’ah ayat 3.
Terkait dua ayat yang berbeda tersebut,
dapat ditemukan titik temu keterkaitannya, yakni bahwa Nabi SAW memang diutus
untuk semua umat manusia, kaum Arab maupun Ajam (selain Arab).
Lalu ditegaskan dalam surat Muhammad ayat 38, bahwa jika pengikut Nabi dari kaum Arab itu berpaling, maka akan digantikan oleh suatu kaum yang teguh imannya, tidak seperti sebelumnya. Di sini kemudian ditegaskan, bahwa kaum yang dimaksud, sebagaimana terdapat dalam riwayat hadis di atas, tidak lain adalah kaum Ajam, dan secara spesifik disebut kaum Persia yang direpresentasikan dalam diri Salman al-Farisi.
Baca juga: Tafsir Surat Al-Isra Ayat 31, di Balik Larangan Membunuh Anak Kandung Menurut Islam
Tidak jauh berbeda, dalam Shahih Muslim juga
disebutkan redaksi hadis yang sama dengan Shahih Bukhari. Bahwa hadis yang
disinggung di atas disampaikan berkenaan dengan surat Al-Jum’ah ayat 3.
Mayoritas ulama tafsir menyertakan riwayat
hadis di atas dalam menafsirkan kedua ayat tersebut. Tapi hal itu tidak
bermakna sebagai sebuah pembatasan mutlak (hanya terkait bangsa Persia)
mengenai gambaran kaum yang dimaksud Rasulullah.
Imam at-Thabari memperjelas keterangan
tafsirnya mengenai kaum yang dimaksud dengan mengungkapkan secara umum
kriterianya, sebagaimana berikut:
وقوله تعالى
ذكره: (وَإِنْ تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ) يقول تعالى ذكره:
وإن تتولوا أيها الناس عن هذا الدين الذي جاءكم. به محمد صَلَّى الله عَلَيْهِ
وَسَلَّم، فترتدّوا راجعين عنه (َيسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ) يقول:
يهلككم ثم يجيء بقوم آخرين غيركم بدلا منكم يصدّقون به، ويعملون بشرائعه (ثُمَّ لا
يَكُونُوا أَمْثَالَكُمْ) يقول: ثم لا يبخلوا بما أُمروا به من النفقة في سبيل
الله، ولا يضيعون شيئا من حدود دينهم، ولكنهم يقومون بذلك كله على ما يُؤمرون به
“Firman Allah
Ta‘ala: ‘Dan jika kalian berpaling, niscaya Dia akan mengganti dengan kaum yang
lain’, maksudnya: jika kalian—wahai manusia—berpaling dari agama ini yang telah
dibawa oleh Muhammad SAW, lalu kalian murtad dan kembali darinya, maka
Allah akan membinasakan kalian, kemudian mendatangkan kaum lain sebagai
pengganti kalian. Mereka adalah kaum yang membenarkan agama ini dan mengamalkan
syariat-syariatnya. ‘Kemudian mereka tidak akan seperti kalian’, maksudnya:
mereka tidak akan bersifat kikir terhadap apa yang diperintahkan kepada mereka,
yaitu berinfak di jalan Allah. Mereka juga tidak akan menyia-nyiakan sedikit
pun dari batasan-batasan agama mereka, bahkan mereka akan menegakkan semuanya
sebagaimana yang diperintahkan kepada mereka.” (Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil Ayi al-Qur’an
[Kairo: Dar Hajr], juz 21, h. 232)
Setidaknya, dari keterangan ini diketahui
bahwa yang dimaksud dengan “kaum
pengganti” itu bukanlah identitas tunggal yang kaku, melainkan tipologi manusia
yang memiliki kualitas iman tertentu. Kaum ini memiliki 4 karakter pokok:
1. Membenarkan agama (يُصَدِّقُونَ
بِهِ), yakni menerima kebenaran
Islam secara utuh, bukan setengah hati.
2. Mengamalkan syariat
(يَعْمَلُونَ
بِشَرَائِعِهِ). Imannya
tidak berhenti pada pengakuan, tetapi menjelma dalam amal nyata.
3. Tidak kikir (لَا يَبْخَلُوْا
بِمَا أُمِرُوْا بِهِ),
yaitu mereka tidak pelit dalam berkorban di jalan Allah.
4. Tidak meremehkan
agama (وَلَا
يُضَيِّعُونَ شَيْئًا مِنْ حُدُودِ دِينِهِمْ). Teguh berpendirian dalam iman, dan tidak menganggap remeh atau menyia-nyiakan
batasan-batasan agama.
Dengan kata lain,
mereka adalah antitesis dari kaum yang disebut dalam ayat 38 surat Muhammad,
yaitu yang lemah komitmen, enggan berkorban, dan mudah berpaling.
