Lewati ke konten utama
Senin, 17 Agustus 2026 / 4 Rabiul Awal 1448 H
Jadwal memuat...
Berita

Ulama Faqih yang Hidup Zuhud dan Wara’, Sosok KH Junaidi di Mata Kiai Ni'am

3 menit baca 102 dibaca
Junaidi siap
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital-Kepergian Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Junaidi, pada Ahad (16/8/2026), meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar MUI dan umat Islam.

Di tengah kesedihan itu, sosok almarhum dikenang bukan hanya karena keluasan ilmu agamanya, tetapi juga karena kesederhanaan hidup dan keteguhan akhlaknya.

Bagi Ketua MUI Bidang Fatwa, Prof KH Asrorun Ni'am Sholeh, KH Junaidi merupakan sosok ulama yang mampu memadukan kedalaman ilmu dengan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.

Ia melihat almarhum sebagai figur yang menjalani kehidupan dengan sikap zuhud dan wara’, dua sifat yang menjadi ciri penting seorang ulama.

Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum Jatipulo, Serang, Banten, itu dikenal konsisten menjaga nilai-nilai keislaman dalam ucapan maupun perilakunya.

Kesederhanaan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kesehariannya, meski almarhum dipercaya mengemban amanah penting dalam urusan fatwa di tingkat nasional.

“Setiap ucapan dan penyampaian almarhum selalu merujuk pada kitab-kitab klasik (turats) dengan referensi keilmuan yang sangat kaya. Beliau sosok ulama faqih, ikhlas, aktif, zuhud, dan wara’,” ujar Prof Niam saat dikonfirmasi MUI Digital di Jakarta, Senin (17/8/2026).

Baca juga: Sosok KH Junaidi dalam Kenangan Kiai Cholil, Ulama Mumpuni yang Hangat dan Humoris

Bagi Prof Ni'am, keluasan wawasan keislaman KH Junaidi tidak berdiri sendiri. Ilmu yang mendalam tersebut tercermin dalam cara almarhum bersikap dan mengambil keputusan.

Dalam pembahasan persoalan fatwa, KH Junaidi dikenal selalu berupaya menghadirkan argumentasi keagamaan yang kokoh. Referensi terhadap khazanah keilmuan Islam klasik menjadi salah satu ciri dalam penyampaian pandangan-pandangannya.

Namun, keluasan ilmu itu tidak membuatnya tampil berjarak dengan masyarakat. Justru kesederhanaan dan sikap bersahajanya membuat almarhum mudah dijangkau oleh berbagai kalangan.

Prof Ni'am menilai sikap zuhud dan wara’ KH Junaidi terlihat dari pola hidupnya yang tidak berlebihan dan kehati-hatiannya dalam menjalani kehidupan. Jabatan dan tanggung jawab yang diembannya tidak mengubah gaya hidupnya.

Ia tetap memilih hidup sederhana, jauh dari kemewahan, sekaligus menjaga integritas sebagai seorang ulama.

Baca juga: Inna lillahi wa Inna Ilaihi Raji'un, Ketua Komisi Fatwa MUI KH Junaidi Wafat

Posisi sebagai Ketua Komisi Fatwa MUI menempatkan KH Junaidi pada salah satu ruang penting dalam kehidupan keagamaan di Indonesia. Berbagai persoalan yang menyangkut hukum Islam dan kepentingan umat membutuhkan keluasan ilmu, ketelitian, sekaligus kehati-hatian.

Di tengah amanah tersebut, almarhum tetap menunjukkan karakter yang sama: sederhana dalam keseharian dan serius dalam menjalankan tanggung jawab keilmuan.

Bagi Prof Ni'am, perpaduan antara kapasitas keilmuan, keikhlasan, zuhud, dan wara’ itulah yang membuat sosok KH Junaidi memiliki tempat tersendiri di lingkungan MUI.

Kepergiannya bukan hanya kehilangan seorang pengurus, tetapi juga kehilangan seorang ulama yang selama ini ikut menjaga tradisi keilmuan Islam dalam proses perumusan fatwa.

Kini, sosok yang selama hidupnya bergelut dengan ilmu dan pengabdian itu telah berpulang. Yang tersisa adalah ilmu, keteladanan, dan jejak pengabdian yang diharapkan terus memberikan manfaat bagi umat.

Bagi keluarga besar MUI, wafatnya KH Junaidi menjadi pengingat bahwa seorang ulama tidak hanya dikenang karena jabatan atau keluasan ilmunya, tetapi juga karena akhlak dan cara hidupnya.

Prof Niam pun menyampaikan doa agar seluruh pengabdian dan keikhlasan almarhum diterima sebagai amal saleh dan menjadi bekal terbaik di hadapan Allah SWT.

“Semoga beliau menjadi ahlil jannah,” doa Prof Niam untuk KH Junaidi.