Musyrif Diny: Ukuran Haji Mabrur Itu Terlihat dari Perubahan Perilaku Sosial Keseharian
Sadam Al Ghifari
Penulis
Muhammad Fakhruddin
Editor
Makkah, MUI Digital-Keberhasilan ibadah haji seseorang tidak hanya diukur dari tuntasnya ritual fisik di Tanah Suci, melainkan dari dampak nyata pada relasi sosial sekembalinya ke Tanah Air.
Indikator kemabruran tersebut justru lebih mudah dinilai oleh orang-orang di sekitar dalam kehidupan sehari-hari.
Hal itu disampaikan Musyrif Diny, Prof KH Asrorun Niam Sholeh, dalam keterangannya kepada MUI Digital, Rabu (3/6/2026).
Ketua MUI Bidang Fatwa ini menjelaskan bahwa ibadah haji yang mabrur merupakan ibadah yang jaminan balasannya adalah surga.
Baca juga: Masjidil Haram Jadi Saksi Peringatan Setengah Abad Prof Niam: Istiqamah, Doa, dan Menebar Manfaat
Meskipun ganjaran tersebut bersifat kualitatif dan menjadi rahasia Allah, tanda-tandanya tetap dapat diukur dan dilihat secara kasat mata melalui perubahan perilaku (perubahan pra dan pascahaji).
“Yang lihat siapa? Ya yang lihat orang lain seiring dengan perubahan pra dengan pascanya,” kata Pengasuh Pondok Pesantren An-Nahdlah, Depok, Jawa Barat.
Ia mencontohkan, salah satu tanda yang paling sederhana adalah aspek konsistensi dalam beribadah. Seseorang yang sebelum berangkat haji cenderung malas, lalu berubah menjadi rajin dan mampu menjaga ritme ibadah tersebut secara konstan dan kontinu, menunjukkan sinyal kuat adanya kemabruran.
Baca juga: Musyrif Diny Prof Niam Apresiasi Skema Pergerakan Jamaah Haji Pasca-Arafah Demi Keselamatan
Lebih lanjut, Guru Besar Ilmu Fikih UIN Jakarta ini mengungkapkan dua aspek utama kemabruran bagi jamaah haji. Pertama, komitmen meninggalkan keburukan dengan adanya tekad kuat dari jemaah untuk menyudahi kebiasaan-kebiasaan buruk yang sering dilakukan sebelum berhaji, lalu menggantinya dengan tradisi kebaikan.
Kedua, dawamul ihsan (konsistensi berbuat baik). Prof Niam menjelaskan bahwa kata mabrur berakar dari kata al-birr yang esensi utamanya adalah husnul khuluk atau moralitas dan akhlak yang baik. Sementara dawamul ihsan berarti komitmen untuk terus-menerus memproduksi kebaikan bagi lingkungan sekitar.
"Haji itu hal yang bersifat personal dan spiritual, tetapi dia bisa menjelma ditandai dengan apa kemabruran dan keterterimaan itu dengan aktivitas kepribadian dia di dalam relasi sosial," tegasnya.
Prof Niam mengingatkan bahwa karakteristik ini tidak hanya berlaku untuk ibadah haji. Seluruh arsitektur ibadah dalam Islam, mulai dari salat, puasa, hingga zakat, selalu didesain dengan pelaksanaan yang bersifat personal dan mengikuti aturan baku, namun sasaran tembak akhirnya adalah kesuksesan sosial.
Ia membandingkan ibadah haji dengan ibadah puasa. Puasa dianggap berhasil jika mampu mentransformasikan spirit berbagi dan menumbuhkan kesetiakawanan sosial di masyarakat.
"Nah, haji juga demikian, akan kelihatan mabrur pada tingkah polah kesehariannya," kata Ketua Umum Majelis Alumni IPNU.
Prof Niam menambahkan bahwa perubahan spiritual dan sosial ini merupakan proses jangka panjang yang harus dirawat, serta tidak dapat terjadi secara instan.