Lalu jika karakter tersebut ternyata secara
spesifik terdapat pada fakta kaum muslim Persia, maka tentu hal itu menunjukkan
bukti kebenaran nubuwwah Nabi SAW. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Ibnu ‘Asyur
dalam tafsirnya, At-Tahrir wa At-Tanwir:
وَأَقُولُ هُوَ
يَدُلُّ عَلَى أَنَّ فَارِسَ إِذَا آمَنُوا لَا يَرْتَدُّونَ وَهُوَ من دَلَائِل
نبوءة النبيء صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّ الْعَرَبَ ارْتَدَّ
مِنْهُمْ بَعْضُ الْقَبَائِلِ بَعْدَ وَفَاة النبيء صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ وَارْتَدَّ الْبَرْبَرُ بَعْدَ فَتْحِ بِلَادهمْ وَإِيمَانهمْ ثِنْتَيْ
عَشْرَةَ مَرَّةً فِيمَا حَكَاهُ الشَّيْخُ أَبُو مُحَمَّدِ ابْن أَبِي زَيْدٍ،
وَلَمْ يَرْتَدَّ أَهْلُ فَارِسَ بَعْدَ إِيمَانِهِمْ
“Dan aku berkata:
hal ini menunjukkan bahwa bangsa Persia apabila mereka telah beriman, maka
mereka tidak akan murtad. Ini termasuk di antara tanda-tanda kenabian Nabi Muhammad
SAW.
Sebab, sebagian kabilah Arab pernah murtad setelah wafatnya Nabi SAW, dan bangsa
Barbar juga pernah murtad setelah penaklukan negeri mereka dan setelah mereka
beriman—bahkan sampai dua belas kali, sebagaimana diceritakan oleh Ibn Abi Zayd
al-Qayrawani. Sedangkan penduduk Persia tidak pernah murtad setelah keimanan
mereka.” (At-Tahrir wa at-Tanwir
[Tunis: Ad-Dar at-Tunisiyah], juz 26, h. 139)
Kalaupun yang merepresentasikan sebagai sosok kaum pengganti itu adalah memang bangsa Persia, yang mana saat ini bangsa Persia identik dengan Iran, dan Iran identik dengan Syi’ahnya, maka yang menjadi argumen utama dalam hal ini adalah kembali pada soal karakternya. Bukan kelompok tertentu dengan ideologinya sendiri.
Baca juga: Mungkinkah Perang di Iran tanpa Akhir?
Oleh karena itu, patut
dipahami bahwa kaum yang dimaksud dalam ayat di atas, tidak lain adalah sekelompok
manusia yang memiliki iman kokoh, tidak kikir dalam pengorbanan, konsisten
dalam syariat, dan siap memikul amanah agama ketika yang lain mengkhianatinya.
Bangsa Persia mungkin
menjadi contoh awal yang ditunjuk oleh Nabi SAW. Tetapi hukum yang berlaku bersifat universal.
Adalah benar, bahwa hadis
yang menyebut kaum beriman dari bangsa Persia sebagai pengganti kaum muslim
yang lemah, kikir, dan berkhianat, berkenaan dengan ayat 38 surat Muhammad dan
ayat 3 surat Al-Jum’ah.
Hal ini sebagaimana disebutkan dalam riwayat hadis yang telah disinggung di atas, bahwa Nabi SAW menunjuk kepada Salman al-Farisi dan berkata: “Ini dan kaumnya.” Lalu diperkuat dengan sabda beliau bahwa jika iman berada di bintang Tsurayya, maka orang-orang dari Persia akan mencapainya.
Baca juga: Bukan Perang Salib: Sebuah Analisis Motif di Balik Serangan AS-Israel terhadap Iran
Tapi penjelasan ini juga
perlu dipahami sebagai contoh konkret, bukan pembatasan mutlak. Artinya, bangsa
Persia menjadi representasi awal dari kaum yang memiliki keteguhan iman luar
biasa.
Sejarah memang
membenarkan itu. Banyak ulama besar Islam lahir dari wilayah Persia: ahli
tafsir, hadis, fiqih, hingga filsafat. Mereka bukan sekadar masuk Islam. Mereka
menghidupkan ilmu yang menuntun pada kebenaran Islam dan mengembangkannya demi
kemaslahatan umat.
Lalu benarkah bangsa Iran
yang diidentikkan dengan bangsa Persia dalam konteks saat ini (yang teguh
membela Palestina, teguh imannya, berilmu tinggi, dan berpendirian kuat dalam
menjaga martabatnya), juga merepresentasikan sosok “kaum pengganti” yang teguh imannya
dan tangguh pendiriannya, sebagaimana disebutkan dalam ayat 38 surat Muhammad?
Wallahu a’lam bis shawab.