Evaluasi Haji 2026, Ini Beberapa Catatan Penting Terkait Kesiapan Petugas
Sanib
Penulis
Admin
Editor
Makkah, MUI Digital — Seluruh petugas haji pada penyelenggaraan ibadah haji 2027 wajib mengikuti pendidikan dan pelatihan (diklat) di barak sebelum diberangkatkan ke Arab Saudi.
Kebijakan tersebut menjadi salah
satu hasil evaluasi pelaksanaan ibadah haji 2026, terutama terkait layanan pada
fase puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Menurut Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj), Dahnil Anzar Simanjuntak, evaluasi
menunjukkan adanya perbedaan kualitas pelayanan antara petugas yang telah
mengikuti pelatihan dengan petugas yang direkrut melalui mekanisme daerah dan
belum mendapatkan pembekalan yang setara.
"Kami sadar betul masih ada
sisi-sisi pelayanan yang harus diperbaiki, terutama di Armuzna. Karena itu ke
depan kami pastikan semua petugas harus mengikuti pelatihan," ujar Dahnil
usai menyampaikan pernyataan bersama PPIH Arab Saudi di Makkah, Rabu
(3/6/2026).
Ia menjelaskan kewajiban mengikuti pelatihan akan berlaku bagi seluruh unsur petugas haji tanpa terkecuali, mulai dari Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, Petugas Haji Daerah (PHD), petugas kloter, hingga petugas embarkasi.
Baca juga: Musyrif Diny: Ukuran Haji Mabrur Itu Terlihat dari Perubahan Perilaku Sosial Keseharian
Menurutnya, kesiapan petugas
sebelum bertugas sangat berpengaruh terhadap kualitas layanan yang diterima
jamaah di lapangan, khususnya pada fase puncak ibadah haji yang melibatkan
pergerakan jutaan jamaah dari berbagai negara.
Selain memperkuat pelatihan
petugas, Kementerian Haji dan Umrah juga berencana membentuk Daerah Kerja
Armuzna (Daker Armuzna) khusus pada penyelenggaraan haji 2027.
"Daker Armuzna akan bertugas secara khusus menangani seluruh operasional di kawasan Arafah, Muzdalifah, dan Mina sehingga petugas dapat fokus memberikan pelayanan kepada jamaah," kata Dahnil.
Dengan pembentukan unit khusus
tersebut, petugas yang ditempatkan di Armuzna tidak lagi dibebani tugas
tambahan di sektor lain dan dapat berkonsentrasi penuh pada pelayanan selama
fase puncak haji.
Sebelumnya, pemerintah menyatakan
sejumlah aspek pelayanan di Armuzna menjadi perhatian utama dalam evaluasi haji
2026. Beberapa di antaranya meliputi tata kelola pergerakan jamaah, layanan di
tenda, serta koordinasi petugas di lapangan.
Dahnil menegaskan seluruh masukan
dan catatan selama musim haji tahun ini akan menjadi dasar perbaikan guna
meningkatkan kualitas pelayanan bagi jamaah Indonesia pada penyelenggaraan haji
tahun mendatang.
Menurutnya, persiapan yang
dilakukan lebih awal menjadi kunci untuk menghadirkan penyelenggaraan haji yang
lebih tertib, profesional, serta berorientasi pada keselamatan dan kenyamanan
jamaah.