Cinta dan Kekerasan: Kelembutan Hati yang Berubah Arah
Oleh: Ahmad Yani, M.A
Anggota Komisi Fatwa MUI Pusat/Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Dalam beberapa hari terakhir ini, publik dikagetkan dengan peristiwa menghebohkan di Bandung Jawa Barat. Peristiwa penyekapan disertai dengan tindak kekerasan berat seorang pria terhadap kekasih yang dicintainya.
Cinta seharusnya
menjadi ruang paling aman bagi jiwa. Ia menenangkan, menghidupkan, dan
memuliakan manusia. Namun dalam kenyataan, tidak sedikit kekerasan justru lahir
dari relasi yang mengatasnamakan cinta.
Di sinilah kita perlu
bertanya dengan jujur mengapa kelembutan dan kasih sayang kadang bisa berubah
total menjadi kekerasan dan kejahatan? Bagaimana mungkin sesuatu yang suci
berubah menjadi luka? Lalu apakah ada yang salah dengan cinta?
Dalam khazanah ulama klasik, cinta (mahabbah) tidak pernah dilepaskan dari nilai ketundukan kepada Allah dan penghormatan terhadap sesama. Imam Ghazali menegaskan bahwa cinta sejati akan melahirkan kasih sayang (rahmah), bukan dominasi.
Baca juga: Sebuah Refleksi ketika Kehormatan Diukur dengan Kekayaan
Dalam Ihya
Ulumuddin, Imam Ghazali menjelaskan bahwa cinta yang benar adalah yang
mendorong seseorang untuk berbuat baik kepada yang dicintai, bukan menguasai
atau menyakitinya.
Senada dengan itu,
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam Raudhatul Muhibbin membagi cinta menjadi
yang terpuji dan tercela. Cinta yang terpuji mendekatkan pada kebaikan dan
menjaga kehormatan, sedangkan cinta yang tercela melahirkan obsesi, kecemburuan
berlebihan, bahkan tindakan agresif. Dalam konteks ini, kekerasan bukanlah buah
cinta, melainkan tanda bahwa cinta telah tercampur oleh hawa nafsu dan ego.
Lebih dalam lagi, Ibnu
Athaillah as-Sakandari mengingatkan bahwa keterikatan yang berlebihan pada
selain Allah sering kali melahirkan penderitaan.
Ketika seseorang
menjadikan manusia sebagai pusat segalanya, ia mudah jatuh pada rasa memiliki
yang berlebihan dan dari sanalah potensi kekerasan muncul.
Perspektif psikologi
modern memberikan penjelasan yang tak kalah penting. Sigmund Freud melihat
adanya dorongan cinta (Eros) dan dorongan agresi (Thanatos) dalam
diri manusia. Jika tidak dikelola, keduanya bisa melahirkan perilaku destruktif
bahkan dalam hubungan yang intim.
Sementara itu, Erich Fromm menegaskan bahwa cinta bukan sekadar perasaan, melainkan kemampuan. Ia membutuhkan tanggung jawab, penghormatan, pengetahuan, dan kepedulian. Ketika cinta berubah menjadi hasrat memiliki, maka kontrol dan kekerasan mudah muncul.
Baca juga: Menafsir Ulang Makna Kepemimpinan Suami, Tanggung Jawab, dan Etika Kuasa dalam Rumah Tangga
Cinta adalah Rahmat
Pandangan para ulama
dan psikolog di atas menemukan landasan yang sangat kuat dalam hadis-hadis Nabi
Muhammad SAW. Beliau tidak hanya mengajarkan cinta, tetapi juga
mempraktikkannya dalam bentuk paling luhur, kasih sayang tanpa kekerasan. Beliau
bersabda, yang artinya: “Orang yang penyayang akan disayangi oleh Yang Maha
Penyayang. Sayangilah yang di bumi, niscaya yang di langit akan menyayangi
kalian.” (HR Tirmidzi)
Hadis ini menegaskan
bahwa cinta sejati berwujud rahmat. Kekerasan jelas bertentangan dengan sifat
dasar ini. Nabi juga menegaskan: “Mukmin yang paling sempurna imannya adalah
yang paling baik akhlaknya, dan yang terbaik di antara kalian adalah yang
paling baik terhadap keluarganya.” (HR Tirmidzi)
Standar cinta dalam Islam bukan pada intensitas perasaan, tetapi pada kualitas perlakuan. Kekerasan dalam rumah tangga, dalam bentuk apa pun, adalah indikator rusaknya akhlak, bukan besarnya cinta.
Baca juga: KDRT Masih Marak, Benarkah Islam Bolehkan Suami Pukul Istri? Ini Penjelasan Ulama
Dalam hadis lain, Nabi
bersabda, yang artinya: “Janganlah salah seorang di antara kalian memukul
istrinya seperti memukul budak, kemudian ia menggaulinya di akhir hari.” (HR
Bukhari)
Ini adalah kritik
keras terhadap paradoks cinta yang berubah menjadi kekerasan. Bukankah Nabi
juga bersabda, yang artinya: “Orang kuat bukanlah yang pandai bergulat,
tetapi yang mampu menahan amarahnya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dalam konteks relasi,
kemampuan mengelola emosi adalah inti dari cinta yang dewasa. Kekerasan sering kali
lahir dari ketidakmampuan mengendalikan amarah.
Bahkan dalam kondisi
konflik sekalipun, Nabi tetap mencontohkan kelembutan. Dalam banyak riwayat, disebutkan
bahwa beliau tidak pernah memukul istri-istrinya, meski mungkin mereka berbuat
salah. Ini menjadi teladan bahwa cinta tidak pernah membutuhkan kekerasan untuk
bertahan.
Jika kita menautkan pandangan ulama, psikologi, dan hadis Nabi, maka satu kesimpulan menjadi terang benderang bahwa kekerasan bukan bagian dari cinta, melainkan penyimpangan darinya.
Baca juga: Literasi Pernikahan: KDRT, Haruskah Memenjarakan Pasangan?
Cinta yang sehat
adalah cinta yang menghormati, bukan menguasai. Cinta yang menguatkan, bukan
melukai, dan cinta yang menenangkan, bukan menakutkan.
Sebaliknya, ketika
cinta dipenuhi rasa curiga berlebihan, keinginan mengontrol, atau ledakan
emosi, maka yang bekerja bukan cinta, melainkan ego dan luka batin yang belum
sembuh.
Di sinilah pentingnya
membangun kesadaran spiritual dan kematangan psikologis. Cinta harus dituntun
oleh iman, ditopang oleh akhlak, dan dikelola dengan kecerdasan emosi.
Pada akhirnya, cinta adalah amanah. Ia tidak cukup hanya dirasakan, tetapi harus diwujudkan dalam sikap yang memuliakan. Sebab dalam ajaran Nabi SAW, cinta sejati selalu menghadirkan rahmat bukan luka.