Mungkinkah Perang di Iran tanpa Akhir?
Oleh: Dr Yanuardi Syukur
Pengurus Komisi HLNKI MUI/Dosen Antropologi Universitas Khairun
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Serangan bersama Amerika Serikat–Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026 telah membuka babak baru konflik di Timur Tengah. Serangan yang dimulai dengan pemboman kompleks Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, meluas ke seluruh Teheran.
Respons Iran datang begitu cepat. Dalam
waktu satu jam, rudal-rudal ditembakkan ke Tel Aviv, Haifa, dan pangkalan
militer AS di Bahrain, Qatar, Kuwait, dan UEA.
Mehran Kamrava, profesor di Georgetown
University, Qatar, dan Kepala Unit Studi Iran di Arab Center for Research
and Policy Studies, dalam “The War on Iran” (3 Maret 2026), mencatat
bahwa ini adalah eskalasi dramatis ketimbang Perang Dua Belas Hari (13 Juni
2025 – 24 Juni 2025), dan kali ini skalanya jauh lebih luas.
Ada satu hal yang mengkhawatirkan, perang
ini terjadi di bulan suci Ramadan, bulan yang seharusnya menjadi momen refleksi
spiritual dan perdamaian.
Tidak seperti invasi Irak 2003 yang
didukung 49 negara, kali ini Amerika nyaris sendirian. Linda Robinson, senior Fellow
for Women and Foreign Policy di Council on Foreign Relations, mengamati bahwa
Kanada, Spanyol, dan Inggris menolak terlibat. Inggris hanya mengizinkan
penggunaan basisnya untuk tujuan defensif.
Dukungan domestik pun tipis; mayoritas
warga Amerika skeptis terhadap intervensi ini. Robinson mengutip peringatan
Colin Powell: “If you break it, you own it” (Jika kau memecahkannya, kau
memilikinya). Tapi, “memecahkan” Iran tidak pasti akan memilikinya.
Ada kesan saat ini bahwa pemerintahan Trump
tidak memiliki rencana pasca-perang yang jelas. Ketika diplomasi masih berjalan
progresif, tiba-tiba serangan terjadi. Lantas, apa makna diplomasi di Jenewa
tersebut?
Menurut Robinson dalam “Trump’s Iran Campaign Ignores the Lessons of the Iraq War” (3 Maret 2026), AS dengan serangan ini memiliki asumsi bahwa kampanye udara akan cukup untuk membuka jalan bagi penggantian rezim. Ini tentu saja adalah pengulangan kesalahan yang dilakukan pada Irak dengan konsekuensi yang berpotensi lebih buruk, kata Robinson.
Baca juga: MUI Terbitkan 7 Tausiyah Respons Situasi Geopolitik Dunia dan Eskalasi Timur Tengah
Dalam pandangan Kamrava, Israel memiliki
strategi yang jelas sejak awal, yakni pergantian rezim, penghancuran arsenal
rudal Iran, dan mendorong disintegrasi etnis.
Israel kelihatannya jelas untuk eliminasi
kekuatan Iran. Dalam Perang Dua Belas Hari, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) dan
Mossad menargetkan fasilitas nuklir (seperti Natanz, Khondab, dan Khorramabad),
instalasi militer, dan kediaman pribadi pejabat tinggi. Termasuk membombardir
penjara pusat Teheran dengan harapan tahanan yang kabur akan menciptakan
kekacauan.
Ternyata prediksi itu tidak terjadi. Rakyat
Iran memang ada yang protes karena soal ekonomi, tapi itu tidak bertahan lama
sampai sekarang. Kamrava melihat bahwa AS tampaknya tidak memiliki strategi
atau tujuan akhir yang jelas selain berperang dengan Iran. “Tujuan Amerika
untuk menyatakan kemenangan dan keluar, untuk saat ini, tidak ada,” kata dia.
Kekosongan strategi ini ditegaskan oleh Robert Reich, mantan Menteri Tenaga Kerja AS dan profesor kebijakan publik emeritus di University of California, Berkeley.
Dalam analisisnya yang terbit 3
Maret 2026, Reich mengungkapkan bahwa para ahli dan spesialis khawatir Trump
dan penasihatnya telah meremehkan ukuran dan determinasi militer Iran serta
Pengawal Revolusi. Trump dan orang-orang di sekitarnya, tulis Reich, juga
percaya mereka dapat merekayasa kudeta di Iran, yang mana pasukan AS hanya akan
dibutuhkan sebagai penasihat dan konselor.
“Ini delusional,” alias tidak sesuai
realitas, alias mimpi, lanjut Reich. Reich menambahkan bahwa sebagian besar
orang yang ia ajak bicara berpikir bahwa Trump tidak memiliki strategi.
Para “responden” Reich, mengatakan bahwa
Pete Hegseth (Menteri Pertahanan AS) dan Marco Rubio (Menlu AS), benar-benar di
luar kemampuan mereka, dan bahwa Pentagon, departemen luar negeri, serta staf
keamanan nasional berada dalam kekacauan. Tidak ada yang memimpin. (Reich, “What
is Trump’s endgame with Iran?,” 3 Maret 2026).
Robinson sendiri sadar, bahkan mengingatkan
bahwa Iran bukan lawan yang lemah. Meski kapabilitas Iran terdegradasi akibat
serangan 28 Februari 2026, termasuk dengan strategi “dekapitasi” (“memotong
kepala”/leadership) para pemimpin Iran, rezim ini telah menyempurnakan perang
proksi selama puluhan tahun melalui dukungannya kepada Hizbullah, Houthi,
Hamas, dan milisi Syiah di Irak dan Suriah.
“Merupakan kebodohan untuk berpikir bahwa
kampanye tergesa-gesa sendirian ini dapat dimenangkan dari udara ketika tidak
ada perang lain yang mengikuti jalur itu,” tegas Robinson dalam tulisannya. Ia
juga memperingatkan skenario terburuk; terjadi pecahnya perang saudara di Iran,
disintegrasi etnis, dan instabilitas regional yang tak terkendali.
Dari perspektif geopolitik, menurut saya, perang ini menandai titik rendah baru dalam tatanan internasional yang harusnya dibangun dalam “strategic equilibrium” (keseimbangan strategis), atau dalam perspektif Rusia disebut “interest equilibrium” (keseimbangan kepentingan) melalui solusi damai, penghormatan hukum internasional, dan stabilitas kawasan.
Baca juga: AS-Israel Serang Iran, Majelis Ulama Indonesia Sampaikan 10 Tausiyah
Kamrava dengan tajam mengamati bahwa hukum
internasional kini dalam kondisi “kritis”, atau “mati suri” yang hanya hidup
ketika menguntungkan kekuatan besar. Negara-negara yang mengklaim sebagai
benteng supremasi hukum, seperti Amerika dan sekutu Eropanya, telah kehilangan
otoritas moral untuk berbicara tentang keadilan global.
Amerika kini berperang tanpa koalisi
berarti, tanpa mandat PBB, dan tanpa dukungan domestik yang kuat. Sebuah
kontras tajam dengan invasi Irak 2003 (tentu saja, tanpa kita membenarkan
invasi 2003 itu karena nyatanya merusak stabilitas masyarakat Timur Tengah saat
itu dan sesudahnya).
Apa yang dilakukan AS sekarang ini tidak
hanya sekadar kegagalan strategi militer, tetapi cerminan kemunduran pengaruh
Amerika sebagai kekuatan global. Ketika sekutu-sekutu tradisional seperti
Inggris dan Kanada memilih menjaga jarak, pesan yang tersampaikan jelas, bahwa
dunia tidak lagi percaya pada kepemimpinan Washington. Ada semacam gejala “global
shifting” dari Washington pada orbit lainnya.
Reich melukiskan situasi internal pemerintahan AS yang lebih mengkhawatirkan. Menurut dia, satu-satunya orang yang memiliki pemahaman tentang apa yang terjadi adalah para jenderal dan petinggi Pentagon yang menerima laporan waktu nyata dari Iran, tetapi mereka tidak memiliki strategi keluar, karena mereka tidak menganggap itu sebagai tanggung jawab untuk memutuskan kapan AS telah berhasil, atau apa arti “keberhasilan” itu sendiri.
Baca juga: Membaca Geopolitik Timur Tengah dalam Perspektif Hadis Akhir Zaman
Reich menyimpulkan, “Saya diberitahu
berulang kali bahwa ini adalah perang tanpa rencana, tanpa strategi, dan tanpa
pemahaman jelas tentang ke mana arahnya atau bagaimana berakhirnya.” Jadinya,
seperti “dewa mabuk” yang karena mabuknya dapat melakukan apa saja yang bahkan
merugikan diri sendiri.
Pada level kemanusiaan, yang paling tragis
adalah bagaimana rakyat Iran menjadi korban. Jika fokus “regime change”,
maka Trump mau tak mau harus ambil opsi serangan darat. Tapi itu pastinya akan
memakan waktu lama. Alam Iran tidak mudah ditaklukkan, sebagaimana dulu AS juga
kewalahan melawan Afghanistan pasca 9/11. Dan jika opsi pasukan darat diambil,
maka sudah pasti perang akan terus berkepanjangan dan akan melebar ke banyak
tempat dalam banyak dimensi, baik itu politik, ekonomi, sosial-budaya, bahkan
agama.
Mengutip kembali pandangan Reich, Trump dan
timnya hidup dalam delusi, meremehkan lawan, dan mengabaikan pelajaran sejarah
dari Vietnam hingga Irak. Mereka berpikir pendek, dan hendak menulis sejarah
dengan darah dan airmata.
Hal itu tentu saja tidak terlepas dari
relasi AS–Israel di mana AS sangat berkepentingan untuk melindungi Israel dari
kemungkinan ke depannya, yaitu digempur oleh Iran dengan nuklir yang sekarang
terus menunjukkan progresivitas. Jadi, perang ini menurut saya adalah upaya
untuk “aborsi” agar Iran tidak menjadi kuat. Artinya hendak dilumpuhkan sebelum
ia menjadi kekuatan yang besar dengan nuklirnya.
Mungkinkah Perang Berakhir?
Di tengah Ramadhan yang seharusnya menjadi
waktu ibadah, kondisi Timur Tengah kembali dilemparkan ke dalam chaos.
Bukan cuma Iran, negara-negara Timur Tengah lainnya juga jadi saling berjaga
dari kemungkinan serangan Iran atau “false flag” dari Israel yang
berintensi pada “devide et impera” (pecah belah) negara-negara berbasis
Islam agar saling tidak percaya dan perang.
Tapi kita lihat saat ini semangat jihad
bangsa Iran semakin meningkat. Apalagi sekarang banyak tokoh muda dalam militer
Iran yang sedang menunjukkan kepada AS dan Israel bahwa mereka punya keberanian
dan strategi yang jitu untuk melumpuhkan lawan atau kepentingan lawan di
regional.
Jika AS tidak segera berpikir ulang terkait
perang ini, mungkin akan menjadi perang tanpa akhir. Tapi, saya lihat banyak
orang Amerika yang tidak suka dengan perang ini. Selain karena tidak ada
rencana matang, juga berlawanan dengan jargon “America first” yang jadi
bahan kampanye Trump untuk mewujudkan visinya; “Make America Great Again.”
Seharusnya, “America first” dan “great
again” itu berfokus pada solusi masalah dalam negeri. Sementara terkait
urusan luar negeri dikembangkan perspektif keseimbangan atau kepentingan
strategis, bukan intervensi militer seperti yang dilakukan sekarang terhadap
Iran.
Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.