Lewati ke konten utama
Senin, 21 September 2026 / 9 Rabiul Akhir 1448 H
Jadwal memuat...
Mualaf Muharrik
Peserta Bootcamp Mualaf Muharrik 2026 berpose bersama di di Villa Bukit Pinus, Caringin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, hingga Ahad (20/9/2026). Foto: Latifahtul Jannah
Berita

Dari Penguatan Iman hingga Klinik Usaha, Bootcamp Mualaf Muharrik Jawab Kebutuhan Peserta

Dari Penguatan Iman hingga Klinik Usaha, Bootcamp Mualaf Muharrik Jawab Kebutuhan Peserta

/ 9 Rabiul Akhir 1448 H 4 menit baca 147 dibaca

Bogor, MUI Digital — Usaha yang mandek, keterbatasan pemasaran digital, hingga kesulitan mengurus sertifikasi halal menjadi sejumlah persoalan yang dibawa peserta ke Bootcamp Mualaf Muharrik 2026. 

Melalui pelatihan dan Klinik Usaha Mualaf, peserta tidak hanya memperoleh penguatan mental dan spiritual, tetapi juga pendampingan untuk membangun kemandirian ekonomi.

Diselenggarakan Lembaga Pembinaan dan Pemberdayaan Mualaf (LP2M) Majelis Ulama Indonesia (MUI), Bootcamp Mualaf Muharrik 2026 mengusung tema “Dari Mualaf Menjadi Muharrik, Tumbuh Dalam Islam, Berdaya untuk Kemaslahatan”. 

Kegiatan dibuka di Aula MUI, Jakarta, Jumat (18/9/2026), kemudian dilanjutkan di Villa Bukit Pinus, Caringin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, hingga Ahad (20/9/2026).

Wakil Ketua Panitia Bootcamp Mualaf Muharrik 2026, KH Firman Arifandi, mengatakan kegiatan tersebut dirancang untuk menjawab kebutuhan mualaf secara menyeluruh, mulai dari penguatan keimanan hingga pengembangan usaha.

“Kita memfokuskan kegiatan ini pada pelatihan yang komprehensif, mulai dari persoalan mental, spiritual, hingga kemandirian ekonomi para mualaf,” ujar Kiai Firman kepada tim MUI Digital di Villa Bukit Pinus, Caringin, Kabupaten Bogor, Ahad (20/9/2026).

Pada hari pertama, peserta mendapatkan penguatan mental dan spiritual dari para kiai, pemuka agama, serta pengurus MUI. 

Pembekalan tersebut diarahkan untuk membantu peserta membangun kepercayaan diri sekaligus mempersiapkan mereka menjadi muharrik atau penggerak yang dapat menebarkan manfaat di tengah masyarakat.

Memasuki hari kedua, pembahasan beralih pada berbagai persoalan yang dihadapi peserta dalam menjalankan usaha. Materi yang diberikan mencakup strategi bisnis, pemasaran, penguatan merek, pemasaran digital, hingga pengurusan sertifikasi halal.

Menurut Kiai Firman, kebutuhan setiap peserta berbeda. Sebagian mengalami kebuntuan dalam mengembangkan usaha, sedangkan sebagian lainnya belum mampu memanfaatkan pemasaran digital untuk menjangkau konsumen secara lebih luas.

“Ada yang bisnisnya mandek, ada yang mentok. Ada juga yang sebelumnya berkonsentrasi di retail, tetapi terhalang oleh kemampuan dalam digital marketing dan lain sebagainya,” tuturnya.

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, panitia menghadirkan pemateri dan praktisi dari berbagai bidang. Peserta yang menghadapi kendala dalam pengurusan sertifikasi halal, misalnya, dapat memperoleh penjelasan langsung mengenai tahapan dan persyaratan yang harus dipenuhi.

“Ketika para mualaf berhadapan dengan persoalan bagaimana mengurus sertifikasi halal, ada pihak dari Lembaga Pemeriksa Halal yang dapat menjelaskan prosesnya. Pemateri yang dihadirkan memang disesuaikan dengan persoalan yang mereka hadapi,” katanya.

Pendampingan juga diberikan kepada peserta yang mengalami kendala dalam pemasaran digital. Selain memperoleh materi mengenai pemanfaatan Meta Ads, peserta mendapat kesempatan mengikuti pelatihan dan konsultasi lanjutan secara gratis selama dua bulan.

Menurut Kiai Firman, pendampingan lanjutan diperlukan karena materi pemasaran digital cukup luas dan tidak dapat diselesaikan hanya dalam satu kali pertemuan.

“Materinya cukup banyak dan tidak bisa diselesaikan dalam satu kali pertemuan. Karena itu, peserta diberikan pelatihan Meta Ads beserta konsultasinya selama dua bulan,” ujarnya.

Pendekatan yang lebih personal diterapkan melalui Klinik Usaha Mualaf. Sebelum mengikuti sesi tersebut, peserta dipetakan berdasarkan jenis usaha yang dijalankan, seperti kuliner, fashion, dan jasa. Mereka kemudian dibagi ke dalam kelompok kecil agar dapat membahas persoalan usahanya secara lebih terarah.

Pendampingan dalam kelompok tersebut melibatkan sejumlah mentor, di antaranya KH Nurul Badruttamam, KH Shalahuddin El Ayyubi, Hj Chodijah, Dr Pipin Yosepin. 

Bersama para mentor, peserta menyusun rencana bisnis berdasarkan usaha yang sedang mereka jalankan, bukan sekadar gagasan yang belum diterapkan.

Kiai Firman menegaskan bahwa Bootcamp Mualaf Muharrik 2026 tidak dirancang sebagai kegiatan yang berakhir setelah seluruh agenda selesai. 

LP2M MUI bersama para mitra akan mengupayakan pendampingan lanjutan, terutama ketika peserta menghadapi kendala dalam perhitungan maupun teknis pengembangan usaha.

“Kami tidak ingin acara ini hanya berakhir hari ini,” ujar dia.  

Dia menambahkan, perlu ada tindak lanjut dan keberlangsungan. Ketika terdapat kendala dalam angka maupun teknis usaha, LP2M bersama mitra akan berupaya hadir untuk memfasilitasi.

Pendampingan tersebut sejalan dengan tujuan LP2M MUI untuk mendorong mualaf yang masih menjadi mustahik agar tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, berkembang menjadi muzaki, serta mampu membantu mualaf lainnya.

Namun, Kiai Firman mengingatkan bahwa persoalan yang dihadapi mualaf tidak hanya berkaitan dengan ekonomi. 

Setelah mengucapkan syahadat, sebagian mualaf juga menghadapi perubahan dalam kehidupan pribadi, keluarga, dan lingkungan sosial yang dapat memengaruhi kondisi mental mereka.

Dia menegaskan problem mualaf sebenarnya tidak hanya di bidang ekonomi. Mereka juga membutuhkan pendampingan untuk membangun kembali mental yang sempat runtuh. 

“Karena itu, kita harus hadir sepenuhnya untuk mereka,” ujar dia. 

BAGIKAN: