Fakta-Fakta Penting Seputar Maqam atau Lokasi Berdiri Nabi Ibrahim saat Bangun Ka'bah
A Fahrur Rozi
Penulis
Admin
Editor
Jakarta, MUI Digital – Di antara jutaan jamaah yang memadati Masjidil Haram setiap musim haji dan umrah, terdapat sebuah bangunan kecil berlapis kaca dan logam keemasan yang berdiri tidak jauh dari Ka'bah.
Bangunan tersebut dikenal sebagai Maqam Ibrahim, salah satu situs bersejarah yang memiliki kedudukan penting dalam syariat Islam.
Meski demikian, tidak sedikit umat Islam yang masih mengira bahwa Maqam Ibrahim merupakan makam Nabi Ibrahim AS.
Padahal, kata "maqam" dalam bahasa Arab berarti tempat berdiri atau tempat berpijak, bukan kuburan.
Maqam ini merujuk pada batu yang diyakini menjadi pijakan Nabi Ibrahim AS saat membangun Ka'bah bersama putranya, Nabi Ismail AS.
Maqam yang saat ini berada di sisi timur Ka'bah itu merupakan salah satu situs bersejarah yang paling dikenal di Masjidil Haram.
Baca juga: Evaluasi Haji 2026, Ini Beberapa Catatan Penting Terkait Kesiapan Petugas
Batu tersebut berukuran relatif kecil dengan tinggi sekitar 20 sentimeter. Pada permukaannya terdapat dua cekungan yang diyakini sebagai bekas pijakan kaki Nabi Ibrahim AS, masing-masing sedalam sekitar 10 sentimeter dan 9 sentimeter.
Dalam berbagai riwayat disebutkan, sebagaimana dikutip pada AboutIslam, Jumat (5/6/2026), ketika Nabi Ibrahim AS membangun Ka'bah, batu yang semula keras itu menjadi lunak sehingga kaki beliau tenggelam ke dalamnya dan meninggalkan jejak yang terlihat jelas.
Menariknya, meskipun telah berlalu berabad-abad, jejak tersebut tetap menjadi bagian dari sejarah yang dikenang oleh umat Islam hingga hari ini.
Di tempat itulah Nabi Ibrahim AS disebut melaksanakan shalat dua rakaat sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT setelah menyelesaikan pembangunan Ka'bah.
Karena itu, Allah SWT memerintahkan umat Islam untuk menjadikan Maqam Ibrahim sebagai tempat shalat. Perintah tersebut termaktub dalam firman-Nya:
وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى ۖ
"Dan jadikanlah sebagian Maqam Ibrahim sebagai tempat shalat" (QS Al-Baqarah: 125).
Berdasarkan ayat ini, jamaah yang telah menyelesaikan tujuh putaran tawaf dianjurkan melaksanakan shalat sunnah dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim apabila kondisi memungkinkan.
Baca juga: Pergi Haji
Dalam sejarahnya, posisi Maqam Ibrahim tidak selalu berada di lokasi seperti sekarang.
Pada masa Khalifah Umar bin Khattab RA, Maqam Ibrahim dipindahkan sedikit ke arah timur untuk mengakomodasi semakin banyaknya jamaah yang datang ke Masjidil Haram.
Kebijakan tersebut dilakukan agar jamaah yang sedang bertawaf tidak terganggu oleh jamaah yang melaksanakan shalat di sekitar Maqam Ibrahim, sehingga kedua ibadah tersebut dapat berlangsung dengan lebih tertib dan nyaman.
Sejumlah riwayat juga menyebutkan bahwa Maqam Ibrahim merupakan salah satu dari tiga batu yang diturunkan Allah dari surga.
Dua batu lainnya adalah Hajar Aswad dan batu yang pernah digunakan oleh Bani Israil. Keberadaan Maqam Ibrahim yang tetap terjaga hingga sekarang dipandang oleh banyak ulama sebagai salah satu tanda kekuasaan Allah SWT.
Di tengah berbagai peristiwa sejarah, peperangan, dan pergantian zaman yang telah berlangsung selama ribuan tahun, batu tersebut tetap terlindungi dan menjadi bagian penting dari syiar Islam di Tanah Suci.
Meski demikian, para ulama mengingatkan agar umat Islam memahami Maqam Ibrahim secara proporsional.
Keberadaan Maqam Ibrahim memang sahih dan diakui dalam syariat. Namun, bentuk jejak kaki yang tampak saat ini kemungkinan bukan lagi bentuk asli sebagaimana pada masa Nabi Ibrahim karena telah mengalami perubahan seiring perjalanan waktu.
Jejak yang terlihat sekarang lebih berfungsi sebagai penanda lokasi tempat Nabi Ibrahim berdiri saat membangun Ka'bah, sementara pelajaran utama yang harus diambil umat Islam adalah keteladanan beliau dalam menaati perintah Allah SWT dan membangun Baitullah sebagai pusat tauhid bagi seluruh manusia.
Kubah kaca Maqam Ibrahim memang sahih, namun pola ukiran tersebut tampaknya bukanlah jejak kaki yang sebenarnya, karena secara historis jejak tersebut telah lenyap sejak lama. Ini hanyalah sebagai penanda untuk menunjukkan tempat di mana Ibrahim berdiri.